
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
...………………………………………………………...
Gabriel yang mendengar Berita duka Tentang Sang Papa. Dengan Cekatan ia langsung membeli tiket kembali ke kota Tempat lahir nya, ia sangat ingin bertemu untuk terakhir kalinya.
Dengan isak Tangis Gabriel menatap Langit dari Balik jendela Pesawat. Dengan mata yang memerah dan tangan menggempal keras dia selalu mengutuk Alea dalam hati nya. dia salah paham kepada Alea, ia mengira Alea adalah penyebab kematian sang papa.
"Alea! aku akan membalas mu. aku tau kau adalah Penyebab kematian Papa, lihat saja aku akan memberimu pelajaran nanti" Gumam Gabriel yang dipenuhi Kebencian terhadap Alea.
dua jam penerbangan Gabriel telah tiba di Kota Kelahiran nya. Dengan Amarah Gabriel menaiki sebuah Taksi yang sedari tadi ia pesan.
Disisi lain Alea yang melihat Sang papa di makamkan di pemakaman Keluarga Mazundar. isak tangis memenuhi seluru penjuru pemakaman. angin tertiup kencang, hujan deras menandahkan rasa sedih Alea.
Gio mengenggam erat telapak tangan Alea di sebelah nya. Hati Gio terasa sakit melihat Alea menangis di hadapan nya. ia melihat Alea hancur, sedih, rasa sakit campur menjadi satu.
Beberapa Kerabat terdekat Keluarga Mazundar datang ke pemakaman dan ada juga yang tidak datang. Dan juga ada beberapa Tetangga yang juga ikut serta dalam acara duka.
para orang yang menghadiri pemakaman itu memandang sinis Alea. mereka Merasa aneh mengapa disebelah Alea ada seorang pria lumpuh, Mereka selalu mengerutu membicarakan tentang Alea dalam hati.
kerabat A : "Haish…siapa Pria lumpuh misterius itu yang memakai hoodie menutupi kepala nya. kenapa dia memgenggam tangan Gadis Jelek itu"
Kerabat B : "Tidak Tau. tapi aku dengar Alea menikah dengan pria lumpuh. dan mungkin pria itu juga buruk rupa sehingga menutupi wajah nya dengan hoodie nya itu"
Kerabat C : "Kau tau dari mana kalau Alea menikah dengan pria lumpuh? tapi mereka sangat serasi bukan? yang satu anak hasil wanita pel*cur dan suami nya seorang pria lumpuh plus buruk rupa"
Kerabat D : "Hahahhah…kau benar. tapi kalau aku jadi Alea, aku tidak akan sudi menikah dengan pria lumpuh sekaligus buruk rupa"
Julitan demi julitan diluncurkan ke arah Alea dan Gio. Gio dianggap buruk rupa padahal di balik penutup hoodie ada wajah Tampan. Sedangkan Alea hati nya terasa tertusuk mendengar julitan para kerabat nya.
"Jangan dengarkan mereka. mulut mereka memang pedas" Ucap Gio dengan nada lembut, padahal dalam hati ia merasa sangat marah karena Julitan para kerabat Alea.
Alea hanya bisa mengangguk kecil. dalam hati nya ia merasa aman berada di dekat Gio, karena ia merasa Gio bisa melindungi nya.
"Papa....Hiks... hiks"
Tiba-tiba saja Mama Tara datang ke pemakaman Papa Mazundar dengan air mata buaya nya. Dia berlari memeluk erat batu nisan sang suami.
Alea mecoba menenangkan Mama tiri nya itu dengan cara menyentuh bahu Mama tara. Akan tetapi tangan itu di tepis oleh Mama tara sehingga Alea terjatuh tersungkur di tanah dengan deras nya air hujan.
"Arrgghh..." Teriak Alea ketika jatuh.
Gio melihat Alea terjatuh akibat tepisan Mama tara Ia merasa sangat geram. ia mendekati Alea akan tetapi Alea memberikan isyarat kepada Gio agar tidak membantu nya. Gio hanya bisa menurut kepada Alea.
"Kau Alea! 'ya kau! kau adalah penyebab kematian Suami ku Mazundar! Suami ku tiada karena mu. Kau Gadis pembawa Sial yang mengakibatkan Suami ku tiada karena kesialan mu" Bentak mama Tara yang menuduh Alea.
seluruh orang yang berada disana menatap Alea dan mama tara. Beberapa dari mereka merasa sangat senang dengan totonan yang mereka lihat dan ada juga beberapa orang merasa kasihan kepada Alea.
