
Sebuah helikopter terombang-ambing di udara beberapa menit lamanya, menunggu dua orang di bawah sana membereskan area pendaratan helipad. Begitu mendapatkan kode dari salah satu petugas, helikopter itu pun mendarat dengan mulus di landasan. Baling-baling kendaraan udara tersebut masih berputar ketika pintu di lambung ruang penumpang dibuka.
Seorang pria berperawakan sedang dan tubuh berisi, janggut kelabu, rambut ikal, serta terbungkus setelan jas putih yang rapih keluar dari helikopter. Di belakangnya wanita berhidung bengkok berkulit coklat juga ikut turun. Bila sang pria memakai setelan jas, wanita itu justru memakai seragam yang dibungkus tunik berwarna senada. Wajah keduanya tampak ingin terburu-buru bertemu dengan seseorang, dan siapa lagi kalau bukan penguasa di gedung yang saat itu mereka kunjungi.
“Selamat datang, Mr. Janus…Miss Cointa…” wanita dengan pin elang yang tersemat di dada kanannya sebagai penanda bahwa dirinya merupakan anggota pengurus Gedung Putih menghampiri dengan gugup dan menyodorkan tangan untuk menyalami kedua tamunya. Keduanya membalas jabatan tangannya dengan meninggalkan kesan berlainan, Mr. Janus terasa ramah sementara si wanita begitu formal. Wanita itu melanjutkan, “Presiden Tramp sudah menunggu anda berdua.”
“Begitukah?” Prefect Cointa menyahut dengan sinis.
“Mari…” ujar wanita itu mempersilakan keduanya untuk mengikutinya.
Helipad berada di halaman belakang Gedung Putih yang memiliki luas lebih dari satu hektar, tetapi landasan tersebut dibuat hanya berjarak beberapa meter dari bangunan utama agar para tamu yang datang menggunakan kendaraan udara tidak perlu berjalan terlalu jauh.
Taman di area Gedung Putih yang mereka lewati tengah dipenuhi nuansa hijaunya rumput yang sepertinya terlepas dari cengkeraman kejam sengatan musim panas. Menjadi sesuatu yang menyegarkan pandangan orang-orang yang berjalan di sana. Bunga-bunga mawar yang tengah merekah meronakan pemandangan dengan iringan aromanya yang menenangkan syaraf. Ketika mendekati teras bangunan, gemericik kolam ikan dengan pancurannya mau tak mau menggoda sang Prefect untuk memandangi ikan koi yang tengah berenang dengan riangnya di dalam air.
Tidak sampai lima menit mereka tiba di Ruang Oval yang merupakan ruang kerja Howard Tramp. Mereka masuk setelah wanita itu mengetuk pintu dan mendapat jawaban dari dalam. Dipersilakannya kedua tamu itu masuk, sementara dia sendiri menutup pintu setelah keduanya berada di ruang kerja sang boss.
Howard Tramp sedang berdiri memandangi beberapa layar TV yang terpasang di ruang kerjanya dengan memegangi cangkir kopi. Warna hitam di kantong matanya menunjukkan betapa sang pemimpin negara Amerika itu belum kunjung tidur sehingga kopi di cangkir itu jadi sesuatu yang sangat penting baginya.
Salah satu TV saat itu tengah menayangkan berita terbaru dari Stasiun Televisi Al-Jizzra tentang situasi terakhir di Iran. Di sisi kiri menunjukkan suasana Abadan yang sepi bagaikan kota hantu karena penduduknya yang ketakutan akan datangnya serangan susulan sehingga memilih tetap berada di dalam rumah, sementara di sisi sebelahnya menampilkan suasana kota Teheran dimana banyak orang telah berkumpul di alun-alun kota, masing-masing membawa lilin demi menyatakan duka serta menangisi kematian tragis Jenderal Sulaimandi.
“Belum ada tanggapan apa pun sampai saat ini dari salah satu anggota parlemen atau Shah Iran sendiri. Sementara berduka, semua orang menunggu apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan pemerintah terkait pelanggaran wilayah yang begitu brutal ini…”
Ucapan si pembawa berita berlomba dengan suara penyiar dari stasiun berita lain di TV yang ada di sebelah TV yang sedang menayangkan kabar dari Iran, “Pasar saham pagi ini dibuka dengan hati-hati oleh para investor. Hanya beberapa mengambil koreksi atas nilai saham pada penutupan bursa kemarin sore setelah pernyataan yang diberikan Senator Frank Hill pada Press Conference di Event Military Defense di Michigan.”
