Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Serangan Dadakan


__ADS_3

"Apa salahnya dengan itu?"


Pertanyaan itu kembali meluncur dari bibir Rian. Ketika Brigitta tidak berhenti merutuki kebodohannya yang selalu terjatuh pada pesona mantan Helena.


Brigitta mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan suaminya. "Apa kamu tidak berpikir kalau aku ini bodoh atau sejenisnya?"


Rian terkekeh. Dia pikir hubungannya dengan Helena sudah berakhir hampir...enam tahun lalu..mungkin. Tapi kenapa masih ada yang membahas kebersamaan mereka di masa lalu. Tidakkah itu menggelikan.


"Siapa yang bodoh? Bukan bodoh namanya tapi cemburu."


Brigitta langsung melengos saat Rian menyebutnya cemburu." Aku tidak cemburu ya!"


"Lalu apa namanya?" Goda Rian.


"Eehhh mau apa?"


Brigitta mendorong jauh dada Rian yang semakin menghimpitnya. Tapi pria itu tidak bergeming sedikitpun.


"Mau apa? Apa saja boleh aku lakukan. Kan kita sudah menikah."


Glek!


Brigitta menelan ludahnya seketika. Dia lupa mereka sudah menikah. Itu berarti mereka bisa....


Brigitta masih berkutat dengan pikirannya sendiri ketika Rian mulai menautkan bibirnya. Mata Brigitta membulat, saat merasakan bibirnya dan bibir Rian bersentuhan.


Tubuh Brigitta langsung panas dingin dibuatnya. Padahal ini bukan kali pertama, dia disentuh oleh pria. Tapi Brigitta merasakan perbedaan antara ciuman Rian dan Evan.


Rian mencium Brigitta lembut dan dalam, penuh rasa cinta. Merasa tidak ada penolakan Rian semakin memperdalam ciumannya. Pria itu bahkan mulai ******* bibir Brigitta.


Hasrat Brigitta mulai terpancing. Bodo amat dengan keadaanya yang belum mandi. Dalam sekejap, dua pengantin baru itu sudah terlibat dalam pertukaran saliva yang semakin lama semakin membakar keduanya.


Hormon kehamilan Brigitta membuat wanita itu lebih agresif. Tak menunggu waktu lama, keduanya sudah berpindah ke atas kasur, dengan gaun pengantin Brigitta sudah teronggok di lantai. Entah bagaimana dan kapan, Rian bisa meloloskan gaun itu dari tubuh sang istri.


Brigitta berjengit, ketika Rian mencium perut Brigitta yang masih terhitung rata. "Aku akan melakukannya dengan pelan. Papa jamin tidak akan menyakitimu."


Ucapan Rian membuat Brigitta menitikkan air mata. Suaminya mau menerima kehadiran bayi dalam perutnya, meski Rian tahu kalau itu bukan darah dagingnya.


Detik berikutnya Brigitta langsung mencengkeram lengan Rian. Kala pria itu berusaha memasukinya. Rian jelas terkejut ketika dia mendapati milik Brigitta sangat sulit dibobol.


"Bukankah dia sudah pernah melakukannya sebelumnya. Bahkan sedang mengandung. Kenapa rasanya aku seperti memerawani seorang gadis." Batin Rian bingung.

__ADS_1


Perlu beberapa waktu hingga Rian sukses menyatukan diri dengan Brigitta. Pria itu seketika mencium wajah Brigitta yang terisak. Rian sendiri menggunakan dua tangannya untuk bertumpu. Tidak langsung menindih tubuh sang istri. Dia cukup khawatir, dengan posturnya yang tinggi besar, dia akan menekan perut Brigitta terlalu kuat.


"Maaf."


Satu kata yang lolos dari bibir Rian. Brigitta menggeleng pelan. Perlahan diusapnya wajah Rian, kemudian dikecupnya bibir sang suami. Seolah mendapat lampu hijau, Rian mulai bergerak.


Malam itu, menjadi malam panas pertama bagi Rian, dan yang ke sekian untuk Brigitta. Meski begitu, Brigitta sangat menikmati penyatuannya dengan Rian, sang suami. Rasanya sungguh berbeda.


Rian menutup sesi panas mereka dengan melabuhkan sebuah ciuman hangat pada Brigitta. Pria itu tidak berani berlama-lama untuk sesi pertama ini. Dia takut kalau Brigitta akan kelelahan, sebab sejak beberapa hari ini, sang istri sudah disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Dua kali pelepasan cukup untuk Rian. Lain kali dia bisa menyambungnya. Toh mereka sudah resmi menikah. Bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja.


