Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terlalu Baik


__ADS_3

Sejak hari itu, tidak ada lagi raut bahagia dalam diri Arash. Wajah pria itu senantiasa mendung, seolah kehilangan cahaya dalam kehidupannya. Terlebih ketika Arash menemukan cincin milik Helena berada di kantong kemejanya.


Hati Arash kembali menangis, pria itu tidak menyangka jika Helena serius ingin mengakhiri pernikahan mereka. Dia hanya meminta Helena untuk menunggunya tiga bulan. Setelah itu dia akan kembali padanya.


Tapi Helena berpikir lain. Sebaiknya dia pergi selamanya dari hidup Arash, dan tidak muncul lagi di hadapan pria itu. Arash menggenggam cincin pernikahan Helena. Cincin pernikahan yang terbuat dari emas putih biasa. Polos tanpa ada satupun berlian di sana.


Dulu, dia sangat terpaksa menikahi Helena, hingga dia asal membeli cincin. Arash menghela nafasnya. Memandang hampa pada kamarnya yang kini akan terasa sunyi tanpa kehadiran Helena.


Untuk sesaat, kenangan Helena terlintas di kepalanya, bagaimana pedasnya mulut sang istri di awal pernikahan mereka. Bagaimana cuek dan galaknya Arash pada Helena. Lalu pelan-pelan itu berubah menjadi sebuah kisah manis dan romantis, hingga keduanya bisa sampai di tahap ini. Saling mencintai.


Bahkan bayangan percintaan panas mereka pun tiba-tiba muncul begitu saja di benaknya. Arash tahu, baik dirinya maupun Helena sangat menikmati sesi panas mereka.


"Aku sungguh berharap akan ada benihku yang tumbuh di rahimmu, Helen."


Gumam Arash pelan. Arash sangat menginginkan anak dari Helena. Mengingat selama ini dia tidak pernah absen menghujani rahim Helena dengan calon anaknya.


Pria itu lantas membuka laci milik sang istri di meja riasnya. Helena sama sekali tidak membawa apapun ketika pergi. Arash membuka kotak perhiasan Helena. Bermaksud akan menyimpan cincin Helena di sana. Tanpa Arash sadari, ekor matanya melihat kotak beludru berwarna merah.


Arash membukanya, dan nampaklah cincin bermata biru milik Helena. Cincin yang menjadi awal mula pertemuan mereka. Belakangan Arash tahu, cincin itu dibuat oleh Lana, mama Lendra. Yang memang designer perhiasan. Apa yang istimewa dari itu adalah permata biru dari cincin tersebut merupakan potongan dari "Heart of the Ocean"



Kredit Pinterest.com


Heart of the ocean,


Mahar dari Vi, suami Lana. Lana sangat bahagia dengan kelahiran Helena. Mengingat Rafael dan Valerie menunggu empat tahun untuk memiliki anak. Karena itu, Lana secara khusus meminta pada Vi, agar dia bisa memotong berlian biru itu untuk dijadikan cincin sebagai hadiah kelahiran Helena.


Arash terdiam sejenak. Pikirannya menerawang jauh.


"Alah cuma cincin seperti itu, aku bisa menggantinya sepuluh kali lipat."


"Kita akan bertemu lagi jika kita berjodoh."


"Setelah ini selesai, berjodoh atau tidak. Aku akan menemuimu. Kalau kamu tetap menolak. Tidak masalah bagiku jika aku harus memaksamu sekali lagi."

__ADS_1


Detik berikutnya, pria itu meraih ponselnya. Dia meletakkan cincin Helena di samping cincin dari Lana. Lantas menutupnya.


"Halo, Tante. Bisa Arash minta tolong. Buatkan Arash....."


*


*


"Kau sudah gila atau bagaimana sih?"


Baik Shan maupun Ang langsung menunjukkan reaksi yang sama. Begitu Arash selesai bercerita. Wajah pria itu kuyu, sebab dia tidak bisa tidur semalaman. Dia pulang dari rumah sakit hampir tengah malam. Dan setelahnya dia nyaris tidak bisa memejamkan mata sampai pagi menjelang.


Pria itu hanya sibuk dengan satu nama. Helena, satu nama itu yang memenuhi kepala Arash.


"Aku memang gila. Melepas wanita yang kucinta demi hal yang entah aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya."


Shan dan Ang saling pandang, mereka seketika bisa merasakan bagaimana menderitanya Arash. Padahal Shan tadinya mau pamer kalau dia berhasil belah durennya Meisya. Lalu mau minta cuti dua hari. Mumpung Meisya lagi liburan.


