Terpaksa Menikahi Sang Ceo Lumpuh

Terpaksa Menikahi Sang Ceo Lumpuh
Eps 19


__ADS_3

...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...


...………………………………………………………………………...


Selama Gio mengalami kecelakaan Perusahaan Blouszegroup menjadi kalang kabut. maka dari itu Gio memaksa untuk kembali ke dalam dunia perusahaan yang di wariskan pada nya.


"Tuan…ada masalah besar" kata Will sembari fokus menyetir mobil.


"Masalah apa?" Tanya Gio dengan raut wajah dingin sambil menatap laptop di pangkuan nya.


"Tuan. Perusahaan kita kehilangan banyak Clien Tuan" Jawab Will pada To the point ( pada intinya )


"Baiklah akan aku urus itu semua!" kata Gio dengan nada serius.


"Will. aku punya Tugas khusus untuk mu!" ujar Gio fokus menatap wajah Will dari cermin mobil.


"Cari tau tentang semua tentang Kehidupan Alea dan keluarga mazundar" perinta Gio kepada Will.


"Entah kenapa aku merasa ada hal yang disembunyikan oleh Alea dan keluarga mazundar" Kata Gio yang memang merasakan ada kejangalan tentang keluarga mazundar dan Alea sendiri.


"Baik Tuan…saya akan melaksanakan nya dengan sangat baik tanpa ada yang terlewatkan" jawab Will yang masih Fokus mengendarai mobil sport milik Gio.


Tak berselang waktu mereka pun sampai di perusahaan Blouszegroup. perusahaan pencakar langit, mewah, sekaligus elit. banyak para staf pekerja dari jabatan kecil hingga besar tengah berdiri untuk menyambut kedatangan Ceo mereka.



ilustrasi Foto penampakan Perusahaan Blouszegroup.


"Selamat datang Tuan" Ucap Serentak para staf dengan memberi hormat dan menundukkan kepala.


Gio menjalankan Kursi roda nya dengan diiringi oleh bodyguard dan will tentunya. para staf ataupun organisasi lainnya semuanya takut pada Gio, karena Gio dikenal sebagai Ceo yang tegas, dingin, dan arrogant ia juga sangat dikenal kejam pada seorang yang berani mengusik kehidupan nya.


walaupun sekarang Gio duduk di kursi roda semua orang masih sangat menghormati nya karena ia juga sangat berpengaruh dalam negara. Gio juga dikenal pendiam akan tetapi jika ada seorang yang berani mengusik nya dia akan tidak segan-segan melakukan hal yang keji.


Gio telah sampai di ruang kerja nya bersama Will. ruang kerja yang luas mewah dan tertata rapi sekaligus bersih. Banyaknya barang-barang mewah di dalam ruang kerja khusus Gio.


Gio tengah melihat Padat nya kota dari balik kaca yang luas di ruang kerja nya. ia paling suka dengan dunia perusahaan atau Dunia IT, karena memang sejak kecil dia telah dilatih oleh sang kakek untuk menjadi pewaris tunggal keluarga Kenanzo.


"Tuan…meeting akan segera dimulai. mari kita pergi ke ruang meeting" ujar Will membuka Suara.


"Heemm…" jawaban Gio dengan deheman.


Gio pun menjalankan kursi roda nya menuju ruang meeting dengan diikuti will dari belakang bersama bodyguard.


__ADS_1


ilustrasi foto ruang meeting.


Ruang meeting yang mewah, rapi dan yang pasti nya nyaman untuk digunakan ketika melaksanakan meeting bersama Clien penting.


Banyak Clien yang duduk rapi di setiap kursi dan banyak nya anggota-anggota Gio.


"Selamat datang Ceo Gionandra" ucap Clien VVIP dengan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Meeting di mulai" kata Will membuka suara untuk Gio. karena will tau Gio tidak ingin berlama-lama melakukan meeting.


"Dalam analisis perusahaan Blouszegroup dengan kerja sama dengan perusahaan Emerald tentang dunia IT sangat lumayan bagus. aku hanya ingin kerja sama kita dalam dunia IT membawa keberhasilan" kata Gio memulai Meeting.


Awalnya meeting lancar-lancar saja. tapi tiba-tiba kaki dan perut Gio terasa sangat sakit. Area kaki Gio mengalami kambuh sekali lagi dan entah kenapa Perut nya terasa seperti ditusuk. Gio harus menahan rasa sakit selama meeting.


keringan dingin bercucuran ke wajah nya. Gio menahan sakit yang mendalam ke Area kaki dan perut nya. Wajah Gio memerah dan dingin.


will melihat perubahan Gio. ia merasa khawatir dia tau Tuan nya tengah menahan rasa sakit, ia cepat-cepat menutup Meeting.


"Meeting di tutup, meeting akan dilanjutkan setelah saya menginformasikan" kata Will menutup meeting cepat-cepat.


setelah Clien dan yang lainnya pergi dari ruang meeting, Will dengan cekatan nya langsung menghampiri Tuan nya yang sedang menahan rasa sakit yang mendalam.


"Tuan…anda baik-baik saja?" tanya Will yang dipenuhi rasa khawatir.


