
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
masih di tempat yang sama, Alea tetap diam tanpa berucap satu kata pun. Ia mengedarkan pandangan nya menyusuri setiap inci appertement itu. Dia bisa melihat dengan jelas cara kerabat dan saudara Gio memandang nya sebelah mata.
Gio menghampiri Alea yang tengah duduk sendiri, Sebenarnya Gio tau Alea tidak nyaman berada disana. mau bagaimana lagi Alea sudah berjanji kepada Oma Diana akan datang dalam pertemuan keluarga.
"Jangan kau masukan Hati ucapan mereka" Ucap Gio tiba-tiba.
Alea mengangkat kepala nya yang sedari tadi menundduk. Ia menatap kehadiran Gio di depan nya, lalu ia menyunggihkan sebuah ukir senyum dari bibir nya.
"Untuk apa aku masukan hati" Alea tersenyum Hangat.
Sebenarnya sedari tadi Alea menahan rasa tanya nya kepada Gio, tetapi Alea tidak bisa menahan lagi untuk bertanya kepada Gio.
"Boleh kah aku bertanya Gio? " Tanya Alea sembari menatap Gio dengan lekat.
"Tentu" Jawab singkat Gio.
"Sebenarnya aku tidak ingin seudhzon, tetapi hati ku mengatakan salah satu orang disini tidak menyukai mu" Ucap Alea dengan ragu.
"Kau benar. Di sini ada seseorang yang tidak menyukai ku" Ucap Gio dengan senyum devil sembari menatap seorang pria paruh baya dan Wanita paruh baya yang sedang berkumpul bersama Papa, mama Gio.
"Maksudmu...?" Entah kenapa Alea semakin penasaran.
Alea merasa ada hal yang disembunyikan oleh Gio. dan entah kenapa ia merasa salah satu anggota Keluarga Gio ada seorang penghianat.
"Kau benar-benar ingin tau? " Gio terkekeh melihat tingkah laku Alea yang merasa antusias.
"Tidak!" Serga Alea dengan cepat.
Seorangpria paruh baya menghampiri Alea dan Gio berada. pria itu adalah paman Gio. "Keponakan Ku gio apa kabar?" Ucap dingin Paman Gio yang bernama Erlex Abraxas kenanzo.
Gio tersenyum devil, kepada paman nya itu. Ia menatap Paman Gio dengan tatapan tajam. sedangkan paman Gio menatap Gio dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Kabar ku sangat baik" Ucap Singkat Gio dengan raut wajah dingin.
"Ya aku tau itu, kabar mu sangat baik kerena memiliki istri secantik istri mu" Pama Erlex mengedipkan salah satu mata nya kepada Alea.
Tanpa disengaja Alea mengenggam tangan Gio, ia merasa takut dengan Paman Gio yang sedari tadi menatap nya dengan tatapan aneh.
Will, dan Levi mengidik ngeri, mereka berfikir bagaimana bisa Paman Gio membangkitkan iblis di dalam diri Gio karena berani menatap Alea.
'Will, Tuan Besar Erlex Membangkitkan iblis dari dalam diri Ketua' Bisik Levi tepat di telinga Will.
'Ho'o... aku berfikir jika nyawa Tuan Erlex akan melayang jika dia terus menatap nona Alea seperti itu' Bisik Will sembari memakan popcorn di tangan nya.
Wajah Gio memerah menahan Amarah di dalam dirinya. mata elang nya menatap tajam Paman Erlex, tangan nya mengepal erat sehingga memperlihatkan urat nadi nya.
"Tuan Erlex, mari kita minum" Will menarik tangan Paman Erlex agar menjauhi Gio yang sedang menahan amarah yang sangat memuncak.
pertemuan keluarga itu diadakan hingga larut malam, sehingga semua orang menginap di appertement itu. termasuk Gio dan Alea dan sekeluarga.
......................
Sekarang Gio dan Alea tengah berada di dalam kamar appertement. Gio tau Alea pasti lelah mendengar ucapan-ucapan busuk yang dilontarkan kepada nya, maka dari itu Gio membawa Alea ke kamar appertement, Setidaknya untuk menenangkan hati Alea.
Gio menatap Alea yang sedang melamun di sofa. Ia mendorong kursi roda nya menghampiri Alea. "Kau kenapa melamun? " Tanya Gio.
"Tidak apa-apa" Serga Alea.
Alea kembali melamun, di dalam pikiran nya sekarang adalah prilaku aneh paman Gio tadi. Entah kenapa firasat nya buruk.
__ADS_1
'Kenapa firasat ku buruk, dan kenapa hati ku merasa gelisah' Gumam Alea.
