Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Drama Bantal


__ADS_3

"Singkirkan kakimu. Sempit!" Helena melotot ke arah Arash ketika pria itu sengaja menekuk kakinya. Menempatkannya tepat di depan kaki Helena. Jadi dua orang itu beradu lutut di tempat sesempit itu. Arash pun balik menatap judes pada sang istri. "Lalu maumu bagaimana? Kakimu kepanjangan. Makan tempat!" protes Arash.


"Heh... kamu sama aku tu tinggian kamu. Jadi pasti kakimu lebih panjang dari kakiku!" balas Helena tidak mau kalah.


Shan dan Shen langsung menepuk dahi masing-masing. Gara-gara kaki saja, pasutri itu bisa bertengkar. Keduanya cukup malu dengan pengunjung lain. Tapi mau bagaimana lagi. Dikode berkali-kali, Arash dan Helena tidak paham. Masih saja berdebat soal memposisikan kaki masing-masing. Bahkan ketika bianglala itu mulai bergerak. Arash dan Helena masih terdengar saling menyindir. Suara keduanya mulai menghilang ketika bianglala itu mulai menanjak.


"Wahhhhhh!" seru Helena antusias. Mata wanita itu berbinar senang. Melihat pemandangan kota dari atas wahana permainan itu. Kerlap kerlip lampu itu terlihat sangat indah. Sungguh memanjakan mata. "Suka?" tanya Arash heran. Helena langsung mengangguk. Senyum wanita itu melebar tanpa Helena sadari.



Kredit Pinterest.com


Arash seketika ikut tersenyum. Melihat bagaimana bahagianya sang istri. "Ternyata membuatmu tersenyum caranya mudah ya?" ucap Arash setengah menyindir. Pria itu duduk bersandar sambil melipat tangannya. Cukup pegal dengan posisi kaki mereka yang serong ke arah berlawanan.


"Ya?" tanya Helena tidak fokus pada ucapan Arash. "Iyalah mudah. Diajak masuk pasar malam. Naik beginian yang harga tiket masuknya cuma ceban atau berapa tadi. Senyummu sudah mengembang tidak berhenti dari tadi," cibir Arash.


"Aku kan murahan. Termasuk seleraku juga murahan." Skak mat, senyum Arash langsung menghilang. Berganti dengan rasa bersalah. Pria itu tahu, kalimat Helena adalah sindiran untuknya. Di mana, sejak awal Arash menganggapnya wanita murahan.


"Helen, untuk hal itu aku minta maaf. Aku salah paham padamu," Arash berucap sambil memandang wajah judes Helena.


"Kenapa? Sekarang kau mengaku salah padaku?" kesal Helena. "Iyalah, aku salah padamu. Wong aku baru tahu kamu masih segelan waktu aku memaksamu.....aduuuhhhhh....sakit Helen," Arash meringis ketika Helena menginjak kakinya.

__ADS_1


"Jangan diungkit lagi. Aku tidak mau membicarakannya,"


"Jadi kau lebih suka memberikannya pada si brengsek Evan yang bekas Brigitta?" tanya Arash. "Memangnya kamu bukan bekas Cia?" Arash langsung kicep mendengar sindiran menohok dari sang istri.


"Tidur sama wanita lain, sampai hamil, tidak ngaku lagi kalau itu anaknya," lagi Helena menyindir Arash. "Bisa diam tidak?" tanya Arash. Lama-lama kupingnya panas juga mendengar nyinyiran dari Helena. Sang istri tertawa puas melihat wajah kesal Arash.


"Berhenti tertawa atau kucium kau!" ancam Arash. Melihat Helena yang malah semakin keras tertawa. "Helen berhenti!" kali ini Arash benar-benar emosi. Tanpa aba-aba, pria itu langsung menarik tangan Helena. Hingga tubuh wanita itu condong ke arahnya. Detik berikutnya, Arash langsung mencium bibir Helena. Dengan tangan Arash yang lain, menekan bagian belakang kepala Helena. Wanita itu jelas terkejut dengan tindakan Arash. Mata Helena membulat sempurna. Dengan debar jantung yang bertambah cepat.


Perasaan apa ini? Begitulah pertanyaan Helena akhir-akhir ini kala bersama Arash. Perasaan itu membuatnya bingung dengan hatinya. Apa dia benar mulai tertarik pada Arash atau hanya karena hatinya tengah kosong. Karena ulah Evan membuat wanita itu kecewa berat. Entahlah, pada akhirnya Helena menepis semua pikiran itu. Tanpa sadar mulai terhanyut pada permainan bibir Arash. Dengan dirinya mulai membalas pagutan pria itu.


