TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 32 : MAAFKAN AKU MEMBAWAMU KEMARI


__ADS_3

Setelah ledakan kedua yang terjadi di lantai lima – yang menggelisahkan semua orang – keadaan berubah sepi. Walkie-talkie tidak memperdengarkan pergerakan apa pun dari dalam sehingga semua orang yang berkumpul di halaman hanya dapat menduga-duga, kemungkinan besar para ******* masih akan tetap mengusahakan membuka paksa pintu ruang CEO walau entah dengan cara bagaimana lagi.


SFPD masih belum berani menyerbu kembali untuk masuk ke Machina Factory meski Presiden, Duncan Tramp, Profesor McQueen, dan yang lainnya telah keluar dengan selamat dari situasi penawanan ataupun karena posisi ******* yang sedang berkonsentrasi di lantai lima tentu memudahkan aparat untuk melakukan peringkusan tanpa membahayakan para sandera.


Letnan Mills memutuskan untuk menunggu, sejumlah polisi yang ada sekarang belum cukup untuk melakukan aksi penyelamatan, apalagi mereka baru diporak-porandakan oleh bom yang dipasang para *******, dia ingin memulihkan semangat anak buahnya terlebih dahulu.


Tewasnya koleganya, Ron, sang Komandan regu tim SWAT akibat ledakan bom saat mereka hendak menyerbu masuk juga merupakan pukulan telak. Belum lagi ledakan kedua di lantai atas barusan…entah berapa banyak bom yang dipunyai para ******* itu…jadi meskipun sudah mendapat informasi yang cukup banyak dari Secret Service yang berhasil keluar, tetapi itu belum menjadi keuntungan bagi pihaknya….


Oleh karenanya, pria itu tidak ingin buru-buru…beberapa anak buahnya perlu istirahat untuk menyurutkan ketakutan dan tambahan tenaga yang akan didatangkan oleh Markas Besar tentu sangat mendukung untuk itu. Letnan Mills juga tidak ingin ada warga sipil terjebak dalam situasi adu tembak, yang kemungkinan besar dapat terjadi ke depannya, dan ia merasa kesal karena tidak bisa memulangkan mereka dengan segera ke kota sebab sebagian besar mobil polisi yang ada di tempat itu hancur akibat terkena ledakan.


Di pihak lain, Presiden Tramp juga menunggu penjemputan dengan helikopter milik Secret Service, yang Jordan dengar beberapa waktu sebelumnya dari pembicaraan Jack Higgins dan tengah meluncur dari kota terdekat. Yang lainnya seperti Tramp Junior, Profesor McQueen, Jordan dan Lana, tidak mungkin pergi dari tempat itu sebelum mobil polisi tambahan yang dipesan Letnan Mills datang menjemput.


Jadi semuanya dalam situasi menunggu…


“Anda berencana masuk kembali ke dalam sana kan, Letnan Mills?” Jack yang bosan menunggu akhirnya bertanya demi memecah suasana.


“Di waktu yang tepat…bila orang-orangku cukup…” sahut sang Letnan.


“Anda pernah terlibat dalam situasi semacam ini?”


“Penawanan maksudmu?”


“Yup…”


“Dua kali. Perampokan bank di Tulsa, 1993 dan seorang gila bersenjata yang menawan satu sekolah di Springfield High, 2002. Tapi tak satu pun yang melibatkan Presiden.”


“Kurasa selalu akan ada yang pertama kali,” Jack tidak bisa menahan senyum.


“Pasti sulit melakukan pekerjaanmu…mengawal Presiden… selalu ada ancaman di mana-mana,” Letnan Mills balas mengomentari.

__ADS_1


“Tidak sesulit yang anda pikirkan…hanya saja…yah, begitulah… selalu ada hal-hal tak terduga, terutama untuk orang yang kadang senang jadi musuh publik.”


“Menurutku yang sulit adalah mengawal orang yang kamu ingin dia tidak menang saat pemilu,” ujar Letnan Mills.


“Tak dapat menolak takdir, seperti halnya tak dapat menolak dari siapa kita dilahirkan.”


Letnan Mills tersenyum, “Kalau begitu rasanya aku jadi menghargai pekerjaanku dengan bebannya yang ringan. Jauh lebih mudah tentunya tanpa hadirnya media. Oleh karena itu aku selalu ingin ini semua diselesaikan secepat mungkin sebelum tercium media.”


“Aku setuju. Akan jauh lebih mudah mengatakan ini hanya teror biasa daripada media memberi tahu ada usaha pembunuhan Presiden di dalam sana.”


