
“Sampanye…anggur…atau brandy, tuan-tuan…” dengan senyuman menawan si petugas catering yang membawa nampan berisi gelas-gelas minuman mendekati Howard dan Duncan Tramp yang sedang mengobrol dengan Profesor McQueen sepeninggal kembalinya Lana dan Jordan ke gudang penyimpanan di lantai empat. “Semuanya minuman yang terpilih.”
Duncan mengambil segelas sampanye lalu mengangkatnya di hadapan ayahnya dan rekan kerjanya, “Aku sarankan sampanye untuk masa depan yang semakin sukses.”
“Pastinya…” Tramp senior tersenyum lalu mengikuti sang anak mengambil gelas sampanye kedua.
“Seharusnya kita mencicipi hasil panen jagungnya dulu sebelum bersulang dengan sampanye…tapi ya, sudah…” Profesor McQueen tertawa sebelum akhirnya mengambil satu-satunya gelas sampanye yang masih tertinggal di nampan.
“Terima kasih, tuan-tuan…” si pelayan berkata sambil undur diri karena hendak mengisi kembali nampannya dengan gelas sampanye.
“Kita bisa mencicipinya setelah sampanye ini, Profesor…” Duncan tersenyum lebar untuk menanggapi ucapan koleganya barusan. “Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati kemenangan setelah memberi dua tawaran besar yang rasanya mustahil dilewatkan Presiden cerdas seperti Ayahku.”
“Setelah ini aku ingin mendengar lebih lanjut soal senjata terhebat yang terputus tadi,” Howard Tramp mengangguk.
“Tentu, Ayah!”
“Bersulang…” ketiganya mengangkat gelas masing-masing.
Belum sempat ketiga pria itu meminum sampanye di gelas, tiba-tiba ruangan dipenuhi bunyi tembakan dari berbagai penjuru. Gelas di tangan Presiden Tramp pecah bekeping-keping tapi untungnya tembakan kepada sang pemimpin negara meleset karena Jack, pengawalnya dari Secret Service, mendorong pria itu untuk segera merunduk.
Beruntung saat itu Profesor dan Duncan Tramp spontan merunduk hingga keduanya lolos dari hamburan timah panas. Sayangnya, tidak semua orang seberuntung keduanya karena rentetan tembakan menumbangkan lima orang di antara tamu-tamu. Seketika itu juga pecahlah kekacauan di dalam ruangan. Orang banyak berlarian kesana-kemari diiringi pekik ketakutan karena berusaha menghindari gerombolan bersenjata yang memakai topeng dan pakaian hitam yang muncul serempak dari keempat sisi ruangan.
Namun serangan mendadak itu tidak langsung membuat gerombolan asing itu dapat langsung mengendalikan situasi. Tim Secret Service yang menjaga Presiden beraksi melakukan serangan balasan. Tembak-menembak pun terjadi dalam jarak dekat. Akibatnya empat orang lagi tewas, semuanya dari pihak Secret Service, karena pertempuran yang tidak berimbang antara senapan otomatis beradu dengan pistol.
“Kita harus menyingkir dari sini,” Jack berseru kepada yang lain begitu mempelajari sekeliling. Dia berpaling kepada dua anak buahnya yang berada paling dekat dengan mereka. “Ryan…Bill…”
Keduanya merespon dengan mendekati Jack. Ketiga agen terlatih itu bertatapan sejenak sebelum saling mengangguk, “Dalam hitungan ketiga…” Jack lalu mengambil aba-aba. “Satu…dua…”
Tidak menunggu sampai hitungan ketiga, Bill melepaskan tembakan tanpa henti ke arah para penyerang bersenjata. Melihat itu, anggota tim Secret Service lain yang masih terlibat adu tembak dengan para ******* ikut memberondong.
__ADS_1
Pada saat bersamaan Ryan berlari ke pintu keluar yang berlawanan dengan posisi di mana para penyerang bersenjata berada, sesekali melepaskan tembakan sebagai pembuka jalan. Salah satu tembakan Ryan menewaskan penyerang yang berusaha menembaknya dari jarak dekat. Selang lima detik setelah Ryan membuka jalan, Jack memegang lengan Howard Tramp untuk membimbingnya berlari ke arah yang sama dengan Ryan.
“Ayo, Mr. Presiden…”
Bill yang berada paling belakang menunggu sampai Profesor McQueen dan Duncan Tramp ikut berlari di belakang sang presiden dan pengawalnya, sebelum dia sendiri mengikuti keduanya ke pintu keluar. Rombongan penyerang senjata berusaha mencegah Presiden keluar dari ruangan dengan melepaskan beberapa tembakan, tapi usaha itu terhalang karena Bill terus memberondong dengan tembakan cepat yang membuat para penyerang tidak berani mengejar untuk sementara.
Begitu Bill melewati pintu keluar barulah orang-orang itu keluar dari persembunyiannya dan menembaki pintu sampai hancur berantakan. Agaknya berharap salah satu dari peluru setidaknya mengenai anggota Secret Service atau Presiden dan teman-temannya. Sayangnya hal tersebut tidak terjadi sebab keenam pria itu berhasil lolos melewati lorong utama di lantai dasar sementara peluru-peluru yang ditembakkan cuma berhasil menghancurkan pintu atau dinding.
