Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Perdebatan Unfaedah


__ADS_3

Helena dan Rian terlihat akrab. Mereka memang sudah lama menutup cerita lama mereka. Keduanya memutuskan untuk berteman setelah mereka putus. Tanpa Helena dan Rian tahu, keakraban mereka dilihat oleh Arash.


Pria itu langsung mengepalkan tangannya. Arash tahu keberadaan Helena, setelah mengikuti GPS sang istri. Arash cukup tercengang mengetahui Helena berada di sebuah butik gaun pengantin.


Tanpa pria itu tahu kalau ada Brigitta di depan mereka. Mereka tertawa sebab melihat Brigitta yang terlihat aneh dengan gaun keduanya.


"Seperti ikan duyung naik ke darat."


Tawa keduanya kembali meledak, diikuti Brigitta yang turut tertawa. Tapi tubuh Brigitta tidak dapat Arash lihat dari tempatnya berdiri. Api cemburu langsung menyala di hati Arash. Baru saja terkena masalah sedikit saja, sudah sibuk pedekate dengan pria lain. Gerutu Arash dalam hati. Pria itu meninggalkan tempat itu dengan rahang mengatup rapat. Marah juga cemburu.


Belum selesai masalah Cia, sekarang muncul dugaan Helena selingkuh dengan pria lain. Kepala Arash serasa mau meledak memikirkanyà.


****


"Pokoknya malam ini kamu tidur di rumah." Tegas Shan pada istri kecilnya. Meisya mengerutkan dahinya mendengar perkataan sang suami. Keduanya mulai tidur sekamar setelah Meisya ketakutan karena bertemu kecoak di kamar tamu. Shan dan Shen tentu heran, sebab selama ini mereka belum pernah ketemu kecoak satupun di rumah mereka.


"Kan aku mau jalan-jalan sama Daddy."


"Kamu lupa? Daddy nyungsep ke got kemarin. Sekarang masih dipermak di bengkel."


Meisya menepuk dahinya pelan. Lupa kalau motor kesayangannya diceburin ke selokan oleh Rido, teman geng balapnya. Lah kalau dia gak ngukur jalan sama si Daddy. Terus dia disuruh ngapain. Bobok manis dari jam 8, wahh big no. Kayak anak rumahan banget, padahal dia kan anak jalanan.


"Nggak ah, aku minta dijemput Rido aja. Gak asik tidur awal."


"Kagak boleh. Siapa bilang kamu bisa tidur awal hari ini." Kata Shan sembari menaikkan satu alisnya.


Dua jam kemudian.


"Busyet dah jago juga laki gue main game beginian." Seloroh Meisya tanpa mengalihkan pandangannya dari TV layar besar mereka. Tangan gadis itu dengan lihai dan cekatan memainkan stick permainan itu.


Shan hanya melirik mendengar pujian sang istri. Bukan itu sih sebenarnya yang membuat Shan tersenyum penuh arti sejak tadi. Pria itu jelas bahagia ketika Meisya mau mengakui dirinya sebagai suaminya. Sepertinya pria sengklek itu mulai jatuh cinta dengan istri kecilnya yang hobi naik Daddy-nya.

__ADS_1


"Janjinya jangan lupa ya kalau gue menang."


"Iya....iya...."


Shan hanya tersenyum penuh arti. "Tapi kamu juga ingat janjimu kalau aku yang menang." Meisya menggangguk sebab dia yakin kalau dirinya yang akan menang. Hah...Meisya tidak tahu kalau "lakinya" gamer pro. Selalu menang melawan teman satu gengnya.


Dan benar saja, dua puluh menit kemudian. Meisya melempar stick game-nya. Dia protes dan tidak terima kalau dia dikalahkan di saat-saat terakhir. "Elu curang ya?" semprot Meisya tanpa ragu.


"Curang dari mananya?"


Sangkal Shan. Dan perdebatan suami istri itu tidak bisa terhindarkan lagi. Keduanya saling menyahut, saling menyangkal. Saling melempar alasan dan seterusnya. Hingga Shen yang berada di kamarnya langsung keluar. Wanita itu langsung melemparkan bantalnya ke TV besar yang masih menyala.


"Busyet Shen, TV aku rusak nanti!" pekik Shan.


