
Cia menggeram marah, melihat Arash yang pergi begitu saja dari hadapannya. Angan Cia untuk mendapat kepastian soal pernikahan mereka hancur sudah. Berganti dengan rasa kesal luar biasa. Pria itu berani menentangnya sekarang. Sepertinya kehamilannya bukan lagi alat yang bisa dia gunakan untuk menjerat Arash.
"DNA? Kau menginginkan tes DNA untuk meyakinkanmu kalau anak ini milikmu. Maka kau akan mendapatkannya," kata Cia. Seulas senyum licik terbit di bibir wanita itu. Hingga kemudian, senyum itu berubah menjadi sebuah ringisan. Ketika sakit kepala kembali menderanya. "Aaarrgghhh, kenapa sakit kepala ini selalu menggangguku!" umpat Cia. Buru-buru mengambil obat dari tasnya, lantas meminumnya. Cukup lama obat itu bereaksi hingga perlahan rasa sakit itu mulai menghilang.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Arash," ucap Cia. Berlalu keluar dari restauran itu.
*****
Helena mengembangkan senyumnya, begitu tahu ke mana Arash membawanya. "Kau menyukainya?" tanya Arash yang sudah berdiri di sampingnya. "Kau juga tahu aku menyukai bunga?" tanya Helena.
"Yang ini benar-benar out of the box. Aku tidak percaya ketika Shen mengatakan kalau kau suka bunga. Maksudku pergi ke kebun bunga," kata Arash sambil menggelengkan kepalanya. Helena mengulum senyumnya. Ternyata asistennya sendiri yang jadi informan untuk Arash. Kenapa Helena jadi merasa kalau Shan dan Shen sengaja mendekatkan dirinya dan Arash.
Kredit Pinterest.com
"Jadi apa aku tidak pantas untuk menyukai bunga?" tanya Helena sambil memiringkan kepalanya. Lalu berjalan menjauh. Mulai menikmati keindahan bunga yang beberapa diantaranya sedang bermekaran. Arash seketika menelan salivanya. Pertanyaan Helena adalah pertanyaan jebakan. Dijawab jujur atau bohong, hasilnya akan tetap sama. Wanita itu akan tetap marah padanya.
"Kau mau jawaban yang seperti apa?" tanya Arash. "Tentu saja yang jujur," tukas Helena mulai mengamati mawar Juliet yang tengah mekar. Bunga termahal saat ini.
Kredit Pinterest.com
Juliet Rose, mawar yang berwarna peach....
__ADS_1
"Jujur saja, dengan covermu yang terlihat....eerrrr badas, liar dan judes..." Arash menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Helena. Arash menduga kalau Helena akan marah dia sebut badas dan sebagainya. Tapi nyatanya tidak, wanita itu hanya tersenyum kecil mendengar penilaian Arash soal dirinya.
"Kau tidak marah?" tanya Arash Heran. "Untuk apa?" Helena balik bertanya. "Aku menyebutmu badas, liar, judes...."
"Aku memang seperti itu. Aku sadar dengan hal itu," Arash melongo mendengar jawaban Helena. Sang istri tidak menampik semua sifat buruk dalam dirinya. Wanita itu dengan lapang dada mengakuinya. Hebat! Belum pernah Arash berjumpa dengan wanita yang tidak marah disebut judes, liar dan sebagainya.
"Lalu...ada yang lain?" tuntut Helena. "Aku sekarang benar-benar percaya dengan ungkapan, "Dont't jugde the book by it's cover." Covermu benar-benar horor tapi isinya sungguh mengagumkan," tanpa ragu Arash memuji Helena.
"Kau tidak sedang merayuku kan?" tanya Helena melihat Arash yang terus mengikutinya. "Apa kau merasa aku rayu? Aku pikir kau tidak mempan dengan segala bentuk rayuan," kata Arash. "Memang tidak!" jawab Helena santai.
Mati kau, Arash! Baru kali ini rayuanmu tidak mampu membuat berbunga-bunga hati seorang wanita. Arash tersenyum kecut, melihat Helena dengan santainya meninggalkan dirinya yang hanya bisa berkacak pinggang dengan rasa dongkol di hati. "Dia benar-benar sulit ditakhlukkan, bahkan setelah kebusukan Evan terbongkar," batin Arash kesal. Setengah berlari, Arash menyusul Helena yang baru saja menoleh ke arahnya. Kode dari seorang wanita untuk dikejar.
"Jadi masih betah menemaniku?" tanya Helena. Hampir satu jam mereka mengitari taman bunga itu. Selama itu pula, tidak ada keluhan yang keluar dari mulut Arash. "Apa maksudmu? Kalaupun kau mengajakku mengelilingi taman ini sepuluh kali, aku masih kuat. Jangan kau ragukan soal staminaku," jawab Arash percaya diri sembari menaikkan satu alisnya.
