Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Mission Imposible Ala Arash Tan


__ADS_3

Arash berjalan mondar-mandir tidak jelas di ruang tengah apartemennya. Sudah jam sembilan malam dan Helena belum pulang juga. Pria itu terlihat kesal, pikirannya melayang ke mana-mana. Dugaan yang semestinya tidak mampir ke kepalanya, muncul begitu saja di benaknya.


Adakah Helena selingkuh darinya setalah apa yang dia lakukan padanya?


Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Rasa ragu mulai menyelinap di hati Arash. Cinta keduanya yang baru tumbuh seumur jagung, seketika harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Terang saja, keduanya sedikit goyah. Akar cinta belum tumbuh kuat di hati masing-masing. Hingga keraguan dan ketidakpercayaan dengan mudah menyusup masuk. Mencari celah untuk menghancurkan cinta yang baru saja bersemi itu.


Ceklek,


Terdengar pintu dibuka, Arash dengan cepat mendudukkan dirinya di sofa. Pura-pura memainkan ponselnya. Helena yang baru masuk ke ruang tengah, cukup terkejut melihat Arash yang duduk di sana. Seolah menunggunya.


Tapi kelebatan omongan Cia yang menekankan kalau anaknya adalah anak Arash, membuat Helena langsung kesal. Wanita itu berjalan menuju dapur, mengabaikan keberadaan Arash.


Setelah menunggu lama, dan tidak ada tanda-tanda Helena akan bicara. Arash pun ikut kesal. Dia pikir sang istri akan menjelaskan soal kebersamaannya dengan Rian. Tapi nyatanya tidak. Wanita itu tetap diam, setelah meminum air mineral dari dalam kulkas.


Hingga akhirnya, Arash yang buka suara lebih dulu. Sambil menahan kesal, pria itu bertanya, "Dari mana kau?"


Helena yang bermaksud masuk kamar, langsung menghentikan langkahnya. "Dari kantor," jawabnya pelan.


Arash bangkit dari duduknya. Dia emosi, ketika Helena mulai bohong padanya. "Kantor siapa? Papamu? Aku tadi siang mencarimu dan Shen bilang kau keluar dari jam dua. Ke mana kau, jam segini baru pulang?"


Helena seketika menggigit bibir bawahnya. "Aku keluar meeting dengan klien dan lupa memberi tahu Shen."


"Bohong!" raung Arash. Pria itu mulai meluapkan emosinya.


"Kau pikir aku tidak tahu kau pergi ke mana?" tanya Arash sinis.


"Kau mematai-mataiku? Kau keterlaluan Arash."


Pekik Helena. Dimatai-matai adalah hal yang paling tidak disukai Helena. Jangankan diawasi, dia dijaga bodyguard saja risih.


"Aku hanya bertanya sama Shen, kenapa kamu sewot begitu."


Arash mulai curiga dengan Helena. Curiga kalau Helena benar menjalin hubungan dengan pria lain.


"Siapa juga yang gak sewot kalau kamu seperti nuduh aku yang enggak-enggak."


"Kalau tidak merasa ya tidak perlu marah."


"Memangnya aku kamu, yang berani berbuat tidak berani bertanggungjawab."


Mata Arash membulat sempurna mendengar perkataan Helena. Hal ini lagi yang diungkit. Bukankah dirinya sudah bilang kalau Helena cukup sabar dan menunggu, sedang dia akan mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengungkit masalah itu lagi?"


"Sebab itu masalah memang belum kelar."


"Helen, berapa kali aku katakan, dia bukan anakku."


"Tapi tes DNA-nya bilang begitu. Sekarang aku tanya padamu, aku harus percaya siapa? Kamu? Yang terus menyangkal kalau bayi itu anakmu, padahal kamu jelas sudah tidur dengan Cia. Atau tes DNA yang jelas-jelas membuktikan kalau dia anakmu."


Arash tergugu mendengar perkataan Helena. Dua pernyataan dengan makna sama. Dia ayah anak Cia.


"Diam? Tidak bisa jawab?"


Helena melenggang masuk ke kamarnya. Dia lelah, lelah hati, lelah fisik. Ingin rasanya dia lari dari semua ini. Tapi ke mana? Pergi ke klub seperti dulu. Hatinya ingin, tapi tubuhnya tidak mau. Tiap membayangkan kemeriahan klub malam. Perutnya terasa mual. Seolah klub malam adalah hal yang menjijikkan. Padahal dia dulu hobi sekali dengan tempat berjuluk tempat laknat itu.


