
Arash mengusap rahangnya yang perih karena pukulan Hugo. Bisa dipastikan ada luka di sana. Di depannya, adik Helena yang akan genap berusia 22 tahun itu menatapnya tajam. Tak beda dengan ayahnya, pandangan mata Hugo benar-benar mengerikan. Andai dia Medusa, Arash pasti sudah berubah jadi patung batu.
"Tinggalkan Kakakku!"
Satu kalimat yang sama meluncur dari bibir Hugo. Arash menegakkan tubuhnya. Dia tahu pasti kalau dirinya yang salah. Membuat sebuah keputusan yang terdengar ambigu atau tidak jelas pada Helena.
"Aku tidak akan menceraikan, Kakakmu!"
Hugo langsung merangsek maju, lantas mencengkeram kerah Arash. Amarah Hugo meledak. Di usianya yang masih belia, jelas jika dia belum mampu mengendalikan emosinya.
"Hugo lepaskan."
Rafael memperingatkan putra bungsunya. Perlu beberapa waktu sampai Hugo melepaskan Arash. Suami Helena itu langsung menarik nafasnya kasar. Hugo hampir mencekiknya.
"Pa, apa Papa tidak kasihan dengan Kak Helen?"
Hugo protes karena baginya, Rafael terdengar membela Arash. Rafael menatap lurus pada Arash. Pun dengan Arash.
"Kau masih tetap pada keputusanmu?"
Andra mengangguk pasti sebagai jawaban. "Aku tidak akan menceraikan Helena sampai kapanpun. Dia akan menjadi istriku, sekarang dan selamanya."
Rafael berdecih meremehkan perkataan Arash. "Jika kau begitu yakin dengan perasaanmu. Kenapa kau lebih memilih kekasihmu untuk kau temani."
"Karena itulah, izinkan aku menemui Helena. Aku akan bicara padanya. Aku akan menjelaskannya semuanya."
Pinta Arash. Kedua tatapan matanya penuh permohonan. Hening sesaat, hingga terdengar helaan nafas dari mulut Rafael. Bagaimanapun Arash dan Helena harus bicara. Untuk kelanjutannya. Kita lihat saja nanti.
Pada akhirnya, di sinilah keduanya. Arash menatap wajah sembab Helena. Berkali-kali Arash menyalahkan dirinya karena membuat Helena menangis. Lagi dan lagi. Mungkin benar kata Hugo, kalau dirinya hanya bisa menyakiti Helena.
Tanpa kata, Arash merengkuh tubuh Helena. Memeluknya erat. Ini adalah keputusan sulit. Namun pria itu kemudian memantapkan hati-nya. Tiga bulan, hanya tiga bulan dan dia akan menjemput Helena pulang. Mereka akan bisa bersama lagi.
"Maafkan aku."
Tesss, satu air mata Helena akhirnya lolos juga, disusul yang lain mengikuti. Wanita itu jelas tidak lagi mampu menahan sesak di dada. Hingga tangisanlah yang menjadi pelampiasannya.
"Tiga bulan, berikan aku waktu tiga bulan. Setelah itu aku akan kembali padamu."
Pinta Arash. Pria itu mengusap air mata yang membasahi pipi Helena. Keduanya tahu benar ada cinta yang sangat besar di antara mereka. Tapi bagi Helena, apalah arti cinta yang besar itu, jika keberadaannya membuat orang lain menderita. Jika cintanya pada Arash membuat seorang anak kehilangan sosok seorang ayah, Helena memilih mundur. Dia akan memendam cinta itu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jangan menjanjikan hal yang belum tentu bisa kau tepati. Aku tidak ingin menjadi beban untukmu. Aku tidak ingin keberadaanku memberatkan langkahmu."
Arash meletakkan telunjuknya di bibir sang istri. Sungguh Arash tidak ingin kehilangan wajah ini. Wajah yang sudah banyak mengubah hidupnya. Wajah yang memberinya banyak pelajaran.
"Kamu tahu pasti arti dirimu untukku. Bagiku, kamu adalah jiwa yang membuat jiwaku hidup. Bagiku kamu adalah segalanya. Helena, andai aku bisa bersikap kejam. Aku tidak mau mengambil keputusan ini. Ini terlalu berat untukku."
Giliran Arash yang menangis pilu. Pria itu menundukkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Helena. Bahu Arash bergetar hebat. Hatinya benar-benar sakit mengingat dirinya seakan dipaksa mengambil keputusan ini.
"Hidup adalah pilihan. Kau sudah menentukan pilihanmu. Dan untuk itu aku mendukungmu. Mari akhiri semua sampai di sini."
Arash seketika mengangkat wajahnya.
"Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku hanya memintamu menungguku tiga bulan."
Tegas Arash. Tapi Helena menggeleng pelan.
"Tanggung jawab seorang ayah, bukan hanya sampai si anak lahir. Tugas seorang ayah bukan hanya membiayai kebutuhan si anak saja. Tapi tugas seorang ayah, lebih dari itu. Seorang anak membutuhkan seorang ayah untuk menjadi sosok yang menjadi panutannya. Seseorang yang bisa dijadikan contoh untuk membentuk karakter anak. Jangan menganggap setelah dia lahir, tugasmu selesai. Justru tugasmu baru saja dimulai."
"Kenapa kamu malah mendorongku menjauh. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku akan melakukan itu semua dengan anak yang lahir dari rahimmu. Bukan dia."
Arash memeluk pinggang Helena. Posisi pria itu duduk di karpet. Begitu mendengar perkataan Arash. Helena langsung menengadahkan kepalanya. Wanita itu ingin mencegah air mata yang menganak sungai di matanya.
Pada akhirnya, Helena hanya bisa mengusap lembut rambut Arash.
"Apa kau percaya jodoh? Kita akan bersatu jika kita memang berjodoh."
Helena menutup pembicaraannya dengan Arash. Wanita itu melepaskan cincin pernikahan mereka lantas menyelipkannya ke saku kemeja Arash. Tanpa Arash tahu.
Kali ini air mata Helena luruh tak terbendung. Wanita itu memeluk punggung Arash. Membiarkan tangisnya pecah sepuas-puasnya. Pun dengan Arash, dia tidak peduli ketika punggungnya basah oleh air mata sang istri.
Arash mengeratkan pelukannya pada pinggang Helena. Pun dengan Helena.
*
*
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Arash berjalan gontai di lorong rumah sakit. Dia baru saja kembali dari rumah Rafael. Tidak ada yang mengantar Arash ketika pria itu keluar dari sana. Meski ketika dia keluar kamar Helena, dia bertemu Valerie. Wanita itu hanya menepuk pelan bahu Arash. Lantas berlalu dari hadapan sang menantu. Atau entahlah apa statusnya kini sekarang.
Valerie langsung masuk ke kamar Helena. Samar-samar dia bisa mendengar tangis Helena yang kembali pecah.
Ketika dia menuju ke ruang perawatan Cia. Pria itu diserobot oleh serombongan dokter dan perawat yang tiba-tiba menyerbu dari arah belakang.
Bola mata Arash membola. Mereka masuk ke kamar Cia. Pria itu pun setengah berlari menuju ke sana. Tapi dia belum masuk ketika Aldo tampak didorong keluar oleh seorang perawat. Ada apa? Pikir Arash.
Pria itu mendekati Aldo. "Ada apa?"
Arash bertanya. Aldo setengah terisak. Ya, pria itu menangis meski masih menampakkan sisi tegar di wajahnya.
"Keadaannya ternyata lebih buruk dari dugaan kita. Itu bukan tumor. Tapi hampir menjadi kanker. Benjolannya menyumbat aliran darah. Dan membuat Cia kejang dan muntah sekaligus."
Arash membeku mendengar penjelasan Aldo. Terlebih ketika Aldo menambahkan kalau Cia terus mencarinya.
Adakah Arash merasa bersalah. Tidak. Pria itu memang tidak ingin masuk terlalu dalam dalam perawatan Cia. Dia hanya akan jadi jembatan penghubung untuk Cia dan Aldo.
Aldo, pria itu yang dengan tulus mencintai Cia. Tidak peduli dengan masa lalu wanita itu. Aldo mau menerima Cia apa adanya. Ketika keduanya masih larut dalam keheningan, dokter yang menangani Cia keluar.
Dua pria itu langsung memberondong dokter itu dengan pertanyaan yang sama.
"Bagaimana keadaan Cia?"
"Buruk, selain diagnosa yang kurang tepat. Kami mendapati kalau kandungannya juga sedikit bermasalah."
"Maksud dokter?"
"Placentanya menjerat leher si bayi. Kami baru tahu setelah mendapatkan hasil USG terbarunya."
"Lalu?"
"Kita harus melahirkan bayinya dalam dua minggu ke depan. Tepat ketika dia berusia tujuh bulan. Jika tidak, placenta-nya bisa mencekik leher si bayi. Itu bisa membunuhnya."
Dua pria itu saling pandang. Meski sebenarnya mereka kurang paham dengan perkataan dokter itu. Tapi inti dari semua itu adalah baik Cia dan bayinya tidak baik-baik saja.
"Apa lagi ini?"
Gumam Arash dan Aldo frustrasi.
__ADS_1
******