TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 30 : DI MANA PRESIDEN?


__ADS_3

Sementara Jordan dan rombongannya terus menyusur lorong itu untuk mencari jalan keluar, sepasang ******* yang terkurung di lift juga tak tinggal diam. Keduanya sadar berteriak-teriak minta tolong saja tidak ada gunanya. Tidak ada yang mendengar mereka. Oleh karena itu, lebih baik mereka memikirkan cara agar dapat keluar dari lift…


Mereka sudah mencoba untuk membuka pintu lift dengan menembakinya di antara sela-sela pembatas pintu lebih dulu, yang membuatnya lebih mudah direnggangkan. Hanya saja begitu pintu lift terbentang, ternyata yang ada di baliknya adalah tembok. Cuma seperempat bagian di bawah kaki mereka saja yang membuka, yang menampakkan pemandangan ke lantai dasar, itu pun tidak akan muat dilewati pria dewasa bertubuh kecil.


Keduanya lalu mencoba lewat bagian atas lift. Dengan bertumpu pada kawannya, ******* yang bertubuh lebih kecil naik hingga ke atap dan membuka penutupnya. Orang itu menyelinap naik ke atas atap dan mengerjapkan mata sejenak untuk menyesuaikan dengan remangnya ruangan yang menjadi rumah lift.


Sekitar dua meter di atas kepalanya, terlihat pembatas pintu lantai dua. Itu adalah pilihan jalan keluar terbaik karena jaraknya lebih dekat. Setelah berkata kepada temannya di dalam lift kalau dia hendak mencoba naik ke sana, dia pun berpegangan kepada pipa dan penyangga lalu memanjat ke sana. Dia harus melakukannya dengan hati-hati karena matanya masih belum terlalu bisa menyesuaikan diri dengan gelapnya tempat tersebut.


Diandalkannya pegangan pada tiang karena bila ia salah pijak atau terpeleset, setidaknya ada genggaman yang menghindarkannya dari terjatuh, meskipun resiko jatuhnya cuma akan kembali ke atap lift yang tidak terlalu jauh. Tidak berapa lama orang itu sampai di ambang pintu lantai dua dan berdiri di sana.


Diletakkannya jari-jarinya di antara celah pintu lift, lalu ia mengerahkan tenaga untuk membukanya. Pintu lantai dua itu mengempos sedikit dan menjadi sedikit macet karena ada sesuatu yang sepertinya mengganjal di sisi kiri. Hal tersebut membuat si ******* terpaksa menggunakan bukan hanya tangan, tapi juga kakinya untuk mempercepat bentangan pintu. Sisi kiri dari pintu pembatas lantai dua akhirnya benar-benar berhenti tapi setidaknya dia bisa memperlebar bentangan di sisi kanan, sehingga dia dapat menyelipkan tubuhnya  untuk keluar.


Dia berteriak ke bawah dan lima menit kemudian temannya berhasil memanjat ke atap lift dan keluar mengikuti jalan yang telah diambilnya. Kedua penjahat itu bergabung di lantai dua dan celingukan sebentar, bimbang sejenak untuk menentukan apakah mereka harus kembali ke lantai lima untuk meneruskan pencarian target, atau kembali ke lantai satu untuk meminta bantuan.


Akhirnya kedua orang tersebut memutuskan untuk melanjutkan pencarian dengan menggunakan tangga darurat karena entah kenapa lift sama sekali tidak bisa digunakan. Keduanya terkejut bukan main mendapati dua rekan mereka yang terbujur tanpa nyawa di pintu tangga darurat menuju lantai lima, dan hal itu membuat mereka semakin bersiaga.


Keduanya bergerak bersamaan sewaktu menyisir setiap ruangan lantai lima, dan baru menyadari bahwa orang-orang yang mereka cari tidak ada di lantai itu atau mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat di lantai itu setelah pencarian selama sepuluh menit lamanya. Hanya saja ada satu tempat yang mencurigakan, itu adalah ruangan kerja milik Duncan Tramp di mana Presiden memang bersembunyi di sana beberapa menit sebelumnya, karena tempat itu terkunci rapat.


Kedua ******* menembaki pintunya hingga jebol dan terpana melihat ada sebuah pintu lain di baliknya…pintu yang ini lebih kokoh karena terbuat dari besi. Mereka menembakinya beberapa kali, tapi pintu itu tampaknya anti peluru karena seberapa dahsyat hamburan peluru yang keluar dari senapan otomatis mereka, pelat baja pada pintu itu tidak penyok sedikit pun. Malahan peluru yang menghajar pintu baja itu yang bertumbangan di lantai dalam keadaan menjadi bulat memipih.

__ADS_1


Ruangan yang ada di balik pintu baja itu benar-benar tempat ideal untuk bertahan dari serangan. ******* yang menaiki lift pertama kali itu menunjuk ke pintu, yang dibalas anggukan temannya, paham kalau sasaran mereka mungkin saja bersembunyi di dalam sana.


