
Howard Tramp mengesampingkan dulu pekerjaannya ketika pria yang dinantinya masuk ke ruangannya. Lelaki itu menemuinya dengan setelannya yang biasa, jas lengkap berbahan wol dengan motif kotak-kotak dan dasi kupu kupu warna gelap. Yang tidak disukai Tramp dari pria ini hanya minyak rambutnya, aromanya kelewat keras dan itu menyakiti hidungnya yang sensitif. Sejak dia melangkah masuk saja sang Presiden harus menahan bersin beberapa kali.
“Mr. Presiden…” tegur lelaki itu dengan wajah kaku dan sikap formal.
“Silakan duduk, Mike.”
Lelaki paruh baya itu mengangguk lalu mengambil kursi di hadapan meja kerja Tramp setelah menyerahkan dokumen yang dibawanya. Tramp menerima dokumen yang ada di dalam map dengan cap ‘RAHASIA’ berwarna merah terang itu lalu membacanya. Keningnya berkerut beberapa kali sebelum dia akhirnya menghela nafas, memandang Mike Hoffner dengan disertai wajah lelah.
“Apakah CIA berani menjamin ini informasi yang valid?”
“Sesuai dengan dugaan anda, Mr. Tramp,” sahut Mike.
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu, Mike?”
“Dengan tampil di live talkshow minggu lalu anda sudah menunjukkan bahwa anda tidak bisa diancam…Amerika tidak bisa diancam…tapi agen-agenku di lapangan mengindikasi bahwa ini masih akan terus berlanjut.”
“Itu aku tahu! Shah Iran brengsek itu pasti masih akan terus penasaran bila aku belum mati,” kata Howard Tramp.
“Benar! Karena ada dua tujuan pembalasan mereka…membalas hancurnya benteng Abadan – yang mana sudah mereka dapatkan dengan hancurnya benteng kita di Teheran – dan membalas kematian Jenderal Sulaimandi, tokoh penting Amerika yang menginisiasi hal itu harus mati.”
“Kamu mengatakannya seolah aku yang memutuskan perintah mati itu,” Tramp berkata dengan sebal. “Jangan lupa, kamu yang memberitahuku kalau orang ini berbahaya bagi US.”
“Bukan hanya US tapi juga dunia. Sulaimandi otak di balik genosida masyarakat di El-Mabarawi sehingga ISIS bisa masuk dan bercokol di Suriah, dia menguasai jaringan milisi bernama ‘PejuangJannah’, dan kalau Shah Iran sampai memegangnya maka bisa dibayangkan kacaunya Timur Tengah dengan seluruh tentara Iran berada di bawah kendalinya. Anda sendiri sudah hampir merasakan dampaknya dengan serangan di Machina Factory itu, bukan?”
“Yeah, kukira itu hanya ******* yang suka mengacau dengan cara penyanderaan untuk meminta tebusan,” Tramp menerawang. “Tidak kusangka kalau mereka orang-orangnya Shah!”
“Anak buah saya di lapangan sudah memastikan itu, data imigrasi juga menegaskan kalau Amir Bin Khalif, Mohmoudo Al-Azzri, Salim Bin Noordin, Hanafi Assalam Bisma, dan yang lainnya masuk dari SFO sebelum bertemu di hotel Laguna di San Bruno.”
“Untungnya publik belum mengetahui masalah ini. Ataukah mereka perlu tahu?”
“Tidak ada gunanya juga menginformasi rakyat bahwa ******* itu suruhan Iran. Kurasa keadaan saat ini adalah yang terbaik,” Mike Hoffner menanggapi. “Pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan, sir?”
“Aku tidak yakin rakyat Iran punya niat untuk mengumpulkan uang seperti itu. Aku yakin ada yang memulai provokasi sampai bergulir menjadi bola salju. Dan aku yakin Shah Iran ada di belakang ini semua…pengecut itu berlindung di balik tangan rakyatnya…oleh karena itu aku ingin memberinya pelajaran keras agar tidak main-main dengan simbol negara besar seperti Amerika Serikat.”