Kali ini Helena yang langsung menelan salivanya. Entah kenapa ketika Arash menyebut kata stamina, pikiran Helena langsung mengarah pada malam panas paksa mereka. Helena jelas ingat bagaimana pria itu "menghajarnya" hampir sepanjang malam. Efek marah dan stamina Arash membuat pria itu tidak menghentikan aksi gilanya.
"Istirahatlah dulu. Akan kucarikan minum," kata Arash ketika dia melihat satu bangku kosong di sudut taman. "I...iya....," Helena menjawab gugup. Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar, melihat Arash menjauh darinya. Kenapa perasaannya semakin hari, semakin tidak terkontrol saat bersama Arash. Ada rasa ingin selalu dekat dengan pria itu. Terlebih setelah hatinya mengalami kekosongan semenjak pengkhianatan Evan.
Sikap Arash yang selalu manis padanya, membuat hati Helena perlahan mulai menerima dan luluh pada Arash. Terlebih pria itu sepertinya benar-benar mencintainya. "Apa aku mulai jatuh cinta pada si brengsek itu?" tanya Helena pelan. Apa ini tidak terlalu cepat. Baru beberapa hari hatinya patah dan kecewa karena kelakuan Evan, tapi kini hatinya berbunga-bunga saat bersama sang suami.
"Bener-bener baperan nih hati," gerutu Helena merutuki hatinya sendiri. Tak lama, Arash kembali dengan dua cup ice lemon tea. "Info dari Shen juga?" tanya Helena sebelum Arash buka mulut. "Dia kan secret agent-ku," cengir Arash.
"Jadi bagaimana kita?" tanya Arash berikutnya. Pria itu menatap Helena yang tengah menyeruput minumannya. Perlahan, tangan Arash terulur untuk merapikan rambut Helena yang beterbangan karena tiupan angin. "Eehhhhh....." Helena tentu terkejut dengan tindakan Arash.
"Bukalah hatimu untukku. Soal Cia, aku akan menyelesaikannya dalam waktu dekat ini," kata Arash memandang wajah Helena lekat-lekat. "Tapi dia mengandung anakmu," sanggah Helena. "Aku meragukannya," balas Arash.
__ADS_1
"Arash jangan begitu...."
"Helena dengarkan aku. Ingat pria yang bersama Cia waktu kita menggerebek Evan? Aku sedang menyelidiki pria itu. Mereka dekat sudah lama. Bahkan ketika aku masih dekat dengan Cia, aku curiga kalau dia adalah ayah dari anak itu," jelas Evan.
"Tapi kalian pernah ber...." Helena tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Iya...aku akui. Aku pernah bercinta dengannya. Tapi aku bukan yang pertama bagi Cia. Aku yakin itu. Beda dengan saat aku memaksamu," Helena langsung melengos mendengar Arash menyinggung soal malam pertama mereka.
"Kenapa reaksimu begitu? Kau malu? Waaahh, aku tidak menyangka jika seorang Helena Amara Liu punya rasa malu juga," ledek Arash.
"Hei, aku masih manusia biasa punya rasa malu. Memangnya kamu, ngomongin hal begituan di tempat umum begini," salak Helena. Galak mode on mulai diaktifkan.
Tapi sepertinya Arash benar-benar sudah kebal dengan kejudesan dan kegalakan Helena. Buktinya, bukannya takut. Pria itu malah mulai melancarkan aksi jahilnya.
"Memangnya kenapa kalau aku membicarakan hal itu di sini. Kamu kan istri sahku. Buat apa malu. Jangankan sekedar membicarakannya. Praktek pun aku berani," bisik Arash.
"Ha? Praktek? Praktek apa maksudmu?" Helena bertanya pelan. Seringai mencurigakan langsung terbit di bibir Arash.
"Praktek ini," Arash seketika menarik tengkuk Helena. Membawa tubuh ramping itu mendekat ke arahnya. Lantas tanpa aba-aba, Arash langsung menautkan bibir mereka. Helena membulatkan matanya melihat kelakuan Arash yang menurutnya sangat berani.
Helena segera melerai tautan bibir mereka. "Apa yang kau lakukan?" sarkas Helena. Rasa malu menghiasi wajah cantik wanita itu. Sementara Arash malah tersenyum puas. Pria itu bisa mencium bibir Helena walau sesaat.
"Uji coba," jawab Arash santai. "Mana ada uji coba model begituan," kilah Helena.
"Nyatanya ada," balas Arash. Keduanya kembali berdebat bahkan setelah uji coba manis yang baru saja Arash lakukan. "Yesss, kencan low budget jilid dua sukses dilakukan," batin Arash senang bukan kepalang.
__ADS_1
*****