Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Drama Cia


__ADS_3

"Elu gila, Rash!"


Maki Shan tapi sedikit berbisik. Sementara yang dikatai gila hanya nyengir tanpa dosa.


"Lebih gila lagi kalau Helen terus-terusan ngamuk sama gue. Semakin tidak aman aja jatah gue."


Shan seketika menepuk jidatnya. Kedua pria itu mencari dalam kamar Cia dan ruang kerja wanita itu. Ya, keduanya sedang menggeledah kamar bumil yang terus meneror Arash.


Yang mereka lihat di kafe adalah Cia dengan Aldo. Arash hafal betul kalau Cia suka betah nongkrong di cafe, apalagi kalau tempatnya nyaman seperti tadi. Bisa tengah malam wanita itu baru pulang.


"Gak ada,"


Gerutu Shan. Pria itu sudah mengacak-acak meja kerja Cia. Sementara Arash, mencari di kamar Cia. "Cari lagi Shannon Andrew, sampai ketemu, kalau nggak....awas!"


Shan berdecak kesal. Arash selalu bisa menekannya dengan berbagai cara. Hampir 45 menit mereka mencari dan hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Tes DNA yang asli.


Sampai akhirnya mereka menyerah. Mereka melenggang keluar dari apartemen Cia setelah merapikan kekacauan yang mereka buat. Tanpa Arash dan Shan tahu ada brankas kecil di bawah meja kerja Cia.


Arash memijat pelipisnya. Harus bagaimana lagi dia membuktikan kalau anak itu bukan anaknya. Hasil tes DNA itu palsu. Belum lagi soal Helena dengan Rian.


"Lu gak apa-apa?" Shan turut prihatin dengan keadaan Arash.


"Gue pusing Shan."


Setelahnya Arash menceritakan bagaimana Helena memilih mundur setelah tahu soal tes itu, juga setelah dia mendengar kesaksian Aldo. Arash jelas tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Belum lagi, desakan dari Cia yang menginginkan dia segera menikahi wanita itu.


"Ternyata jadi orang kaya pusing juga ya."


"Elu aja yang gak kaya, pusing. Apalagi gue."


"Ck...itu sama artinya Rash."


Dua pria itu lantas menghembuskan nafas kasar bersamaan. Berbarengan dengan itu, mereka melihat Aldo dan Cia masuk ke apartemen Cia. Keduanya menggelengkan kepala.


"Dan elu mau gue mau nikah sama wanita model begituan. Hamil besar, keluyuran sama pria yang gak jelas siapanya. Mabuk lagi."


"Gue gak nyuruh elu Rash. Tapi dia yang ngotot pengen nikah ma elu. Lagian gue heran sama elu. Bagaimana dulu elu bisa terjerat Cia sih."

__ADS_1


Arash terdiam sembari mengusap dagunya pelan. Ingatannya melayang ke satu setengah tahun lalu. Di mana dia sedang putus asa ketika mendengar kabar kalau cinta pertamanya menikah. Dalam masa itu, dia bertemu Cia. Yang waktu itu terlihat begitu menawan di matanya. Hingga untuk sesaat dia bisa melupakan bayang-bayang cinta pertamanya.


Tapi nyatanya itu cuma perasaan nyaman sesaat. Bukan cinta yang Arash cari. Bukan cinta seperti yang ia rasakan pada sang istri Helena. Cintanya pada Helena membuat Arash tidak lagi bisa perempuan lain di matanya. Seluruh hati dan pikirannya hanya dipenuhi oleh nama Helena seorang. Sampai sekarang dia tidak rela dan mau kehilangan wanita itu.


"Gue gak tahu dia dulu pakai apa sampai gue tergila-gila sama tu perempuan."


Geram Arash. Baru kali ini menyadari kebodohannya dalam hal wanita. Padahal sang papa sudah berkali-kali memperingatkannya. Tapi dia tidak mengindahkannya.


"Jadikan ini pelajaran buat elu. Sekarang elu cintaa kan sama Helen. Jadi jangan pernah lepasin dia."


"Kalau dia kekeuh minta pisah bagaimana?"


"Ya elu berusaha dong, jangan sampai dia minta pisah. Elu kan pebisnis handal. Pakai otak elu yang isinya untung sama rugi itu."


"Cinta pakai perasaan, Bro. Bukan patokan nominal angka yang kita sebut untung sama rugi."


"Alah sakarepmu. Pokoknya jangan sampai Helena pisah dari elu."