“Pernyataan sang senator bahwa serangan itu diperlukan untuk menghentikan terror atas Amerika dan bahwa pemerintah serius menindak ancaman kepada negara kemungkinan tidak terlalu dianggap serius mengingat Senator dari Michigan tersebut adalah salah satu orang dekat Tramp. Ini tergambar dari koreksi yang tidak terlalu signifikan, sehingga bisa disadari bahwa saat ini pasar masih cemas akan dampak yang bakal terjadi bila kericuhan berlanjut…”
Howard Tramp meminum kopinya lalu menoleh kepada kedua tamunya yang masih berdiri di dekat pintu ruang kerja, “Ah, Mr. Janus dan Prefect Cointa. Menyenangkan sekali bisa menerima kalian pagi-pagi seperti ini. Mau kopi?”
“Hanya bila anda mau membuatnya sendiri, Howard!” Mr. Janus menanggapi.
“Kamu tahu aku tidak pernah membuat kopi sendiri,” Howard Tramp terkekeh. “Tapi aku bisa meminta seseorang yang bisa membuatkannya dengan cepat untuk kalian…” pria itu berjalan menuju ke mejanya. “…dan kujamin rasanya enak.”
__ADS_1
“Terima kasih tawarannya, Mr. Presiden tapi tidak terima kasih,” Mr. Janus menanggapi. “Bagaimana kalau kita langsung ke pokok persoalannya.”
“Selalu serius…itu gaya Mr. Janus yang sebenarnya di balik keramahannya… setidaknya itu yang dikatakan orang tentangmu,” Howard Tramp berseloroh.
“Dan tahukah apa yang dikatakan orang tentangmu, Tramp? Ego-maniak yang otaknya kosong,” wanita itu berdiri
membela Mr. Janus.
“Tenang, Clementine,” Mr. Janus memegang bahu wanita itu untuk menahannya.
Sang Presiden menanggapi ucapan Mainland Prefect dengan santai, “Yang dikatakan orang tentangku tidak penting, Prefect! Bagiku lebih penting mencapai tujuanku karena aku ini mantan pengusaha. Dan aku tahu sakitnya gagal mencapai tujuan ketika kamu pikir setiap orang mendukungmu.”
“Kita akan memulai pembicaraan kita dengan lebih beradab tanpa menjelekkan satu sama lain, setuju?” sela Mr. Janus karena Clementine Cointa masih ingin membalas ejekan Tramp.
“Silakan duduk, Mr. Janus…” Tramp melambaikan tangan ke kursi kosong di depan meja kerjanya yang kosong, lalu menatap Clementine Cointa. “Prefect…”
“Teknologi itu kami berikan kepadamu bukan untuk melakukan kebodohan macam itu, Tramp!” Mr. Janus berkata dengan kalem setelah duduk di salah satu kursi. “Tanggung jawab sebagai pemimpin negara ini juga sekaligus tanggung jawab sebagai penjaga keamanan dunia, apalagi dengan posisi kalian sebagai salah satu Dewan Keamanan PBB.”
“Apa benar kamu mendapatkan ancaman?” Mr. Janus balik bertanya. “Kamu sudah teliti tempat itu lebih awal buat memastikan kecurigaanmu yang berlebihan?”
“CIA sudah memberiku informasi yang akurat.”
“Kalau begitu CIA kalian payah! Tidak ada nuklir disembunyikan di benteng itu. Benteng itu tempat kegiatan militer biasa. Tidak ada salahnya tentara Irak melakukan aktivitasnya di sana. Itu teritori mereka.”
“Mungkin informasi kami salah! Atau mungkin Shah sudah menyembunyikan nuklirnya lebih dulu sebelum kami mengobrak-abrik tempat itu. Apapun alasannya kami tidak mau lagi menunggu serangan seperti beberapa Presiden sebelum aku. Cara preventif lebih baik bagi Amerika.”
