TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 1 : SERANGAN DRONE SELEPAS MAGHRIB


__ADS_3

Adzan baru saja selesai berkumandang setengah jam lalu…


Ketenangan malam hari di kota Abadan merupakan sesuatu yang paling didambakan penduduknya. Ketegangan yang membelenggu di siang hari akibat tensi politik dengan negara tetangga dan sikap egois yang tidak pelak memunculkan salah paham membuat penduduk Abadan membutuhkan istirahat yang cukup, dan malam yang tenang merupakan hal utama yang menjadi doa mereka sebelum pergi tidur usai menunaikan ibadah sholat.


Doa penduduk Abadan tampaknya terkabul karena suasana kota yang begitu hening dan tenangnya malam membuat mereka dapat bercengkerama sejenak dengan keluarga atau langsung tidur lelap, namun tidak demikian halnya dengan suasana di benteng militer yang terletak di wilayah selatan kota. Benteng itu merupakan pusat pertahanan sekaligus gudang, tempat dimana persenjataan negara disimpan.


Beberapa orang berjaga di gerbang depan, sementara yang lain bersiaga, menunggu kedatangan rombongan militer seorang petinggi negara yang tadi siang memberikan perintah untuk melakukan pertemuan darurat dan rahasia. Sepasang mobil lapis baja mendekati benteng dengan tidak terburu-buru. Saat lampu mobil mulai dapat terlihat oleh para penjaga benteng, kesibukan para tentara di dalamnya pun semakin meningkat.


Pria berkumis tebal dengan pangkat Letnan Kolonel di pundak yang tengah mengawasi ruang monitor bersama beberapa staffnya di dalam benteng memberi instruksi lewat interkom agar anak buahnya di pos jaga untuk pergi ke gerbang depan. Seorang petugas berlari tergopoh-gopoh sebelum mengangkat portal benteng, membiarkan kedua mobil melewati gerbang, dan petugas piket lainnya berdiri menyambut rombongan yang berada di kedua kendaraan tersebut.


Pria berkumis tebal itu keluar dari ruang monitor, berjalan dengan langkah tegap, sedikit terburu-buru, dengan maksud supaya dirinya dapat ikut menyambut orang penting yang ada di salah satu kendaraan roda empat tersebut. Dia sampai di tempat parkir tepat pada waktunya saat penumpang di mobil pertama turun dari mobilnya. Buru-buru pria itu memberikan hormat kepada sang Jenderal. “Selamat datang, Jenderal Sulaimandi.”


“Letnan Kolonel Akbar,” sang Jenderal balas memberi hormat. “Senang semuanya bisa bersiaga dengan cepat.”


“Mereka menunggu anda di ruang meeting.”


Jenderal Sulaimandi memberi tanda kepada bawahannya untuk memimpin arah menuju ke ruang pertemuan. Keduanya berjalan berdampingan sementara ajudan sang jenderal, lelaki muda berpangkat Letnan dan berwajah kaku, mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu dekat tapi cukup aman untuk memberikan perlindungan bila diperlukan.


Akbar tidak mau berlama-lama berdiam diri, bisa bertemu dengan sang Jenderal yang sangat dihormati di seantero Iran adalah sesuatu yang langka, karenanya dia ingin memanfaatkan momen ini untuk memberi impresi sebaik-baiknya. Segera dibukanya obrolan tentang berbagai isu yang sedang hangat di tubuh militer, seperti kurangnya dana untuk menambah peralatan perang, atau mengomentari beberapa kebijakan sebagai sesuatu yang memalukan, sesekali menyisipkan kesan bahwa bila dirinya mendapat rekomendasi kenaikan pangkat maka dia mampu menyelesaikan masalah tersebut.

__ADS_1


“Tidak perlu mengajariku, Letnan Kolonel Akbar! Perlu kamu tahu masalah itu tak segampang yang kamu kira,” Jenderal Sulaimandi menanggapi dengan wajah acuh tak acuh.


“Saya mengerti, Jenderal. Dan saya yakin anda bisa mengatasinya lebih cepat dengan orang yang tepat di pihak anda,” Letnan Kolonel Akbar menanggapi degan gugup.


“Aku sudah punya orang-orang yang kubutuhkan saat ini, Letnan Kolonel!” lanjut sang Jenderal. “Dan biarkan mereka mengerjakan tugas mereka, seperti kamu mengerjakan tugasmu di benteng ini.”


“Siap!” kata Letnan Kolonel Akbar yang memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Sebuah keputusan yang tepat karena baru saat itu dilihatnya wajah sang atasan yang begitu keruh, sesuatu yang berat sepertinya sedang membebani pikirannya.