Lamunan Alea mehilang ketika Gio mengatakan akan pergi keluar bersama Will. "Aku dan Will akan menemui papa" Ucap Gio.
"Kau ikut? " Tanya Gio.
"Emmmmm... tidak, aku merasa sedikit tidak enak badan bisa kah aku tidak ikut?" Jawab Alea, dan dijawab anggukan oleh Gio.
"Apa kamu akan pergi lama?" Tanya Alea dengan perasaan yang gundah.
"Tidak! hanya sekisar 30 menit, dan aku akan kembali. lagian aku dan will hanya membicarakan urusan perusahaan" Jawab Gio.
"Apa kau takut? kalau kau memang takut aku bisa memanggil beberapa anggota ku untuk berjaga di depan pintu" Ucap Gio.
"Tidak-tidak, aku tidak takut. dan tidak perlu memanggil seseorang untuk menjaga ku." Serga Alea dengan cepat.
"Baiklah aku pergi dulu..." Gio mendorong kursi roda nya keluar dari kamar.
Alea menatap punggung Gio yang mulai menghilang dari pandangan nya, Gio pergi dan firasat Alea semakin buruk.
"Tuhan ada apa dengan ku? kenapa firasat ku semakin buruk" Gumam Alea secara lisan.
Alea mencoba menghilangkan Firasat buruk nya, dengan cara menyegarkan dirinya di kamar mandi. Air shower menenangkan hati Alea sejenak.
Alea keluar dari kamar dengan handuk yang melilit di tubuh ramping Alea. tubuh berkulit putih, mulus itu terlihat sangat sempurna. Ia mengambil piyama yang sudah disediakan oleh pihak appertement.
Tak butuh waktu lama untuk Alea selesai berganti pakaian, sekarang ia membaringkan tubuh nya di atas kasur dengan Buku Novel di tangan nya.
Saat Alea sedang asyik membaca buku novel di tangan nya, tiba-tiba lampu appertement mati sehingga seluruh ruangan itu menjadi gelap gulita.
Alea yang memang takut dengan kegelapan pun dengan cekatan langsung menyalahkan flash lamp di ponsel nya. perlahan-lahan ia menuruni kasur. dan tiba-tiba telinga nya mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar nya.
Alea mematikan Flash lamp, ia bersembunyi di balik kasur. Mata nya menangkap sesosok pria misterius mengenakan pakaian serba hitam dengan pisau di tangan dan bertopeng hitam
Alea menutup mulut nya dengan telapak tangan nya, keringat dingin bercucuran di kening nya. Ia semakin takut saat mendengar suara langkah kaki pria itu mendekati tempat persembunyian nya.
tangan nya kembali mencari nomor telepon Gio di ponsel nya. ia mencoba menelfon Gio, dan syukur nya telfon itu langsung diterima oleh Gio.
"Gio tolong aku... " Lirih Alea.
Pria misterius itu tau Alea bersembunyi di balik kasur. pria itu menarik tangan Alea secara paksa, sehingga ponsel yang ia pengang terpental jauh.
"LEPASKAN AKU.... " teriak Alea.
disisi Lain Gio mendengar teriakan Alea dari dalam ponselnya. ia tak tau harus melakukan apa dalam kondisi nya yang lumpuh. hati nya merasa khawatir tentang Alea.
Rahang Gio mengeras, kedua telapak tangannya Mengempal keras. mata nya memerah seakan sebuah iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya keluar.
Gio memaksa kaki nya untuk bergerak. sekarang di otak nya hanyalah menyelamatkan Alea. Dan mungkin hari ini, hari keajaiban bagi Gio. karena Kaki nya dapat digerakan.
Ia mencoba berdiri, dan akhirnya usaha nya tidak sia-sia. Gio bisa berdiri dan berlari menuju Kamar Alea, di dalam kegelapan. Gio berlari sekencang mungkin tanpa menghiraukan rasa sakit di area kaki nya. bagi Gio yang terpenting sekarang hanyalah keselamatan Alea.
"Brakkkkkkkk!!!!..... "
Gio mendobrak pintu kamar, mata nya terbelalak ketika mendapati Alea yang tertusuk pisau di bagian perut nya. darah segar mengalir deras di tubuh Alea.
"Buggggghhhhh.... "
Sebuah pukulan keras mengenai punggung Gio yang dilempar oleh pria misterius yang berdiri di belakang Gio. gio menatap tajam Pria misterius itu dengan mata yang memerah.
"BRENS*K!!" Teriak Gio sembari beranjak berdiri.
__ADS_1
"BUGGHHHHH....!!"
Gio memukul pria misterius itu secara membabi buta, Kali ini pria misterius itu membangkitkan sesosok iblis yang bersemayam di dalam tubuh Gio.
