
Jordan mengira Lana akan menghabiskan waktu di gudang penyimpanan barang-barang temuan ayahnya. Nyatanya gadis itu masuk ke sana hanya untuk mengambil topeng gas. Dua buah topeng gas, tepatnya, yang bentuknya kurang meyakinkan. Tabung besar yang menempel di bagian hidung hingga mulutnya malah mengingatkan Jordan pada moncong banteng di logo klub basket Chicago Bulls.
Setelah itu Lana malah menyibukkan diri di pantry. Gadis itu hanya tertawa kecil melihat kebingungan di wajah Jordan lalu menerangkan, “Tak ada gas air mata di gudang karena daddy tak pernah membuat barang-barang semacam itu. Hanya saja aku tahu bagaimana merakitnya. Bahan-bahannya hanya bisa didapatkan di tempat ini…”
“Oke, apa yang kita cari?” Jordan bertanya setelah mereka ada di pantry.
“Tolong carikan kaleng bekas. Biasanya Office Boy menyimpan kaleng biskuit, kaleng susu, atau yang semacamnya di rak bawah. Juga aluminium foil dan tali sumbu.”
“Oke…”
Sementara Jordan mencari barang yang diminta, Lana telah mendapatkan bahan dasar berupa soda kue dan bubuk merica dari rak di atas microwave. Gadis itu bekerja dengan cekatan, mencampur dan mendidihkan beberapa campuran dengan takaran yang sepertinya hanya dia sendiri yang mengerti. Di tempat yang sama, Jordan ikut menikmati bagaimana temannya itu beraktivitas. Anak lelaki itu berdecak kagum, “Apakah ayahmu yang mengajari semua ini?”
“Tidak! Hanya sesuatu yang kubaca dari internet…”
“Benarkah? Jangan-jangan kamu juga ahli membuat peledak.”
“Tidak juga!” Lana tertawa. “Sebagian malah aku menyimaknya dari kelas science.”
“Ingatkan aku untuk mengambil kelas science bersamamu.”
“Bukannya kita sudah mengambil kelas yang sama?”
“Aku tidak ingat!” Jordan tertawa.
“Mungkin karena kamu nggak perhatian di kelas, jadi tidak tahu siapa saja yang ada di kelas bersamamu,” ucap Lana.
“Atau mungkin aku terlalu fokus untuk mendengarkan penjelasan karena menyadari aku bukan murid yang paling pintar di kelas…” Jordan membela diri.
“Asalkan dipahami maksudnya mudah saja. Selebihnya hanya kemampuan mengingat…” komentar Lana. “Tolong kemarikan kalengnya.”
Jordan menyodorkan kaleng susu, “Kamu mengatakan itu seakan tak ada yang perlu dihitung di pelajaran science.”
“Aku bisa mengajarimu kalau kamu mau!”
__ADS_1
“Sungguh? Tentu saja aku mau.”
“Naaah…sudah… sekarang tinggal sentuhan akhirnya,” kata Lana.
Gadis itu menempelkan aluminium foil di bagian luar kaleng yang telah direkatkan dengan sumbu penyala. Setelah itu diberikannya dua bom gas air mata yang baru dirakitnya kepada Jordan, “Gas air mata, dan…” diambilnya palu yang sedari tadi dibawa-bawa yang lantas diselipkan di antara sabuk Jordan. “…senjata untuk perkelahian jarak pendek.”
“Kalau ini ujian kelas, kamu pasti mendapat nilai A,” Jordan tertawa.
“Jangan menyepelekan aku, ya! Aku selalu dapat nilai A di kelas science,” Lana menanggapi dengan wajah cemberut, pura-pura sebal.
“Kamu memang cerdas.”
“Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan dengan topeng dan gas air mata ini. Tapi kuharap palu itu tidak sampai kamu pakai berkelahi dengan *******,” Lana berkata dengan wajah sendu. “Aku enggan membayangkan ******* itu menembakimu lagi.”
“Semoga saja rencanaku lancar, jadi aku tidak perlu mengalami yang seperti tadi.”
Setelah mengepak barang-barang, keduanya kembali ke lantai lima. Jordan menoleh pada Lana, “Kamu tunggu di sini ya…aku akan menjemput ayahmu lima menit lagi…”
“Hey, kenapa aku harus menunggu di sini? Aku kan mau menyelamatkan ayahku juga!” Lana memprotes.
“Itu karena aku memberikannya kepada ayahku.”
"Ya karena itu aku tidak mau kamu ikut…aku takut sesuatu yang buruk menimpamu,” kata Jordan dengan tatapan yang membuat Lana luluh.
“Jordan…tunggu…” Lana menahan tangan anak lelaki itu.
