
“Anda tidak suka teh, Pak Balin?” tegur sang menteri melihat Balin Pati bergeming.
Balin menanggapi dengan senyuman sopan, “Tidak juga! Kebetulan sore ini saya terlalu banyak minum kopi. Jadi maafkan saya kalau mau menunggu dulu. Kopi bercampur dengan teh rasanya agak membuat perut saya mual.”
“Wah, maafkan saya! Apa perlu saya ambilkan minum yang lain? Air putih mungkin?”
“Tidak apa-apa, Pak Menteri! Saya hanya perlu waktu sebentar untuk menghilangkan rasa kopi di lidah.”
“Anda menyesal bila tidak sempat mencicipi. Rasa teh ini enak sekali, walau mungkin teman yang menemani minum anda terlalu serius,” lagi-lagi Mr. Janus menggoda Balin. Sang Prefect hanya memonyongkan bibirnya tanpa sepengetahuan Taufiq Dault yang juga tengah menikmati tehnya.
Setelah meletakkan cangkir teh kembali ke meja, Mr. Janus melanjutkan obrolan yang terputus, “Indonesia mengonsumsi minyak dan batu bara terbesar di Asia Tenggara. Bersama-sama dengan negara Asia Tenggara yang lain menyumbang konsumsi sampai 11% energi dunia. Bayangkan bila kalian terus menggerus minyak dan batu bara itu dari dasar bumi sementara para pakar bilang bahwa sumber energi tak terbaharukan akan habis tiga puluh tahun lagi.”
“Kami akan kehilangan devisa tentunya,” Taufiq Dault menanggapi.
“Sedikit-banyak anda mungkin sudah merasakan akibatnya kepada kota-kota di negara ini. Gempa, erosi tanah, mungkin saja suatu kota bisa ambruk di masa depan…entahlah… memang sudah saatnya kita mengubah hal itu agar bumi ini terus bertahan.”
“Memang mengerikan! Tapi bagaimana perbandingannya dengan bahaya nuklir?”
“Memang saya tidak pernah menyebutkan itu sedikit pun di proposal, sebab sepanjang karir saya mengembangkan perusahaan berbasis nuklir tidak pernah terjadi hal seperti itu, bila kita tahu teknologi serta sistem yang tepat untuk menanganinya.”
Taufiq Dault tersenyum, “Saya percaya itu. Resume Omnitec luar biasa. Membangun dan mengoperasikan reaktor nuklir di Amerika, Inggris, Jepang, Cina, Rusia…”
“Iran!” Mr. Janus menambahkan.
“Ah, ya… Iran,” Taufiq Dault mengangguk senang. “Menunjukkan perusahaan anda tidak rasis seperti perusahaan-perusahaan barat pada umumnya.”
“Bisnis adalah menciptakan kesejahteraan banyak orang, tidak peduli apakah mereka berkulit putih, hitam, atau kuning, beragama Kristen, Budha, atau Islam. Karena begitu orang sejahtera, saya tahu saya bisa mendapatkan profit dari mereka. Sesederhana itu.”
“Anda benar! Saya suka prinsip itu!” Taufiq Dault mengangkat jempol. “Sayangnya masih ada hambatan dari Undang-Undang buat anda berinvestasi dan membangun reaktor itu di negara kami.”
“Undang-Undang Pembatasan Modal itu? Yang menyatakan warga negara asing hanya boleh memiliki saham tidak lebih dari sepuluh persen di Indonesia?”
“Ya, undang-undang itu,” sang Menteri mengangguk. “Dan bahwa orang asing harus menggandeng mitra lokal supaya transfer knowledge bisa dilakukan.”
Mr. Janus tersenyum, “Saya sudah menduganya. Oleh karena itu, saya mengajak Pak Balin untuk bertemu anda. Pak Balin ini calon mitra yang ingin saya gandeng di Indonesia.”
__ADS_1
“Oh, begitu?” wajah sang menteri tampak kecewa. “Saya pikir anda belum mendapat mitra lokal. Saya sebenarnya sudah memilihkan beberapa kenalan saya yang bisa anda jadikan pertimbangan.”
"Teknologi nuklir merupakan sesuatu yang rumit. Saya tidak ingin memercayakannya kepada mitra lokal yang saya tahu belum berpengalaman dengan sesuatu mengenai nuklir. Dan saya rasa Pak Balin bukan orang baru di bidang energi.”
“Ya, saya tahu! Saya kenal perusahaan anda, Pak Balin! Nusapower, walaupun saya belum tahu kalau anda memahami soal nuklir.”
“Saya mulai terlibat dengan teknologi ini sewaktu membangun reaktor nuklir di Seattle, bekerja sama dengan Omnitec juga.”
“Dengan memakai bendera Nusapower?”
“Perth Oil & Energy.”
“Anda pemiliknya? Saya baru tahu perusahaan itu yang punya orang Indonesia?”