Arash menghela nafasnya. Bagaimana caranya menahan Helena, kalau dia bersikeras ingin pisah, ditambah sekarang dia dekat dengan seorang pria.


Sementara itu, Helena terlihat gelisah. Tidur tanpa Arash di sampingnya membuat wanita itu tidak bisa memejamkan mata. Aroma tubuh dan pelukan sang suami seolah pengantar tidur untuknya.


Helena menendang selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Meski detik berikutnya dia meringis. Perut bagian bawahnya terasa sakit. Kenapa lagi ini, pikir Helena. Wanita itu akhirnya hanya bisa merintih sembari tidur dengan posisi miring.


Sesekali wanita itu menggigit bibirnya. Mengapa rasanya sakit sekali, tidak seperti kram perut yang biasa dia alami kalau tengah datang bulan. Pelan, wanita itu merayap ke arah nakas. Mengambil sebutir pil penahan sakit lalu menelannya tanpa air. Helena terlatih untuk itu.


Rasa sakit itu mulai reda, dan dia bisa memejamkan mata. Tidur meringkuk sambil memeluk perutnya. Tak berapa lama, pintu kamar terbuka.


Arash tertegun melihat selimut yang teronggok di lantai. Lalu Helena yang tidur dengan posisi yang menurutnya aneh. "Kenapa kamu?" gumam Arash. Mencium kening Helena lalu masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengganti baju.


Pria itu ikut naik ke kasurnya. Merasa ada pergerakan, Helena reflek mengubah posisinya. Wanita itu langsung memeluk tubuh sang suami. Mencari kehangatan dan kenyamanan atas tubuh Arash. Pria itu tersenyum dibuatnya.


Tangan Arash langsung memeluk pinggang Helena. Sementara pikirannya melayang jauh entah ke mana.


"Untukmu aku bahkan bersedia rugi, Helena."


Batin Arash, mencium puncak kepala sang istri.

__ADS_1


*


*


"Jadi apa keputusanmu? Kapan kita akan menikah?" tanya Cia sumringah.


Bukan jawaban yang bumil itu jawab. Tapi selembar cek. Cia mengerutkan dahi, dengan matanya dia bertanya pada Arash.


"Apa ini?"


"Tulislah sebanyak yang kau mau. Setelah itu pergi dari hadapanku."


Cia membulatkan matanya mendengar perkataan Arash. Tujuannya memang uang. Tapi dia tidak akan menunjukkan ketamakannya secepat ini.


"Kau ingin membuangku dan anakmu dari hidupmu. Dengan memberiku uang? Kau keterlaluan Arash!"


Cia bertanya dengan tatapan tidak percaya. "Sebenarnya aku bisa mulai mengeruk hartanya dari sini. Tapi....nanti saja. Sabar Cia, sabar untuk menangkap ikan besar perlu kesabaran ekstra."


Dia harus terlihat menjunjung tinggi harga dirinya. Dia tidak boleh terlihat matre dan murahan.


"Tidak. Aku membiayai hidup kalian. Aku menjamin hidup kalian. Aku ingin kau sendiri yang menulis angkanya. Sebab kau sendiri yang tahu berapa keperluan kalian. Dan kau bisa memintanya lagi jika itu kurang."


Mata Cia langsung berbinar senang. Dan hal itu ditangkap oleh Arash. "Sepertinya dugaan Ang soal kau hanya menginginkan uangku itu benar." Arash menyeringai sambil membatin.


"Aku boleh minta lagi jika kurang?"


Cia seperti ingin melompat saking senangnya. Arash benar-benar sudah berada dalam genggamannya. Tapi sisi lain dari Cia langsung memperingatkan.


"Kau jelas terlihat matre jika mengambil cek itu sekarang. Bermainlah tarik ulur dengannya."


Cia seketika mengurungkan niatnya untuk mengambil cek itu. Arash yang merasa hampir menang seketika terdiam. Saat Cia mendorong kembali cek kosong itu ke arahnya.


"Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin kita menikah. Karena aku sangat mencintaimu. Ini juga demi anak kita."


"Sial! Dia tidak tergiur dengan uangnya."


Maki Arash dalam hati. Padahal dia sudah memberikan anggaran untuk Cia dan "anaknya." Sedang Cia langsung menarik dua sudut bibirnya. Melihat wajah shock dan kesal Arash.

__ADS_1


"Drama apa sih yang sebenarnya Cia main kan sekarang ini." Batin Arash dongkol.


*****


__ADS_2