******* bertubuh kecil itu lalu memberi isyarat bahwa dia akan turun ke bawah meminta bantuan, sementara temannya diminta untuk menjaga di depan pintu demi mencegah siapa pun yang mencoba keluar. Begitu temannya mengangguk, ******* yang bertubuh kecil itu berbalik dan lari melewati tangga darurat untuk turun ke bawah.


Begitu sampai di hall, orang itu meracau tak karuan sebelum si pemimpin menyuruhnya untuk mengambil nafas sebentar agar dapat mengatur cerita dengan lebih baik. Si pemimpin bertanya dengan setengah menghardik, mungkin tidak sabar karena anak buahnya berani turun ke bawah dengan tangan kosong, “Di mana Presiden itu?”


“Mereka tewas…Salim dan Hanafi tewas…kurasa pengawal-pengawal dari Secret Service yang melakukannya. Mereka juga mengurungku di lift sehingga tidak sempat menolong Salim dan Hanafi…”


Si pemimpin kaget mendengar itu, “Kurang ajar! Dan hanya kamu yang selamat?”


“Abdul berjaga di lantai lima. Kami menemukan suatu ruangan dengan semacam pintu besi yang tidak bisa kami hancurkan dengan peluru. Aku yakin Presiden dan yang lainnya bersembunyi di dalam. Kita perlu bahan peledak buat membukanya…”


“Apakah kita masih punya persediaan?” si pemimpin lantas bertanya kepada anak buahnya yang lain.


“Kamu dan kamu…” si pemimpin menunjuk orang yang mengangkat ransel dengan rekannya yang berdiri di sebelah kanannya. “… kalian temani dia ke lantai lima dan seret Presiden mereka kemari.”


“Siap!” keduanya memberi hormat sebelum pergi mengikuti teman mereka kembali ke lantai lima.


“Dan jangan kembali ke sini tanpa membawa target kita,” ancam si kepala *******.

__ADS_1


Di tempat lain, Jordan beserta rombongan Presiden telah berhasil keluar dari bangunan berkat rute yang dipilih Profesor McQueen. Setelah melewati lorong dari mulut pintu tangga darurat menuju ke bagian paling ujung, mereka tiba di parkiran belakang Machina Factory.


Parkiran di mana mereka berada sekarang merupakan tempat parkir eksklusif bagi pejabat perusahaan seperti Duncan Tramp dan sang Profesor. Oleh karenanya, mudah saja bagi ilmuwan itu untuk mengaktifkan pintunya dengan kartu identitas miliknya.


Profesor McQueen terhenyak melihat tiga orang petugas keamanan terbaring tewas di tengah-tengah tempat parkir. Rupanya para penjahat juga sudah ‘membersihkan’ tempat itu sebelum melakukan penyerangan di hall. Bersamaan dengan mereka yang tewas ditembaki di hall, entah berapa nyawa melayang akibat ulah para *******. Hal ini membuat sang ilmuwan merasa geram.


Ia semakin geram ketika mendapati mobilnya yang diparkir di situ ternyata tak dapat digunakan untuk kabur sebab keempat bannya telah sobek akibat tusukan pisau. Para ******* sudah memikirkan segalanya demi mencegah siapa pun melarikan diri dari tempat itu.


Hal yang sama juga terjadi pada mobil Duncan Tramp yang diparkir tak jauh dari mobil Profesor McQueen, hanya saja hal yang mengerikan terjadi di mobil sang CEO…kaca depan Jaguar itu hancur berantakan, sementara supir Tramp Junior tewas di kursinya dengan wajah bersimbah darah akibat serpihan kaca yang menghambur ke dalam saat ditembaki dengan senapan mesin. Tapi yang menewaskannya adalah tiga buah peluru yang bersarang di dada.


“Sadis sekali…” gumam Profesor McQueen terpaku.


Duncan berkata dengan parau, “Trevor yang malang. Seandainya dia tidak terlalu cepat menjemputku.”


Mendengar itu, Jack yang berdiri tak jauh darinya seolah teringat sesuatu dan buru-buru mengangkat ponsel, menghubungi markas besar, dan saat itu mengatakan sesuatu tentang penjemputan. Jordan sempat mencuri dengar beberapa kalimat, mengetahui bahwa Secret Service akan segera mengirim helikopter dari kota terdekat untuk menjemput Presiden Tramp.


“Bagus! Itu yang kuharapkan. Katakan pada pilot itu supaya ia datang secepatnya.”


Setelah menutup ponsel, dia berkata kepada yang lain, “Kita jangan berlama-lama di sini. Sebaiknya cepat pergi ke tempat yang lebih aman.”

__ADS_1


“Dia benar, Duncan! Ayo pergi…” Tramp Senior menepuk bahu anaknya dan rombongan itu kembali melangkah menuju halaman depan di mana polisi dan tim SWAT tengah berkumpul di sana.


***


__ADS_2