TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 14 : PIGURA BERISI FOTO TUA


__ADS_3

Jordan tidak dapat berhenti dari kekagumannya melihat rumah Lana ketika dirinya tiba di rumah berlantai tiga yang terletak di kawasan Sunnydale, di tengah-tengah San Francisco, tersebut. Lana memberi tahu bahwa ayahnya membeli rumah kuno ini sekitar sepuluh tahun lalu karena harganya murah. Semurah-murahnya angka yang disebutkan Lana, bagi Jordan itu tidak terjangkau oleh Sally dengan pekerjaannya yang serabutan.


Setelah melakukan renovasi dengan beberapa perombakan maka rumah ini menjadi jauh lebih baik dari tampilan awalnya. Rumah ini memiliki bagian lengkap yang menjadi syarat sebuah rumah ideal seperti teras, ruang tamu, ruang utama atau ruang keluarga, ruang tengah, ruang kerja, kamar, dapur kotor, dapur bersih, dan lain sebagainya. Bagian-bagian yang disebut Jordan tidak fungsional namun ternyata penting untuk menunjang kenyamanan rumah ini untuk ditinggali.


Yang membuat Jordan makin terpesona adalah ketika Lana dapat menyalakan atau mematikan lampu-lampu, pendingin ruangan, atau peralatan musik di setiap ruangan hanya dengan berkata-kata.


Lana menerangkan dengan tersenyum-senyum demi melihat pandangan lucu temannya yang terkesan norak mendapati sesuatu yang sudah biasa baginya di rumahnya, “Garasiku juga ada fasilitas membuka pintu secara otomatis. Jadi aku tidak perlu susah-susah membukakan bila daddy terlambat pulang dari kantor.”


Pendek kata rumah ini merupakan kombinasi rumah bergaya Victoria dengan gaya modern sebuah rumah pintar yang memiliki segala fasilitas untuk mengatur segala aktivitas dengan otomatis.


“Woow, rumahmu luar biasa,” kata Jordan. “Ayahmu yang membangun ini semua?”


“Peralatan canggihnya, iya. Selain itu dia ditemani tukang bangunan untuk memugar sebagian besar rongsokan ini sepuluh tahun lalu.”


“Pantas kamu menyebutnya ayah terbaik di dunia. Aku juga kepingin punya ayah yang bisa memberikan rumah macam ini kepadaku,” Jordan tertawa.


“Oh, memangnya kenapa dengan ayahmu?”


“Aku tidak kenal ayahku. Sally dan aku ditinggalkan di panti asuhan oleh ibu karena dia tidak mampu merawat kami,” ekspresi Jordan berubah sedih.


“Aduh, maaf ya…aku tidak tahu…”


“Sally mungkin tahu siapa ayahku, karena umurnya sepuluh tahun waktu itu, tapi dia tidak pernah mengatakan apa-apa kepadaku soal pria  itu.”


“Apakah kamu sempat mengenal ibumu?”


“Sayangnya tidak,” Jordan menggeleng. “Aku masih bayi sewaktu diserahkan ke panti asuhan bersama Sally.”


“Berarti kalian sangat dekat, ya! Kamu dan kakakmu.”


“Aku tidak tahu bagaimana yang disebut dekat,” Jordan menggeleng. “Yang kurasakan justru Sally menganggapku sebagai beban. Dia harus kerja keras, bukan hanya buat menghidupi dirinya tapi juga aku. Selain itu, gara-gara aku, dia yang tadinya tinggal bersama Ibu jadi ikut dititipkan di panti asuhan.”


“Aku mengerti bagaimana rasanya tidak punya ibu. Untunglah ada Ayah yang menutupi kekurangan itu,” komentar Lana.


“Memangnya kenapa ibumu?”

__ADS_1


“Ibuku meninggal sejak aku dilahirkan,” ganti Lana menjawab dengan wajah sedih. “Orang tuaku mengalami kecelakaan mobil sewaktu mereka dalam perjalanan ke Santa Barbara untuk menghadiri undangan seminar di mana Ayahku jadi pembicara di sana. Di tengah jalan terjadilah tragedi itu. Mobil mereka masuk ke jurang. Ayahku yang berhasil lolos dari maut berusaha menolong Ibu yang kritis. Alat ciptaan yang sebenarnya akan jadi objek presentasi di seminar itu berhasil memperpanjang nyawa Ibuku sampai ke rumah sakit dan melahirkanku, hanya saja sesudah itu…”


Lana tidak sanggup melanjutkan ceritanya, Jordan mengangguk paham, “Aku ikut sedih mendengarnya.”


“Berarti kita punya kesamaan lagi buat dibagi, ya…” komentar Lana.


“Apakah ini ibumu?” Jordan bertanya begitu mendapati pigura besar yang tergantung di dinding utara bangunan, tepat di atas perapian, yang merupakan penguat gaya Viktoria yang ditampilkan rumah tersebut.


Pigura itu berisi gambar sepasang pengantin pria dan wanita yang tersenyum bahagia. Si pengantin pria mengenakan tuxedo hitam disertai dasi kupu-kupu, sementara pengantin wanita memakai gaun berenda warna gading dengan menggenggam buket bunga mawar merah di tangan. Keduanya sama-sama mengangkat jari manis mereka buat memamerkan cincin berlian yang tersemat di sana. Dari foto tersebut Jordan jadi tahu Lana mendapatkan rambut pirangnya dari ibunya dan mata birunya dari ayahnya.


“Satu-satunya foto tua yang dipertahankan Ayah. Kamu mungkin tidak percaya tapi foto ini dibuat dengan teknologi jaman dulu ketika mereka masih harus menggunakan rol film dan proses cuci foto.”