"Tidak tante aku bukan penyebab tiada nya Papa. dan a-aku bukan Gadis pembawa sial" Alea berusaha berdiri dengan isak tangis.
"Plakkkk…" sebuah tamparan mendarat tepat dipipi kiri Alea.
__ADS_1
"Plakkkk…" Sebuah tamparan kedua mendarat tepat dipipi Kanan Alea.
Mama tara menampar Alea secara membabi buta. Sedangkan Alea hanya bisa meringis kesakitan dan pasra kepada Mama tiri nya itu.
"Kau gadis pembawa sial! Kau ingat Bunda mu mengalami kecelakaan itu karena kesialan mu itu!" Bentak Mama tara.
"Tidak, aku bu-bukan Gadis pembawa sial" Alea merasa sakit karena dianggap Gadis pembawa sial.
Seorang wanita memakai pakaian seksi berwarna merah mendekati Alea dengan payung di tangan nya. Ia menarik rambut Alea secara kasar Membuat Alea meringis kesakitan. yups dia adalah Gabriel.
"Benar kata Mama. Alea adalah Gadis pembawa sial" Gabriel Menjambak Rambut Alea secara kasar.
"Arrgghh...sakit kak... " Ucap lirih Alea yang merasa sakit dipipi dan di kepala.
"Plakkk..." "plakkk..." "plakkk..." "plakkk..."
Empat tamparan yang diluncurkan Gabriel tepat di pipi kanan dan kiri Alea. Ia merasa bahagia melihat Alea menjerit kesakitan.
Alea terjatuh lemas dengan darah yang mengalir di hidung nya. Kepala nya terasa sakit akibat jambakan Gabriel. Air mata terus mengalir tanpa henti sama seperti derasnya air hujan yang membasahi tubuh nya.
Gio tak tahan melihat Alea diperlakukan seperti itu. ia menghampiri Alea yang berada di tanah dan di bawah guyuran Hujan. Tangan nya mencoba membantu Alea untuk bangun.
"Mari kita pulang!" Ucap tegas Gio karena merasa sesak berada di dekat para Penghianat Mazundar.
"Tapi...pemakaman belum selesai" Ucap lirih Alea.
"Aku tidak ingin ada penolakan!" Ucap tegas Gio dengan nada dingin.
Mereka pun pergi menuju mension kenanzo dengan mobil pribadi yang dikendarai oleh Will pasti nya.
Sesampainya di mension…
Alea duduk di atas sofa dengan Memegang Foto Sang bunda yang bersama Sang papa. Isak tangis memenuhi seluru ruang kamar Gio. Ia merasa membenarkan perkataan Mama bahwa diri nya adalah anak pembawa sial.
"Bunda, papa. apakah Lea adalah Gadis pembawa sial? Bukan kan? lea bukan penyebab kematian kalian kan?" Tanya Alea sembari menatap foto yang berada di tangan nya.
"Mengapa kalian pergi begitu saja tanpa mengajak ku? aku lelah bunda, papa. lea lelah selalu disiksa, dihina, dicacimaki oleh orang-orang di sekitar ku" Ucap lirih Alea dengan air mata yang berjatuhan.
"Kapan lea bisa merasakan kebahagiaan bunda, papa? lea ingin kebahagiaan yang seperti di dongeng yang selalu bunda cerita kan" Tangis kembali ketika mengingat sang bunda dan sang papa.
Di balik pintu Gio mendengar semua ucapan Alea barusan. Entah mengapa setelah mendengar nya air mata tiba-tiba saja jatuh di pipi nya. "Bunda? apakah Nyonya tara bukanlah Ibu Alea?" Tanya Gio dalam hati yang masih belum paham seluk beluk keluarga Mazundar.
Gio mendorong kursi roda nya menghampiri Alea dengan membawa Kotak P3K di pangkuan nya. ia berniat mengobati luka Alea akibat ulah gabriel dan mama tara.
"Biar aku obati" Ujar Gio sembari membuka Kotak P3K.
Melihat kedatangan Gio. dengan sigap Alea menyembunyikan foto itu di bawa bantal sofa. Lalu ia menatap Gio dengan nanar dan mata yang sembab.