Sementara di luar kamar. Arash langsung meninju udara kosong di depannya. Perdebatannya dengan Helena jelas menyisakan kekalahan untuknya. Belum juga dia memojokkan Helena soal Rian, eh dia duluan yang sudah terpojok.


"Halo Shan, bisa keluar sebentar. Istrimu kan belum pulang to."


Arash menghubungi Shan untuk diajaknya curhat. Tak di sangka yang di ujung sana langsung mengiyakan. Meski Meisya terbaring di sampingnya, hati Shan kadung dongkol dengan tingkat penipuan Meisya yang level akut. Ingatkan suhu ternyata cupu.


Dan di sinilah keduanya, berada di sebuah kafe yang lumayan besar di kota mereka. Keduanya duduk di sudut ruangan di lantai dua kafe itu. Sengaja mereka memilih tempat agak sepi agar tidak diganggu. Sebab kafe itu juga menyediakan "teman kencan."


"Ngapain elu ngajak gue ketemuan malam-malam. Kagak indehoy ma Helena?" tanya Shan kesal.


"Suntuk gue di rumah. Kan ada elu yang status suami rasa sendiri." Ledek Arash.


"Aiihhh, siapa bilang. Meisya ada no, molor di rumah."


Arash mengerutkan dahinya. Biasanya istri kecil Shan itu jam segini masih berkeliaran, mengukur aspal perlombaan guna memenangkan uang hadiah, yang besarnya tidak ada satu persen dari ATM yang Shan berikan untuk Meisya.


Dan Meisya baru akan pulang kalau sang suami sudah menjewer telinga gadis 18 tahun itu. Jadi bisa dipastikan kalau teman satu geng motornya tahu, kalau Meisya sudah menikah. Apalagi tampang Shan kan cocok buat dipamerin ke khalayak ramai. Biar pada baper tu cewek satu geng motor Meisya.


"Tumben si Mei, di rumah. Udah suksese elu jadi pawangnya. Makannya dia bisa tidur anteng di rumah?"


Giliran Shan yang mencebik kesal. Arash tidak tahu saja, apa sebab Meisya bisa tidur jam segini.


"Elu kagak tahu sih, kenapa dia bisa molor jam segini?"


Arash menaikkan satu alisnya. Memangnya apa yang bisa menahan Meisya berada di dalam kamar jam segini kalau bukan karena kelelahan.


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Daddy-nya diceburin Rido ke selokan. Sekarang sedang dioplas di bengkel."


Arash seketika meledakkan tawanya mendengar jawaban Shan.


"Gue pikir karena elu berhasil belah duren sampai Meisya kelelahan terus gak bisa jalan." Balas Arash di sela tawanya.


"Kalo gue berhasil belah duren. Gue gak bakal keluar kamar malam ini. Gue juga bakal gak masuk kerja dua hari. Gue mau rapel tu semua malam yang gue dianggurin sama durennya Meisya."


Tawa Arash semakin kencang. Istilah baru nih, durennya Meisya. Menakutkan di luar, tapi nikmat di dalam.


"Malah makin kenceng dia ketawanya." Cebik Shan.


"Abisnya elu kalau somplaknya kumat bisa jadi pemenang stand up komedi. Ada lu bilang durennya Meisya."


"Habis apalagi namanya, sama-sama legit, Bro."


Arash mau meneruskan acara tertawanya ketika dua sosok masuk ke area itu, membuat Arash langsung memberi lampu merah pada bibirnya untuk berhenti tertawa. Pun pada Shan, pria itu langsung tanggap dengan kode dari Arash.


"Gue ada ide."


Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di benak Arash. Melihat dua orang itu duduk di tempat yang agak jauh dari mereka.


"Itu kan...."


Shan menghentikan ucapannya ketika Arash malah memberi tanda padanya untuk keluar dari tempat itu.


"Yah....yah....mau ngapain sih?"


"Mau melakukan mission imposible ala Ethan Hunt eh salah mission imposible ala Arash Tan. Ayo!"


"Lu jangan gila ya mentang-mentang kurang jatah. Gue aja gak gila, gak pernah di kasih jatah."


"Tapi elu otewe kan..."


"Otewe apa?"


"Otewe gila!"


"Aseemmmm!" Maki Shan spontan.


Tawa Arash meledak, seiring keduanya masuk ke mobil Shan yang melaju menuju sebuah tempat.

__ADS_1


*****


__ADS_2