
...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...
...……………………………………………………...
Disisi lain, di Rumah Keluarga Mazundar terlihat dua Sejoli tengah Terbaring di atas ranjang. dengan tubuh tela*jang Bul*t hanya ditutupi dengan Selimut saja. Mereka adalah Mama tara dan selingkuhan nya yang bernama Edwinder alvaro.
Mama tara diam-diam melakukan Hubungan Gelap tersembunyi, Tanpa sepengetahuan Papa Mazundar dan Gabriel. Edwin adalah Sahabat Papa Mazundar Sendiri. Hubungan Gelap itu sudah lama terjalin hingga 19 tahun lamanya.
Dan kemungkinan besar Gabriel bukanlah Anak kandung Papa Mazundar, melainkan Anak Hasil hubungan Gelap Mama tara dengan Edwin.
"Sayang Terima kasih…sudah menjadi Wanita Ranjang panas ku" Bisik Edwin tepat di telinga Mama Tara.
Karena Gabriel sedang Berjalan-jalan bersama teman nya dan Papa Mazundar sedang Keluar kota. dengan Leluasa Mama tara Bisa menghabiskan Hari-hari panas bersama Edwin di kediaman rumah Mazundar.
Mendengar Bisikan Edwin, Mama tara tersipu malu. Mama tara menci*m rakus Bibir Edwin. Sontak Ga*rah Edwin kembali Muncul. Edwin segera menjadi pemimpin dalam permainan panas itu hingga Mereka dapat merasakan ken*kmatan bersama. Tanpa ada rasa lelah mereka selalu melakukan Hubungan Panas itu berulang-ulang kali.
Ternyata Seorang Pria paruh baya menyaksikan Kejadian ran*ang panas itu dengan kedua matanya sendiri. Pria itu menahan amarah, kedua tangan nya mengepel Hingga memperlihatkan urat-urat tangan. Yap, Pria paruh baya itu adalah Papa Mazundar yang baru saja pulang dari Luar kota.
Mama Tara dan Edwin terkejut melihat kedatangan Papa Mazundar. Edwin segera melepaskan penyatuanTubuh nya dengan Mama tara, Lalu mulai memakai kembali Pakaiannya.
"Bughh…" Pukulan Keras dari papa mazundar mendarat tepat di pipi Kanan Edwin.
"Bugghh…" Sekali lagi pukulan keras itu Mendarat tepat Di pipi Kiri Edwin.
"Dasar Pria Baj*nga, Bre*sek." Papa Mazundar tengah di landa Amarah yang memuncak selalu meluncurkan Pukulan Ke arah Edwin secara membabi buta.
Karena Edwin tak tahan Mendapat Pukulan lagi. ia juga membalas Pukulan Papa Mazundar secara membabi buta juga. mama tara hanya bisa duduk di atas ranjang dengan menutupi tubuh nya yang tanpa sehelai pakaian dengan Selimut.
Karena Mama tara tak tega melihat Kekasihnya di pukuli oleh Suami nya sendiri. Ia langsung mengambil Vas bunga Dan…
"Prangg…" Mama tara memukul Kepala Papa Mazundar dengan Vas bunga.
Darah segar mengalir dengan deras di area Kepala Papa Mazundar. Seketika Pandangan Papa Mazundar sedikit buram ia berdiri sempoyongan memegang Kepala nya yang terasa sakit akibat pukulan Mama tara.
"Bruggh…" Papa Mazundar tejatuh di lantai dengan darah bececeran.
Papa mazundar menatap nanar Mama tara dan Edwin dengan tatapan penuh kebencian. "Kalian penghianat!" Ucap lirih Papa mazundar.
"Srekk…" Sebuah tusukan Pisau buah Menacap tepat di punggung papa Mazundar akibat ulah Edwin.
"Aargghhh…" Teriak Papa Mazundar menggema di seluruh rumah itu.
__ADS_1
Nyawa papa Mazundar sudah di ujung Tanduk. Nafas nya sudah tidak bisa di kendalikan. Mata nya seketika Buram. perlahan-lahan papa mazundar memejamkan matanya.
"Alea maafkan Papa Sayang" Kata terakhir Papa Mazundar lalu menghembuskan Napas terakhir.
Tubuh Mama tara bergemetar sama dengan Edwin tubuhnya juga bergemetar. Edwin menghampiri Papa mazundar yang terbaring tak bernyawa mencoba memastikan Keadaan Papa mazundar.
Mata Edwin terbelalak ketika mendapati Papa mazundar telah Tiada di tangan nya dan di tangan Mama Tara.
"Ba-bagaimana? Jangan sampai dia tiada" Kata Mama Tara dengan tubuh yang bergemetar dan keringat dingin bercucuran.
"Dia sudah Tiada" Ucap singkat Edwin.
"Ki-kita bisa di penjara, ka-karena membunuh nya" Ucap Nama tara lalu terduduk lemas di Atas ranjang.
"Tenang Saja…kita akan membakar mayat nya. Agar tidak ada yang tau Kitalah yang membunuh nya" Kata Edwin tanpa dosa mencoba memprofokasi Mama tara.