"Ti-tidak perlu. seharusnya aku yang mengingatkan kamu Untuk minum obat" Ucap Alea menghapus air mata.
"Aku tidak suka penolakan Alea" Tegas Gio lalu mengambil telapak tangan Alea.
__ADS_1
terlihat ada luka memar di telapak tangan Alea yang mulai membiru. "Bukankah kaku sendiri yang pernah mengatakan. bahwa luka harus cepat-cepat di obati" Ucap Gio dengan lembut sembari mengobati tangan Alea.
Alea hanya mengangguk kecil yang menandahkan 'iya. "Kamu masih ingat dengan kata-kata ku?" Kata lirih Alea.
"Yah. aku mengingat semua ucapan mu. seperti Ocehan mu itu saat aku sedang kambuh" Ejek Gio mencoba menghibur Alea.
"Jangan coba menghibur ku Gio. walaupun kau menghibur ku, aku tidak akan bisa tersenyum lagi seperti dulu. karena apa yang aku miliki sekarang telah di rebut oleh Tuhan sendiri" Kata Alea yang mulai menitihkan Air mata.
"Duduklah di pangkuan ku" Ujar Gio sembari menepuk paha nya menyuruh Alea duduk di pangkuan nya.
"Tidak" Ucap lembut Alea yang menolak.
"Sudah ku bilang kan Aku tidak suka penolakan" Ucap Gio lalu menarik Alea duduk di pangkuan.
"A-apa yang kamu lakukan Gio? kalau aku duduk dipangkuan mu Kaki mu bisa sakit lagi" Ucap Alea berusaha berdiri tapi pinggang nya di tarik oleh Gio.
mereka berdua saling bertatapan mata. Alea bisa merasakan deruh nafas Gio yang menerpah wajah nya. Bukan hanya itu saja ia juga bisa mendengar detak jantung Gio.
"Apa yang kamu lakuk--mmphh" Ucap Alea yang terputus akibat Ciuman Bibir tiba-tiba.
Gio Menci*m bibir mungil Alea yang terasa manis baginya. Ia juga ******* bibir Alea secara dalam-dalam. ia Menci*m Alea penuh perasaan.
Alea merasakan setruman listrik di tubuh nya ketika Gio memci*m nya. perlahan-lahan Alea menutup mata nya menikmati Cium*n Gio. tangan Alea melingkar Ke leher Gio.
Gio merasa senang Alea membalas Cium*n nya. tangan kekar Gio menyelinap Ke dalam Baju Alea. Cium*n itu turun kebawah leher jenjang Alea. membuat sang pemilik Leher merasakan sentuhan hangat.
( *Waduh guys kayak nya Gio benar-benar jatuh Cinta ni )
( Siap-siap dengan kebaperan antara Gio and Alea* )
"Brakkk..." Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamar itu. membuat Gio dan Alea menghentikan Aksi Cium*n itu.
Alea segera berlari Ke dalam kamar mandi kerena malu. Sedangkan Gio menatap Pria muda yang Berani mengusik Keromatisan nya tadi.
"Kenapa kau disini? apa kau tidak memiliki sopan santun" Gio mencibir kesal.
"Haishh...Saudara ku yang satu ini memang sangat Galak" Ucap Cowok muda itu mendekati Gio.
"Aku kesini bersama Omah. omah sedang ada di bawah bersama Pelayan, omah tak sanggup menaiki tangga jadi aku suruh dia duduk di ruang tamu" Kata Cowok itu santai.
Cowok muda itu adalah sepupu Gio yang bernama Arkanan Kenanzo. Dia adalah keponakan Dari Mama Vio dari adik perempuan nya.
Gio menatap sebentar ke arah pintu kamar mandi dengan senyuman kecil. Lalu ia mendorong kursi roda menuju ke lantai bawah.
"Arka!" Pangil Gio ketika di dalam lift.
"Apaan?" Tanya Arka sembari memainkan Handphone nya.
"Mengapa kau disini? bukan kah kau masih Kuliah di Singapura? lalu mengapa kau pulang ke indonesia" Tanya Gio dengan Dingin.
"Gio ku ganteng. Aku sudah lulus Kuliah! kau saja yang tidak datang di hari wisuda ku" Arka menatap kesal Gio.
__ADS_1
Gio terkekeh mendengar jawaban Arka. Karena saat Arka wisuda Gio saat itu sedang berada di Los angeles untuk mengurus perusahaan di sana.