Tapi melihat keadaan Arash, Shan mengurungkan niatnya. "Lalu ini ceritanya bagaimana? Kalian cerai begitu?"


Ang bertanya menggebu-gebu. Dilihatnya Arash menggeleng.


"Lalu kapan selesainya? Katamu dua minggu lagi, bayinya harus dilahirkan. Lalu setelah itu bagaimana?"


Shan bertanya sembari meraih ponselnya yang berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Shen. Setelahnya, mata Shan membulat.


"Arash, Hugo mengambil alih kantor Helena."


Arash langsung merebut ponsel Shan. Membaca pesan Shen, lalu tanpa ragu, pria itu menghubungi Shen. Menanyakan kebenaran pesan Shen.


Diujung sana. Shen tampak gelagapan ketika nomor sang kakak menghubunginya. "Jawab saja."


Suara berat Hugo terdengar. Shen mengangkat panggilannya. Detik berikutnya, mata Shen dan Hugo bertemu pandang. "Arash."


Ucap Shen tanpa suara. Hugo mengangkat tangannya. Memberi kode Shen untuk menjawab apapun pertanyaan Arash.

__ADS_1


"Jadi di mana dia?" tanya Shen begitu dia mematikan panggilan Arash.


"Untuk sementara, dia masih di rumah. Si brengsek itu....ingin sekali aku mengirimnya ke rumah duka."


Hugo berkata sembari mengeratkan rahangnya. Kakaknya yang ceria, langsung menjadi pendiam ketika Arash pergi.


"Hugo, tidakkah kamu bisa memandang semua dari sisi yang berbeda. Tidak...aku tidak membela Arash. Meski mungkin, ada solusi yang lebih baik dari ini."


"Si brengsek itu, dia tidak mau menceraikan kak Helen. Mau sampai kapan dia menggantung status kakakku."


Adik Helena itu terlihat marah sekali. Shen hanya bisa menarik nafasnya dalam. Dia tahu benar kalau Arash tidak akan meninggalkan Helena. Shen bisa merasakan betapa besarnya cinta Arash pada sang sahabat.


"Dia tidak mau berpisah dengan kakakmu. Karena dia ingin kembali padanya."


Hugo berdecih pelan. Dia tidak percaya pada Arash.


"Kamu bilang seperti itu karena kamu belum pernah jatuh cinta."


Ledek Shen. Dia tahu persis karena Hugo belum pernah menggandeng gadis manapun untuk dia jadikan kekasih. Bahkan sekedar membawanya pergi ke undangan acara kantor atau sejenisnya. Hugo memilih pergi sendiri.


"Siapa bilang aku belum pernah jatuh cinta. Aku pernah."


Bayangan wajah Lira, adik Lendra seketika muncul di benak Hugo. Lira, mungkin satu-satunya gadis yang mampu membuat hati Hugo berdesir. Gadis itu, gadis pertama yang mampu membuat Hugo betah memandangnya lebih dari lima menit. Gadis pertama yang bisa membuat Hugo menoleh dua kali untuk bisa melihatnya.


"Jika kau pernah mencintai seseorang. Kau tidak menginginkan yang lain dalam hidupmu. Seperti Arash dan Helena. Arash, jelas dia tidak mau melepaskan kakakmu. Sedang Helena, aku jamin. Setelah ini, dia akan menutup rapat pintu hatinya. Dia tidak akan membukanya kembali, kecuali Arash yang melakukannya."


Shen berlalu dari hadapan Hugo. Meninggalkan pria tampan itu sendiri dengan jutaan pikiran memenuhi kepalanya. Masalah kakaknya, masalah perusahaan. Dan masalahnya sendiri.


Dia hanya menginginkan Lira, hanya Lira. Pria itu tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri. Dia teringat pernah memaksa mencium Lira saat terakhir kali mereka bertemu.


"Apa aku juga seperti mereka?"


Gumam Hugo, dia semalam mendengar sang kakak berkata pada mamanya. Dia tidak bisa jauh dari Arash, tapi dia tidak ingin menjadi wanita jahat. Jika dia tetap ada di samping Arash, pria itu pasti tidak mau bertanggungjawab pada anaknya.


"Ciiihh, kau terlalu baik, Kak."

__ADS_1


Gerutu Hugo. Pria itu mendengus kesal. Detik berikutnya, adik Helena itu sudah berkutat dengan pekerjaannya. Untuk selanjutnya, dia yang akan menghandle kantor Helena. Sampai sang kakak mampu mengatasi perasaannya. Mampu menguatkan hatinya. Hingga dia bisa berdiri kembali.


*****


__ADS_2