Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Kompak


__ADS_3

Selama beberapa hari, Helena hanya fokus pada kehamilannya. Dia memang mengalami mual dan muntah seperti ibu-ibu hamil pada umumnya. Tapi tidak parah. Wanita itu benci pada nasi. Tidak mau makan nasi, bahkan mencium aroma nasi yang tengah di masakpun Helena langsung muntah.


"Perasaan mak bapaknya oriental kok anaknya gak doyan nasi. Anakmu bule ya."


Helena langsung menginjak kaki sang adik yang kebetulan membantu memijat tengkuknya. Wanita itu muntah hebat setelah melihat Hugo menyantap makan siangnya.


"Malah nginjak kaki. Nggak aku bantuin momong lo nanti."


Ancam Hugo. Helena terengah-engah setelah mengeluarkan seluruh buah-buahan yang baru saja dimakannya.


"Kenapa sih makan depan aku?"


"Lah masak iya cuman nasi doang suruh ngumpet. He bocil lu kalau ngidam jangan aneh-aneh napa. Kasiahan tu emak mu."


Kali ini jeweran di telinga Hugo membuat pria itu menggeram marah. Pria itu menundukkan kepalanya, mencegah jeweran sang kakak makin kencang di kupingnya.


Pria itupun menggerutu, mau makan aja harus ngumpet dari Helena. Pertengkaran itu terhenti ketika Valerie memberitahu kalau Arash ada di depan. Tubuh Helena mematung di tempat.


Helena mulai cemas. Dia takut kalau Arash tahu kehamilannya. Dia belum siap untuk memberitahu pria itu soal anaknya.


"Dia kan bapaknya. Lambat laun dia pasti tahu."


Celetuk Hugo dari arah pintu belakang rumah. Pria itu benar-benar menjauh dari Helena untuk menghabiskan makan siangnya.


"Temui saja dulu. Bersikaplah biasa. Kalau memang dia tahu ya mau bagaimana lagi. Itu kan anaknya. Dan kalian memang belum bercerai."


Dengan langkah berat, Helena berjalan ke ruang tamu. Saat itu dilihatnya penampilan Arash yang kacau. Pria itu terlihat lusuh dan kuyu. Maklum saja, pria itu harus bekerja dan bergantian dengan Aldo untuk menjaga Cia dan mengasuh bayi Cia.


Ada rasa tidak tega saat melihat Arash yang begitu berantakan. Meski begitu, pria itu langsung tersenyum saat melihat Helena. Sebuah pelukan langsung Helena dapat, begitu wanita itu berdiri di dekat Arash.


"Bagaimana kabarmu? Aku sangat mencemaskanmu. Apa maagmu masih kambuh?"


Helena hampir meloloskan air matanya mendengar pertanyaan penuh kecemasan dari Arash.


"Hah....malas aku lihat mereka. Yang satu cinta berat, yang satu sok baik hati banget."


Hugo berlalu dari samping Valerie, pria itu cukup muak dengan sikap sang kakak. Bagi Hugo, Helena terlalu peduli pada Cia. Padahal Cia sama sekali tidak peduli pada Helena. Sudah jelas dia dan Arash saling mencintai kenapa juga harus ada drama pisah-pisahan.


Toh Cia bisa apa, jika Arash dan Helena tetap ingin bersatu, mereka adalah pasangan sah yang sudah menikah. Soal anak Arash dan Cia bukankah semua bisa dibicarakan baik-baik. Tanpa perlu acara pisah rumah segala.


Lama-lama Hugo kasihan juga dengan Arash. Pria itu berusaha baik pada dua wanita yang mungkin berarti bagi Arash. Satu masa lalunya dan satu lagi mungkin bisa disebut sebagai masa depannya.

__ADS_1


Tapi sikap Helena yang kekanakkan, menurut Hugo, membuat semua jadi runyam.


"Kenapa sih dia itu selalu membuat masalah jadi bertambah ribet. Cinta ya tinggal bilang cinta. Dasar anaknya pak Rafael."


"Hugo Amadeo Liu!"


Valerie memanggil penuh penekanan pada sang putra. Hugo hanya bisa nyengir mendengar peringatan sang mama.


*


*


"Apa kamu yakin?"


Rafael bertanya ketika Helena mengatakan ingin pergi sementara. Dia ingin menghindar sejenak dari Arash. Sebab dari pertemuan terakhir mereka, pria itu mengatakan akan mengunjunginya setiap ada waktu luang.


Dia belum siap menghadapi Arash. Dia ingin menata hati dan pikirannya dulu.


"Kamu lari darinya, itu tidak baik."


Valerie berusaha membujuk Helena. Dia ingin sang putri menghadapi Arash.