"Terima kasih. Tidurlah. Besok kamu pindah ke rumah kita."


Kata Rian. Menutup tubuh mereka dengan selimut. Pria itu mengusap lembut perut Brigitta. Lalu memeluk tubuh polos sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi. Sebuah kecupan melandas di kening Brigitta sebelum Rian ikut memejamkan mata.


*


*


"Aku tidak tahu kalau Rian adalah mantanmu."


Ada nada menuduh dalam kalimat Arash. Helena berbalik lalu menatap wajah Arash yang kini tengah menatapnya tajam. "Lalu? Apa aku perlu membahas mantanku waktu aku kuliah dulu."


Balas Helena ketus. Berikutnya, Helena langsung masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Arash yang langsung meraup wajahnya frustrasi. Mantan yang kembali menjadi selingkuhan. Oh my God, kenapa semua jadi runyam begini.


"Sial! Kenapa dia seksi sekali."


Arash membatin semakin frustrasi. Pria itu pun masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama, keluar dengan training panjang dan shirtless tentunya. Helena hanya acuh ketika merasakan Arash ikut berbaring di sampingnya.


"By....."


Tidak ada respon. Helena sendiri merasa sangat lelah. Ditambah moodnya sedikit rusak karena pertanyaan Arash. Dia saja tidak pernah menanyakan siapa wanita yang pernah menjadi kekasih Arash di masa lalu. Kenapa Arash sekarang mempermasalahkan hubungannya dengan Rian di waktu dulu.


Arash mendengus kesal, Helena mengabaikannya. Pria itu pun ikut tidur namun dengan posisi membelakangi sang istri. Hingga keduanya tidur saling membelakangi.


*


*


"Om yang tadi itu teman Om ya?"


Tanya Meisya, keduanya sedang bermain game. Karena Shan tidak mengizinkan Meisya keluar, meski si Daddy sudah selesai dipermak. Maka istri kecil Shan itu merengek untuk ditemani main game.

__ADS_1


"Temannya kak Helena."


Shan menjawab singkat. Matanya fokus pada layar besar di hadapannya. Sementara Meisya malah melamum. Gadis tanggung itu teringat Rian yang mencium Brigitta setelah mereka selesai bertukar cincin.


Dia teringat, dulu dia dan Shan tidak melakukannya. Bahkan sampai sekarang keduanya belum pernah melakukannya. Meisya menggigit bibirnya. Dia teringat omongan Meta, teman satu gengnya.


"Elu pernah indehoy belum sama suami kamu?"


Meta tergelak ketika Meisya menggeleng. "Punya laki kece badai kok dianggurin. Kalo gue, udah gue garap tiap hari. Bodo amat kalo gue hamil. Toh punya suami ini. Mana tajir lagi suami elu."


Meisya menelan salivanya susah payah. Dia kembali menatap Shan. Iya, Shan memang tampan, body seksi gila, dan tentunya hot. Tidak salah jika Meisya menyukai Shan sejak dulu. Gadis itu seketika menggigit bibir bawahnya. Mengingat perkataan Meta, "Enak tahu begituan." Kompor Meta.


"Kok malah bengong sih. Kalau sudah ngantuk merem sono."


Shan berkata ketika melihat Meisya yang malah melamun sambil memperhatikan dirinya. "Ck...dia benar-benar menggoda."


Pria itu masih memakai kemeja yang dia pakai tadi, dengan dua kancing teratas terbuka. Menampilkan sekilas dada bidang yang membuat otak Meisya mulai tidak karuan.


"Lah kenapa ni otak jadi mikir yang nggak-nggak sih."


"Om....."


"Apa?"


"Memang orang kalau udah nikah boleh ciuman?"


Shan seketika menoleh ke arah sang istri. Heran, kenapa tiba-tiba Meisya bertanya hal itu. Hingga sudut bibir Shan tertarik. Meisya tengah mengkode dirinya.


"Boleh banget. Lebih dari ciuman juga boleh."


Jawab Shan penuh arti. Meisya kembali menggigit bibir bawahnya. Dan hal itu membuat Shan gemas.


"Kenapa, pengen? Mau diajarin?"


Shan menaikkan satu alisnya.


"Sakit gak?"


Gubrak!!! Senyum Shan pudar seketika. Hadeuuuhhh gini amat punya istri cupunya keterlaluan. Detik berikutnya, Shan menarik tubuh Meisya mendekat, lantas tanpa ragu mencium bibir mungil Meisya.


Meisya langsung membulatkan matanya mendapat serangan dadakan dari sang suami.

__ADS_1


*****


__ADS_2