
Citra hologram itu berupa piranti keyboard serta layar, dan yang hanya nampak di penglihatan Cointa sebagai ruang kendali di dalam sebuah satelit. Tangan wanita itu mengetikkan serangkaian deret angka, membuka enkripsi kode, memasukkan sejumlah angka baru, hingga di hadapannya terhampar beberapa satelit dan salah satunya adalah satelit militer Amerika.
Wanita itu terus mengetik sejumlah angka serta huruf untuk memasukkan virus berupa sebuah logaritma ke dalam satelit Amerika sampai kata sandi untuk masuk didapatkan. Tidak sampai dua menit, logaritma itu sudah berhasil memecahkan kode masuk dan Clementine mendapatkan citra ruangan pengendali satelit milik militer Amerika.
Dari sudut matanya sang Prefect memperhatikan jam Auris yang telah disetel untuk memandu perhitungan mundur mulai dari sepuluh menit lalu agar dirinya tidak kehilangan waktu yang berharga sedetikpun. Tujuh menit lagi. Dan kini bagian tersulit adalah merebut kendali drone yang tentunya berada di USS Jameson.
Tidak sulit menemukan posisi USS Jameson di tengah Samudera Hindia karena tidak banyak pula kapal berukuran besar yang lalu-lalang di lautan tersebut, apalagi dalam waktu seperti sekarang. Yang sulit adalah menembus pertahanan firewall yang dipasang lapis tiga untuk melindungi sistem komunikasi, navigasi, serta pengendali drone yang ternyata bernama Speedy Gonzales.
Clementine Cointa berkomentar pendek, “Kalian kurang ajar menggunakan nama tokoh kartun favoritku.”
Sekali lagi dimasukkannya virus ke dalam sistem komputer USS Jameson. Sejumlah angka serta huruf yang memiliki bentuk menyerupai sebuah tank menyerbu ke dalam jaringan satelit, yang kemudian segera turun ke jaringan kapal induk US Navy itu.
Menurut perhitungan di atas kertas, bila virusnya mampu memecahkan kode sandi tiap firewall selama dua menit tentu akan butuh waktu sekitar enam menit untuk mengambil alih kendali. Dan itu berarti dalam sisa waktu satu menit, dia harus sudah mengambil keputusan hendak diapakan drone tersebut sebelum mencapai targetnya di Teheran.
Satu menit…virus berhasil mendobrak dinding wall pertama…
Satu menit…virus berhasil mendobrak wall kedua…
Cointa mengira ini akan menjadi sesuatu yang mudah sebelum virusnya ternyata butuh waktu lebih lama buat mendobrak dinding wall ketiga…agaknya para ahli coding di USS Jameson berusaha keras mengirim virus balasan untuk menjaga wall mereka, yang sayangnya tetap bisa ditembus setelah dua menit setengah…
“YESSSS!!!” Clementine bersorak kegirangan.
Layar Auris memperlihatkan beberapa mode pengendali dan pikirannya bertindak spontan dengan mencari sesuatu yang bisa membuat drone itu kembali ke USS Jameson. Dia mencari-cari sekitar satu menit, namun belum kunjung menemukannya sampai kemudian matanya tertuju pada mode tombol berwarna merah bertuliskan Self-Destruct di sudut paling jauh di sebelah kanan. Diarahkannya kursor ke tombol itu dan ditekannya tombol Enter.
***
Komandan USS Jameson hanya bisa menatap nanar ketika layar di hadapannya dipenuhi gambar api yang merah menyala, padahal beberapa menit lalu dia masih melihat cahaya kota Teheran di depan yang siap jadi medan perang. Pria itu menoleh kepada tim pengendali drone Speedy Gonzales, “Apa-apaan itu tadi?”
“Dronenya hancur, pak!” jawab sang pilot dengan wajah syok.
“Sistem kendalinya hilang dari tangan kami,” sang navigator menambahi.
“Maksudmu dronenya bukan dihancurkan oleh pihak Iran?”
“Kami masih belum tahu! Sesuatu memasuki sistem komputerisasi dan mengambil alih program kendali drone untuk kemudian dihancurkan lewat program Self-Destruct.”
__ADS_1
“Dan sepertinya itu bukan virus kiriman pihak Iran, sir!” lanjut kelasi yang bertugas mengawasi pusat komunikasi kapal yang juga ada di ruangan tersebut.
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Karena ada sesuatu memasuki ruang pengendali drone lewat jalur komunikasi kita.”
“Dari mana datangnya itu?”
