Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Istri Baperan


__ADS_3

Di sebuah klub malam, terlihat Evan minum-minum seorang diri. Sejak dia dan Arash terlibat baku hantam, serta melihat Helena menjemput Arash tanpa mempedulikan dirinya. Pria itu berubah perangai. Dia semakin dalam terjerumus ke dunia malam.


Evan mulai kecanduan alkohol dan minuman keras lainnya. Hidupnya mulai berantakan. Meski urusan kantor dia masih bisa menghandle. Tapi perkara lain, dia benar-benar kacau.


Sejak putus dari Helena, Evan seperti orang yang kehilangan arah. Wajah Helena selalu menghantuinya. Rasa bersalah telah mengkhianati wanita itu perlahan menggerogoti tubuhnya. Evan yang dulu berbadan atletis, kini berubah. Tubuhnya kurus, wajah kuyu. Rambut acak-acakkan.


Satu-satunya wanita yang masih bertahan di sisinya adalah sekretarisnya, Nella. Wanita itu yang selalu ada untuk Evan. Seperti saat ini, ketika Evan sudah tidak sadar, karena kebanyakan minum. Nella dengan bantuan seorang satpam, memapah tubuh Evan keluar dari klub malam itu.


"Terima kasih, Pak."


Nella langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Evan. "Hah." Terdengar helaan nafas begitu Nella berhasil menghempaskan tubuh Evan ke kasurnya.


"Aku sendiri heran dengan diriku. Kau ini tukang mabuk. Tukang marah-marah. Tapi aku tidak tega meninggalkanmu di tempat laknat itu."


Nella menggerutu sembari melepaskan sepatu Evan. Lalu membuang jas pria itu. "Helen, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." Evan mengigau.


"Lihat, kau bahkan terus menyebut nama mantanmu. Tapi kenapa aku tetap baik padamu!"


Maki Nella. Wanita itu lalu keluar dari kamar Evan. Keluar dari unit Evan lalu masuk ke unitnya sendiri yang hanya berada di seberang unit Evan.


*


*


"Aku tahu kau pernah menyelinap masuk ke rumahku."


Kata-kata Cia kembali terngiang di kepala Arash. Pria itu tengah melamun di ruangannya. Apa dia mengetahui soal aku yang masuk ke rumahnya waktu itu. Pria itu berpikir sembari memainkan pulpennya.


Cia semakin memojokkan dirinya. Bahkan wanita itu berani memberi ultimatum. Kalau sampai bulan depan, Arash tidak juga menikahinya, maka dia akan menggugurkan kandungannya.


"Dia pasti sudah gila!" maki Arash. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan kandungan Cia.


*


*


Arash melangkah keluar dari kantornya. Dia hari ini ada janji dengan Helena, menemani sang istri ke pernikahan temannya. Demi menjaga nama baik masing-masing. Helena terpaksa mengajak Arash. Hubungan Helena dan Arash kembali renggang sejak Cia menemui Helena. Ditambah tes DNA yang menyebutkan kalau anak Cia, anak Arash.


"Maaf membuatmu menungu." Arash membukakan pintu mobil untuk Helena yang hanya terdiam mendengar permintaan maaf Arash. Wanita itu terlihat cantik dengan dress semi formalnya. Mengingat Helena tidak pulang ke rumah untuk mengganti bajunya.


"Helen, bisakah kamu menungguku sebentar lagi. Akan kubuktikan kalau dia bukan anakku...."


"Stop, kita sudah membahasnya berulang kali. Dan bagiku semua sudah jelas."

__ADS_1


Arash langsung tidak berkutik mendengar perkataan Helena. Setelahnya hanya ada keheningan hingga keduanya sampai ke venue pernikahan teman Helena.


Begitu mereka masuk ke venue, mereka bertemu Shan dan Ang. "Kalian datang juga?"


Arash bertanya sembari membenarkan tangan Helena yang berada di lengannya. "Lah kan yang nikah Brigitta."


Arash seketika melirik Helena, yang tampak acuh padanya. "Kamu tidak bilang ini pernikahan Brigitta?"


"Kamu tidak tanya." Helena menjawab singkat.


"Astaga, cantik bener bini gue kalo lagi ngamuk."


Batin Arash, pria itu melihat ke arah Helena yang matanya fokus ke arah pintu. Di samping mereka ada Shan dan Meisya juga Ang serta Shen.


Begitu pintu dibuka, Arash mulut Arash langsung menganga. Melihat Rian yang menggandeng Brigitta. Pria itu langsung melihat wajah Helena. Wajah sang istri tampak biasa saja. Tidak ada rasa marah atau terkejut. Helena bahkan sesekali tersenyum ke arah Brigitta yang melambaikan tangan ke arah mereka.


"Hubungan mereka sebenarnya bagaimana sih?" Apa sekarang giliran Helena yang berselingkuh dengan suami Brigitta. Kepala Arash tiba-tiba terasa pusing.


