TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 4 : KESAN PERTAMA DENGAN HANTAMAN LOKER


__ADS_3

Jordan Cross berhenti sejenak di halaman, mendongak untuk menatap papan besar yang menempel di bagian atas bangunan sekolah di hadapannya, walau matanya terpicing karena pantulan cahaya matahari pada papan tersebut tapi dia masih bisa membaca nama sekolah yang terpahat di sana, LYNBROOK HIGH.


Dia menghela nafas panjang, kesan pertamanya pada tempat ini tidak menyenangkan... dia benci tempat ini saat pertama kali menginjakkan kaki di tangga bangunannya pada minggu lalu saat mendaftarkan diri… bukan karena logo yang aneh pada papan itu, yang baginya tampak bagaikan lingkaran wajah orang yang mengejek, atau bangunannya yang serba lancip dan banyak sudut mati yang terkesan menyakitkan tapi ada suatu perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Namun mau bagaimana lagi kalau hanya sekolah ini yang bersedia menampung anak-anak dengan tunjangan dari bantuan sosial pemerintah seperti dirinya…paling tidak ini yang bisa diusahakan Sally dengan kondisinya yang serba kekurangan dan tidak pernah bisa memberi tanggungjawab yang baik atasnya.


Remaja itu mencengkeram tali ranselnya lebih kencang saat menaiki tangga sekolah dan melewati beberapa remaja lain yang juga berjalan dengan bergegas menuju ke dalam bangunan. Yang ditemuinya di lobby semakin membuatnya puyeng, suasananya tidak ubahnya dengan pasar dan lorong menuju ruang-ruang kelas di lantai dasar yang memang sudah sempit terlihat semakin tidak bersahabat dengan banyaknya remaja yang juga sedang berkerumun di sana.


“Permisi…permisi..” Jordan berucap berkali-kali selagi menyeruak melintasi lorong.


Mereka yang dilintasi oleh Jordan seperti tidak peduli pada keberadaan dirinya, tetap sibuk berbincang dengan teman mengobrol mereka atau sibuk mengambil barang-barang dari loker, yang memang diletakkan di lobby tersebut sebagai sebuah cara efisien yang tidak efektif. Semula loker-loker itu mungkin sengaja ditaruh di lobby demi mempermudah para siswa menaruh atau mengambil barang yang disimpan di sana sebelum masuk kelas, dan sebagai akibatnya lorong itu malah menjadi semakin sempit.


Jordan tidak tahu apakah dia akan mendapat loker semacam ini, seharusnya sih begitu bila sekolah ini sama seperti sekolahnya dulu yang menyediakan loker sebagai salah satu fasilitas bagi pelajar sepertinya, namun bila tidak pun dia tak mau ambil pusing. Tidak banyak yang dibawanya ke sekolah selain ransel yang sedang dia panggul.


Satu-satunya yang membuat kerumunan remaja itu sedikit menyingkir adalah ketika ada gerombolan lain yang lewat dari arah pintu masuk, sama seperti yang baru saja dilalui Jordan, dimana gerombolan itu terdiri dari cowok-cowok bertubuh kekar dan besar yang merupakan anggota tim rugby sekolah. Dengan entengnya mereka menyingkirkan semua orang, beberapa anak yang berkerumun di lorong itu pun serta-merta menyingkir dengan suka rela karena tidak ingin kena sodok.


Keriuhan yang ditimbulkan gerombolan anggota rugby itu terjadi amat cepat, Jordan yang terlambat menyadari pun terdesak hingga menabrak loker, “Ouucchh…” erangnya saat menahan nyeri di pinggang akibat terkena sodokan tinju salah satu anggota gerombolan dan juga bahunya yang baru saja menghantam sisi loker.


Anak lelaki berambut keriting yang merupakan pelakunya memelototi Jordan dengan galak, “Makanya lihat jalanmu, bocah aneh!”


Jordan membetulkan pegangan ranselnya dengan kesal, bukannya minta maaf anak berambut keriting itu malah menertawakannya dan tetap mengikuti kepergian gerombolannya. Begitu gerombolan itu berlalu cepat, kerumunan siswa di lorong itu kembali menyemut. Yang mengobrol kembali mengobrol, yang sibuk dengan isi lokernya juga kembali menyusun-nyusun, kehadiran gerombolan tadi tidak terlalu dipusingkan seperti halnya ketiadaan dirinya saat menyelinap di antara kerumunan tersebut beberapa menit sebelumnya.


