TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 36 : BERITA EKSKLUSIF


__ADS_3

Abel Felaini baru saja selesai mengerjakan materi yang akan diunggah untuk berita esok hari di portal perusahaan ketika ponselnya bergetar. Dipandanginya nomor yang terpampang di layar. Nomor itu tak dikenalinya. Biasanya dia tidak pernah menggubris panggilan dari nomor asing, tapi kali ini diputuskannya untuk mengangkatnya, “Halo? Abel Felaini di sini, siapa ini?”


“Jadi itu namamu sekarang?” suara di balik telepon itu malah menanggapinya dengan cemoohan. “Halo, Abel Felaini…atau perlu kupanggil namamu Abel Hisram?”


Abel Felaini terdiam sebentar, rasanya suara ini tidak asing, dia pernah mendengarnya dari suatu waktu di masa lalunya, “Amir?”


“Ya, aku Amir Bin Khalif!”


Abel kaget mendengar nama itu, spontan dia menoleh ke kanan-kiri, dan lega karena sebagian besar karyawan di tempat tersebut sudah banyak yang meninggalkan tempat kerja, “Sudah lama tak mendengar kabarmu, bung! Kamu pasti menghubungiku bukan sekedar ingin menanyakan kabarku, kan?”


“Sepertinya kamu sudah terlalu lama jadi orang Amerika sehingga lupa kebiasaan timur, Abel?” tegur orang di telepon.


“Tidak cukup lama untuk melupakan apa yang kalian lakukan sehingga aku harus pergi dari sana secepat mungkin,” tandas Abel Felaini.


“Aku tidak termasuk mereka yang percaya bahwa kamu melakukan hal itu…”


“Yeah, itu sebabnya aku masih mau bicara denganmu.”


“Selalu bersikap sentimental seperti Abel Hisram yang kukenal dulu.”


“Jadi katakan padaku soal apa ini, Amir?”


“Aku ada di sini…di San Francisco…apakah sudah ada berita mengenai kami?”


“Kekacauan apa lagi yang kalian buat?” insting sang wartawan yang terlatih langsung mencium adanya berita yang tidak boleh dilewatkannya.


“SFPD hebat dapat menahan ini dari penciuman kalian, para awak media. Tapi mau sampai berapa lama ini bertahan?”


“Di San Francisco sebelah mana kamu berada tepatnya sekarang?” pria itu buru-buru mengambil buku notes untuk mencatat hal-hal penting dari pembicaraannya.


“Machina Factory…”

__ADS_1


Abel Felaini mengerutkan kening, “Machina Factory di Brisbane? Astaga, apa kamu mau membunuh Duncan Tramp?”


“Bukan! Ayahnya…”


“Howard Tramp? Presiden Howard Tramp?” Abel kaget mendengar jawaban itu, “Aku tidak tahu kalau dia akan berkunjung ke San Francisco.”


“Hanya sedikit orang yang tahu informasi itu.”


“Lalu kalian ke sana untuk…” mendadak Abel Felaini bak mendapat jawaban yang masuk akal di benaknya. “Semua ini karena masalah di Abadan itu, bukan?”


“Kamu tahu aku tidak pernah menanyakan alasan untuk misi yang harus kulaksanakan,” Amir Bin Khalif menjawab. “Hanya saja, kurasa aku akan gagal karena pria brengsek itu berhasil melarikan diri.”


Abel Felaini bersorak dalam hati, dugaannya benar…ini sungguh berita besar…besar dan masih segar…di mana dia akan menjadi orang pertama yang mengungkap ini ke publik. Menjadi orang yang menerima berita itu langsung dari sumber pertama, yakni si ******* itu sendiri, laksana mendapat keberuntungan dari langit.


‘Presiden Tramp Selamat dari Serangan *******’, begitulah judul berita yang sudah terbayang di benaknya…dengan namanya tercatat di bagian bawah artikel, tentunya…hanya saja aneh rasanya bila Amir Bin Khalif menghubunginya hanya untuk memberi tahu kegagalannya di negara yang dibencinya.


“Aku mendengarkan…” Abel berkata acuh tak acuh, dia tak ingin teman lamanya menjadi jual mahal bila ditanggapi dengan antusias.


“Dan bagaimana kamu mau melakukan itu?”


“Tulis di artikelmu, ******* yang menahan tiga puluh orang sandera di Machina Factory akan membunuh mereka satu per satu, setiap setengah jam, bila Presiden Tramp tidak kembali dan menyerahkan dirinya sebagai ganti nyawa mereka.”


“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Abel terhenyak.