Orang yang tampak sebagai pemimpin ******* itu memberikan perintah dalam bahasa asing dan setelahnya empat orang dari mereka pun mengejar rombongan Presiden sementara tiga orang lainnya tinggal dalam ruangan bersama si pemimpin untuk menyandera para tamu yang masih hidup dan tersisa di hall.
Si pemimpin merenggut salah satu dari tawanan yang merupakan tamu undangan dan menodongkan pistol ke kening wanita itu, “Kuperingatkan kepada Secret Service… cewek ini mati bila kalian tidak meletakkan senjata kalian dan menyerah.”
Melihat itu para anggota Secret Service yang tertinggal dalam ruangan berpandangan sebelum mereka mengangkat tangan dan menaruh pistol mereka di lantai. Sayangnya, niat baik itu tidak dibalas dengan belas kasihan karena para ******* itu tetap menghujani mereka dengan tembakan menggila. Para tamu undangan menjerit ketakutan demi melihat tiga orang lagi anggota Secret Service yang tewas dihabisi secara brutal.
Di tempat lain, menyadari keadaannya belum aman, Jack terus membawa kedua anak-beranak Tramp bersama Profesor McQueen untuk terus berlari didampingi kedua koleganya sebagai pengawal yang mengamankan situasi jalan di depan dan belakang. Ketiga anggota Secret Service itu serempak membawa ketiga orang penting tersebut ke lantai dua sebab bagi mereka lebih aman berlindung di dalam bangunan daripada berusaha keluar tanpa mengetahui berapa banyak ******* yang menunggu di sana.
Mereka menaiki tangga darurat bertepatan dengan hancurnya pintu ballroom. Salah seorang pria bersenjata celingukan, mungkin karena tak menemukan target yang mereka buru. Dia meneriakkan sesuatu kepada gerombolan bersenjata di dalam sebelum keempat ******* itu menyerbu mencari sasaran mereka yang hilang dari lorong utama.
***
“Aku kok bisa begitu bodoh… lupa kalau aku masih memakai rompi ini sewaktu pergi dari gudang,” Lana memaki dirinya sendiri saat dia dan Jordan tiba di lantai empat.
“Mungkin kamu terlalu bersemangat buat ketemu Howard Tramp,” Jordan menanggapi.
“Tidak sering kita bisa bertemu orang nomor satu di negara ini, bukan?”
“Kukira karena ayahmu bekerja sama dengan anaknya maka kalian punya akses mudah untuk bertemu kapan saja.”
“Tidak begitu juga!” Lana menggeleng. “Kenyataannya kedua Tramp itu jarang ketemu, mereka punya kesibukan masing-masing. Dan Daddy hanya bisa ketemu Presiden lewat Duncan Tramp.”
__ADS_1
Lantai empat tampak lengang, hanya terdengar dengung mesin pendingin ruangan dengan pintu-pintu yang tertutup. Oleh karena itu Lana heran mendapati dari kejauhan pintu ruang penyimpanan yang terbuka, Apa sedang ada orang di dalam sana, ya?"
Suara yang akrab berbisik di benak Jordan mulai berkata dengan senewen, ‘Jangan biarkan dia masuk ke dalam. Bahaya!’
"Bagaimana menurutmu kalau kita turun saja? Aku punya perasaan buruk," ujar Jordan.
"Jangan aneh-aneh, ah! Tidak ada yang perlu ditakutkan kok di sini. Paling-paling si petugas keamanan lupa menutup pintunya saat mengusir kita keluar. Eh, apaan ini?"
Sepercik genangan cairan merah kental di lantai menarik perhatian gadis itu begitu tinggal beberapa meter dari ruang penyimpanan. Di sebelah bawah genangan itu ada bentuk menggelincir, seolah ada sesuatu yang berat ditarik darinya.
"Rasanya ini belum ada sewaktu kita pergi."
"Itu darah," Jordan menyela dengan wajah tegang.
"Darah?" Lana mengernyit.
Jordan berjalan cepat menuju ke prototype mobil terbang dan bersamaan dengan pintu belakang yang dibukanya tubuh tak bernyawa sang petugas keamanan yang menegur mereka beberapa jam lalu merosot keluar dengan mata melotot dan lubang di dahinya.
"Tuhanku!" jerit Lana disertai wajah yang pucat. "Apakah dia... apakah dia mati?"
"Kita harus segera keluar dari sini," Jordan mengindahkan pertanyaan bodoh itu karena menyadari bahaya yang mengancam.
Keduanya berbalik keluar menuju ke pintu ruang penyimpanan saat Lana berkata, "Apa tidak sebaiknya kita memberi tahu petugas keamanan lainnya di luar sana?"
"Ide bagus," jawab Jordan. "Bagaimana kita melakukannya?"
Lana ingat ada semacam tombol darurat untuk hal-hal genting seperti yang terjadi saat ini, Ayahnya pernah memberi tahu ketika suatu hari anak buah sang ayah menyelesaikan pemasangan sistem tersebut setelah terjadinya kecelakaan kerja di dalam laboratorium yang merenggut nyawa tiga orang pekerja. Kalau tidak salah benda itu dipasang di balik pintu, menjadi satu bagian dengan sistem pembuka pintu otomatis.
Benar saja… gadis itu menemukan tombol kecil berwarna merah di bagian bawah konsol yang dipasangi mesin akses otomatis pemindai tangan. Lana McQueen baru saja hendak menekan tombol darurat tersebut sebelum seseorang menghardiknya dari belakang, “Jangan coba-coba berpikir buat melakukannya…”
__ADS_1
***