
Helena menatap nanar pada kertas yang ada di tangannya. Hasil tes DNA Cia ada di tangannya. Wanita itu jelas kecewa. Bagaimanapun Arash menyangkalnya, ternyata anak itu benar milik suaminya. Tanpa ia sadari, Helena mulai menangis terisak. Dia baru saja merasakan cinta pada Arash. Kenapa hal ini tiba-tiba muncul menjadi penghalang kebahagiaannya.
Jika sudah begini, jelas bagi Helena untuk memilih mundur. Anak itu perlu ayahnya, perlu status. Terlebih Helena sadar dengan keadaannya yang sulit untuk hamil. Rasa insecure seketika menyerang wanita itu.
Sebagai putra tunggal, orang tua Arash tentu ingin Arash segera memiliki keturunan untuk mengamankan kursi pewaris Tan Grup. Jika dia terus bertahan dengan Arash, bisa dipastikan akan ada kekacauan jika dirinya tidak segera hamil. "Aku harus bagaimana?" batin Helena.
Di satu sisi, dia enggan berpisah dengan Arash, sebab dia mulai mencintai Arash. Di sisi lain anak Cia memerlukan pengakuan. Status dan sebagainya, dan itu hanya bisa diberikan oleh Arash selaku ayah biologis anak Cia.
Selama beberapa hari, wajah Helena terlihat muram. Shen beberapa kali berkata, tapi istri Arash itu hanya menggeleng pelan. Kode kalau dirinya baik-baik saja. Ketika Shen bertanya pada Ang, sang kekasih mengatakan tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. "Dia kenapa?" gumam Shen pada akhirnya. Dia tahu benar kalau ada yang sedang menganggu pikiran sang sahabat.
Dalam kegalauan hati Helena, sebuah pertemuan tidak terduga terjadi. Helena bertemu dengan Brigitta di sebuah restauran suatu hari. Wanita itu tengah bersama Rian. Keduanya sedang makan siang untuk membicarakan soal pernikahan mereka.
Pertemuan Brigitta dan orang tua Rian berlangsung lancar. Mereka sangat menyukai Brigitta. Karena hal itulah kedua orang tua Rian meminta Rian dan Brigitta untuk segera menikah. Rian tentu saja menyanģgupi.
Helena dan Brigitta terpaku menatap satu sama lain. Pertemuan ini sungguh tidak diduga. Baik Helena maupun Brigitta tidak menyangka akan bertemu di tempat ini. "Siapa, Ta?" suara Rian memecah kecanggungan di antara mereka.
"Mereka....." Brigitta menjeda jawabannya. Dia ragu apa dirinya masih dianggap teman oleh Helena dan Shen. Helena dan Shen saling menatap, kemudian menarik nafasnya bersamaan. "Kami teman Brigitta," Helena berkata.
Mata Brigitta berkaca-kaca mendengar perkataan Helena. Wanita itu masih menganggap dirinya teman. "Wahh, baru kali aku ketemu teman kamu," seloroh Rian.
"Dan Anda?" Helena mengerutkan dahinya. Sepertinya dia mengenal Rian. Begitupun Rian, pria itu pun memicingkan matanya. Merasa familiar dengan wajah Helena.
__ADS_1
"Helen...untuk kejadian hari itu...aku benar-benar minta maaf." Kata Brigitta saat mereka tinggal bertiga. Rian permisi karena harus mengangkat telepon dari kantor. Ketiganya duduk di meja yang sama.
Helena sejenak terdiam. Dia sebenarnya sempat menyesal dengan sikapnya hari itu. Dia tahu, dirinya keterlaluan. Memarahi Brigitta tanpa ampun. Menuduh Brigitta macam-macam. Tapi Helena memang seperti itu. Begitu marah ya langsung meledak seperti petasan, persis ucapan Arash.
"Aku juga minta maaf. Aku tidak seharusnya memakimu seperti itu," Helena berusaha berbesar hati. Dia akhirnya sadar tiap orang pernah membuat kesalahan. Termasuk Brigitta bahkan dirinya. Melihat Brigitta yang terlihat menyesal. Hati Helena akhirnya luluh. Pada dasarnya dia memang tidak bisa marah terlalu lama pada sahabatnya.