Keheningan tersebut berlanjut hingga keduanya tiba di ruang pertemuan, dimana telah menunggu dua pria berpakaian militer dari kesatuan yang berbeda dengan sang Jendral tapi keduanya memiliki pangkat yang setara. Kedua perwira itu berdiri dan memberi hormat begitu Jenderal Sulaimandi masuk ke ruangan. Sang Jenderal menabik dan mempersilakan mereka duduk.


“Saya segera kemari begitu mendapat pesan dari anda,” kata salah seorang dari kedua tamu undangan rapat.


“Sebaiknya jangan bertele-tele,” kata pria lainnya. “Bahkan terpikir oleh saya bagaimana kalau kita luncurkan saja nuklirnya.”


“Dengan segala hormat, Letnan Kolonel,” tegur sang ajudan kepada Letnan Kolonel Akbar yang masih berdiri di ambang pintu. “Sebaiknya anda menunggu di luar sampai meeting ini selesai.”


“Kamu tidak tahu saya ini siapa?” Letnan Kolonel Akbar menegur pemuda itu.


“Saya tahu siapa anda. Dan saya juga tahu kalau Jenderal tidak senang bila orang tak diundang hadir dalam rapatnya,” balas pemuda itu.

__ADS_1


Pria yang merasa pangkatnya lebih tinggi itu melotot, ego jabatan dan pangkat membuatnya masih tetap ngotot dan berusaha mempertahankan posisinya sebagai orang penting di pertemuan sang Jendral tapi pemuda itu tidak kalah gertak. Keduanya saling adu pandang dan saat itulah si Letnan Kolonel mendapati pandangan buas dari si pemuda yang sontak menciutkan nyalinya.


“Eh…oh…ya…maaf,” pria itu akhirnya mengalah dan melangkah keluar dari ruangan dengan kikuk sebelum sang ajudan menutup pintu di belakangnya.


Ditatapnya pintu dengan sebal, bagaimana mungkin anak kemarin sore berpangkat Letnan bisa berada di dalam ruangan dan ikut mendengarkan rapat rahasia yang tengah dilakukan Jenderal Sulaimandi sementara dirinya yang jadi penguasa tempat ini malah diusir keluar tanpa diberi kesempatan mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.


Terbayang olehnya sesuatu yang besar sedang dipersiapkan sang Jenderal. Begitulah adanya kebiasaan orang yang paling berpengaruh di Iran itu.Dari cerita yang didengarnya, serangan peluru kendali ke jalur Gaza dan Teluk Persia serta pengeboman Kedutaan Inggris di Irak yang terjadi beberapa tahun sebelum dirinya mengepalai benteng ini, semuanya diawali dari pertemuan macam ini di tempat ini.


Keberhasilan serangan itu mempromosikan kedua komandan benteng ini sebelumnya, itu sebabnya dia menyangka dia dapat memiliki momentum serupa. Padahal dia yakin apa yang sedang di susun Jenderal Sulaimandi dan kedua koleganya saat ini akan menjadi suatu serangan yang lebih hebat dari yang sudah-sudah, mengingat tensi hubungan wilayah di Timur Tengah yang makin memburuk. Apalagi nuklir sempat disebut-sebut oleh salah seorang petinggi militer di rapat tadi.


Tapi apa daya, disinilah dirinya berada, di luar ruang rapat yang seharusnya berada di bawah pengawasannya, tanpa mengetahui apa-apa. Dengan gontai lelaki itu berjalan kembali ke ruang monitor. Seorang dari anak buahnya masih menunggu di tempat itu, duduk di kursinya mengamati layar-layar televisi dengan tampang bosan sebelum kemudian menyadari ada sesuatu yang ganjil di sana.


“Tidak..tidak..ini tidak mungkin…” lelaki itu bergumam beberapa kali.


“Apa yang tidak mungkin?” tegur Letnan Kolonel Akbar.


Wajah perwira muda itu mendadak pucat saat menyadari titik putih yang terpampang pada layar monitor pengintai sebagai suatu ancaman serius dan buru-buru menekan tombol peringatan tanda bahaya. Sementara itu diluar, pada saat bersamaan, benda terbang yang mengarungi kegelapan angkasa dengan kecepatan yang nyaris menyamai pesawat tempur tercanggih itu meluncurkan lima buah peluru kendalinya sekaligus.


Sirine yang coba dibunyikan oleh perwira muda di ruang monitor belum sempat meraung karena lima peluru tersebut keburu menerjang benteng di lima tempat berbeda. Menciptakan ledakan besar yang meluluhlantakkan benteng dan segala isinya dalam hitungan detik…seluruh wilayah di sekitar benteng terbakar hebat laksana dijilati api dari neraka….

__ADS_1


***


__ADS_2