“Kurasa kita sepakat soal itu, Mr. Higgins!”


Ketika Jordan tengah menikmati obrolan kedua pria dewasa itu, Lana yang sedari tadi memandangi remaja itu kemudian mendekatinya dan menegurnya. Entah kenapa wajah gadis itu kembali tampak cemas, “Bagaimana rusukmu? Kamu sudah lebih baik, kan?”


“Seperti yang kamu lihat…aku sudah bisa jalan lagi, kok!” Jordan nyengir, berusaha memberikan perasaan tenang bagi Lana meski dia sadar tubuhnya sudah mulai lebam-lebam akibat benturan keras di tangga darurat.


“Syukurlah! Aku nyaris mengira kamu tewas sewaktu peluru itu menerjangmu.”


“Untungnya aku belum mengenalmu waktu kecil. Jadi aku tidak perlu melihat seperti apa jatuh yang kamu bilang parah itu,” kata gadis itu cemberut.


“Ngomong-ngomong…” Jordan berusaha mengalihkan perhatian dari pembicaraan yang membuat suasana kikuk. “…kok kamu bisa tahu ada ruang persembunyian di atas gudang penyimpanan alat kebersihan? Tempat apa sih itu sebenarnya?”


“Tempat itu dipakai sebagai jalan masuk buat memperbaiki saluran udara di langit-langit. Mereka membuatnya saat renovasi pendingin udara sebagai jalan masuk sementara sampai kemudian dipindahkan ke tempat lain dekat pantry.”


“Bagaimana kamu menemukannya?”


“Waktu kecil aku terbiasa iseng kesana-kemari, dan kebetulan daddy lebih sering berada di tempat ini daripada di rumah.”


“Ayahmu sendiri yang mengawasi pembangunan tempat ini? Luar biasa,” puji Jordan.

__ADS_1


“Aku juga dibawanya serta, bisa kamu bayangkan itu?”


“Untungnya aku belum mengenalmu waktu kecil, jadi aku tidak perlu bermain petak-umpet dan setengah mati mencarimu seperti halnya para ******* itu.”


Lana tertawa, “Maaf ya kamu harus mengalami semua ini.”


“Kenapa kamu yang minta maaf?”


“Kalau aku tidak mengajakmu kemari kita tidak akan mengalami peristiwa mengerikan ini,” jawab Lana.


“Jangan dipikirkan. Justru aku senang kamu mengajakku makan malam di rumahmu…”


“Makan malam di rumahku?” Lana tertawa renyah. “Ini bahkan tidak mendekati makan malam di rumahku sama sekali.”


“Rumah kedua, mungkin…mempertimbangkan tempat ini layaknya rumah juga buat kamu dan ayahmu,” Jordan tersenyum lebar.


“Jordan Cross, kalau kamu tidak kapok denganku, lain waktu aku janji akan memberikan makan malam di rumahku dengan selayaknya…”


“Aku menunggu janjimu, Lana McQueen…”


Deru berisik mesin yang muncul dari langit memotong pembicaraan keduanya, Jack dan Letnan Mills mendongak dan beberapa ratus meter di sebelah selatan, muncul sebentuk cahaya meluncur cepat di langit yang dipenuhi bintang-bintang. Cahaya itu makin mendekat dan begitu berada di atas halaman Machina Factory, benda itu berhenti sebentar sebelum turun sekitar lima puluh meter dari tempat di mana Jordan dan yang lainnya berada.


Baling-baling yang tetap berputar kencang seiring dengan mendaratnya benda tersebut ke tanah menghamburkan serangkum angin yang bukan hanya menggoyangkan dedaunan pepohonan di sekitar tapi juga mengibarkan pakaian serta rambut banyak orang. Lana menatap dengan pandangan kagum, “Baru tahu ada helikopter secanggih itu.”


Jordan mendekatkan mulut ke telinga Lana agar suaranya dapat mengatasi deru baling-baling, “Namanya Apache! Helikopter itu mampu terbang dua kali lebih cepat dari helikopter biasa dan dilengkapi persenjataan lengkap yang bisa diaktifkan dengan pengendali di kabin pilot. Membuatnya sangat sulit diserang dengan cara normal. Sayangnya, benda itu tidak bisa membawa banyak orang…jadi aku penasaran siapa saja yang akan masuk ke sana selain Presiden Tramp.”


“Kok kamu tahu banyak soal kendaraan perang?”


“Hanya sesuatu yang kubaca di waktu luang,” Jordan mengangkat bahu.

__ADS_1


***


__ADS_2