
Gerimis yang turun di sore hari itu tidak menyurutkan kesibukan di jantung kota Jakarta. Kemacetan yang merupakan hal lumrah tetap menghiasi jalanan, dan lalu lintas itu membuat Mr. Janus sedikit jengkel, apalagi ketika mobilnya berhenti di halte di mana pria bertubuh tinggi besar itu menunggu dengan payung yang terayun ke kiri kanan.
Begitu melihat Lexus perak menghampiri, pria itu mengembangkan payungnya, seolah tak rela dirinya terkena percikan air hujan sedikit saja dan berjalan mendekat. Senyumnya terkembang begitu membuka pintu kendaraan roda empat tersebut dan melihat Mr. Janus duduk di dalamnya, “Tumben anda memakai mobil.”
“Masuklah! Nanti air hujan masuk ke dalam mobil kalau kamu tidak segera masuk.”
“Mobil yang bagus!” Balin menepuk-nepuk kursi dan bagian sisi pintu yang terbuat dari kulit. “Aku tidak tahu Terra Empire memiliki fasilitas macam ini.”
“Terkadang mobil macam ini dibutuhkan,” kata Mr. Janus.
“Demi memberi impresi?” goda Balin Pati.
“Aku paham cara berpikir orang-orang di sini, terutama pejabatnya, yang masih melihat penampilan. Kamu sendiri? Kenapa kamu tidak memakai mobilmu? Malah memintaku menjemputmu yang membuat jalurku memutar?”
“Jangan salahkan bila aku menikmati waktu minum kopi bersama sekretaris cantik, setelah bossnya aku beri Amnesinox.”
“Minum kopi? Jadi kamu tidak langsung pergi setelah bertemu James Howell?”
“Masih perlu beberapa menit sebelum Howell siuman, sementara sekretarisnya masih di situ,” Prefect Pati mengangkat bahu.
“Ya, ya…aku paham…”
“Dan kebetulan ada tempat ngopi enak dan teman ngobrol yang lumayan.”
“Ya, ya …aku paham. Itu sebabnya kamu tidak bisa pulang mengambil mobilmu,” Mr. Janus mengangkat tangannya karena tidak berminat mendengar ucapan Balin lebih lanjut. “Jadi semua sudah ditangani?”
“Yeah, aku sudah mendapatkan nomor ponselnya dan gadis itu bersedia kuhubungi…”
“Bukan dia…” Mr. Janus menyela.
“Oh, James Howell? Jangan kuatir! Dia tidak akan mengoceh lagi.”
“Dan Prime Minister Hampbull?”
__ADS_1
“Dia sudah melupakan soal teknologi nuklir begitu negosiasi Howell denganmu gagal.”
“Bagus! Jadi tidak ada lagi yang perlu kukuatirkan.”
“Tidak di wilayahku,” Balin berkata. “Bagaimana kabarnya Clementine? Kudengar dia mengalami sedikit kesulitan mengendalikan wilayahnya gara-gara ulah Amerika.”
“Sebaliknya, Amerika juga disulitkan gara-gara ulah Shah Iran dan orang-orangnya.”
“Tidak terbayang kalau mereka berhasil membunuh Tramp. Kematian di pabrik pencipta drone yang menyerang Abadan. Terdengar menyedihkan,” komentar Balin.
“Bumi sedang di ambang masa sulit.”
“Kapan hal itu tidak pernah terjadi?” Balin balik bertanya.
“Aku hanya tidak ingin membayangkan bila itu terjadi ketika Sasmahogra tidak lengkap.”
Mendengar itu wajah Balin menjadi serius, “Seserius apakah perkembangannya?”
“Dengarkan penjelasan seluruhnya nanti di pertemuan bulanan kita dua minggu lagi. Aku akan memberikan gambaran menyeluruhnya untuk kalian semua,” kata Mr. Janus.
“Terkadang aku berpikir akan lebih baik bila kursi Cezar kembali diisi, bersama dengan posisi Prefect Atlantic Territory, yang tentu lebih meringankan pekerjaanku.”
“Akan lebih mudah bila kau menemaniku menonton Fruorio minggu depan.”
Mr. Janus terkekeh, “Terkadang itu membantu melepas stress.”
“Bekerja untukku!” komentar Balin. “Sayang anda melewatkan pertandingan kemarin.”
“Apakah Titans Teens masih bertahan?”
“Masih, tapi kurasa tidak lama lagi karena beberapa monster baru yang masih asing kekuatannya sudah ditambahkan, dan kurasa binatang-binatang itu tidak mudah dihancurkan.”
“Ingatkan aku untuk menontonnya,” ucap Mr. Janus.