"Will cepat telfon Alea!" perinta Gio yang tengah meringis kesakitan.


"Hallo bik…apakah nona Alea ada disana?" tanya Will ketika menelfon Bik maryam.


"Iya den will…nona ada dikamar. memang nya ada apa den will?" jawab Bik maryam dari dalam telfon.


"Bik tolong jangan banyak tanya! ini darurat tolong cepat berikan telfon nya kepada nona Alea" Kata Will dengan Kesal.


"Baik den will" jawab bik maryam sambil berlari kecil menghampiri Alea di kamar pribadi Gio.


Sesampai nya bik maryam di dalam kamar Gio, bik maryam langsung menghampiri Alea yang tengah membersihkan kamar Gio.


"Nona…den will mau bicara penting sama nona katanya darurat" kata bik maryam.


"Will itu tangan kanan Gio 'ya bik? mau bicara apa bik dia? dan hal darurat apa?" Tanya Alea kepada bik maryam.


"Iya non Den will itu tangan kanan Tuan Gio. lebih baik nona bicara saja" Jawab bik maryam sembari memberikan Hp nya kepada Alea.


"Hallo…" sapa Alea.


"Hallo nona lea…Tuan Gio mengalami Nyeri di area kaki dan perut nona. Tuan Gio kini menahan rasa sakit yang mendalam. apa yang harus saya lakukan nona?" Tanya Will yang memang tidak tau apa-apa tentang penyakit.

__ADS_1


mata Alea terbelalak ketika mendengar Gio kambuh. Alea dengan cekatan langsung menggambil tas selempang nya.


"Tuan will aku akan segera datang" kata Alea lalu mematikan Telfon secara sepihak.


"bik saya mau pamit pergi dulu ya bik" Pamit Alea lalu berlari pergi.


Alea diantar sopir pribadi Mension ke perusahaan Gio. di setiap perjalanan Alea merasa khawatir dengan wajah yang seduh dan gelisah.


tak berselang waktu Alea telah sampai di perusahaan Gio. Alea tak menghiraukan betapa Mewah nya Perusahaan itu, ia lebih memprioritaskan kesehatan Gio karena sudah tugasnya sebagai istri.


"Nona anda mau kemana? anda tidak bisa masuk begitu saja!" langka Alea dicegah oleh satpam Perusahaan Gio.


"Sa-saya…" kata Alea yang tak tau bicara apa. walaupun dia mengatakan ke semua orang bahwa ia adalah istri Gio semua tidak akan percaya karena pernikahan mereka disembunyikan.


"Biarkan dia masuk!" kata Will yang tiba pada waktu yang tepat.


"Ayo nona…" ajak will kepada Alea.


Alea dan will berlari menaiki anak tangga menuju ruang kerja pribadi Gio dengan rasa khawatir dan gelisah.


"Gio! apa kamu baik-baik saja? apanya yang sakit?" tanya Alea ketika mendapati Gio berbaring tak berdaya di sofa ruang kerja Gio.


Gio tak menjawab ia sudah tak berdaya menahan sakit. Alea perlahan-lahan melepas kemeja dan jas yang dikenakan Gio, mata Alea membulat ketika mendapati Perut Gio membengkak akibat tadi pagi ia makan makanan yang keras. dan Alea juga perlahan-lahan melepas Sepatu yang di pakai oleh Gio menampakkan kaki Gio mengalami Infeksi.


"Sudah aku bilangkan Makan-makanan yang bertekstur lembut, tapi kau keras kepala dan kaki mu ini juga kau pasti tidak meminum obat yang aku berikan pada kamu kan? makanya kaki mu mengalami infeksi lagi. jadi orang itu jangan keras kepala" omel Alea menatap wajah Gio yang sudah berkeringat.


"Tuan Will tolong bawakan es batu dan segelas minuman jahe. tolong cepat aku sangat membutuhkan nya" Ujar Alea kepada Will.


"Baik nona…" jawab will langsung menyiapkan apa yang diperintahkan Alea.


Alea mengusap keringat dingin yang membasahi wajah Gio dengan lembut. Tangan nya di ngenggam erat oleh Gio.


"Tenanglah…ada aku disini, sebentar lagi rasa sakit nya akan menghilang." kata Alea mencoba menenangkan Gio.


mendengar perkataan Alea barusan membuat Gio merasa sedikit tenang karena ia tau Alea adalah perawat yang handal.


will telah datang membawa apa yang disuruh Alea tadi.


"Nona ini yang anda minta" kata Will sembari memberikan nampan berisi mangkuk Es batu dan Secangkir Jahe hangat.


Alea mengompres kaki Gio dengan Es batu itu dengan lembut hingga Rasa nyeri perlahan-lahan hilang. lalu ia mengambil secangkir jahe hangat itu lalu membantu Gio meminumnya.


"Minumlah agar perut kamu tidak sakit lagi" ujar Alea sembari membantu Gio meminum Jahe itu.


Gio merasa nyaman ketika tidur dipangkuan Alea apalagi ketika Alea membelai rambut Gio dengan lembut. Perlahan-lahan Gio mengejamkan mata dengan tangan yang mengenggam erat tangan Alea

__ADS_1


Bersambung…………


__ADS_2