
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
...………………………………………………...
Alea dan Gio pergi ke tempat kejadian kebakaran Mobil papa mazundar di dekat Hutan. Mereka di hantar oleh William sebagai supir pribadi Gio.
Sesampai nya mereka di tempat kejadian tersebut. Banyak para Awak polisi mengevakuasi Jenazah papa Mazundar dari dalam Mobil. dengan Berat hati Alea melangkah menghampiri Jenazah itu dengan air mata yang terus mengalir.
Alea mengangkat Kain putih yang menutupi Wajah jenazah Papa Mazundar dengan kedua telapak tangan yang bergemetar. Ia semakin terisak mendapati Benar-benar jenazah itu adalah jenazah papa Mazundar.
"Papa…" Ucap lirih Alea dengan suara bergemetar.
Alea beranjak berdiri, ia tak sanggup melihat Sang papa tiada dengan sadis. Entah mengapa tiba-tiba kepala nya terasa sangat pusing, ia langsung jatuh pingsan. untung saja disana ada Will yang langsung memampah tubuh Alea agar tidak terjatuh.
"Alea…" Ucap Gio syok ketika melihat Alea jatuh pingsan. Ia tidak bisa melakukan apapun karena ia lumpuh.
Gio hanya bisa mengandalkan Will untuk membantu Alea. Gio tidak senang melihat Alea Di gendong oleh Will tapi harus bagaimana lagi ia juga tidak bisa melakukan nya.
"Will mari kita ke rumah sakit" Ujar Gio dengan raut wajah khawatir
"Baik Tuan…" Jawab Will.
...***...
Dokter tengah memeriksa Kondisi Alea. Sedangkan Gio dilanda kekhawatiran di luar ruangan di mana Alea di periksa. Gio mendorong kursi roda nya ke kanan dan ke kiri. Sedangkan Will mematung karena baru pertama kali nya Melihat Gio begitu Khawatir kepada seorang wanita.
"Tuan tenang saja, nona Alea pasti baik-baik saja" bujuk Will mencoba menenangkan Gio yang tengah dilanda kekhawatiran.
Gio menghiraukan ucapan Will. Dengan setia nya ia menunggu Dokter hendra keluar dari Ruang Alea di rawat.
'Tuhan untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang, Aku mohon jangan pernah mengambil Cinta ku tuhan. Aku janji aku akan berubah. Aku janji aku akan mencintainya, menjaganya, dan melindunginya. tapi aku mohon jangan rebut dia dari ku Tuhan' Gumam Gio dalam hati.
Perlahan-lahan pintu Ruang rawat Alea terbuka. memperlihatkan Dokter hendra bersama Perawat keluar dari ruangan itu. dengan cepat Gio menanyakan kondisi Alea.
"Uncle Hendra bagaimana kondisi Alea sekarang?" Tanya Gio dengan antusias.
__ADS_1
"Karena syok dia mengalami Darah rendah" Jawab Dokter Hendra.
"Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah kurang dari 90/60 mmHg. hipotensi dapat menyebabkan pusing, lemas, hingga pingsan. Tekanan darah normal berkisar antara 90/60 mmHg dan 120/80 mmHg" penjelasan Dokter hendra.
"Jadi Alea harus dirawat inap selama semalam di rumah sakit ini" Ujar dokter hendra.
"Baiklah…yang penting Alea segera Sembuh" Gio merasa Lega.
Dokter hendra melihat perubahan Keponakan nya itu hanya bisa mengyritkan kedua alisnya. ia bingung mengapa Gio sangat khawatir kepada Alea.
"Gio kenapa kau sangat khawatir kepada Gadis itu? apa kau mencintainya?" Tanya Dokter hendra yang tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Uhuk…uhuk…uhuk…" Will tersedak mendengar Ucapan dokter Hendra kepada Gio.
Gio menatap tajam William dengan tatapan membunuh. Seketika William langsung bungkam dan mengidik ngeri. 'Yah tuhan…aku bekerja dengan manusia atau malaikat pencabut nyawa?' Celetuk will dalam hati.
"Dia istri ku uncle!" Jawab Gio tanpa basa-basi.
"Apa! dia istrimu? yang benar saja keponakan ku, aku tau semua tentang dirimu tapi mengapa aku tidak tau tentang pernikahan kalian? dan sejak kapan pernikahan ini terjadi? dan mengapa kau tidak mengundang ku? lalu bagaimana bisa kalian menikah" Gio di cecar dengan banyaknya pertanyaan yang di berikan Dokter hendra.
