
Hari-hari Brigitta terasa semakin berwarna. Wanita itu mulai meyakinkan hati untuk melupakan Evan. Bertekad akan menerima Rian. Pria itu begitu perhatian padanya dan juga bayinya. Seperti sekarang ini, wanita itu tengah menunģgu Rian yang sedang mengambil mobilnya di parkiran. Senyum Brigitta menghilang ketika suara Evan memanggilnya.
Wajah Brigitta langsung berubah kesal. Moodnya berantakan. Dia tidak ingin melihat Evan lagi. "Bagaimana kabarmu, Ta?" tanya Evan. Kali ini pria itu melihat Brigitta terlihat lebih berisi dengan wajah merona bahagia.
"Aku baik, kau tidak lihat?" balas Brigitta sedikit judes.
"Baguslah kalau kau baik-baik saja," jawab Evan sekenanya. Pria itu baru saja akan bicara lagi, ketika Rian muncul di samping Brigitta. "Siapa, Ta?" tanya Rian, memicing melihat Evan. Sama dengan Evan, pria itu memindai Rian dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Bukan siapa-siapa. Hanya teman," jawab Brigitta singkat. Setelah pamit, keduanya masuk ke mobil. Rian mulai melajukannya melewati Evan yang tampak mengepalkan tangannya.
"Dia orangnya?" tanya Rian. Brigitta mengangguk lemah. Wanita itu selanjutnya hanya diam. Tidak ingin menjelaskan apapun pada Rian. "Ya, sudah jangan terlalu dipikirkan. Yang jelas kamu tidak berhubungan dengannya lagi kan?" tanya Rian. "Aku sudah menghapus semua kontaknya," jawab Brigitta lirih. Rian tersenyum mendengar jawaban Brigitta.
"Bagaimana kalau minggu depan kita bertemu orang tuaku?" tanya Rian pelan. Ha? Brigitta tentu terkejut. Apa ini tidak terlalu cepat, mereka baru dekat sekitar tiga minggu ini. Dan pria ini sudah mengajaknya bertemu kedua orang tuanya.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Brigitta ragu. "Kenapa? Bukannya semakin cepat, semakin bagus," balas Rian.
Brigitta sebenarnya sependapat dengan Rian. Tapi dia pun tidak mau terlalu memaksa Rian. Pria ini baik, jadi dia tidak mau membuat Rian seolah dipaksa untuk bertanggungjawab atas kehamilan yang bukan miliknya. Rian perhatian padanya saja, Brigitta sudah bahagia.
"Aku ikut kamu saja," jawab Brigitta. Rian seketika mengembangkan senyumnya. "Kalau begitu, aku membuat janji dengan Papa dan Mama. Mereka terkadang suka sok sibuk jika tidak diberitahu," kata Rian ambigu.
Brigitta hanya ber-ooo ria, tidak terlalu paham dengan ucapan Rian. Hubungan keduanya kian dekat setiap hari.
****
__ADS_1
Pagi itu, rumah Shen kembali heboh setelah Shan lagi-lagi berdebat dengan Meisya. Masalah sepele, Shan ingin mengantar Meisya tapi si istri abege kekeuh mau naik Daddy-nya. Shan bermaksud agar Meisya sedikit mengurangi interaksinya dengan moge Ducatti berwarna merah itu. Tapi Meisya menolak. Dengan alasan nanti teman-temannya tahu kalau dia sudah menikah.
"Lah bukannya temanmu sudah pada tahu kalau kamu sudah kewong," Shan bertanya.
"Nikah Om, belum kewong. Cuma Meta dan Della yang tahu. Lain gak," sungut Meisya. "Kalau begitu kapan kita kewongnya? Lagian punya suami ganteng paripurna gini kok diumpetin," protes Shan. Meisya melotot mendengar kenarsisan sang suami.
"Sudah deh, masalah berangkat aja pada berdebat. Puyeng gue," Shen akhirnya mengeluarkan suaranya setelah dari tadi hanya diam. Menjadi pendengar adu debat pasutri yang entah kapan akurnya.
Shen kemudian teringat Arash dan Helena. Bagaimana dulu mereka bertengkar, bertengkar ya catat, bukan sekedar berdebat seperti Shan dan Meisya. Dengan Helena dulu benar-benar membenci Arash. Kalau Meisya tidak. Gadis abege itu hanya belum bisa menempatkan posisinya sebagai istri. Plus sifat keras kepala dan ngeyelnya yang gak ketulungan.