"Tapi Helena perlu waktu untuk menjernihkan pikiran. Biarkan Arash menyelesaikan masalahnya. Lalu kita bisa bicara lagi."


Helena mendelik tajam pada Hugo. Dia tidak menyangka kalau Hugo bisa menebak isi pikirannya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu.


Ketika Helena mengikuti Aldo, dia bisa mendengar kalau operasi Cia baru akan dilakukan bulan depan. Setidaknya, dia akan "pergi" untuk dua atau tiga bulan mendatang. Itu akan memberi waktu pada Arash untuk menyelesaikan tugasnya.


Arash mengatakan pada Helena, kalau dia akan menunggui Cia hanya sampai masa penyembuhan wanita itu. Selebihnya Aldo yang akan mengambil alih. Aldo juga bersedia merawat anak Cia. Dalam kesempatan ini, Arash belum memberitahu kalau anak Cia adalah anak Aldo.


"Baik, Papa izinkan kamu mengambil liburanmu. Tapi hanya sampai kandunganmu berusia lima bulan. Setelah itu kamu harus pulang. Kamu harus berada dalam pengawasan kami sampai kamu melahirkan."


Helena mengembangkan senyumnya. Dia tahu papanya akan mengabulkan apapun yang dia inginkan. Terlebih dengan kondisinya. Helena menolak ketika Valerie berniat untuk menemaninya.


Tiga orang itu hanya bisa menarik nafasnya. Jika Helena sudah memutuskan, akan sulit mengubahnya.


"Punya pandangan mau pergi ke mana?"


Hugo bertanya, meski sebenarnya dia tahu. Sang kakak pasti sudah merencanakan ini jauh hari. Bahkan mungkin sejak dia belum tahu soal kehamilannya.


"Ada satu tempat milik temanku yang sangat ingin aku kunjungi. Dan dia bersedia meminjamkannya padaku untuk beberapa bulan ini."

__ADS_1


"Boleh aku tebak punya siapa?"


Hugo mengenal beberapa teman sang kakak. Salah satunya ya Rian. Dari semua teman Helena. Rianlah yang paling bisa diajak berkomplot dengan kakaknya. Sebab yang lain adalah double agen. Teman Helena, juga teman Arash.


"Kalau sudah tahu ya jangan nanya!"


Ketus Helena. Wanita itu tengah membereskan beberapa baju dan peralatan yang sekiranya dia perlukan di sana. Sebab dia akan tetap bekerja dari sana.


*


*


Di sisi lain, Rafael langsung memijat pelipisnya. Hingga pria yang duduk di hadapannya mengerutkan dahinya. "Kau kenapa?"


"Ah, aku seharusnya minta maaf atas kelakuan putriku. Dia ingin mengambil liburan sambil menenangkan diri. Atau lebih tepatnya, bersembunyi dari putramu."


Rafael menatap penuh permohonan maaf pada William. Papa Arash itu hanya bisa menghela nafasnya. Dia tahu soal kehamilan Helena, dan bisa dibayangkan bagaimana bahagianya mereka. Mereka akan segera memiliki cucu. Jauh dari prediksi mereka yang harus menunggu lama.


"Lalu?"


"Aku terpaksa menyetujuinya. Aku tidak mau menekan Helena saat dia sedang mengandung. Kita tahu ini sebuah kejutan."


William terdiam sesaat. Untuk hal ini dia setuju. Mereka harus ekstra menjaga kehamilan Helena.


"Lalu kemana dia akan pergi?"


"Villa keluarga Wijaya. Helena dan Rian Wijaya berteman. Atau lebih tepatnya mereka adalah mantan."


William sama sekali tidak terkejut. Sebelum menjodohkan Helena dengan sang putra, dia sudah mencari tahu soal Helena, sampai sedetail-detailnya.


"Demi kebaikannya, aku akan menyetujuinya. Yah, meski kita harus menanggung kemarahan Arash jika dia tahu. Kita menyembunyikan istri dan anaknya."


"Setidaknya, ini akan memberi waktu pada Arash dan Helena untuk berpikir. SemogĂ  mereka bisa mengambil keputusan lebih baik setelah ini. Aku yakin, Helena mengambil keputusan saat dia sedang bingung dan emosi saat itu."


Rafael menambahkan dan William mengangguk menyetujui ucapan sang besan.


"Meski begitu kita tetap akan mengawasinya. Bagaimanapun dia sendirian di sana. Dan sedang hamil muda."


"Aku juga akan melakukan hal yang sama. Mereka adalah menantu dan cucuku. Pewaris Tan Grup."


Dua pria itu tersenyum kompak. Seolah tahu isi kepala masing-masing.

__ADS_1


****


__ADS_2