Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Misi Tidak Terencana


__ADS_3

Pada awalnya, Arash yang menarik tangan Helena. Tapi ketika keduanya sudah masuk ke area pasar malam. Keadaan jadi terbalik. Helena yang justru menarik tangan Arash. Sebab pria itu mulai memundurkan langkahnya. Seolah ingin kabur dari sana.


"Selamat bersenang-senang," ucap Helena dengan senyum mengembang di bibirnya. Sedang Arash langsung menampilkan wajah horornya. "Ayolah, ini tidak seburuk yang kau pikirkan. Ini sangat menyenangkan," bisik Shan di telinga Arash. Pria itu langsung berjengit, merasakan nafas Shan di kupingnya. "Iiihhh apa-apaan sih?" gerutu Arash. Kesal dengan ulah Shan.


Sementara di depan sana, Helena dan Shan mulai mengantri untuk naik kora-kora. "Buruan! Sudah mau mulai!" teriak Shen sumringah. Di sampingnya, Helena melihat dengan mata berbinar ke arah kora-kora yang mulai dibuka pintunya. Shan setengah menyeret Arash. Melihat Helena yang terlihat senang. Akhirnya pria itu pasrah. Masuk lalu duduk di samping sang istri. "Nggak ada seatbelt-nya?" tanya Arash polos.


Ketiganya langsung meledakkan tawa, mendengar pertanyaan Arash. Ketiganya maklum kalau Arash bertanya. Pria itu sama sekali belum pernah naik wahana permainan seperti ini.


******


"Masih mual?" Helena bertanya sambil memijat tengkuk Arash. Pria itu langsung muntah begitu turun dari perahu kora-kora yang mereka naiki. Arash menggeleng mendengar pertanyaan Helena. "Minum ini dulu," Shen menyerahkan satu cup teh hangat pada Arash. Suami Helena itu menyipitkan matanya.


"Oh come on, Arash. Ini bukan waktunya kau memikirkan higienis atau tidak minuman ini. Bersih, aku jamin. Tapi sesuai standarmu, tentu saja tidak," Shen berusaha membuat pria itu meminum tehnya.


"Minumlah dulu," suara lembut Helena membuat Arash menoleh ke arah wanita itu. Seperti kena hipnotis, pria itu manut saja ketika Helena meminumkan teh itu ke mulut Arash.


"Beuuuhhhh, yang ketemu pawangnya," ledek Shan. Arash langsung mendelik ke arah sang asisten. "Biasa aja kali," tambah Shan enteng.


"Lalu ini bagaimana? Mau pulang atau lanjut?" tanya Helena sedikit kecewa. Jelas terlihat kalau wanita itu masih ingin berada di sana. Melihat wajah Helena, Arash seketika menarik nafasnya. "Tungģu sebentar lagi, pusing dan mualku akan segera hilang," jawab Arash pada akhirnya.


"Beneran kamu tidak apa-apa?" tanya Helena untuk pertama kalinya mencemaskan Arash. "Ada apa denganku? Kenapa aku jadi memperhatikan Arash?" batin Helena. Bingung. Arash mengulas senyum samar di bibirnya. Bisa merasakan kecemasan Helena padanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Hanya belum terbiasa," jawab Arash. Keduanya duduk di sebuah bangku di sudut pasar malam itu. Menunggu Shen dan Shan yang pamit ingin mencari jajan. Arash melihat ke arah Helena. Wanita itu tetap cantik meski hanya memakai kaos dengan jeans dan flat shoes jadi alas kakinya. Sebuah jaket denim menjadi pelengkap kecantikan Helena malam itu. Senyum Helena tidak lekang dari tadi. Melihat keramaian yang ada di depan matanya. Senyum Helena seolah bisa menutupi mata sembab wanita itu, menangis seharian karena ulah gila Evan dan Brigitta. Pasar malam ini seakan-akan bisa membuat Helena sejenak melupakan kejadian kelam tadi siang.


Arash sendiri sudah melepas jaketnya, gegara acara muntah tadi. Pria itu tinggal memakai kaos polos berwarna hitam yang membalut tubuh sempurnanya. "Sorry lama. Adik gue mau borong jajan satu pasar malam ini," ucap Shan yang datang membawa beberapa kresek di tangannya.


"Taaaaraaaaa," Shen menunjukkan kresek yang berada di tangan kiri dan kanannya. "Sotongku ada gak?" tanya Helena antusias. Bukannya menjawab, Shen malah menggoyang-goyangkan sebuah kresek di hadapan Helena. Wanita itu menerima uluran kresek dari Shen dengan wajah berbinar. Dua beradik itu duduk di hadapan Arash dan Helena.


