Terpaksa Menikahi Sang Ceo Lumpuh

Terpaksa Menikahi Sang Ceo Lumpuh
Eps 14


__ADS_3

...ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ...


...………………………………………………………………………...


Alea membaringkan tubuhnya di atas kasur. Terasa sangat nyaman di kamar Gio itu. suasana begitu tenang dan sepi. yang terdengar hanya suara angin yang menghembus menggoyangkan dedaunan.


Alea merasa terpanggil saat mendengar angin itu. ia pun bangun melihat dari jendela kaca yang luas yang berada dalam kamar Gio.


Alea membuka pintu yang terbuat dari kaca, ternyata itu. adalah Balkon, ternyata ada di kamar ini. Dari balkon Alea melihat pemandangan Taman mension yang hijau. yang di penuhi dengan pohon hijau, rerumputan hijau, dan yang paling membuat Alea terkesima adalah taman bunga mawar putih yang berada dekat dengan taman mension.


"Pantas saja Gio suka kamar ini. kamar ini begitu indah dan bikin tentram" kata Alea bicara pada dirinya sendiri.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke kamarku?" Tanya sebuah suara dari depan pintu menuju balkon.


sontak saja, suara itu membuat Alea kaget. ia membalikkan badannya untuk melihat si pemilik suara tersebut.


Ternyata itu adalah Gio yang duduk di kursi roda. Gio sedang menatap Alea dengan tatapan tajam. Alea merasa sedikit takut ketika melihat tatapan tajam yang Gio tunjukkan.


"Gi-gio" kata Alea sedikit gelagapan.


"siapa yang mengizinkan mu masuk kedalam kamarku?" Gio mengulangi pertanyaannya.


"A-aku…" kata Alea yang tak tau menjawab apapun.


"Ini kamarku!, tidak ada yang boleh masuk kamarku tanpa izin dariku" Gio bicara dengan nada tinggi dan kasar.


"Maaf…" Hanya itu yang bisa Alea ucapkan. ia tau kalau kehadirannya tidak di harapkan.


"Jangan pikir kalau aku sudah menikahimu, kau bisa sesuka hati di rumah ini. kamu harus tau, aku menikahimu juga karena terpaksa" kata Gio yang terus terang.


"Aku tau," ucap singkat Alea.


"Cih…,perempuan dari keluarga Mazundar semuanya sama. mata duitan!" kata Gio kesal.


Alea yang ingin meninggalkan kamar itu terhenti. ia sangat marah ketika Gio mengucapkan kata-kata itu. ia mengenggam erat tangan nya untuk menahan amarah yang siap meledak kapan pun.


"Jangan samakan aku dengan mereka semua" ucap Alea berusaha tetap tenang padahal ia begitu marah.


"Hahahaha…kamu terlalu lucu Gadis murahan" ejek Gio.


"Gio!" bentak Alea yang sudah tak bisa menahan amarah.


'Tidak, jangan lakukan itu Lea. kalau aku marah aku akan berdosa karena aku sudah menjadi istri nya.' gumam Alea dalam hati.


Alea tak ingin melakukan dosa dengan membantah pria yang sudah menjadi suami sah nya. ia teringat pesan Sang nenek sebelum kematian menjemput nenek nya saat ia masih berusia 17 tahun. 'Cucuku, saat kau menikah nanti. jangan pernah kau membanta ucapan suami mu. karena seorang suami adalah wujud dari tuhan sayang' ingatan ucapan sang nenek sekilas keluar dari fikiran Alea.


"Apa!? apa yang ingin kau katakan?" tanya Gio dengan nada tinggi.


"Kamu itu tak lebih munafik nya dari gabriel, kakak kamu itu. kalian dari keluarga Mazundar semua sama. sama-sama murahan." kata Gio yang merampiaskan kekesalan nya terhadap Gabriel ke Alea.


Alea tetap bertahan. menahan Amarah dengan menggenggam erat kedua tangan nya. ia tidak ingin berada lama di kamar ini. mendengar semua perkataan Gio yang sungguh membuat darah mendidih.

__ADS_1


"Tunggu! " Bentak Gio Setelah melihat Alea ingin melangkah pergi.


"Apa lagi? masih kah ada kata-kata kasar yang belum kamu ucapkan, Gio? " Tanya Alea dengan kesal.


"Siapa yang mengizinkan kamu meninggalkan kamar ini?" tanya Gio dengan nada Tinggi


"*Bukan kah kamu bilang aku tidak diizinkan berada di kamar ini?" Tanya Alea kesal.


"Berani sekali kau membantahku*!" bentak Gio karna kesal.


"Siapa yang membantah kamu? aku malahan menuruti apa yang kamu mau katakan, Gio" Alea berkata dengan nada penuh penekanan.


"Diam!" Gio membentak Alea dengan keras.


Alea sedikit kaget. namun sebisa mungkin ia tidak menunjukkan kalau dirinya kaget akibat bentakan itu. Alea berusaha bersikap seolah-olah biasa saja.