*****


"Apa ini?" gumam Helena pelan. Hingga perlahan wanita itu membuka mata. Hal pertama yang dia lihat, langsung membuat Helena berteriak. Wanita itu tidur memeluk tubuh Arash yang.....topless. "Arash, apa-apaan sih kamu?!" teriak Helena.


Mendengar teriakan Helena, Arash pun ikut membuka matanya. "Apa sih teriak-teriak? Masih pagi juga. Lanjut tidur lagi," jawab pria itu setengah merem. Helena sendiri langsung memeriksa pakaiannya. Hanya jaketnya saja yang dilepas. Lainnya masih menempel di tubuhnya.


"Kenapa aku tidur di kamarmu?" tanya Helena berusaha menjauh dari tubuh Arash yang sedikit banyak mulai menggoda matanya. Dada bidang berotot. Dengan deretan abs menghiasi perut rata sang suami. Helena seketika menelan ludahnya susah payah. "Kenapa sih otakku jadi mesum pada Arash setelah kejadian Evan yang ketahuan selingkuh dengan Brigitta kemarin."


"Bukankah sudah aku bilang kemarin. Kalau kamarmu akan aku renovasi. Jadi sementara kau tidur di sini. Lagian apa masalahya? Kita kan suami istri? Tidur bersama...no problem kan?" jelas Arash.


"Jelas problemlah buatku....aku kan jadi...." Helena menghentikan ucapannya. Tidak mungkin juga dia berkata terganggu karena tubuh seksi Arash.

__ADS_1


"Jadi apa?" desak Arash. Pria itu mendudukkan tubuhnya. Beuuuhhhhhh, tambah menggoda saja nih cowok. Geram Helena dalam hati. Wanita itu seketika kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan Arash. Melihat Helena diam dan bingung. Arash memiringkan kepalanya, berniat mengerjai sang istri.


"Apa kau takut akan jatuh pada pesonaku, jika kau sering bersamaku?" goda Arash. Helena langsung memanyunkan bibirnya mendengar godaan Arash. "Aku? Jatuh pada pesonamu, yang benar saja?" sangkal Helena sedikit ragu.


Arash mengulum senyumnya melihat keraguan di wajah Helena. Pria itu merasa kalau Helena mulai memiliki rasa padanya. Mengingat, semalam sang istri tidak menolak ciumannya. Hal lain juga seolah memberi sedikit petunjuk pada Arash kalau sang istri mulai menerima dirinya. Wanita itu sudah mau berdekatan dengan dirinya. Tidak seperti dulu yang selalu menjaga jarak dengannya.


"Ya sudah kalau tidak mau ngaku," jawab Arash santai. Pria itu kembali merebahkan diri. Ingin melanjutkan tidurnya. "Kenapa kau tidur lagi?" tanya Helena. "Mau ngapain lagi? Masih jam tiga pagi, Nyonya," Arash menunjukkan jam di ponselnya. Helena seketika menggaruk kepalanya. "Atau kau mau melakukan hal lain?" tanya Arash sambil menaikkan satu alisnya.


"Hal lain apa jam segini?" Helena bertanya polos. Arash kembali menegakkan tubuhnya, lantas berbisik di telinga sang istri. "Apaan itu? Dasar mesum!" Helena reflek mencubit perut Arash. Begitu mendengar apa yang dibisikkan oleh sang suami. "Sakit......Helen!" keluh Arash. Memandangi kulit perutnya yang memerah akibat cubitan sang istri.


"Biarin! Makanya jangan asal kalau ngomong," protes Helena.


"Asal apanya? Itu kan memang boleh dilakukan oleh sepasang suami istri," balas Arash. Pria itu melongo ketika detik berikutnya, sang istri menata bantal di tengah ranjang Arash. "Ini batasnya, jangan melewatinya!" terang Helena.


"Kau dapat ide beginian dari mana?" kepo Arash. "Dari novel yang sering aku baca!" Helena langsung menggulung tubuhnya dengan selimut. Lantas berbaring memunggungi Arash. Meninggalkan Arash yang hampir meledakkan tawa mendengar jawaban Helena.


Apa dia tidak tahu, kalau akhir dari drama bantal ini adalah si bantal di buang entah ke mana. Dengan tuannya yang berakhir dengan tidur saling berpelukan. Arash hanya bisa menahan tawanya. Lantas mengikuti langkah Helena. Merebahkan tubuhnya lalu mulai memejamkan matanya.


"Well, kita lihat. Jadi apa drama bantal ini besok pagi," batin Arash. Melirik pada deretan bantal yang tersusun rapi di sampingnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2