"Masih mual?" tanya Shan melihat wajah pucat Arash. "Nggak, cuma heran saja. Itu semua bisa di makan?" pria itu sedikit takut melihat banyaknya makanan di depan mereka. "Enak tahu, mau coba?" Helena menyodorkan sotong yang tengah dia pegang ke depan mulut Arash. Sang suami jelas terkejut dengan sikap Helena, yang tiba-tiba manis padanya.


"Kau tidak akan mati hanya karena makan itu," seloroh Shan tanpa dosa. Shan sendiri sedang asyik mengunyah sosis bakar ukuran jumbo.


"Sialan kau!" maki Arash seketika. "Mau tidak? Kalau tidak mau aku makan sendiri," Helena langsung memakan sotong itu sendiri. "Yah...kok dimakan sendiri sih. Aku mau," Arash berkata pelan sambil menahan tangan Helena yang ingin memakan sotong itu lagi.


Suasana canggung langsung terasa antara Arash dan Helena. Sentuhan itu menimbulkan debar di dada keduanya. Terlebih Helena, wanita itu seolah merasakan hal lain kala menatap wajah tampan Arash. Ya, wajah Arash memang tampan sepintas seperti Luhan, exs boygroup EXO.


Hati Helena semakin bergetar tidak karuan saat mata Arash terus menatap intens padanya. Tatapan lembut, lain dari biasanya. "Tidak mungkinkan aku mulai tertarik dengan Arash. Ini pasti efek kejadian sialan tadi siang," batin Helena.


"Ehemmmmm," deheman Shan membuat Arash langsung melotot benci pada kakak Shen itu. "Ganggu aja lo!" maki Arash. Helena seketika tersipu malu. "Naik itu yuuukkkk," ajak Shen antusias. Senyum Helena kembali terbit, kala melihat ke arah mana Shen menunjuk. "Ayuuuukkkkk," jawab Helen seolah menerima tantangan si asisten. Melihat benda yang ditunjuk Shen, Arash langsung menepuk jidatnya pelan. "Mati aku!"


"Ini cuma pelan jalannya. Kau tidak akan muntah karenanya," hibur Shan. "Bukan disitu masalahnya bambang! Kau tidak lihat tempatnya sekecil itu. Itu kalau aku sama Helena masuk....yang ada kaki kami akan gelut di dalam sana. Sempit...Bro," protes.


"Ehhh, bukannya yang sempit-sempit itu enak?" goda Shan. "Etdah, kenapa otak lu jadi ketularan si Evan sih. Mesum!" maki Arash.

__ADS_1


"Alah sudah protesnya. Sana masuk, nikmati aja suasananya. Gelut, gelut dah tu kaki...siapa suruh punya kaki kayak galah buat nyogok mangga aja. Panjang," oceh Shan.


"Kayak situ kagak panjang kaki aja," balas Arash telak. Shan langsung nyengir mendengar balasan Arash. Sadar kalau dia dan Arash hanya beda lima senti soal tinggi.


*******


"Kalian tidur saja di kamar tamu. Sudah malam kalau mau balik rumah,"


"Idiiihhh ogah. Bukan muhrim!" protes Shen dan Shan kompak.


"Kalian kan kembar. Satu produksi. Satu tempat tinggal,"


"Itu cuma sembilan doang kita barengan tinggal dalam satu kasur istilahnya. Setelah lahir kita adalah dua individu yang berbeda," jelas Shen. "Sok pinter lu ngomongnya," balas Shan pada sang kakak.


Keempatnya sudah masuk ke lift, menuju apartemen Arash. Tampaknya saudara kembar tidak identik itu setuju untuk menginap di unit Arash. Pria itu menoleh ke arah Helena yang tidur pulas dalam gendongannya. Seulas senyum terukir di bibir Arash. "Aku tidur di sofa deh kalau gitu," si abang mengalah pada si adik.


"Awas ya. Jangan naked kalau tidur. Besok Helena bisa jejeritan kalau lihat kamu tidur telanjang di sofanya." Shen memperingatkan kakaknya. Shan hanya bisa menggaruk kepalanya. Mendengar intimidasi sang adik dan tatapan horor tidak percaya dari Arash.


"Misi tidak terencana kita sukses hari ini," batin Shan dan Shen kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2