“Dia cantik…ibumu…” puji Jordan.


“Terima kasih,” tiba-tiba seseorang membalas komentar Jordan.


Jordan yang terkejut spontan berbalik dan mendapati pria berusia sekitar awal lima puluhan berdiri di ujung koridor ruang tengah. Rambut yang beruban panjang sebahu, wajah cerdas, dan dagu gelap karena ditumbuhi jenggot yang baru saja dicukur mengingatkan Jordan pada wajah ilmuwan jenius sepanjang masa bernama Albert Einstein. Hanya saja pria ini mengenakan kaca mata tebal, yang membuatnya tampak semakin pintar, tanpa orang perlu menguji seberapa dalam ilmunya.


Nyaris tidak banyak perubahan pada wajah pria itu dengan yang dilihat Jordan di foto pernikahan barusan, selain mungkin rambutnya yang berubah kelabu dari yang sebelumnya hitam. Orang itu berdiri dengan setelan necis berupa kaos turtle neck, celana korduroi, dan jas hitam yang menunjukkan bahwa dia memang sedang bersiap pergi ke acara besar di kantornya yang diberitahukan Lana kepadanya.


Ekspresi pria itu berkedut lucu kepada kedua remaja yang berdiri mematung di ruangan. Jordan langsung merasa canggung, menyadari bagaimana situasi ini memang kelihatan konyol. Dengan Lana yang matanya berkaca-kaca, dan entah sudah berapa lama pria itu mendengar obrolan mereka, dapat dipahami kalau pria itu akan punya pikiran bahwa Jordan nampak seperti membuat Lana menangis, yang mana dilakukannya di rumah mereka pula…


“Kupikir kamu akan memperkenalkan Daddy dulu dengannya, Lana?” pria itu memberikan ciuman dan memeluk anak gadisny dengan tetap melirik Jordan.


“Tentu…Jordan, kenalkan Ayahku…ini teman sekolahku, Jordan…”


Jordan menyalami lelaki itu, Perkenalkan nama saya Jordan Cross, Mr. McQueen.”


“Halo Jordan, saya Archibald McQueen,” lelaki itu membalas jabatan tangan Jordan. Dipandanginya Jordan dengan matanya yang biru, sebiru mata anaknya, Lana. “Kalian satu angkatan di Lynbrook?”


“Yes, sir!” Jordan mengangguk. “Di beberapa pelajaran seperti biologi, sains, sejarah, Sastra Inggris kami satu kelas.”


Lana menyela, mungkin untuk menutup kesempatan sang ayah bertanya-tanya lebih banyak, “Aku mengundangnya kemari untuk menemaniku makan malam karena Daddy kan ada acara gala malam ini di kantor. Kebetulan kakak Jordan juga harus lembur malam ini. Kasihan dia tidak ada yang membuatkannya makanan. Jadi kupikir…”


“Gaya sekali kamu…” goda Archibald McQuenn. “…seolah-olah seperti kamu bisa masak saja.”

__ADS_1


Wajah Lana bersemu merah, “Bukan begitu. Biasanya kan Nana memasak banyak untuk makan malam kita, apalagi kalau Daddy ada di rumah. Jadi kupikir Jordan bisa membantu kita menghabiskannya.”


“Kok kedengarannya seperti aku ini mesin penghisap makanan,” Jordan tertawa rikuh.


“Daddy lupa memberi tahu kamu… Nana tidak bisa tugas malam ini. Ada keluarganya yang sakit dan dia harus membantu merawat.”


“Hah? Masa? Kenapa Nana tidak mengabariku?” Lana kaget.


“Itulah. Dia baru tahu soal itu tadi siang dan terburu-buru karenanya. Jadi dia tidak sempat memberitahumu barangkali. Dia juga hanya mengirim pesan kepada Daddy kalau dia meninggalkan kunci di tempat biasa waktu Daddy mau pulang sebentar tadi sore.”


“Apakah Nana tidak meninggalkan makanan untuk kita?”


“Aku tidak mendapati apa-apa, sih waktu pulang tadi.”


“Yaahh…” wajah Lana tampak kecewa, dia menoleh pada Jordan. “Maaf, ya! AKu tidak tahu. Kalau begitu kita nanti kita ke Pizza Marzano saja buat makan malam.”


“Bagaimana kalau kalian ikut saja ke acara gala di kantorku? Di sana disediakan makan malam juga, kok!”


Lana mengerang, “Acaranya pasti lama dan membosankan. Bisa-bisa kami keburu kelaparan sebelum undangan diperbolehkan makan.”


Archibald McQueen tertawa, “Kalian boleh mengambil makanannya duluan. Setelah itu, selama acara kamu bisa mengajak temanmu ini melihat-lihat pabrik. Kurasa itu tidak masalah bukan Jordan? Lagi pula besok kalian libur akhir pekan, bukan?”


Jordan tersenyum, “Kurasa tidak masalah, sir! Aku tinggal memberi tahu Sally supaya dia tidak perlu cemas.”


“Sally? Dia Ibumu?”


Jordan tergelak, “Bukan! Dia kakakku.”


“Oh, bagus! Bilang juga padanya kalau kamu akan bertemu Presiden nanti.”


Mendengar itu Lana terperangah, “Presiden, dad? Maksudmu Presiden Tramp?”


“Yeap! Howard Tramp.”


“Wooow,” Lana mendadak bersemangat. “Boleh nanti aku berfoto dengannya?”

__ADS_1


Mr. McQueen menepuk tangannya dengan wajah geli melihat anak gadisnya begitu bersemangat, “Bukan hanya berfoto tapi juga kalian bisa ngobrol dengannya. Nah, kalau begitu ayo kita berangkat…”


***


__ADS_2