“Menyerang negara lain dengan cara melewati teritorinya tidak bisa disebut tindakan preventif,” komentar Clementine Cointa.
"Apa kamu masih mau bilang kalau itu hanya tindakan sebagian *******, Prefect? Apa jadinya bila Amerika jatuh dan kami tidak dapat lagi membantu kalian memegang tanggung jawab di PBB gara-gara tingkah kutu yang kalian sebut *******?”
“Itu hanya alasan berkelit dari kesalahanmu. Pada kenyataannya, tempat itu bukan tempat persembunyian senjata nuklir.”
__ADS_1
“Mungkin, bukan! Tapi setidaknya tewasnya Jenderal Sulaimandi di tempat itu lebih berharga dari menemukan tempat persembunyian senjata nuklir. Dan orang sialan itu jelas lebih berbahaya dari peluru nuklir yang mana pun.”
“Jadi sekarang kamu mau bilang ini pembalasan dendam?” Mr. Janus mengangkat alis. “Balas dendam dengan alasan apa? Dia tidak pernah berurusan dengan negaramu.”
“Mungkin tidak secara langsung. Hanya saja yang dilakukannya dengan pembunuhan mengerikan serta genosida suku-suku disana…kurasa banyak orang yang justru berterima kasih padaku,” Howard Tramp berkata dengan begitu percaya diri.
“Apa kamu pikir, Shah Iran tidak akan tinggal diam setelah ini?” Prefect Cointa kembali bertanya. “Dia tidak menggubris teleponku. Dan balasan terakhirnya dari teks yang kukirim adalah rasa sakit hatinya. Kamu tahu apa yang terjadi kalau orang timur sakit hati?”
Sang Presiden memandangi Prefect Cointa sejenak lalu mengangkat bahu, “Biarkan dia datang. Kami siap menyambutnya.”
“Kamu siap mengobarkan perang untuk sesuatu yang absurd?” Mr. Janus bertanya.
“Melakukan keadilan kepada penjahat dunia yang dilindungi suatu negara yang tidak mengindahkan kepentingan bersama…sesuatu yang bisa kalian ketahui bagaimana mereka mempersiapkan diri dengan teknologi serta persenjataan mereka yang selalu didasari nuklir… bagiku adalah keharusan. Rasanya itu juga yang akan kalian lakukan pada seseorang yang mengancam keteraturan di bumi, bukan?”
“Apa yang akan kami lakukan bukan urusanmu! Kebajikan yang kami punya, keadilan yang kami ikuti, itu sesuatu yang mungkin belum bisa kamu ikuti, Mr. Presiden. Yang jelas saat ini banyak orang-orang sepertimu di luar sana yang masih kami biarkan hidup….asalkan…” Mr. Janus mengangkat telunjuknya. “…mereka bisa bekerja sama. Hanya karena membuat satu kesalahan bodoh bukan berarti kalian tidak bisa diperbaiki.”
Howard Tramp tiba-tiba tidak berani memandang langsung ke mata pria di hadapannya. Kesungguhan yang ditekankan dalam ucapan Mr. Janus barusan membuatnya menyadari kalau pria ini sanggup melakukan apa pun yang dia mau, bahkan jauh mengerikan dari apa yang mungkin diperbuat Shah Iran.
“Tenang saja, aku siap bekerja sama kok selama itu untuk kepentingan negara. Aku orang yang mudah diajak kerja sama,” sahut Howard Tramp.
“Kalau begitu kami hanya minta satu permintaan mudah. Tahan semua serangan militer kalian ke tempat itu untuk sementara waktu. Dan tidak ada nuklir dilibatkan,” kata Mr. Janus.
“Permintaan mudah,” Tramp tersenyum. “Masalahnya apakah Shah mau melakukan seperti apa yang akan kulakukan?”
Mr. Janus balas tersenyum, “Itu sudah urusan kami sejak dahulu.”
“Kalau begitu kita sepakat. Hanya saja, aku tidak yakin bisa menahan apa yang mungkin dilakukan militer Amerika apabila Shah Iran dan orang-orangnya melakukan balasan….”
“Ada balasan atau tidak, sekali lagi permintaanku sederhana,” potong Mr. Janus. “Tetap sikapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Tunda peluncuran peluru kendali kalian…”
***
__ADS_1