
Tangan Brigitta bergetar, matanya mulai berembun. Melihat hasi test pack yang berada dalam genggamannya. Wanita itu positif mengandung anak Evan. Pada akhirnya, tubuh Brigitta merosot ke lantai kamar mandi. Shock sekaligus bingung. Brigitta hanya bisa menangis sambil memeluk lututnya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Brigitta.
Cukup lama dia berdiam di kamar mandi apartemennya. Hingga kemudian, dia berdiri. Lantas mengusap kasar air mata yang tadi mengalir di pipinya. "Aku akan membiarkannya hidup. Aku akan membesarkannya meski dia tidak mengakuimu," tekad Brigitta.
Wanita itu masih memiliki otak waras untuk berpikir. Brigitta sadar betul kalau kehamilannya adalah hasil dari cinta sepihak yang ia rasakan pada Evan. Jadi dia akan menerima konsekuensinya. Dia akan merawat dan membesarkan bayi itu, meski tanpa kehadiran Evan. "Aku bisa melakukannya," ucap Brigitta yakin.
Wanita itu memutuskan untuk memutus semua komunikasi dengan Helena dan Evan untuk sementara waktu. Brigitta berniat untuk minta maaf pada Helena, tapi tidak sekarang. Dia akan menunggu waktu yang tepat.
Beberapa hari berlalu, berkali-kali Evan mendatangi kantor Helena, dan berkali-kali pula, Helena memberikan jawaban yang sama. Dia belum bisa memaafkan Evan. "Jangan menyusahkan dirimu sendiri, pergilah Van, aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu untuk sementara waktu," ucap Helena. Lantas berbalik masuk ke kantornya. Meninggalkan Evan yang terpaku di tempatnya. Tanpa bisa menjawab perkataan Helena.
"Kau terlalu dalam melukainya, Evan. Asal kau tahu," kata Shen lantas mengikuti Helena masuk. Evan seketika menundukkan wajahnya. Kecewa, sudah pasti pria itu rasakan. Tanpa dia tahu, Brigitta melihat semua kejadian itu. Tidak sengaja melewati kantor Helena, Brigitta berhenti sejenak. Tidak tahunya dia malah melihat Evan memohon maaf pada Helena.
"Kau bahkan terus meminta maaf pada Helena. Tapi kau tidak peduli pada anakmu sendiri," Brigitta berbalik sembari menahan tangisnya. Kenapa rasanya sesakit ini, melihat Evan yang terus berjuang untuk mendapatkan Helena kembali.
"Bukankah kau sudah tahu dari awal, resiko yang akan kau tanggung waktu kau menyerahkan cinta juga tubuhmu pada pria brengsek semacam dia. Sekarang kau tanggunglah hasil dari kegilaanmu pada pria itu. Kau hamil, dan dia tidak akan peduli pada anaknya apalagi kau!"
Suara jahat terdengar di kepala Brigitta, membuat hati wanita itu semakin perih. "Semua memang salahku. Jadi tidak pantas jika aku minta pertanggungjawaban dari Evan."
****
"Apalagi yang kau inginkan?" tanya Arash pada Cia. Pria itu pada akhirnya mau menemui Cia. Setelah Cia mengatakan kalau ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Aku ingin kau segera menikahiku," kata Cia tegas. Arash seketika menarik ujung bibirnya mendengar perkataan Cia. Pria itu sudah menyelidiki siapa pria yang bersama Cia waktu itu. Dan hasilnya tidak meleset jauh dari perkiraannya. Satu hal yang pasti, Cia dan pria itu, sering bertemu. Pria yang akhirnya Arash tahu bernama Aldo itu sering menemani Cia saat wanita itu keluar jalan-jalan. Dari beberapa foto yang dikirim anak buahnya, terlihat jika Cia sangat manja bersama Aldo. Sama seperti saat bersama dirinya. Suami Helena itu mulai menduga kalau ada hubungan spesial antara keduanya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus terburu-buru menikahimu? Aku memang akan bertanggungjawab pada anak itu. Bahkan status pun akan kuberikan asal dia benar anakku. Karena itulah aku akan menunggu sampai hasil tes DNA-nya keluar. Baru aku akan mengakui kalau dia anakku. Dengan begitu dia akan menyandang marga Tan di belakang namanya," Cia menelan ludahnya kasar.
"Tes DNA katamu? Kemarin kau tidak pernah menyinggungnya. Kenapa sekarang kau menginginkannya?" tanya Cia mulai sewot.
"Hanya sekedar memastikan. Kau tahu bukan putraku akan menjadi pewaris Tan Group. Jadi aku ingin memastikan kalau dia benar darah dagingku," jawab Arash menaikkan satu alisnya.
"Kau berubah Arash. Dulu kau dengan tangan terbuka menerima kalau ini anakmu. Tapi sekarang kau bersikap sebaliknya,"
"Sudah aku katakan, itu untuk berjaga-jaga," tegas Arash.
