
Siang harinya mereka melewatkan hari dengan berkumpul bersama. Semua orang terlihat bahagia. Shan, Meisya, Ang, Shen, Rafael, Valerie dan tentu saja si jomblo Hugo. Pria itu mendengus kesal tiap kali Shan dan Ang meledeknya.
"Jangan shock ya kalau aku bawa cewek suatu hari nanti."
Ancam pria itu. "Siapa yang ingin kau pamerkan, Lira?"
Rafael bertanya enteng. Sebab yang dia tahu, Hugo hanya sering berinteraksi dengan Lira seorang. Adik Lendra, putri Lana dan Vi.
(Lana dan Vi, dari karya The Story of A)
"Memangnya masalah. Tidak ada hubungan darah di antara kami. Aku bisa memacarinya bahkan menikahinya."
Balas Hugo santai. Rafael seketika membulatkan matanya. Secara langsung memang tidak ada hubungan darah di antara Hugo dan Lira. Mereka sepupu sangat jauh karena nenek mereka saudara tiri. Jadi sebenarnya boleh saja jika mereka menjalin hubungan.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana tanggapan Vi soal ini. Mengingat dia dan Lana memiliki hubungan sangat dekat. Hampir seperti kakak adik.
"Memangnya tidak ada yang lain apa?"
Arash ikut nimbrung. Dia cukup tahu bagaimana silsilah mereka yang nyaris tidak aman. Jadi kalau bisa, menurut Arash, jangan ada hubungan serius antara Hugo dan Lira.
"Kagak mau yang lain. Gak ada cewek sejudes Lira sekaligus semenarik dia."
Rafael seketika memijat pelipisnya pelan. Sembari menatap Valerie, Arash juga Helena.
"Masalahnya Lira ada di kantor pusat. Menjadi asisten Hugo."
Kali ini Arash yang terkejut. Satu pandangan dari Arash seolah menanyakan kebenaran hal itu. Dan Helena mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa Lira bisa jadi asistennya Hugo?"
Arash bertanya pada sang istri. Keduanya sedang berjalan-jalan. Tangan keduanya saling bergandengan. Setelah Arash menjelaskan pada semua orang bagaimana keadaan sebenarnya. Semua orang sepertinya mengerti dan paham dengan keadaan pria itu. Hingga mereka, terutama Rafael menyerahkan semua keputusan pada sang putri.
Helena menjelaskan kalau Lira sampai ke sini karena menghindari perjodohan yang diajukan oleh teman sang papa. Vi, papa Lira sudah menolak. Tapi temannya kekeuh ingin menjodohkan Lira dengan putranya. Akhirnya Hugo yang maju untuk menjadi tameng untuk Lira. Di depan Vi, Hugo bilangnya pura-pura. Tidak tahunya Hugo sungguh punya rasa dengan Lira.
"Lalu sekarang bagaimana?"
Helena mengedikkan bahunya. Arash pun mencium gemas pipi Helena.
"Bukan Hugo, tapi kita."
Helena langsung menghentikan langkahnya. Melihat ke arah Arash yang juga tengah memandangnya. "Masih dipertimbangkan."
Arash langsung memanyunkan bibirnya. Mendengar jawaban ambigu sang istri. Pria itu berpikir, apa dia perlu melamar sang istri lagi. Kan mereka belum bercerai.
Hingga kemudian pria itu teringat sesuatu. Arash lalu berlari ke mobilnya. Mengambil sesuatu. Tak berapa lama, pria itu kembali ke hadapan Helena.
__ADS_1
"Baik jika kamu masih perlu pertimbangan. Maka pertimbangkanlah ini juga."
Arash lantas berlutut di depan Helena. Pria itu menekuk satu lututnya. Dalam genggamannya ada sebuah kotak beludru.
Kredit Pinterest.com
Pinjam scene Mark Print dan Yaya Urassaya dari lakorn Waves of Life,
"Ini apa?"
Helena bertanya bingung. Arash tersenyum sembari berkata, "Aku pikir sebab pernikahan kita awalnya adalah sebuah paksaan. Maka aku tidak berpikir ini perlu aku lakukan. Tapi karena aku benar-benar jatuh cinta padamu jadi aku ingin memulai semua dari awal. Jadi maukah kamu menikah denganku?"
Helena menutup mulutnya, melihat sebuah cincin cantik dalam kotak. Dia tahu jelas siapa pembuatnya.
Kredit Pinterest.com
"Terima....terima...."
Satu sorakan terdengar dari arah belakang. Semua berkumpul sambil bertepuk tangan. Memojokkan Helena untuk menerima "lamaran" Arash.
Helena menahan malu melihat tingkah Helena.
"Aku hanya ingin kamu merasakan moment dilamar seperti wanita lain pada umumnya. Jadi diterima atau tidak? Pegel, By."
