
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
...………………………………………………………………………...
Alea di sambut dengan sambutan sederhana yang sudah di persiapkan oleh Mertua nya. Beberapa pelayan dan Para pekerja lain nya ikut serta menyambut kedatangan menantu baru keluarga Kenanzo. dengan senang hati mereka ikut serta akan kebahagiaan itu.
"Yah tuhan…cantik sekali gadis yang di nikahi Tuan" bisik salah satu pelayan disana kepada teman nya.
"Benar, kelihatan nya dia Sangat baik. tidak seperti gadis sebelumnya" jawab pelayan yang lain dengan suara kecil.
"Alea di mana gio?" tanya Mama Vio yang tak mendapati batang hidung Gio.
"Emm…,i-itu tante Gio tadi ka-katanya mau ke perusahaan" Jawab Alea dengan gelagapan yang Masih Canggung.
"Aku kan ibu mertuamu, jadi panggil aku Mama sama seperti Gio memanggil ku" kata mama vio membelai lembut rambut Panjang Alea.
Perlakuan itu membuat Alea merasakan kehangatan sesosok ibu. Tak disengaja Alea menitihkan air mata yang membasahi pipi Chubby nya.
"Ada apa Alea? apa ada yang salah dengan ucapan mama barusan?" tanya mama vio yang mendapati menantu barunya menangis dalam diam.
"Ti-tidak papa ma, Alea hanya terharu saja. setelah sekian lama Alea bisa merasakan sentuhan seorang ibu" kata Alea sembari menyekal air matanya.
Mama Vio merasa aneh. tentang apa yang barusan di ucapkan Alea. "Sekian lama? Alea bukan kah kau putri Nyonya Tara? kau adalah adik perempuan Gabriel kan?" ribuan pertanyaan keluar dari mulut mama Vio yang selama ini dia pendam.
Alea terdiam mematung. Dia lupa kalau ia harus menyembunyikan identitas nya sebagai putri kedua dari istri kedua Sang papa. Alea tak mampu menjawab sepata-kata pun.
__ADS_1
"Katakan sejujur nya Lea, jangan takut. kau sekarang adalah menantu rumah ini. kau tidak boleh menyembunyikan apapun" kata Papa Erland yang tiba-tiba saja datang menuruni Setiap inci tangga.
Papa Erland menghampiri Alea dengan raut wajah datar. Alea lagi-lagi dilanda rasa takut dan cemas. akan tetapi ketakutan itu seketika hilang setelah Papa Erland membelai rambut Alea secara lembut. lalu papa Erland berkata "Katakan Alea yang sejujurnya" kata Papa Erland.
Alea mulai menangis terisak. Mama Vio menarik Alea untuk duduk di sofa dan memberikannya segelas air putih untuk menenangkan nya.
Setelah beberapa saat lamanya Alea pun menceritakan setiap inci kehidupannya dan masa-masa sulit nya yang dihadapi bersama sang Bunda.
Papa Erland, Mama Vio dan para pelayan mendengar Kisah pilu Alea sontak ikut sedih. selama ini Alea harus mengasingkan diri sendiri. dan bukan itu saja Alea sendiri tidak di anggap putri olah Sang Papa.
"Mama, dan Papa ikut sedih Lea. Maafkan kami. karena kami impian mu harus hancur setelah menikah dengan putra kami" kata mama Vio yang merasa bersalah karena.
"Kenapa minta maaf ma, seharusnya aku berterima kasih pada kalian. kalian telah mengembalikan keadaan perusahaan milik bunda seperti sebelumnya itu sudah sangat cukup. aku janji, aku akan selalu bersama Gio untuk membalas kebaikan kalian" kata Alea sembari memberikan senyum hangat.
"Kau pasti lelah, Bik maryam akan mengantarmu ke kamar pengantin kalian" kata Mama tara. sontak Alea terbelalak mendengar kata 'kamar pengantin'.
"Bik maryam, antar menantuku ini kekamar Gio" ujar Mama Vio kepada seorang wanita paruh baya yang berdiri sedari tadi.
"Baik nyonya besar, mari non. bik maryam antar ke kamar den Gio" kata wanita paru baya itu yang bernama Bik maryam. dia adalah Pelayan pribadi rumah itu yang sudah lama bekerja sejak Gio kecil.
"Iya" ucap singkat Alea lalu mengikuti Langkah bik maryam dari belakang.
Alea tersenyum sambil mengikuti bik maryam yang berjalan duluan. mereka menaiki anak Tangga untuk menuju lantai dua.
"Nah, ini kamarnya Tuan Gio" kata bik maryam saat mereka sampai di depan kamar letaknya paling pojok.
__ADS_1
saat pintu kamar dibuka oleh bik maryam. Alea terkesima melihat betapa mewah nya kamar Gio. kamar itu bernuansa Coklat, putih dan cream. setiap barang barang berwarna hitam, dan coklat.
Gambar Ilustrasi kamar nya gio 'ya guys.
'Selera kamarnya lumayan,'Gumam Alea secara lisan yang masih bisa di dengar oleh bik maryam. bik maryam hanya bisa menahan tawa.
"Iya nona, Tuan gio memang sangat suka dengan warna gelap. dan kamar ini sangat istimewa bagi Tuan Gio. karena Kamar ini sebelumnya adalah kamar Sang kakek yang paling dia sayangi" kata bik maryam panjang lebar.
"Oh, apakah Gio tidak keberatan jika aku tinggal di kamar ini?" tanya Alea kepada bik maryam.
"Keberatan?" tanya bik maryam kembali.
"Oh, maksudku. tidakkah Gio merasa terganggu? karena kamar ini sangat istimewa buat Gio. aku takut jika Gio merasa tidak nyaman nantinya jika aku tinggal di kamar ini" kata Alea terus terang.
"Bibi juga ngak tau nona. Tapi sebaiknya, nona di sini saja dulu. kalo Tuan Gio tidak suka, nanti tinggal pindah aja" kata bik maryam dengan ramah. dan di jawab oleh anggukan kecil oleh Alea.
"Ya udah ya nona, bibi tinggal dulu nona silahkan istirahat. kalo ada perlu apa-apa, nona tinggal panggil Bibi di bawah" pamit Bik maryam dengan nada sopan lalu beranjak pergi.
Alea menatap punggung bik maryam yang mulai menghilang dari pandangan. lalu ia bergumam. "Tuhan terima kasih, ternyata aku tidak sendirian di rumah ini" gumam Alea lalu memasuki kamar Gio.
*Bersambung…………
btw, maaf lambat guys up nya soalnya ada Classmeet tadi guys. oke thanks for reading*.
__ADS_1