
Helena memutuskan untuk keluar berjalan-jalan, sudah hampir tiga minggu lebih dia hanya berkutat di dalam rumahnya. Meski kantor dihandle Hugo. Tapi wanita itu tetap bekerja dari rumah. Helena tahu, papanya dan Hugo akan kewalahan menghandle perusahaan mereka. Meski sudah dibantu banyak asisten kepercayaan mereka.
Beberapa pekerjaan yang bisa dia kerjakan di rumah, akan dikirim via e-mail oleh Shen. Kekasih Angelo itu beberapa kali mengunjungi. Tanpa sepengetahuan Ang. Sebab jika Ang tahu soal Helena, Arash juga tahu soal Helena.
"Kamu jangan melakukan ini. Menyembunyikan sesuatu dari pasangan itu tidak baik."
Tapi Shen hanya menggeleng pelan. Dia merasa iba dengan keadaan Helena. Demi orang lain, dia rela menderita. Demi anak orang lain, dia rela kehilangan cinta. Rasanya Shen ingin menghajar Arash.
"Yakin mau keluar? Mau Mama temani?"
Valerie menawarkan diri. Helena menggeleng pelan. Meyakinkan Valerie kalau dirinya baik-baik saja. Sang mama hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Menatap punggung Helena yang menghilang di balik pintu.
Helena menuju sebuah tempat yang suka dia kunjungi saat sedang sedih. Taman bunga. Di pikirannya, pasti akan menyenangkan kalau dia menghirup wangi bunga.
Seulas senyum terukir di bibir Helena. Wajah Helena masih menyisakan sembab, meski begitu rona cantik tetap terlihat di wajahnya. Begitu sampai, wanita itu langsung melangkah masuk dengan antusias.
Hingga kemudian langkahnya terhenti. Dia merasa mual ketika mencium aroma bunga. Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba tidak menyukai bau bunga. Huwekkk, Helena menutup mulutnya. Rasa mual itu semakin parah dia rasa.
Sampai akhirnya dia kembali masuk ke mobilnya. Tidak jadi masuk ke taman bunga. Sampai di mobil, dia mencari sesuatu untuk meredakan rasa mualnya. Dan sebuah botol aromaterapi beraroma musk dia temukan di laci mobilnya.
Helaan nafas lega terdengar dari bibir Helena. Wanita itu melajukan mobilnya menjauh dari tempat tersebut. Helena membawa mobilnya tanpa arah tujuan. Hingga sebuah aroma lezat membuat perutnya terasa lapar. Aroma pizza yang menguar dari sebuah restauran Italia di depan sana. Tepat di sisi kanannya.
Tanpa ragu, Helena memarkirkan mobilnya di sana. Lalu masuk ke dalamnya. Mengambil tempat duduk di dekat jendela. Wanita itu langsung memesan satu loyang pizza. Sembari menunggu, dia memainklan ponselnya. Mengecek e-mail yang masuk dari Shen.
Tak perlu waktu lama, satu porsi pizza berukuran medium sudah tersaji di depan Helena. Air liur hampir menetes melihat pizza yang masih mengebul di hadapannya.
Kredit Pinterest.com
Pepperoni and Burrata Pizza with Pesto,
"Enakk sekali!"
Gumam wanita itu. Dia makan dengan lahap. Seperti orang yang lama tidak makan. Separuh porsi dia habiskan sendiri. Ketika suara pintu dibuka, mengalihkan perhatiannya. Ditambah sebuah suara menyapa indera pendengarannya.
"Helena!"
Seru Brigitta girang. Wanita itu hampir berlari, ketika dengan cepat Rian mencekal tangan sang istri. "Jangan lari!"
__ADS_1
Desis Rian penuh peringatan. Brigitta langsung mendudukkan diri di hadapan Helena. Wanita itu tampak tergoda dengan pizza di hadapan Helena.
"Makanlah."
Keduanya lantas tersenyum. Lalu bersamaan mengambil potongan pizza lalu memakannya. "Malah nebeng sama pizza tantenya."
Seloroh Rian. Mendengar kata tante, Helena menyipitkan mata. "Tante?"
"Dia hamil, Helen. Gue mau jadi ayah. Gue bisa punya anak!"
Rian hampir berteriak saking senangnya. Mata Helena berbinar bahagia. Dia ikut senang mendengar Rian akhirnya bisa memiliki anak.
"Tenang aja. Gue yakin kalau Arash juga bisa menghamili lu."