"Pertama, ya dia istriku. kedua pernikahan kami disembunyikan. ketiga pernikahan kami sudah berjalan selama 3 bulan. Keempat kami tidak mengundang kerabat ataupun siapapun. kelima kami dijodohkan. sudah Puas?, bisahkah aku bertemu dengan Istriku" Ketus Gio
Gio masuk kedalam ruang VVIP dimana Alea di rawat. ia menatap Alea yang terbaring lemah di atas Hospital bed. Hati nya sakit melihat Alea tak berdaya di hadapan nya.
perlahan-lahan mata Alea terbuka. kedua telapak tangan nya memegang kepala nya yang terasa pening. Alea mencoba bangun akan tetapi tubuh nya sangat lemah.
"Alea kau baik-baik saja?" Tanta Gio ketika mendapati Alea mulai sadar.
Alea mengangguk pelan. Ia kembali teringat Tentang Sang papa, Tangis isak pun kembali memenuhi seluru ruang VVIP tersebut.
"Alea Jangan menangis, Papa mu pasti tidak Suka kalau melihat mu menangis" Kata Gio dengan nada lembut. telapak tangan nya mengenggam erat tangan Alea.
"Papa dimana Gio?…A-aku ingin menemuinya untuk terakhir kali" Ucap Alea dengan sesengukan.
Gio membantu Alea untuk turun dari Hospital bed dengan tangan nya. Gio mengandeng tangan Alea membawa nya ke Ruang jenazah di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Alea masuk ke dalam ruang itu dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Ia mengenggam erat tangan Sang papa yang sudah pucat. bukan itu saja ia juga mengecup kening sang papa untuk terakhir kalinya.
"Pa. walaupun papa tidak pernah mengakui Lea sebagai putri papa, lea tidak masalah. tapi jangan tinggal kan Lea sama seperti Bunda, pa. Lea sayang sama Papa walaupun terkadang Papa selalu menyakiti Hati Lea. Jangan tinggalkan Lea sendirian pa. Kalau bukan Alea setidaknya papa Jangan tinggalkan putri kesayangan papa Yaitu kak Gabriel" Ucap Alea Dengan nada lirih.
Gio memandang Alea dari jarak Jauh. karena ia tau Alea membantukan waktu sendiri untuk hari ini. Gio hanya bisa diam ia tidak bisa membantu menenangkan kesedihan Alea.
Seorang polisi masuk ke dalam ruang Jenazah itu, polisi itu mendekati Alea dan Gio dengan membawa sebuah Kantong yang berisikan dengan Pisau.
"Maaf Nona, Tuan Gio bisahkah kita berbicara sebentar" Kata polisi tersebut.
Gio dan Alea hanya menjawab dengan Anggukan kecil. Polisi tersebut pun mulai berbicara.
"Nona Alea. Kecelakaan yang dialami oleh Ayah handa. bukanlah kecelakaan biasa, akan tetapi ini adalah kasus pembunuhan, kami menemukan Pisau ini yang sudah menancap di punggung Korban. Dan bukan hanya itu saja dokter juga mengotopsi tubuh Korban dan menemukan beberapa luka pukulan yang ringan dan ada juga pukulan yang keras di area kepala" Polisi tersebut menjelaskan semua nya.
Alea terkejut mendengar ucapan polisi. Air mata nya kembali mengalir, ia tidak menyangka ada seseorang yang membunuh Papa nya dengan sangat sadis.
begitu juga dengan Gio. Gio sendiri Bingung siapa kira-kira yang membunuh mertua nya dengan sadis. 'Aku rasa, aku benar-benar harus menyelidiki Semuanya' Gumam Gio dalam hati.
"Kami Tim polisi akan menyelidiki Kasus ini nona." Kata polisi tersebut.
"Baiklah Pak. Tolong Cari siapa pembunuh papa, dan berikan keadilan kepada papa" Kata Alea dari dalam luguk hati nya
"Baik nona." Jawab Polisi itu lalu melangkah pergi meninggalkan Alea dan Gio.
Alea mengambil ponsel dari Saku Cardigan nya. ia mencari nomor telepon Mama tara. dia berulang-ulang kali menghubungi Mama tara akan tetapi nomor nya tidak aktif. lalu ia berganti menelfon Gabriel Kakak Tiri nya.
"Kak Gabriel" Ucap lirih Alea.
"Ada apa Mengaggu liburan ku saja!" ketus Gabriel dari sebrang telfon.
"Papa kak…" Kata Alea yang tak tahan menahan tangis.
"Papa kenapa?" Tanya acuh Gabriel.
"Papa telah tiada kak, Hikss…hikss" tangis isak pun kembali.
__ADS_1
Terdengar oleh nya suara histeris dari dalam telfon tangisan, kecemasan, semua jadi satu. Alea pun mematikan telfon nya.
Bersambung………