Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terima Kasih


__ADS_3

Helena terbangun keesokan harinya setelah cahaya matahari menganggu tidurnya. Sinar mentari menyusup masuk melalui sela-sela tirai di kamar Arash. Helena menggerakkan tubuhnya, ketika dia merasakan sebuah pelukan di perutnya.


Ah, dia lupa. Dia dan Arash sudah kembali bersama. Wanita itu tersenyum, mengangkat wajahnya. Melihat wajah Arash yang tidur di depannya. Tampan seperti biasa. Ya...wajah Arash memang tampan.


Helena menggigit bibir bawahnya. Mengingat percintaan mereka semalam. Pria itu benar-benar melakukannya dengan lembut, sesuai permintaannya. Hanya saja, tubuh Helena sekarang lelah sekali.


Arash benar-benar membuatnya mendesah sepanjang malam. Pria itu seperti menebus puasanya empat bulan dalam satu malam. Sekarang Helena ingin ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan gerah. Dia ingin mandi.


"By...."


Tidak ada respon dari Arash. Wanita itu berusaha melepaskan diri dari belitan tangan sang suami. Pergerakannya itu mengganggu tidur Arash.


"Apa?"


"Pengen ke kamar mandi. Gerah."


Arash kemudian melepaskan sang istri. Helena dengan segera mengambil kemeja yang teronggok di lantai karpet lalu memakainya. Arash nampak mengganti posisi tidurnya menjadi tengkurap. Menampilkan punggung kokoh nan lebar miliknya.


Helena kembali menggigit bibirnya. Ada bekas cakaran di punggung mulus itu. Helena dengan segera masuk ke kamar mandi, untuk menghilangkan bayangan percintaan mereka semalam.


*


*


Mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter kandungan. Untuk pertama kalinya, Arash bisa melihat calon anaknya. Wajah Arash terharu, campuran antara bahagia dan rasa bersalah. Dia melewatkan lima bulan perkembangan calon anaknya. Dalam hati, Arash berjanji akan menebus semua waktu yang sudah terbuang selama ini. Dia akan mencurahkan seluruh perhatiannya pada Helena dan calon anaknya.


David yang bertemu mereka di lorong rumah sakit, tampak tersenyum bahagia. Melihat Helena dan Arash datang berdua, itu memberinya petunjuk kalau dua orang itu sudah berbaikan.


Pria itu lantas memeluk sang ponakan erat. Berpesan untuk menjaga kehamilan Helena. Setelah bertemu David, Helena meminta Arash untuk menemaninya menjenguk Cia. Awalnya Arash menolak. Tapi setelah Helena merengek, akhirnya pria itu mengalah.


Hingga di sinilah keduanya. Berada di ruang ICU Cia. Wanita itu tampak berkaca-kaca. Melihat bagaimana keadaan Cia. Dia teringat bagaimana angkuh dan sombongnya wanita itu saat bertemu dengannya pertama kali.


Tapi itu semua sudah berlalu, tidak ada dendam sedikitpun di hati Helena. Aldo yang bertemu Helena, hanya bisa meminta maaf berkali-kali. Meminta maaf atas kebohongannya dan juga atas sikap Cia yang membuat dia dan Arash harus berpisah.


Lagi-lagi, Helena hanya tersenyum mendengar permintaan maaf Aldo. Jujur ada rasa marah dalam diri Helena. Dia juga manusia biasa. Namun melihat keadaan Cia, rasa marah itu menguap entah ke mana. Berganti rasa iba pada mama Sassy itu.

__ADS_1


Sejenak berada di ruangan Cia, tiba-tiba saja wanita itu meminta izin untuk melihat Sassy. Aldo sempat terkejut, mendengar permintaan Helena. Dia pikir, Helena akan membenci anak Cia.


"Oh ayolah, hanya orang gila yang akan membenci seorang bayi yang mungil dan juga imut."


Kekeh Helena. Sampai akhirnya, dua pria itu melongo, melihat bagaimana luwesnya Helena saat menggendong Sassy. Ditambah bayi kecil itu terlihat sangat menyukai Helena. Dalam gendongan Helena, bayi kecil tampak berceloteh tidak jelas. Menirukan Helena yang juga bergumam ala bayi.


"Dia lucu sekali."


Helena berkata sembari terus berbicara pada Sassy. Dua pria itu hanya bisa saling pandang, melihat interaksi Helena dan Sassy. Hingga waktu minum susu tiba, dan bayi itu akhirnya terlelap dalam gendongan Helena.