Brigitta mendelik mendengar bahasa Rian. Rian lalu nyengir sambil minta maaf. Wajah Helena seketika berubah sendu mendengar nama Arash di sebut.
"Kenapa? Ada masalah?"
Helena terdiam. Hingga genggaman tangan Brigitta membuat Helena sadar.
"Ceritalah, aku dan Rian akan membantu sebisa kami."
Mata Helena berkaca-kaca. Hubungannya dengan Brigitta sudah kembali seperti sedia kala. Bersama Shen, mereka akan senantiasa ada untuk Helena.
"Apa kau ingin aku menghajarnya?"
Tawar Rian. Helena menggeleng pelan. Helena menjelaskan kalau dirinya yang memilih mundur. Sampai sekarang, Arash tidak pernah mau menceraikannya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Brigitta bertanya. Helena sesaat terdiam. Wanita itu kembali menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang. Yang jelas, dia akan sembunyi untuk sementara waktu dari Arash.
"Yakin tidak mau aku antar?"
Rian bertanya sembari membukakan pintu mobil Helena. Wanita itu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Rian tanpa sadar mengusap pucuk kepala Helena. Kebiasaan Rian sejak dulu.
"Jangan melakukannya lagi, kau sudah punya istri sekarang. Aku tidak mau Brigitta salah paham pada hubungan kita."
Kata Helena sebelum menutup pintu mobil. Tanpa mereka tahu, dari seberang jalan. Arash melihat pemandangan itu dengan wajah merah menahan marah. Dia tidak menduga kalau Helena akan bertemu Rian kembali. Tanpa dia tahu kalau ada Brigitta di dalam restauran.
__ADS_1
Mobil Helena melaju, meninggalkan Rian yang kembali masuk ke restauran. Beberapa menit berkendara, sebuah mobil menghadang mobil Helena. Tindakan mobil itu membuat Helena reflek menginjak pedal remnya dalam dan mendadak.
Terdengar bunyi "ciiiiiit" yang sangat keras. Helena hampir saja terbentur kemudinya. Tak berapa lama, sebuah ketukan terdengar di kaca mobil Helena. "Arash!" Panik Helena.
Wanita itu belum siap atau lebih tepatnya tidak mau bertemu Arash. "Buka pintunya atau kuhancurkan kacanya!"
Arash berucap penuh emosi. Helena menggeleng. Hingga Arash pun meradang. Sebuah batu langsung dihantamkan ke kaca Helena. Wanita itu berteriak, sambil menutupi kepalanya menggunakan tangannya. Menghindari pecahan kaca yang menghambur ke arahnya.
"Mau ke mana?" Helena bertanya panik. Ketika Arash menarik tangan wanita itu, begitu Arash berhasil membuka pintu.
"Diamlah!" Raung Arash.
"Tapi mobilku...."
Tanpa menjawab Arash memasukkan Helena paksa ke mobilnya. Memasangkan seatbeltnya, lalu mengunci pintu sebelah Helena.
"Arash....."
Pria itu meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Memberi kode diam pada Helena. Tak lama, Arash menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Ambil mobil Helena di Jalan XX. Bawa ke bengkel."
Singkat dan jelas. Setelahnya, pria itu langsung melajukan mobilnya kesebuah tempat. Yang Helena tidak tahu di mana itu.
30 menit perjalanan, tanpa pembicaraan apapun. Arash melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Helena yang duduk di sampingnya, merinding ketakutan. Wanita itu memegang erat seatbelt-nya.
"Arash! Pelan-pelan! Kau ingin kita mati konyol!"
Helena berteriak, hampir menangis. Tapi Arash yang sedang terbawa emosi, pria itu tidak menggubris perkataan sang istri.
"Arash!"
Helena kembali berteriak ketika melihat spedometer Arash menyentuh angka 100km/jam. Mendengar teriakan histeris Helena, dan tangisan wanita yang duduk di sampingnya, membuat Arash tersadar.
Pria itu menepikan mobilnya. Tanpa ragu, memeluk tubuh sang istri yang bergetar hebat, ketakutan.
"Maafkan aku. Maafkan aku!"
Helena membiarkan Arash memeluk tubuhnya. Wanita itu menumpahkan tangisnya. Terisak sejadi-jadinya.
__ADS_1
Sementara Arash hanya bergeming, memeluk tubuh itu untuk beberapa waktu. Di sisi lain, Helena begitu menikmati pelukan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Terasa sangat nyaman. Tidak Helena pungkiri, dia juga merindukan Arash.
*****