"Baiklah" Ucap Singkat Mama tara.
Edwin mengunakan sapu tangan Membotong Mayat Papa Mazundar. Lalu meletakkan mayat papa Mazundar kedalam Bagasi Mobil.
Edwin dan Mama Tara membawa Mayat Papa Mazundar ke tempat yang Sepi dengan mengunakan mobil Papa mzundar. Dengan tangan yang bergemetar Edwin mengemudi Mobil.
Mobil yang berisikan Mayat Papa Mazundar pun terbakar Akibat ulah Edwin. Api menyalah memyusuri Mobil itu
"Ayo kita pergi! sebelum seseorang melihat" Kata Edwin lalu menarik tangan Mama Tara membawa nya menjauh dari tempat Kebakaran itu.
...***...
Disisi lain Alea Sedang berbincang-bincang dengan Mama Vio dan Papa Erland di ruang Tamu Bersama Gio. Entah mengapa Dada Alea terasa sesak, tiba-tiba saja air mata nya jatuh begitu saja.
"Alea ada apa dengan mu?" Tanta Mama Vio ketika mendapati Alea memegang Dada nya.
"Tidak tau ma. Entah mengapa Dada lea terasa sesak dan aku merasa gelisah, air mata ku juga tiba-tiba jatuh begitu saja" Jawab Alea dengan Wajah yang pucat.
"Apa kau Sakit?" Tanya Gio menatap Wajah Pucat Alea.
Alea mengelengkan kepala nya. "Tidak. Lebih baik aku beristirahat saja. mungkin aku kecapean" Kata Alea lalu melangkah Pergi menuju Kamar.
"Padahal dia tadi baik-baik saja. lalu mengapa tiba-tiba saja di sakit" Gumam Gio menatap Alea yang sedang Menaiki anak tangga.
"Mama sama Papa mau pamit Dulu. kami harus menghadiri suatu acara" Pamit Mama Vio kepada Gio.
__ADS_1
"Heem…" Jawab Gio.
Mama Vio dan papa Erland pun pergi meninggalkan mension. karena ada acara Khusus yang diadakan oleh para kerabat.
Alea mendudukan tubuh nya di atas sofa. ia mencoba menghilangkan rasa gelisah nya dengan cara menonton TV di kamar Gio.
"Di beritakan. Di sebuah jalan dekat dengan hutan telah ditemukan sebuah Mobil yang terbakar dan di dalam mobil tersebut ada seorang pria yang tergolek tak bernyawa." Berita siaran yang ditonton Alea.
Mata Alea berkaca-kaca Tubuh nya seperti di sambar petir, Air mata nya jatuh begitu deras. Alea memeluk kedua lututnya, ia membenamkan wajah nya ke lutut tersebut. tangis isak memenuhi Seluruh Kamar.
Gio yang baru saja ingin masuk kedalam ke dalam ruang kerja itu pun terhenti, ketika mendengar isak tangis yang berasal dari Kamar nya, ia segera melihat kamar siapa yang menangis.
"Alea…apa kau disini?" Tanya Gio Ketika masuk ke dalam kamar.
Alea mengangkat Wajah nya pelan. ia melihat Gio yang menatap nya penuh tanya. Alea menghiraukan semua itu. yang ia butuhkan sekarang adalah tempat bersandar.
Alea bangun, lalu menghambur ke pangkuan Gio. ia menangis di pangkuan Gio. menangis sambil menyandarkan kepala nya ke atas pangkuan Gio.
Tanpa Gio cegah, tangannya membelai lembut kepala Alea. setelah beberapa saat lamanya, Gio mengangkat pelan Tubuh Alea. ia membawa Alea duduk keatas pangkuannya. dia menyandarkan kepala Alea ke dada bidang nya yang kekar.
Gio membiarkan Alea menangis di pangkuan nya. ia sendiri bingung apa penyebab Tangis Alea. Begitu banyak tanda tanya di fikiran nya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Tanya Gio dengan nada sangat lembut.
Alea tak menjawab, ia masih menangis di pangkuan Gio. karena memang itulah yang ia butuhkan saat ini. sebuah tempat bersandar untuk meluangkan kesedihan nya.
"Jangan menangis lagi." Ucap Gio sambil menghapus air mata yang berada di wajah Alea.
"Ayo ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Kembali Gio.
"Papa…" Jawab Alea lalu menujukan jari nya ke arah Siaran Berita yang terpampang jelas di TV.
"Papa Sudah tidak ada lagi" Alea mulai menangis lagi di pangkuan Gio.
Gio melihat berita itu dengan teliti. Gio melihat Mobil Papa Mazundar yang terbakar di dalam berita itu. Ia tau betul itu benar-benar mobil Papa Mazundar.
"Jangan menangis dulu. Kemungkinan Itu bukan Papa kamu. Lebih baik sekarang kita datangi tempat kejadian itu lalu kita pastikan apakah benar Itu papa kamu atau bukan" Ucap Gio mencoba menenangkan Alea.
Alea mengangguk pelan. Lalu ia beranjak berdiri dari pangkuan Gio dengan wajah yang pucat pasal.
Bersambung……………
__ADS_1