"Kamu kasihan sekali, kamu belum permah bertemu mamamu. Kamu pasti merindukan mamamu kan?"


Gumam Helena sembari mencium lembut kening Sassy, bayi lucu itu menggeliat pelan. Meski tidak membuka matanya.


"Apa kalian pernah mempertemukan Sassy dengan Cia?"


Helena bertanya setelah mengembalikan Sassy ke box bayinya. Baik Arash dan Aldo menggeleng bersamaan. Helena sejenak melihat Sassy yang tampak pulas di dalam kasurnya.


"Cobalah untuk mempertemukan keduanya. Siapa tahu, Cia mau bangun setelah mendengar suara Sassy. Bounding (ikatan batin) antara ibu dan anak biasanya sangat kuat."


Sassy tampak bergerak lincah ketika dibaringkan di samping sang mama. Seolah tahu itu mamanya, bayi kecil itu terlihat menggapai-gapai ingin menyentuh tubuh Cia. Bayi itu sudah mulai memiringkan badannya. Hingga mempermudah usahanya untuk memegang wajah Cia.


Aldo terlihat tidak mampu menutupi rasa harunya. Pria itu berkali-kali mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dia sungguh tidak percaya melihat interaksi mama dan anak itu.


Selama sepuluh menit, Sassy dibiarkan berada di samping Cia. Hingga Aldo dengan terpaksa mengambil Sassy, karena tim dokter hanya memberi waktu sepuluh menit tiap pertemuan Saasy dan mamanya.


Tapi tangis Sassy pecah begitu bayi mungil itu diangkat oleh Aldo. Dibawa menjauh dari Cia. Sassy sèolah tahu kalau dia akan dipisahkan kembali dengan sang mama. Tangis Sassy terdengar nyaring di ruangan itu.


Tanpa mereka tahu setitik air mata menetes di sudut mata Cia. Dia bisa mendengar tangis sang putri yang sudah tiga bulan ini lahir ke dunia. Tapi dia belum melihatnya.


"Aku ingin bangun. Aku melihat putriku. Aku ingin bertemu putriku."


Cia membatin seiring semakin kencangnya tangisan Sassy. Bersamaan dengan itu, monitor pendeteksi detak jantung Cia membunyikan alarm tanda peringatan.


Aldo dan Sassy keluar dari sana, dengan Helena yang langsung menyambut Sassy, berusaha menenangkan bayi kecil itu. Tim dokter langsung masuk dan memeriksa keadaan Cia. Untuk sesaat raut penuh ketegangan menghiasi wajah Arash dan Aldo.

__ADS_1


Tangis Sassy berhenti setelah seorang perawat memberikan susu formula bayi itu. Di dalam sana, tim dokter tampak sigap bertindak. Terlihat beberapa kali tim dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada keadaan Cia.


Tak berapa lama, seorang dokter keluar dengan wajah penuh kelegaan.


"Ada masalah dengan keadaan Cia?"


Aldo langsung memberondong dokter itu dengan pertanyaan. Sementara sang dokter hanya tersenyum mendengar pertanyaan penuh kepanikan dari Aldo.


"Anda harus berterima kasih pada orang yang sudah memberi ide untuk membawa Sassy bertemu mamanya."


"Maksud dokter?"


Dokter itu hanya memberikan isyarat dengan tangannya. Mereka melihat ke arah ruangan Cia. Para perawat tengah sibuk melepas hampir semua alat bantu di tubuh Cia.


"Dok, kenapa alat bantunya di lepas? Nanti Cia...."


"Keadaannya stabil, dia tidak perlu itu semua. Selamat Cia dalam masa penyembuhan. Dia akan bangun tidak lama lagi. Saya yakin itu."


Aldo dan Arash saling pandang percaya. Detik berikutnya, Aldo melihat ke arah Helena yang hanya menyimak sembari menggendong Sassy yang hampir terlelap.


"Terima kasih, Helena."


Kata pria itu dengan senyum penuh terima kasih terukir di bibir Aldo. Mendengar perkataan Aldo, Helena ikut tersenyum. Lantas kembali melihat ke arah Sassy.


"Don't you hear that? Your mama will wake up soon."


(Kamu dengar itu. Mamamu akan segera bangun)


Sassy yang setengah merem langsung nyengir mendengar gumaman Helena.


"Ohhh, cantiknya anak pak Aldo."


Seloroh Helena, hingga dua pria di depannya seketika meledakkan tawa. Bisa saja Helena mengucapkan kalimat yang terdengar menggelikan itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2