“Kebetulan saya berdarah campuran. Bapak saya Jawa, Ibu saya Samoa,” jawab Balin. “Waktu Mr. Janus menghubungi bahwa Omnitec akan membangun reaktor nuklir di Indonesia saya sangat bersemangat untuk ikut serta.”
“Oke, clear buat saya!” sang Menteri mengangguk-angguk lalu menegaskan kepada Mr. Janus. “Jadi Omnitec mau menyerahkan teknologi dan dananya lewat Nusapower?”
“Untuk itulah kami kemari,” Mr. Janus mengangguk,
“Pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana untuk itu, bukan?”
“Tiga puluh persen jumlah yang besar dibandingkan yang diberikan Freeport, tentunya,” Balin mengompori.
“Yang perlu pemerintah sediakan sebagai andil dari tiga puluh persen itu hanya fasilitas berupa Undang-Undang Energi, kemudahan perijinan, dan wilayah untuk membangun reaktor tersebut,” Mr. Janus melanjutkan.
Wajah sang Menteri Energi sudah hendak buru-buru memberikan persetujuan sebelum dirinya teringat satu hal lagi yang perlu diperjelas, “Dan bagaimana dengan waktu kontrak kerja samanya? Kami hanya mau memberikan setengah dari periode yang anda minta.”
“Dua puluh lima tahun?” Mr. Janus mengerutkan kening.
“Dua puluh lima tahun terhitung operasional. Tidak dengan pembangunan.”
“Bagaimana kalau jadikan itu tiga puluh tahun? Terhitung sebagai waktu pembangunan di awal dan waktu transisi kepada mitra lokal?”
Taufiq Dault tersenyum lalu mengulurkan tangannya, “Sepakat!”
__ADS_1
Mr. Janus membalas jabatan tangan sang menteri, “Bagus! Ini akan jadi sejarah baru, kerja sama Omnitec-Indonesia-Nusapower.”
“Salut!” Balin mengangkat cangkir tehnya…
Lima belas menit kemudian, keduanya meninggalkan rumah dinas sang Menteri setelah mengobrol singkat dan menghabiskan teh serta snack yang disajikan. Mr. Janus dan Prefect Pati masuk ke Lexus dan Balin tak tahan lagi untuk berkomentar, “Anda lihat wajahnya yang makin yakin begitu melihat kendaraan yang anda tumpangi?”
“Itu yang namanya kekuatan impresi, Prefect Pati!” Mr. Janus tertawa.
“Yang kuherankan dari anda, kalau memang mau menampilkan impresi kenapa anda harus turun sendiri buat bicara dengan si Menteri? Bukankah akan lebih impresif kalau anda cukup bernego dengan si Presiden saja? Urusan berunding teknis dengan Menteri Energi, anda bisa menyuruh Direktur Omnitec melakukannya.”
“Permintaan Joyo Wibowo supaya aku bisa memberi masukan soal menterinya itu?”
“Aku menilai dia oportunis. Dia tampak kecewa ketika mendengar proyek ini sudah solid. Tidak ada kemungkinan bagi usulannya masuk untukmu,” Balin mengomentari.
“Dan seandainya saja dia tahu berapa keuntungan yang dihasilkan dari bisnis ini, dan bagaimana menjalankannya, pasti dia akan minta waktu lebih panjang.”
“Atau prosentase yang lebih besar. Mereka pasti akan meminta itu setelah masa kerja sama berakhir. Kerakusan selalu jadi masalah umat manusia di daratan atas.”
“Biarkan saja. Tujuan kita kan mengamankan palung sunda dan menurunkan pemakaian energi,” sahut Mr. Janus. “Setidaknya tujuan kita sudah setengah berhasil. Urusan selebihnya biarkan nanti saja kita pikirkan lagi.”
“Tapi aku minta maaf sebelumnya kalau aku tidak bisa berhenti memikirkan ini…perutku lapar dan si menteri sialan itu hanya memberi kita teh dengan snack,” Balin menggerutu. “Apa dia tidak sadar ini waktunya makan malam?”
Mr. Janus tertawa, “Balin Pati selalu terus terang soal keadaan perutnya.”
“Kita sudah berteman puluhan tahun, Mr. Janus! Jadi mana mungkin aku merahasiakan sesuatu darimu….termasuk urusan laparku.”
“Kebetulan aku juga lapar. Bagaimana kalau aku mentraktirmu sesuatu yang cepat untuk dimakan?”
“Cheese Burger?”
"Cheese dan kentang goreng.”
“Jangan lupa sodanya!”
“Memenuhi perut dengan kopi, teh, lalu soda? Kamu mau bunuh diri, eh?”
__ADS_1
“Baiklah, air mineral saja kalau begitu,” sahut Balin kesal, tapi dia tak berlama-lama cemberut, cengirannya melebar saat Lexus perak milik Mr. Janus membelok ke drive-thru McDonald yang berada di pinggir jalan
***.