“Aku sudah menembak mati satu orang begitu helikopter kalian pergi membawa si Presiden sinting,” sahut Amir Bin Khalif dengan entengnya.


“Tiga puluh orang? Itu berarti lima belas jam lagi?”


“Aku orang yang murah hati, Hisram! Rasanya tidak perlu sampai lima belas jam kalau Presiden kalian sungguh memikirkan keselamatan rakyatnya.”


“Dan kalau dia tidak kembali ke Machina Factory, dia akan dicap sebagai pengecut yang tidak mementingkan rakyatnya. Itu yang kamu mau, bukan?”

__ADS_1


“Aku boleh gagal membunuh secaravfisik, tapi aku tak menyerah membunuh citranya.”


“Dengan kata lain, kamu bolehvdipermalukan tapi kamu juga mau mempermalukannya.”


“Seperti pepatah lama, gading tidakvbisa digantikan oleh tanduk...hanya kepala dengan bola matanya.”


“Yeah, seperti yang kamu bilang…” Abel Hisram bergumam perlahan, menimbang-nimbang segalanya sebelum memutuskan posisi. Ide judul berita tentang Presiden yang berhasil melarikan diri dari sergapan ******* di sebuah laboratorium penelitian di San Francisco telah digantikan judul lain yang lebih provokatif seperti, ‘Tramp Tega Meninggalkan Tiga Puluh Warga Sipil Tewas di Machina Factory’ atau ‘Tidak Mengindahkan Tuntutan *******, Tramp Biarkan Tiga Puluh Warga Sipil jadi Korban’. “…kurasa itu akan jadi sesuatu yang menarik buat sebagian orang. Hanya sebagian orang saja…”


“Jangan terlalu naïf menilai pemerintahan negara barumu! Kami tahu suara kalian terpecah untuk orang itu.”


“Kupikir kamu tidak tertarik mendengar situasi politik di negara orang lain.”


“Kamu akan terkejut…”


“Kamu janji akan memberikan beritanya eksklusif kepadaku?”


“Hanya kamu orang yang kukenal di negara ini, Hisram…”


“Oke, kalau begitu ceritakan semuanya padaku…”


Abel Felaini menyimak kalimat demi kalimat yang diucapkan teman lamanya, Amir Bin Khalif, di telepon, seraya mencatatnya tanpa jeda ketika di tempat lain Jordan Cross dan Lana McQueen juga mengamati ketika orang-orang yang mengejar Kepala Keamanan Tim akhirnya kembali.


Wajah si Kepala Keamanan begitu memelas ketika dirinya digelandang oleh para awak SFPD dengan tangan terikat ke belakang. Beberapa anak buahnya yang ikut mengejar juga tertunduk lesu, mungkin karena merasa malu karena sang pemimpin bisa bertindak di luar kendali.


Tanpa bersuara, polisi memasukkan pria itu ke mobil patroli SFPD yang masih tersisa dan utuh keadaannya. Polisi mengatakan sesuatu kepada Tim supaya dia duduk tenang di bangku belakang mobil dan mengambil waktu supaya dia merenungi perbuatan gila yang diperbuatnya barusan.


Letnan Mills, Jack Higgins, dan Bill Sandford juga ikut kembali ke tempat itu, ketiganya tiba belakangan dengan wajah kuyu. Tekanan tentu saja berada di pundak Letnan Mills sepenuhnya sebab kedua agen Secret Service itu sudah tidak punya lagi beban atas kewajiban mereka. Presiden sudah berhasil mereka amankan…titik…dan kehadiran keduanya mungkin hanya memberi bantuan ala kadarnya, atau mungkin tidak lebih dari penonton seperti Jordan, Lana, dan Profesor McQueen.


Walaupun tidak tahu persisnya apa yang terjadi di tempat pendaratan helikopter, karena Jordan tetap menemani Profesor McQueen dan Lana di tempat semula, namun dia sadar Kepala Keamanan Tim gagal menghentikan Presiden Tramp yang kini sudah pergi jauh. Helikopter tinggal landas dengan tenangnya dan tak berapa lama kemudian, Carl Trish menemui ajalnya.


Beberapa menit lalu semua orang yang ada di sini mendengar dentuman pistol yang kedua. Di atas sana, Jordan melihat dengan jelas bunga api yang memercik seiring letusan, diikuti siluet tubuh manusia yang roboh. Tidak perlu dijelaskan siapa yang menembak dan siapa yang roboh. Profesor McQueen meraung marah, tidak terima asistennya bernasib sial begitu. Dia merintih pelan, “Berapa banyak lagi yang harus mati?”

__ADS_1


***


__ADS_2