"Ini adalah anakmu. Kenapa kau tidak mau mengakuinya. Kalau begini caranya lebih baik kugugurkan saja kandungan ini. Daripada kau terus meragukannya. Lebih baik jika dia tidak melihat dunia sekalian," ucap Cia kejam.
Arash cukup terkejut mendengar ucapan Cia. Tidak menyangka jika Cia mampu berpikir seperti itu. Tapi detik berikutnya, pria itu tersenyum. Perkataan Cia semakin menguatkan dugaan kalau janin yang ada dalam kandungannya bukanlah sesuatu yang berharga. Dari sini pulalah Arash bisa menilai kalau Cia bukanlah wanita yang menyukai anak kecil.
Puluhan anak langsung menyerbu ke arah wanita itu, ketika dia keluar dari mobilnya. Anak-anak itu terlihat sangat dekat dengan Helena. Ditambah lagi, Helena terlihat luwes saat menggendong bayi kecil lalu menimangnya. Berusaha menidurkannya.
Ketika Arash bertanya pada Shen, wanita itu membenarkan kalau Helena sering mengunjungi panti asuhan itu. Juga beberapa panti lain yang berada di kota itu. Arash benar-benar salah menilai Helena. Wanita itu adalah malaikat tak bersayap di balik topeng iblisnya.
"Kenapa kau jadi berpikir pendek begitu. Aku tidak meragukannya, hanya ingin memastikan. Bukankah hanya tinggal beberapa bulan saja dan tes DNA bisa dilakukan. Tapi jika kau tidak sabar dan ingin menggugurkannya, silahkan saja. Aku tidak masalah," jawab Arash enteng.
"Arash, bayi ini anakmu! Bisa-bisanya kau menyuruhku untuk menggugurkannya," Cia berkata sambil menggebrak meja.
"Bukankah kau yang berniat menggugurkannya. Aku hanya memberikan kebebasan padamu. Itu hakmu kalau kau ingin menggugurkannya," kali ini senyum samar terukir di bibir Arash. "Katakanlah aku kejam, tapi jujur saja aku memang tidak mengharapkan kalau itu anakku," batin Arash.
__ADS_1
"Sial! Dia tidak terpengaruh sama sekali," maki Cia dalam hati.
Pada akhirnya Arash menyadari kalau Cia bukanlah wanita yang cukup baik untuk menjadi seorang ibu. Ibu yang baik tentu tidak akan keluar masuk klub malam dan menenggak alkohol, terlebih dalam keadaan hamil. Tapi Cia, anak buah Arash beberapa kali menangkap basah Cia yang masuk ke klub malam. Dan keluar dengan tubuh sedikit sempoyongan. Apalagi kalau wanita itu tidak meminum alkohol. Dalam kesempatan itu, Aldo kerap menemani Cia saat pergi ke tempat maksiat itu.
"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, termasuk menggugurkan kandungan itu. Kau hamil anakku karena kau memilih untuk mengandungnya kan?" skak mat. Ucapan Arash benar-benar tepat sasaran. Kembali, Cia hanya bisa menelan salivanya.
Dia pikir Arash banyak berubah belakangan ini. "Kenapa kau banyak berubah Arash? Dulu kau tidak seperti ini padaku?" tanya Cia sendu. Jurus lain untuk menarik simpati Arash.
"Karena pencarianku sudah menemukan hasil. Aku sudah menemukan wanita yang benar-benar aku cintai......"
"Apa maksudmu kau mulai jatuh cinta pada istrimu?" tanya Cia setengah tercekat.
"Iya, aku mulai jatuh cinta pada Helena. Terlebih akulah yang sudah mengambil mahkota Helena yang berharga. Dia masih virgin saat bercinta denganku," bisik Arash. Cia langsung mengepalkan tangannya menahan kesal. Mengingat dia berhubungan dengan Arash setelah dia bercinta dengan Aldo.
"Kau tahu di mana letak perbedaan kalian?" tanya Arash. Cia diam tanpa menjawab pertanyaan Arash.
"Meski dia terlihat liar dan brengsek tapi dia bisa menjaga diri," kata Arash lagi. Amarah Cia naik seketika. Perkataan Arash benar-benar melukai harga dirinya. Membandingkan dirinya dengan Helena, jelas dia bukan tandingan putri Rafael Liu. Ditambah lagi, tidak adil membandingkan dua wanita. Semua wanita punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan hal itu bukan untuk dibandingkan.
"Kau tidak terima aku bandingkan dengan Helena? Kalau begitu aku berikan dua pilihan, antara wanita baik dan buruk. Kau masuk yang mana?" tanya Arash lagi.
Dua mata itu saling pandang untuk sesaat, hingga tiba-tiba saja tubuh Cia ambruk begitu saja.
****
__ADS_1