"BERANI SEKALI KAU MENCELAKAI ALEA!! " Teriak Gio sembari memukul pria misterius itu dengan cara bruntal.
Gio mengambil alih pisau yang berada di tangan pria misterius itu, lalu Gio menusuk perut pria misterius itu sehingga pria itu merintis kesakitan.
"Arrrrrgghhhhh...." Teriak pria misterius itu.
"Bughhhh...."
Pria misterius itu menendang kaki Gio sehingga Gio terjatuh tersungkur ke lantai. Lalu Pria misterius itu melarikan diri dengan cara melompat dari balkon.
Darah Gio mendidih menatap Pria misterius itu yang sudah melarikan diri, lalu Gio berlari menghampiri Alea yang tengah tak sadarkan diri dengan tubuh yang berlumuran darah segar.
"Alea... alea... jangan tutup mata mu, bertahanlah... " Ucap lirih Gio sembari menepuk-nepuk pipi Alea.
Gio mengendong tubuh Alea seperti bridal style, ia tak memperdulikan rasa sakit di kaki nya. sekarang ia harus membawa Alea kerumah sakit.
'Alea bertahanlah... aku tidak akan membiarkan mu kenapa-napa' Gumam Gio.
Gio menidurkan Alea di bangku mobil yang berada di belakang, lalu ia duduk di bangku pengemudi. ia mengemudi dengan cepat tanpa rasa takut.
keringat dingin bercucuran di kening Gio, ia merasa khawatir dengan kondisi Alea. ia takut kehilangan orang yang paling ia sayangi untuk kedua kalinya.
"Alea kau akan baik-baik saja" Ucap Gio.
Tak butuh waktu lama bagi seorang Gio untuk sampai di rumah sakit. ia kembali menggendong tubuh Alea yang berlumuran darah segar kedalam Rumah sakit.
beberapa suster dan perawat membawa Alea masuk keruang Operasi, karena luka tusukan di perut Alea sangat dalam. Sedang kan Gio menunggu di depan ruang operasi.
Rahang Gio kembali mengeras, mata nya juga kembali memerah dan tangan nya mengepal erat sehingga memperlihatkan urat nadi nya.
"JIKA SESUATU TERJADI KEPADA ALEA AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI PRIA ITU, AKU GIONANDRA ABRAXAS KENANZO AKAN MEMBUNUH PRIA ITU JIKA HAL BURUK TERJADI KEPADA ALEA" Umpat Gio dengan amarah yang mengebuh-gebuh.
Sebenarnya Gio terauma dengan yang namanya operasi, karena Kematian Sang kakek dahulu. itu karena operasi gagal. maka dari itu ia takut Alea akan mengalami hal sama seperti sang kakek dahulu kala.
tetapi ia tau Alea pasti akan baik-baik saja dengan adanya teknologi yang sangat canggih di zaman sekarang. hati nya terus mengatakan jika Alea akan baik-baik saja.
Mata Gio menatap pintu operasi itu yang tertutup rapat. Ia mendudukan tubuh nya di atas bangku tunggu. Tiba-tiba ia teringat dengan Keluarga dan kerabat nya yang berada di appertement.
Gio mengambil ponsel nya yang berada di saku celana nya. ia mencoba menelfon anggota klan nya. "KALIAN CEPAT!! DATANG KE APPERTEMENT. DAN PERKETAT PENJAGAAN!!! " teriak Gio dalam telfon.
"BAIK TUAN!!" jawab tegas dari dalam telfon.
gio tau jika seluruh anggota keluarga nya sekarang dalam bahaya, maka dari itu ia menyuruh anggota inti permafiaan nya untuk membantu Sang papa yang melawan beberapa musuh di appertement.
sebelum kejadian itu, ia dan sang papa membicarakan mengenai strategi untuk menyerang musuh, karena Gio tau salah satu musuh nya sedang mengintai nya di appertement itu. dan musuh itu adalah salah satu kerabat Gio, musuh itu juga penyebab kecelakaan yang pernah Gio alami.
Gio kembali menatap ruang operasi itu, dengan wajah datar. ia sangat mengkhawatirkan kondisi Alea. dan tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi itu.
"DOKTER BAGAIMANA DENGAN KONDISI ISTRI SAYA?" baru kali ini Gio memanggil Alea dengan sebutan seorang istri.
"Istri anda baik-baik saja, beliau juga sudah melewati masa kritis" Jawab Dokter itu.
Gio menghela nafas lega. sekarang hati nya kembali tenang setelah mendengarkan ucapan dokter barusan.
"Apa aku bisa menemuinya? " Tanya Gio dengan cepat.
"Tentu" Kata dokter.
__ADS_1
Bersambung......