Ketika acara pemberkatan selesai. Mereka mulai mengantri untuk memberikan selamat pada pengantin baru. Tibalah giliran Helena dan Arash. Dua pria itu berjabat tangan seperti biasa.


"Suamimu?" Rian bertanya dan Helena mengangguk.


Arash jelas bingung melihat sikap Helena yang begitu santai berhadapan dengan Rian.


Batin Arash mulai kesal. Brigitta langsung memeluk Helena ketika mereka sudah berhadapan.


"Jangan sia-siakan dia. Dia pria baik."


Bisik Helena, dan Brigitta mengangguk yakin. Brigitta tahu, Rian pria baik. Kalau bukan pria baik, bagaimana dia mau menerima dirinya yang sudah bekas Evan. Ditambah dirinya tengah mengandung anak Evan.


Arash hanya bisa mengangguk saat bersalaman dengan Brigitta. Wanita itu jelas merasa segan dengan Arash.


"Ahhh Helena sayang, lama tidak bertemu. Tante rindu sama kamu."


Baik Brigitta maupun Arash jelas terkejut dengan reaksi mama Rian saat bertemu Helena. Terlihat sekali jika dua orang itu sangat dekat.


"Tante dengar kamu sudah menikah? Suamimu mana?" Mama Rian kembali bertanya antusias.


Helena dengan cepat menarik Arash mendekat. "Wahhh jelas saja Rian kalah. Suamimu Arash Tan." Kekeh mama Rian. Rupanya mama Rian tahu soal Arash.


"Tante bisa saja."


"Padahal dulu Tante senang sekali waktu kamu pacaran sama Rian."

__ADS_1


Arash dan Brigitta melotot mendengar perkataan mama Rian.


*


*


Brigitta membanting pintu kamar ketika pesta selesai dan bumil itu sudah kembali ke kamarnya. Nafasnya tersengal dengan mata yang mulai terasa panas.


"Padahal dulu Tante senang sekali waktu kamu pacaran sama Rian."


Perkataan mama Rian atau sekarang mama mertuanya, kembali terngiang di telinganya. "Kenapa sih aku selalu dapat "bekasnya" Helena. Tidak Evan, tidak Rian. Mereka pacar Helena."


Brigitta merasa kesal. Wanita itu langsung melepas heels tiga senti yang dia pakai. Lalu melemparnya kesembarang arah. Biar bagaimanapun, dia tidak bisa mundur lagi sekarang. Mereka sudah resmi menikah. Dan tidak ada kata cerai dalam angan Brigitta.


Tak berapa lama, Rian masuk ke kamar itu. Dia sejenak berbasa basi dengan rekan bisnisnya. Suami Brigitta itu cukup terkejut ketika mendapati kamar yang sudah berantakan.


"Kamu kenapa Ta?" Rian bertanya sembari memegang kedua lengan Brigitta. Wanita itu menangis sembari memeluk lututnya. Rian dengan segera mengubah posisi duduk Brigitta menjadi selonjor. Dia takut bayi dalam perut Brigitta terkena tekanan.


"Kenapa nasibku begitu buruk?"


Tanya Brigitta dengan derai air mata mengalir di pipinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu menyesal menikah denganku?"


Rian balik bertanya.


"Kamu dan Helena dulu pernah bersama. Kenapa aku selalu mendapat bekas Helena?"


Rian tertegun, sesaat terdiam, untuk mencerna perkataan Brigitta. Hingga kemudian sudut bibir Rian tertarik. Brigitta secara tidak langsung sedang cemburu pada Helena.


"Kamu cemburu?" Goda Rian.


Brigitta seketika menghentikan tangisnya. "Siapa yang cemburu? Aku ini kesal, kenapa aku selalu menyukai pria yang pernah berhubungan dengan Helena. Tidak kamu, tidak Evan!"


"Memangnya ada yang salah. Helena tidak masalah. Kenapa kamu yang malah marah-marah?"


"Aku seperti perempuan yang tidak punya prinsip! Aku punya tipe sendiri, tapi kenapa aku selalu berakhir dengan mantannya Helen."


"Apa salahnya dengan itu?" Rian terkekeh mendengar ucapan sang istri yang menurutnya tidak masuk akal. Ahh, kemudian Rian teringat kalau Brigitta tengah mengandung. Pria itu sudah belajar kalau mood wanita hamil itu mudah berubah dengan cepat.


"Gini amat punya istri baperan gara-gara hormon kehamilan." Batin Rian dalam hati.


Pria itu masih mendengarkan gerutuan Brigitta yang dari A sampai balik A lagi. Diulang-ulang terus tidak berhenti. Meski begitu, Rian malah menganggap gerutuan penuh kecemburuan Brigitta itu terdengar lucu.

__ADS_1


****


__ADS_2