Jordan terbelalak ketika gadis itu memeluk lalu mencium pipinya. Gadis itu berkata dengan mata berkaca-kaca setelah melepas pelukannya, “Hati-hati…aku juga tidak mau kamu kenapa-kenapa.”
"Tentu!” Jordan mengangguk.
Lana menepuk rompi yang dipakai Jordan, “Semoga ini bisa mengamankanmu.”
“Benda ini sudah membuktikan dirinya tadi!”
__ADS_1
“Koreknya…untuk menyalakan gas air mata…”
Jordan mengambil benda itu dan memasukkannya ke kantong baju sebelum keluar dan menyusuri lorong. Si penjaga masih berdiri sendirian di depan pintu ruang kerja Tramp Junior, hanya saja batang rokok yang tadinya panjang kini tinggal setengah. Meskipun dalam posisi yang terlihat santai, tapi si penjaga tetap bersiaga dengan senapan mesinnya yang tersampir di pundak.
Tahu-tahu Jordan dilanda perasaan panik yang hebat. Dia berlutut dan memegangi dadanya karena merasakan jantungnya berdebar-debar. Gumamnya dalam hati, “Ini gila…ini gila…apa aku mampu melakukan ini? Bagaimana kalau dia lebih dulu membunuhku? Profesor McQueen dan Lana akan mati sia-sia di sini…”
Suara di dalam hatinya menegur, ‘Kamu tidak sepanik ini waktu menyerang ******* itu di tangga darurat.’
“Itu karena perhatiannya sedang teralihkan dengan tembak-menembak.”
‘Yang artinya keadaannya justru lebih berbahaya karena dia siap menembak siapa pun. Buktinya kamu kena tembak juga. Lagi pula kamu juga tidak sepanik ini waktu membawa Lana kembali kemari…’
“Aku hanya tidak ingin melihat dia sedih gara-gara kesalahan Profesor McQueen.”
‘Aah, jadi kamu menyalahkan ayah Lana sekarang?’
“Aku tak menyalahkan siapa pun. Karena pria itu melakukan apa yang harus dilakukan.”
‘Begitu pun kamu sekarang. Lakukan saja apa yang harus dilakukan. Salah atau tidak, itu relatif. Kamu tidak akan pernah tahu sampai selesai melakukannya.’
“Kamu benar…” Jordan menarik nafas panjang untuk meredakan debaran jantungnya.
Setelah mengambil palu, Jordan bersiul keras. Siulannya membuat ******* yang sedang merokok itu langsung bersiaga. Orang itu celingukan memandangi sekelilingnya, mengira dia salah mendengar atau semacamnya. Begitu siulan kedua terdengar, si penjahat menyadari itu bukan bunyi yang tanpa disengaja. Dibuangnya puntung rokok yang tinggal sedikit ke lantai, tangannya menggenggam senapan mesin, dan berjalan perlahan-lahan mendekati lorong tangga darurat di mana Jordan menunggu.
Dari bunyi langkah yang samar di atas lantai, Jordan mengetahui bahwa penjahat itu sebentar lagi sampai ke tempatnya. Digenggamnya palu dengan erat. Dia sadar bahwa dia hanya bisa melakukan serangannya satu kali, itu pun dengan cepat dan tepat sasaran. Meleset sedikit saja maka keributan akan terjadi dan itu akan memancing ******* yang lain keluar dari ruang kerja CEO.
Yang tidak diharapkannya justru terjadi ketika si ******* berseru, “Siapa di sana?”
Hati Jordan mencelos. Mudah-mudahan suara si brengsek itu tidak terlalu keras untuk didengar oleh ******* lainnya. Seperti belum cukup, si ******* malah mengulangi kata-katanya dengan lantang, “Keluar! Aku tahu kamu di depan sana…”
Orang itu bergerak perlahan, Jordan menahan nafas ketika senapan dan ujung sepatu pria itu muncul dari balik lorong di mana dirinya bersembunyi. Beberapa langkah lagi orang itu berada di jarak yang diinginkannya, dan pada saat itulah Jordan memutuskan untuk menyerang, mudah-mudahan saja orang itu tidak keburu menembaknya.
Si penjahat maju sekitar dua-tiga langkah lagi dan tahu-tahu Jordan mendengar samar kucing mengeong tak jauh dari tempat mereka berada dan orang itu berkata sambil menatap apa yang ada di hadapannya, “Kucing sialan…”
__ADS_1
Orang itu menurunkan acungan senapan mesinnya dan kehilangan sikap siaga. Saat itulah Jordan merangsek dan melayangkan pukulan telak ke pelipis kirinya. Sang ******* ambruk ke lantai tanpa sempat berteriak. Setelah memastikan lawannya tak berdaya, Jordan pun buru-buru menarik tubuh orang itu ke dalam lorong untuk disembunyikan.
***