
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
Gio menghampiri Alea yang terbaring lemah di atas hospitalbed, mata nya menatap wajah Alea dengan pandangan seduh. tangan nya menyibakkan helaian rambut Alea yang menutupi wajah nya.
Gio membelai lembut rambut Alea, di hati nya ia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi kepada Alea. "Maafkan aku Alea...karena aku kau harus mengalami semua ini" Gio menatap Alea dengan wajah penuh penyesalan.
"Cupp... "
Sebuah ciuman meluncur tepat di kening Alea dari Gio, Gio membenamkan kepala nya di atas kepala Alea. dan perlahan-lahan Alea membuka matanya.
orang yang pertama kali Alea lihat saat sadar Adalah Gio, karena wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Alea menatap wajah Gio, begitu pula dengan Gio yang juga menatap wajah Alea.
"Gio... " Ucap lirih Alea sembari menahan sakit di area luka nya.
"Shhtttt... " Jari telunjuk Gio menyentuh bibir mungil Alea, yang mengartikan Alea tidak diperbolehkan bicara satu kata pun.
"Arrghhh... " teriak Alea yang merintis kesakitan.
Tangan Gio menyentuh luka Alea di area perut Alea akibat tusukan pisau. Gio mengelusnya perlahan-lahan agar rasa sakit nya mengurang.
"Apakah sakit? " Tanya Gio sembari menatap mata Alea.
Alea mengangguk pelan, lidah nya keluh untuk berbicara. rasa sakit nya begitu terasa. ia hanya bisa diam sembari menahan rasa sakit.
Gio mengambil segelas air putih yang tak jauh dari jangkauan nya. ia membantu Alea untuk meminum air itu dengan perlahan-lahan.
Alea baru sadar jika Gio tidak duduk di kursi roda, mata nya kembali menatap wajah Gio dengan tatapan penuh penjelasan. "Gio ka-kau.... " Lirih Alea.
"shhtttt... ini semua hasil kerja keras mu. karena mu aku bisa kembali berjalan seperti semula" Ucap Gio sembari menempelkan jari telunjuk nya ke bibir mungil Alea.
Alea tersenyum gembira, tetapi perlahan-lahan senyuman itu memudar. ia memikirkan sesuatu di kepala nya sekarang.
'Aku senang jika kamu telah sembuh, tetapi aku takut jika kamu akan membuang ku sama seperti keluarga ku' Gumam Alea sembari menatap mata Gio.
__ADS_1
Air mata tiba-tiba jatuh begitu saja. Gio mengusap air mata itu dengan perlahan-lahan. Gio menatap wajah Alea dan perlahan-lahan wajah nya mendekati Alea, sehingga Alea menutup mata nya. dan....
"Tok... tok...tok" Sebuah ketukan dari luar pintu.
'Sial!!...' Umpat Gio.
Gio berjalan berniat membuka kan pintu untuk orang yang mengetuk pintu. tangan nya membuka pintu dan menampakan Papa Erland, Mama Vio, oma diana dan Arka.
Semua orang yang baru saja datang itu menatap kaki Gio, dengan mata yang membulat sempurna. Mama Vio menutup mulut nya dengan telapak tangannya, sedang kan papa Erland terpaku, dan Oma Diana meneteskan air mata haru sama seperti Arka.
"Gio putra ku... " Mama Vio memeluk tubuh kekar putra nya itu.
"Kau bisa berjalan putra ku... " Tangis haru seorang ibu yang memeluk putra nya.
Tangan papa Erland menepuk-nepuk bahu Gio, dengan mata berkaca-kaca. sungguh hari ini hari keajaiban bagi Gio. akibat serangan musuh, Gio bisa kembali berjalan lancar seperti semula.
Gio mengusap air mata sang Mama, lalu ia mengecup kening sang mama itu. Lalu ia berganti memeluk Sang Oma yang sedari tadi menangis haru menatap Gio.
"Cucu ku Gio... " Tangis oma Diana pecah di dalam dekapan Gio.
Gio memegang kedua telapak tangan keriput Oma Diana, lalu bibirnya mengecup tangan Oma Diana dengan Lembut. tangis Oma Diana semakin pecah melihat cucu kebanggaan nya telah sembuh.