Keluh Arash. Helena spontan mengulurkan jarinya, begitu mendengar keluhan Arash. Suara tepukan semakin keras begitu cincin itu terpasang di jari Helena. Sebuah ciuman mendarat di bibir Helena, membuat wajah bumil itu merona merah. Sementara Arash tertawa bahagia melihat ekspresi Helena.
"Tante Lana, bisa buatkan cincin untuk Helena. Arash ingin melamarnya ulang."
*
*
Mata Helena berkaca-kaca. Masalah mereka selesai. Arash secara gentle mengaku salah, telah mendahulukan orang lain ketimbang istrinya. Setelah bicara dengan Helena, Rafael akhirnya mengalah ketika sang putri ingin kembali pada suaminya.
Rafael mengizinkan Helena pulang bersama Arash tapi dengan catatan, Arash harus mengutamakan Helena. Menempatkan Helena menjadi prioritasnya. Dan Arash siap melakukannya.
Pasutri itu akhirnya kembali ke apartemen mereka. Helena terharu, dia tidak menyangka bisa kembali ke rumah ini. Dia pikir, dirinya dan Arash benar-benar akan berpisah.
"Kenapa?"
Helena sedikit terkejut ketika Arash memeluknya dari belakang. Pria itu menempatkan dagunya di bahu sang istri.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka akan kembali ke sini."
"Jadi kamu sungguh ingin berpisah denganku?"
Arash membalik tubuh Helena. Menatap dalam wajah sang istri.
"Dengan keadaan seperti itu, aku berpikir kalau aku benar-benar akan berpisah denganmu. Hingga kemudian dia hadir. Dan aku begitu menginginkan kehadiranmu saat dia lahir nanti."
Mata Helena berembun, kristal bening itu siap meluncur. Tapi semua itu urung terjadi, kala bibir Arash kembali mencium bibir Helena lembut. Sangat lembut, hingga perempuan itu dengan cepat terbuai dalam permainan bibir sang suami. Untuk sesaat keduanya begitu menikmati aksi pertukaran saliva mereka. Hal yang sudah empat bulan ini tidak pernah mereka lakukan.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi, oke? Apapun keadaannya, tetaplah berada di di sisiku. Aku berjanji akan membahagiakan kalian."
Arash menangkup wajah Helena saat berbicara. Memastikan kalau Helena akan menurutinya kali ini. Helena mengangguk paham dengan permintaan Arash. Mulai sekarang dia akan mengutamakan Arash dan keluarganya, mencoba menekan egonya.
*
*
Jika kebahagiaan mulai memayungi rumah tangga Arash dan Helena. Kepanikan justru terjadi di pihak Shan dan Meisya. Sepulang dari villa Rian, gadis yang dalam beberapa hari ke depan akan lulus sekolah menengah itu, tiba-tiba mengalami muntah. Muntah hebat yang tidak berhenti selama tiga hari.
Shan dan Shen tentu cemas dibuatnya. Mereka mengira kalau Meisya hanya masuk angin, karena Meisya memang banyak bermain di pantai saat di villa Rian. Tapi ketika sampai tiga hari, mualnya tidak reda, Shen mulai curiga. Terlebih mualnya hanya di pagi hari.
"Kak, kamu yakin Mei cuma masuk angin?"
Akhirnya Shen memberanikan diri bertanya. Sebab seingatnya, sang kakak selalu memakai pengaman tiap berhubungan intim dengan Meisya sejak wanita itu bersedia memenuhi kewajibannya sebagai istri.
"Maksud kamu?"
"Meisya itu kayaknya hamil? Kakak gak lupa pakai pengaman kan?"
Duannngg, Shan terkejut bukan main. Sebab akhir-akhir ini dia memang jarang pakai pengaman. Sejak berpikir, kalau Meisya sebentar lagi akan lulus. Apalagi setelah tahu rasanya lebih nikmat, melakukan penyatuan tanpa pengaman.
"Aku akhir-akhir ini lupa tidak memakainya. Lebih enak gak pakai sarung."
Cengir Shan tanpa dosa. Si adik reflek menoyor kepala Shan.
"Cepat bawa dia periksa ke dokter. Menurutku kalian kebobolan. Kakak yang membobolnya. Istrimu bisa saja hamil."
Teriak Shen. Saking kerasnya berteriak, Shan sampai lari terbirit-birit masuk ke kamarnya menemui Meisya.
"Apa jadinya ini. Meisya masih terlalu muda untuk hamil."
Gumam Shen, tanpa dia sadar kalau ada sang kakak sebagai suami Meisya. Wanita itu hanya mencemaskan psikis Meisya, yang mungkin belum siap dengan keadaan ini.
****
__ADS_1