Si remaja belum sempat melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas ketika wajahnya tiba-tiba membentur tutup loker yang sedang membuka. Jordan terlambat menyadari kalau loker di dekatnya itu dalam keadaan terbuka, tak ayal wajahnya menghantam pintu loker keras sekali. Hantaman itu menimbulkan bunyi debaman yang mengiringi pekikan kecil pemilik loker yang juga baru menyadari ada orang di dekatnya saat membuka loker. Jordan tak sempat mendengar pekikan itu karena pandangannya berkunang-kunang dan jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


“Ya, ampun! Maafkan aku!”


Jordan hanya bisa terduduk layaknya orang bodoh, dia menatap ke kanan-kiri, masih belum menyadari siapa orang yang menegurnya tadi. Yang disadarinya malah tasnya yang tergeletak di dekatnya dalam keadaan terbuka dan isinya berhamburan keluar, sementara beberapa remaja yang sempat melihatnya menabrak pintu loker yang membuka tadi malah menertawakannya atau tersenyum-senyum mengejek.


“Kamu tidak apa-apa?”


“A..apa?” Jordan baru tersadar saat pandangannya kembali jernih.


Gadis berambut pirang sebahu itu memandangi Jordan dengan gugup, begitu gugupnya hingga berkali-kali membetulkan letak kaca-matanya, berlutut dekat Jordan. Begitu dekatnya hingga wangi odor beraroma lemon tercium oleh Jordan. Wajah gadis itu tampak cemas, tengah memandangi sesuatu di kepala Jordan yang baru disadari anak lelaki itu sebagai bengkak di keningnya.


“Astaga…kuharap itu tidak akan menjadi benjol besar…” komentar si gadis dengan kikuk, serba salah antara ingin meraba kening Jordan tapi juga bersikap jaim agar tidak terjadi kesalah-pahaman antara mereka atau juga remaja lain yang ada di sekitar.


“Tidak…tidak apa-apa…” sahut Jordan agar gadis itu tenang.


“Terima kasih…” kata Jordan setelah isi ranselnya kembali penuh.


“Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini.”


“Yeah, aku baru di sini. Ini hari pertamaku.”


Mata si gadis melebar, “Benarkah? Wah, selamat datang…” dia mengulurkan tangan yang segera disambut Jordan. “…kenalkan namaku Lana McQueen.”


“Aku Jordan Cross,” balas Jodan. “Senang berkenalan denganmu, Lana McQueen. Hey, apalah kamu bisa beritahu aku dimana kelas Mr. Banks berada?”

__ADS_1


“Oh, kamu ambil pelajaran Sastra Inggris?”


“Itu satu-satunya bahasa yang ingin kupelajari,” komentar Jordan.


Lana tertawa lepas, memperlihatkan behel sang gadis yang bertengger di dalamnya, “Kamu lucu! Padahal aku yang seharusnya mengatakan itu selain harus belajar bahasa Celtic.”


“Kamu dari Irlandia?”


“Wales.”


Jordan manggut-manggut, “Jadi dimana kelasnya?”


“Oh, sorry,” gadis itu terkekeh geli. “Kamu ikuti jalan ini ke ujung sana. Setelah itu belok kanan dan masuklah ke ruang nomor tiga di sisi kanan. Kamu tidak mungkin melewatkannya.”


“Terima kasih,” ujar Jordan seraya memberikan senyuman sopan sebelum meninggalkan gadis itu dan pergi ke kelasnya.


Seperti yang dikatakan Lana McQueen, Jordan tidak melewatkan ruangan itu, yang ternyata baru dimulai ketika dia masuk ke dalam. Mr. Banks, sang guru, memandanginya dengan bertanya-tanya dan Jordan segera berkata, “Selamat pagi, saya Jordan Cross, murid pindahan baru semester ini.”


“Halo, Cross. Senang kamu ada di sini. Pilih kursi sesukamu dan duduklah,” pria itu berpaling sejenak kepada murid-murid lain. “Beri salam pada teman baru kita, Jordan Cross!”


Kelas itu senyap, ucapan sang guru seakan tidak digubris sama sekali, cuma beberapa anak yang melambaikan tangan pada Jordan yang itu pun karena mereka tanpa sengaja berpandangan. Dia mengangguk dengan canggung lalu memutuskan duduk di bangku deretan depan yang kosong sama sekali karena semua anak memilih duduk di kursi-kursi mulai deretan ketiga dan keempat.


“Nah, tampaknya semua orang sudah siap dengan pelajaran,” Mr. Banks berkata dengan ceria, mencoba mencairkan suasana kelas yang kikuk. “Sekarang buka buku kalian, Hemingway halaman seratus lima puluh enam…siapa yang ingin membacakannya lebih dahulu?” dia menunggu beberapa saat sebelum kemudian menunjuk ke arah Jordan. “Kami belum pernah mendengar suaramu, anak baru! Silakan mulai membaca…”

__ADS_1


***


__ADS_2