"Gio, diamana Alea? " Tanya Oma Diana ketika mengingat Alea.
"Alea berada di dalam... " Ucap Gio sembari menuntun Oma Diana Masuk ke dalam ruang rawat Alea.
Gio melihat Alea sudah tertidur pulas, mungkin karena efek obat yang disuntikan Oleh dokter untuk Alea. maka dari itu Alea tertidur.
"Gio apakah Alea baik-baik saja? " Tanya Papa Erland dan mama Vio dengan kompak.
"Hemm... tidak papa. hanya luka nya sangat dalam, mungkin Alea harus dirawat di rumah sakit ini secara instensive." Jawab Gio.
"Arka!, kau hantar mama dan Oma pulang." Ujar Gio sembari menyerahkan kunci mobil nya.
__ADS_1
"Oma tidak ingin kembali, oma ingin menemani Alea di sini " Ucap Oma Diana.
"Oma, Gio dan para anggota Gio lah yang akan melindungi Alea. Gio janji tidak akan membiarkan Alea terluka lagi" Kata Gio sungguh-sungguh.
Oma Diana melihat Cinta di mata Cucunya yang berdiri tepat di hadapan nya. ia bahagia Jika Gio mulai membuka kan hati nya untuk Alea, setidaknya ia lega jika ada seorang gadis yang mampuh melelahkan hati batu Gio.
"Tapi kau baru sembuh Gio" Kata Oma Diana.
"Gio baik-baik saja" Kata Gio.
Beberapa saat lamanya Gio membujuk mama nya dan oma nya untuk kembali kemension agar tidak terjadi yang tidak diingin kan. dan sekarang Oma dan Mama Tara telah kembali kemension bersama Arka tidak dengan papa Erland.
Disisi Lain Gio menugaskan para anggotanya untuk berjaga di luar ruang rawat Alea, ia juga menyuruh rumah sakit untuk memperketat keamanan rumah sakit. sedangkan Gio sekarang berada di Salah satu ruang tunggu di rumah sakit itu bersama Sang papa, will dan Levi.
"Gio apa kau tau Siapa musuh kita yang sebenarnya?" Tanya Papa erland sembari menyeruput coffe.
"Y. aku tau. Dia musuh dalam selimut " Jawab Gio dengan singkat.
"Katakan Siapa dia? berani sekali dia menyerang keluarga kita" Geram Papa Erland.
"Jika Gio memberitau kebenaran nya apakah papa akan percaya? karena musuh kita adalah orang yang paling papa percayai" Jawab Gio sembari menatap Sang Papa.
"Siapapun Dia Gio, jika dia berani menyetuh atau menyakiti keluarga papa, papa tidak akan membiarkan dia hidup. papa akan membunuh nya secara hidup-hidup " Umpat Papa Erland dengan penuh amarah.
"Katakan siapa dia Gio? papa tidak akan pernah mengampuni nya" Ucap Papa Erland dengan nada tinggi.
Gio menceritakan mengenai siapa musuh dalam selimut tersebut. Gio juga menyeritakan penyebab kecelakaan nya sehingga dia mengalami kelumpuhan.
Setelah papa Erland mengetahui siapa penyebab semua ini, ia begitu marah. rahangnya mengeras, kedua tangan nya mengepal erat. dan matanya memerah. sungguh kebenaran ini sangat pahit bagi Papa Erland.
Karena hari sudah larut malam, Gio menyuruh sang papa untuk kembali ke mension. sedang kan Gio kembali ke ruang rawat Alea, ia bisa melihat Alea masih terlelap dalam dunia mimpi.
Gio memandang wajah Alea yang begitu tenang di alam mimpi, tangan nya membelai rambut Alea dengan lembut. sesekali Gio mengecup kening Istrinya Alea.
__ADS_1
Gio membenamkan kepala nya di atas kepala Alea, dan perlahan-lahan mata nya ia kejamkan. Gio mengikuti Alea memasuki Alam mimpi, kedua nya tertidur pulas di mimpi mereka masing-masing
Bersambung....