__ADS_1
Pembicaraan mereka terputus karena Lexus yang membawa Mr. Janus dan Prefect Pati telah sampai ke tempat tujuan. Keduanya turun di halaman sebuah rumah besar di kawasan Menteng yang memang difungsikan sebagai salah satu kawasan rumah dinas para menteri. Keduanya disambut oleh seorang petugas keamanan berseragam biru yang mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.
Ruangan itu dihiasi lampu kristal dan sofa empuk berbahan velvet. Furniture seperti meja, kursi, lemari hiasan, serta gebyok terbuat dari kayu mahoni yang tidak hanya tampak mahal dari ukirannya yang rumit melainkan juga aroma khas dari kayunya, meskipun pelitur telah menutupi sebagian besar materinya. Lukisan yang tergantung di dinding yang bersisian dengan sofa menampilkan pemandangan pantai Kuta saat matahari sedang terbenam. Kuatnya paduan warna antara pasir yang putih dengan cahaya merah membara yang membias dari matahari terbenam mengindikasikan bahwa pelukisnya berjiwa nasionalis…
“Bukan hanya pelukisnya,” komentar Balin. “Orang yang menyimpan lukisan ini juga cinta Indonesia, karena lukisan ini penuh nuansa warna bendera kami. Anda mungkin tidak paham hal ini.”
Mr. Janus mendengus, “Karena aku berasal dari Swedia? Kami mengerti apa itu nasionalis. Berkomentar seperti itu lagi akan kucabut kewarganegaraanmu dari Terra Empire.”
Balin Pati tertawa terkekeh mendengarnya…
Taufiq Dault, sang Menteri Energi, menyambut mereka di ruang tamu dengan senyum cerah. Pria itu bertubuh kecil dan berkacamata, dahinya yang lebar menunjukkan bahwa dirinya tipe pria yang pintar, di mana itu terlihat dari kartu nama yang diberikannya kepada Mr. Janus dan Balin Pati ketika bertukar tanda pengenal. Si pejabat ternyata memiliki dua gelar pendidikan tinggi, Master of Management dan Master of Engineering. Sepasang gelar prestisius yang kemungkinan besar menjadi alasan kenapa pria itu dipilih memegang jabatan Menteri Energi. Meski begitu, Taufiq Dault punya sedikit rasa minder, yang terlihat ketika dia berdiri dekat Balin yang bertubuh tinggi besar.
“Mr. Janus. Pak Pati! Silakan duduk!” pria itu mempersilakan. Lalu menatap Mr. Janus. “Do you want to continue this discussion with English?”
“Saya pikir dalam Bahasa saja agar lebih nyaman bagi kita semua,” jawab Mr. Janus.
Wajah Taufiq Dault makin cerah mendengar jawaban itu, “Aku tidak tahu kalau anda bisa Bahasa…”
“Saya suka mempelajari bahasa dari negara di mana saya akan bekerja sama.”
“Nice…” Taufiq Dault mengangguk-angguk.
“Dan kalau saya melewatkan ucapan anda yang tidak saya mengerti, mungkin Pak Balin akan membantu saya juga,” Mr. Janus menoleh kepada Balin dengan tatapan usil.
Sang menteri masuk ke pokok persoalan, “Saya harap anda berdua tidak keberatan kalau saya mengundang anda ke rumah dinas saya. Persoalan ini sensitif dan saya tidak ingin pers atau pengusaha Indonesia lain salah sangka tentang apa yang akan kita bicarakan ini.”
“Kami mengerti! Gerah juga bila muncul gosip ada konspirasi atau kongkalilong tertentu dalam kerja sama kita,” Mr. Janus menanggapi.
“Yang jelas saya sudah mendapat disposisi dari bapak Presiden untuk melanjutkan rencana ini sampai terealisasi. Segala teknis soal kebijakan dan pelaksanaan di lapangan, anda akan bicara lebih lanjut kepada saya saja, Mr. Janus! Langsung kepada saya karena Bapak ingin proyek ini bisa segera terlaksana.”
Mr. Janus mengangguk, “Saya sudah bicara dengan Pak Wibowo dan dia memang sudah menekankan hal itu. Dia setuju bahwa pemakaian minyak dan batu bara harus segera dikurangi dari Indonesia. Nuklir bisa menjadi sumber alternatif, atau bahkan menggantikan, dari sumber energi yang selama ini digunakan.”
“Yeah, saya sudah membaca proposal anda. Saya baru menyadari bahwa eksploitasi yang dilakukan dengan mengangkat sumber energi, seperti minyak bumi atau batu bara, dari dasar bumi bisa membahayakan ikatan sedimen dan lempeng yang menjadi landasan daratan.”
__ADS_1
Perkataan sang menteri terputus karena saat itu pelayan datang membawakan minum bagi para tamu. Sang tuan rumah melambaikan tangan kepada Mr. Janus dan Balin, “Silakan diminum dulu tehnya selagi hangat…”
***