"Tuan, Gio. Sekarang aku harus Apa?" Tanya Alea setelah diam beberapa saatnya.


Bastian tidak menjawab ia hanya berdiam diri dengan menatap lurus ke depan.


"Tuan gio. harus kah aku diam di sini selamanya?" Tanya Alea kembali.


"Lakukan jika kamu sanggup," ucap Gio tanpa menoleh.


Alea terdiam. Dalam hati ia berkata. 'Sabar-sabar lea. ini cobaan, tenangkan amarah mu. dia sedang memancing emosi ku, tapi aku tidak bisa melawan karna dia suami ku sekarang. jadi sabar dan tahan amarah ku' gumam Alea dalam hati.


"Kenapa diam? apakah kamu tidak punya kata-kata untuk bicara?" tanya Gio setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Heh, tidak ingin berdebat." ucap Gio dengan nada mengejek.


'Tuhan, kuatkan aku,' kata Alea dalam hati.


"Bisakah aku pergi sekarang?" tanya Alea.


"Tidak!" bentak Gio


"Lho, kenapa?" tanya Alea bingung.


"Karena aku tidak ingin kamu pergi sekarang." kata Gio.


"jadi kapan aku boleh pergi?" tanya kembali Alea.


"Jika aku sudah menginginkan kamu pergi" jawab Gio.


"kapan" tanya polos Alea.


"Sudah aku bilang, jika aku sudah ingin kamu pergi. jangan tanyakan kapan aku menginginkannya" jawab Gio sekali lagi.


"Huh……" Alea menghembuskan napas secara kasar.


"kenapa? kamu keberatan?" tanya Gio.

__ADS_1


"Tidak" Alea menjawab singkat.


"Bagus." ucap Gio.


karena Alea tidak melawan lagi, Gio juga kehabisan kata-kata untuk menyakiti hati Alea. ia dan Alea sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Kenapa kamu bersedia menikah dengan aku?" tanya Gio memulai kembali pembicaraan mereka.


"Karena…" jawab Alea yang diselah oleh Gio.


"Karena uang? " tanya Gio memotong perkataan Alea dengan cepat.


"Ya, karena uang. memangnya kamu mau apa?" tanya Alea penuh amarah.


'Tuhan…kenapa laki-laki ini selalu bisa memancing emosi ku?' tanya Alea dalam hati.


"Berapa uang yang kamu inginkan?" tanya Gio dengan kesal.


"Banyak…………" Alea menjawab dengan nada.


"Oh banyak. sebutkan nominalnya. akan ku beri dua kali lipat. tapi kamu harus pergi dari mension ini" kata Gio.


Alea melotot mendengarkan apa yang Gio katakan. bisa-bisanya Gio menganggap serius apa yang ia katakan. mana mungkin ia ingin meninggalkan rumah ini. karena itu sama aja membuat ia kehilangan hasil kerja keras sang bunda.


"Kenapa kamu malah melotot? kamu pikir aku main-main dengan apa yang aku katakan?" tanya Gio.


"Tidak. aku tidak bisa meninggalkan mension ini" jawab Alea sembari menggelengkan kepala.


"Kenapa? apa kamu terlalu ingin menjadi nyonya di keluarga Kenanzo? " tanya Gio kesal.


"Aku tidak mengharapkan hal itu. aku datang ke sini, berani menggantikan kak Gabriel menikah dengan kamu, itu semua bukan karena harta. dan untuk alasan nya tidak akan pernah ku beri tau. " jawab Alea dengan kesal.


"Hahahahhh…lucu sekali. apakah kau mengharapkan Cinta ku? " tanya Gio sembari tertawa menghina.


"Aku tidak akan pernah mengharapkan Cinta kamu. karena aku sudah mencintai orang lain" jawab Alea, ia sendiri tidak menyadari apa yang ia katakan barusan. padahal sebenarnya dia tidak perna mencintai seseorang.


"Baguslah kalau begitu" ucap singkat Gio.


"Terserah kamu mau bilang apa. yang jelas, aku tidak akan pergi dari sini." kata Alea bicara sedikit tegas.


"Bagus, jika itu yang kamu inginkan, siap-siap saja tinggal dalam neraka." jawab Gio.


"Lakukan jika itu yang membuat kamu bahagia." ucap Alea menantang.


"Baiklah. bagaimana kita taruhan? Aku akan membuatmu tersiksa sampai kau ingin kembali pulang. dan kalau aku tidak bisa membuat mu pergi dari mension ini maka aku akan melunasi hutang Papa mu itu" tantang Gio.


"Tantangan di terima. Tuan, Gio abraxas kenazo." ucap Alea sembari tersenyum gembira baru pertama kalinya dia mendapatkan tantangan sulit.


*Bersambung…………


btw guys. episode nya makin seru ni ntar Gio sama Alea jadi Tom end jerry*.

__ADS_1


__ADS_2