Akhirnya Shan pun mengalah. Membiarkan Meisya dengan rok pendek yang hanya menutupi separuh paha mulusnya, melajukan Daddy-nya menuju sekolahnya. "Giliran suami aja mau lihat paha mulus gak dikasih, ini malah diumbar free sepanjang jalan," gerutu Shan ikut melajukan mobilnya. Menyusul sang istri.
"Bagaimana?" Shan bertanya pada Ang. "Asli," bisik Ang. Keduanya langsung memijat pelipis masing-masing. Ang baru saja dari rumah sakit untuk memeriksa hasil DNA kemarin, asli atau palsu. Valid atau tidak. Sah atau tidak. "Terus ini bagaimana ceritanya?" tanya Shan.
"Kau siap dilempar map sama dia?" tanya Shan. Dia tahu pasti Arash akan marah dengan hal ini. Tapi ya itu tadi, mau bagaimana lagi. Berdua, mereka menghadap Arash, bersiap menerima lemparan apapun dari atasan mereka. Karena pepatah yang Arash pegang, "The Boss is always right, no matter what."
(Boss selalu benar, tidak peduli apapun)
Begitu keduanya selesai melapor, dua pria itu langsung memejamkan mata dan menulikan telinga. Karena biasanya lengkingan suara Arash melebihi teriakan Helena kalau mode marahnya sedang on.
Tapi setelah menunggu beberapa waktu, tidak ada yang terjadi. Lemparan barang atau teriakan Arash seperti yang biasa pria itu lakukan kalau sedang marah, tidak ada. Ajaib, dua pria itu membuka mata, dilihatnya Arash yang tengah mengusap dagunya pelan. Tengah berpikir.
"Berarti dia sudah merencanakan ini semua dengan matang," gumam Arash pelan.
__ADS_1
"Rash...." panggil Shan. Arash hanya mengangkat wajahnya. Melihat ke arah duo asistennya. "Kenapa?" tanya Arash.
"Ahhh tidak ada. Lalu rencana kita apa?" tanya Ang. Keduanya menarik nafas lega bersamaan.
"Untuk sementara kita akan menunggu dulu. Aku sedang menyelidiki sesuatu," kata Arash. Jika sudah begini caranya, tidak ada jalan lain selain menemuinya, pikir Arash. Meski dia berharap bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus menemui orang itu.
*****
Shen menyambut kedatangan Ang yang manyun wajahnya. Keduanya duduk di sofa sebuah restaurant yang berada di rooftop. Tempat VIP dengan pemandangan mengarah ke tengah kota.
"Ada masalah?" tanya Shen melihat Ang yang langsung melepas jasnya. Menampilkan kemeja slim fit yang membalut tubuh atletisnya. Ang menggeleng. "Jangan sampai Shen tahu apalagi Helena," sebuah pesan dari Arash terngiang di telinga Ang. Dia paham maksud Arash. Jika Helena tahu, Cia benar-benar mengandung anaknya, bisa dipastikan kalau wanita itu akan langsung meminta cerai.
"Kerjaanku banyak banget. Rasanya capek sekali," keluh Ang, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari menatap wajah cantik Shen. "Adik Shan ini benar-benar tidak ada duanya," begitulah Shen di mata Ang.
Shen, gadis cantik yang bisa mencairkan sifat seorang Ang, si kutub utara. Setelah mengenal Shen, Ang tidak terlalu kaku lagi. Pria itu lebih banyak bicara dibanding dulu, meski masih tergolong irit.
"Kerjakan pelan-pelan, nanti juga kelar," hibur Shen. Sejenak Ang hanya menatap Shen yang tengah mengoceh. Hingga kemudian pria itu menyeringai. "Kenapa kamu cerewet sekali sih?" tanya Ang.
"Baru tahu ya kalau aku banyak omong," sahut Shen santai. Tidak marah saat Ang menyebutnya cerewet. "Tidak juga. Cuma penasaran, tu bibir kalau diam sebentar bisa gak," goda Ang.
"Nggak bisa, aku suka ngoceh kayak burung beo. Aku cuma bisa diam kalau lagi.....mmpphhh....." Shen mendelik kala Ang mencium bibirnya. Tanpa jeda Ang langsung ******* bibir pink Shen. Gadis itu perlahan mulai membalas ciuman Ang. Ini bukan kali pertama mereka berciuman jadi tidak perlu malu-malu lagi. Cukup lama keduanya menikmati permainan bibir mereka. Hingga Ang terlebih dulu yang melerai tautan bibir mereka.
"Terima kasih. Ini moodbooster terampuh untukku," kata Ang sambil mengusap bibir Shen yang basah karena ulahnya.
__ADS_1
****