Kelasi itu menjawab dengan mantap namun disertai wajah kebingungan, “Secara teknis, pak….itu dari satelit pengintai kita sendiri…”
Sang komandan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal…dia tidak tahu laporan apa yang akan diberikannya kepada atasannya di Pentagon, dan sudah pasti segala macam alasan tidak bisa menjadi tameng, bagaimana pun misi ini adalah kegagalan baginya…
***
Clementine Cointa tersenyum puas melihat api yang bernyala-nyala di layar Auris. Itu menjadi tanda bahwa Speedy Gonzales sudah berhasil dilumpuhkan. Wanita itu bergumam kepada dirinya sendiri, “Tidak ada yang dapat melumpuhkan Speedy Gonzales selain dirinya sendiri.”
Pemuda yang menjadi model lukisannya bertanya karena melihat wajah Cointa yang telah berseri-seri kembali, “Apa-apaan itu tadi…” sikapnya bisa dimaklumi karena mungkin saja lelaki itu tidak tahu siapa Prefect Cointa sebenarnya, ataupun kalau dia tahu bisa jadi itu memang karakternya yang selalu ingin tahu dan suka mencampuri urusan orang. “… aku heran melihatmu, sebentar-sebentar serius…sebentar-sebentar berteriak kegirangan… lalu sekarang menggerutu soal Speedy Gonzales. Siapa itu Speedy Gonzales?”
Wanita itu malah tertawa melihat ekspresi sang model, “Kamu tidak tahu siapa Speedy Gonzales?”
“Dia bukan siapa-siapaku!”
“Kalau begitu kenapa kamu terus memanggil-manggil namanya dari tadi?”
Clementine Cointa malah semakin heran, “Kenapa tidak boleh? Kan tidak ada hubungan apa-apa di antara kita.”
Lelaki itu terkesiap, sepertinya baru sadar akan posisinya. Dia hanyalah seorang model lukis, sementara wanita ini adalah klien. Tentu…dia tentu bisa melakukan apa pun, memanggil siapa pun… karena memang tidak ada hubungan di antara mereka kecuali bisnis. Dia menanggapi dengan suara bergetar, “Ya… kamu boleh melakukan apa saja. Maafkan aku… aku lancang!”
Di pihak Clementine, saat itu dia baru melihat ada kekecewaan yang tidak main-main pada sikap pria muda itu dan hal itu membuatnya sadar. Sudah lama memang dia mencium sesuatu pada diri lelaki yang kerap disewanya sebagai model lukisan ini. Hanya saja dia tidak pernah ingin tahu lebih jauh karena itu tidak penting baginya, tetapi pada saat ini ketika pemuda ini justru mengetahui apa yang bisa dia lakukan dan keberhasilannya malam ini…
Dielusnya pipi pemuda itu, “Tidak perlu minta maaf! Aku mungkin terlalu keras padamu. Aku mau kok menceritakan kepadamu siapa Speedy Gonzales.”
"Sungguh?” pemuda itu menatap tak percaya.
“Aku akan menceritakannya setelah kita menyelesaikan lukisanku, bagaimana?”
__ADS_1
“Baiklah,” pemuda itu tersenyum senang. “Kita lanjutkan sekarang?”
“Bukan yang ini,” Clementine menunjuk lukisannya yang ditinggalkan ketika mendapat panggilan SOS. “Aku baru saja dapat ide baru untuk lukisanku.”
“Oh?” wajah pemuda itu kembali kecewa. “Kupikir kita akan mengobrol setelah lukisan yang ini selesai. Berarti masih akan lama?”
“Apa kamu keberatan berlama-lama denganku?”
Lelaki itu menggeleng, “Tidak…tentu tidak… hanya saja aku takut itu akan membuatmu mengeluarkan lebih banyak uang lagi untuk membayarku.”
Clementine tersenyum, “Uang tidak masalah buatku.”
“Apa kita mau mengerjakannya sekarang?”
“Boleh, cuma aku minta kamu melakukan sesuatu dulu untukku…mau?”
“Apa itu?”
“Buka pakaianmu.”
“Pakaianku?” lelaki muda itu terkejut. “Kenapa?”
“Karena itulah ide dasar lukisanku yang baru?”
Lelaki itu tersenyum mengangguk, “Aku paham, kamu mau melukisku telanjang.”
“Kamu paham juga…” Clementine lagi-lagi mengangguk.
“Naah, sudah…” ujar lelaki itu setelah melakukan apa yang disuruh sang klien nakal. “Pose apa yang kamu mau aku lakukan?”
“Pose bahwa kamu tidak mengingat apa yang baru saja kulakukan,” kata Clementine yang saat itu juga baru selesai memasang Tazzernya.
“Hah?” pemuda itu melongo. Detik berikutnya, tubuh lelaki itu mengejan sebentar sebelum roboh ke lantai karena sesuatu yang menyengatnya.
Clementine Cointa tersenyum melihat lelaki yang pingsan itu dan memberi perintah kepada Auris, “Auris koneksi ke Amnesinox!”
__ADS_1
***