"Bodo! Lagian kalian ini kalau bertengkar mbok ya jangan teriak-teriak. Kupingku BD tahu, dengar perdebatan unfaedah kalian. Daripada bertengkar sambil teriak-teriak...mending pertengkaran kalian dialihkan ke tempat lain. Biar gak ganggu!" Cerocos Shen.


"Dialihkan ke mana, Kak?" tanya Meisya polos. Gadis itu masih memanggil Shen dengan sebutan "Kak" padahal status Meisya kakak ipar.


"Ke kasur!"


Pria itu melirik Meisya yang terlihat tidak nyambung dengan omongan Shen. "Maksudnya gimana ya Om?"


"Ya jelas to. Kita bertengkarnya pindah ke kasur sambil indehoy." Kata Shan tanpa rasa bersalah. Ya benar, salahnya di mana, Meisya kan istrinya. Jadi gak salah dong kalau dia ngajak sang istri tidur bareng.


Gadis cantik nan polos itu menurut saja ketika Shan mengajaknya naik ke kasur besar milik pria itu. Meisya mengerutkan dahinya. "Om kalau ke kasur gak bisa bertengkar, bawaanya pengen molor mulu."


Shan seketika berdecak kesal. Sebulan menikah dan Meisya masih setia dengan panggilan Om-nya. Semakin ke sini malah semakin parah kelakuannya si Mei ini. Kalau dulu masih manggil Om suami. Tapi sekarang tanpa ada embel-embel sama sekali. Bahkan gadis itu masih suka menggunakan elu gue saat berbicara dengannya. Menurut Shan hal itu tidak sopan. Sesama teman, Shan tidak masalah.


"Bisa gak sih manggilnya yang mesra-an dikit. Om...Om...kamu pikir aku sugar daddy-mu."


"Daddy? Daddyku ada di bengkel Om."

__ADS_1


Shan langsung mengacak rambutnya kasar. Ni anak dulu waktu menyeret dirinya ke pelaminan kayaknya pro banget di ranjang. Ternyata setelah Shan jabanin, nyatanya nol gedhe.


"Bukan begitu maksudku Mei. Aku ini kan sudah jadi "lakimu"...Shan menirukan gaya bahasa si Mei....masak sama suami manggilnya Om. Gak mesra di kuping tahu."


Meisya seketika menatap wajah tampan Shan. "Laki" nya Mei memang tampan rupawan tiada bandingan. Model majalah sebelah aja kalah. Kekeh Mei dalam hati. Tapi detik berikutnya kening Meisya berkerut. Berpikir, berusaha mencerna perkataan sang suami.


"Jadi Meisya suruh manggil apa? Bapak? Oppa? Mas? Akang? Abang....."


"Allahuakbar.....ampun deh punya bini polos amat yah. Nanti giliran gue polosin dia kagak ngarti pula." Gerutu Shan seketika.


"Bukan yang seperti itu Meisya. Itu semua panggilan buat lelaki yang jualan di luar sana." Shan gemes sendiri dengan sang istri.


"Jualan? Kalau Oppa jualan apa Om?"


Bapak iya bisa jualan, mas, akang dan abang...iya memang biasa jualan. Lah kalau Oppa kan hidup di Korea. Di sana mereka jualan apa. Pikir Meisya.


"Jual tampang sama jual suara kaya idolamu itu! Dah ah serah! Aku ngantuk. Berdebat denganmu benar-benar tidak ada gunanya!"


Shan merebahkan tubuhnya, lantas memiringkannya. Membelakangi Meisya, yang langsung melongo melihat tingkah Shan. "Katanya ngajak bertengkar di kasur. Jadi sudah, begini saja? Nggak seru!"


Gerutuan Meisya masih didengar Shan, hingga pria itu kembali membuka matanya. "Mau bertengkar yang lebih seru?" kembali otak tengil bin sengklek Shan mulai beraksi.


"Caranya bagaimana?" kepo Meisya.


"Lebih seru kalau...."


Shan membisikkan sesuatu ke telinga Meisya. Detik berikutnya, mata gadis itu membulat, siap dengan mulut menganga lebar.


"Dasar laki gue Om- Om mesum!"


Teriak Meisya. Gadis itu kini yang gantian tidur membelakangi sang suami. Meninggalkan Shan yang tertawa cekakakan tidak karuan. Melihat raut wajah kesal sang istri.

__ADS_1


Dan hari itu cukup segitu, akhir dari perdebatan unfaedah pengantin baru yang belum ada tanda-tanda akan belah duren.


*****


__ADS_2