Mendengar perkataan Helena, Brigitta langsung melihat pada wanita. Seulas senyum terbit di bibir keduanya. Suasana mencair seketika. Shen ikut merasa lega. Melihat persahabatan mereka akhirnya bisa pulih kembali.
"Yang tadi itu siapa?" tanya Shen setelah mereka bisa menghilangkan kecanggungan di antara mereka. "Emmm, dia calon suamiku," kata Brigitta sedikit ragu.
"Whattt??!!!" Shen dan Helena berteriak hampir bersamaan. Dua bulan tidak bertemu, sekalinya bertemu, Brigitta membawa kabar yang mengejutkan. "Bagaimana bisa?" tanya Shen. Selanjutnya, Brigitta pun menceritakan bagaimana dirinya dan Rian sampai ke tahap ini.
"Waahh hebat sekali. Bagus deh jika kamu sudah bisa move on dari dia," celetuk Shen sedikit melirik Helena. Tapi melihat Helena yang acuh saat membicarakan Evàn, Shen pun terus saja bercerita soal mantan Helena itu.
*****
Helena kembali ke apartemennya ketika Arash sudah pulang lebih dulu. Helena dengan santai melenggang melewati sang suami yang baru selesai mandi. Ada sedikit rasa marah di diri wanita itu, mengingat hasil tes DNA anak Cia.
"Kenapa baru pulang?" tanya Arash.
"Aku bertemu Brigitta." Arash mengerutkan dahinya, mendengar cerita sang istri. "Kalian baikan?" tanya Arash. Helena mengangguk pelan. Wanita itu lantas melirik curiga pada Arash. "Kau tidak ada rencana untuk mengkhianatiku kan?" tanya Helena.
__ADS_1
"Astaga Helena tidak," balas Arash cepat. "Baguslah kalau begitu." Wanita itu melesat masuk ke kamar mandi, bersandar pada pintu kamar mandi. Helena menarik nafasnya pelan.
Apa yang harus dia lakukan soal tes DNA itu. Haruskah dia bertanya pada sang suami. Nanti kalau Arash mengakui itu anaknya, lalu bagaimana dengan dirinya. Gelombang ketakutan menyerang Helena. Dia mulai takut kehilangan Arash.
*****
Hari berganti, dan Arash mulai kesal karena Cia mulai meneror dirinya dengan pesan, kapan mereka akan menikah. Sebuah pesan yang membuat mood Arash hancur berantakan seketika. Dia sendiri sudah pusing tujuh keliling, mencari cara untuk mematahkan kevalidan tes DNA itu.
"Aku tetap percaya kalau anak Cia bukan anakku," batin Arash yakin.
Sementara itu, pertengkaran hebat terjadi antara Cia dan Aldo. Pria itu minta penjelasan Cia soal hasil tes DNA yang menyatakan kalau bayi itu anak Arash. Aldo jelas tidak terima, sebab dia yakin kalau anak itu miliknya. Sedang Cia tetap kekeuh dengan pendiriannya kalau anaknya, anak Arash.
Aldo terus mendesak Cia agar jujur pada Arash soal siapa ayah bayi dalam kandungannya. Dia akan bertanggungjawab. Tapi Cia menolak dengan tegas. Pertengkaran itu kian menjadi saat Aldo menuduh Cia sudah memalsukan surat hasil tes DNA.
Cia tentu menyangkal, hingga akhirnya Cia curiga kalau Aldo ada hubungan dengan Arash. Satu ancaman dari Cia akhirnya membuat Aldo diam.
"Jika kau membantu Arash, akan kugugurkan kandungan ini," kata Cia sembari mengusap perutnya yang mulai terlihat besar di usia kandungan 5 bulan.
Aldo jelas kelabakan jika sudah diancam menggunakan bayinya. Pada akhirnya, ancaman Cia ampuh membungkam mulut Aldo. Pria itu pasrah dengan perkataan Cia. Dia takut jika wanita itu melakukan hal buruk pada bayinya.
"Ingat perkataanku, jika kau berpihak pada Arash. Akan kubunuh dia, sebelum dia melihat dunia." tegas Cia sekali lagi. Sekali lagi ancaman Cia membuat Aldo tidak berkutik di hadapan bumil yang satu itu.
__ADS_1
Cinta atau bego sih kamu Do...Aldo. Kok mau-maunya dikendalikan oleh Cia. Batin Aldo merutuki kebodohan Aldo.
*****