__ADS_1
“Seberapa keras yang anda maksud?” Mike mengerutkan kening.
“Satu serangan mematikan ke jantung pertahanan Iran untuk menyudahi drama ini.”
“Maksud anda membunuh Shah Iran? Dan bagaimana anda melakukannya?”
“Dengan cara yang sama seperti kita mengakhiri riwayat Sulaimandi.”
“Kurasa Angkatan Laut sudah menantikan hal ini dari anda.”
***
Seribu mil dari Teluk Persia, di suatu titik di perairan Samudera Hindia, kapal induk USS Jameson mendapatkan telegram dari Pentagon, sebuah perintah khusus yang datang langsung dari Paman Sam Number One, dan itu adalah melepas drone Speedy Gonzales ke Istana Raja di Teheran.
“Sudah waktunya,” salah satu kelasi yang bertugas di depan monitor pengendali berkomentar.
Tidak butuh waktu lama bagi petugas di Jameson untuk melakukan persiapan. Setengah jam kemudian, empat yang bertugas mengendalikan drone pembunuh itu sudah bersiaga di alat pengendalinya masing-masing, menunggu perintah dari komandan kapal yang juga sudah berada di ruang kendali.
“Siapkan diri kalian crew!” lantangnya suara sang komandan memecah ketegangan yang menggelayut di dalam ruangan. Walaupun mereka sudah pernah melakukan ini dan juga mengalami keberhasilan yang tinggi dalam setiap misi, selalu saja ada ketegangan saat memulainya. “Misi kita adalah menghancurkan Istana Shah Iran di wilayah pusat Teheran. Tempat itu ramai, bising, dan terlalu banyak mengundang keributan bila kita ketahuan. Oleh karena itu, mari lakukan secepat mungkin dan setenang mungkin. Biarkan hasil yang ditinggalkan berbicara setelah Speedy Gonzales kembali ke kapal ini. Pilot dan navigator siap…”
“Pemantau dan pengontrol peluru kendali siap…”
“Yes, sir!” diikuti kedua crew lainnya.
“Luncurkan dalam hitunganku…lima…empat…tiga…dua…” tingkap di bagian haluan kapal membuka dan mesin yang merupakan landasan pengunci drone naik ke atas dengan berdengung. Drone itu sendiri bergetar-getar, seolah tak sabar hendak melepaskan diri layaknya seekor kuda pacuan hendak menerjang lintasan balapnya secepat kilat. “…SATU…”
Tidak sampai lima detik, drone pembunuh bernama Speedy Gonzales terlepas dari landasan kuncinya dan melesat ke udara…
***
Clementine Cointa memandangi lukisan yang ada di hadapannya dengan seksama, sementara pria yang menjadi objek lukisannya duduk di kursi dalam posisi diam dan tenang, tidak terganggu oleh waktu yang berjalan begitu lambat atau dengung membosankan dari pendingin ruangan yang berbunyi terus-menerus karena untuk itulah dia dibayar sebagai model profesional.
Wanita itu baru saja hendak menambahkan tiga jenis warna campuran lagi untuk mempertegas beberapa bagian yang dirasa penting saat dengung Auris mengusik perhatiannya. Tidak hanya dengung, alat komunikasi itu juga memberikannya signal SOS sebagai tanda siaga satu. Dipakainya Auris untuk disematkan di telinga dan diaktifkan. Dari layar hologram muncul wajah lelaki paruh baya dengan potongan rambut crew-cut.
__ADS_1
“Heil Terra! Alert Code One, Prefect Cointa!”
“Heil Terra! Ada keadaan gawat apa, Sersan Salinas?”
Sang model melihat perubahan aura di wajah Clementine Cointa dan bertanya, “Apakah kita perlu menyudahi ini?”
“Tahan di tempatmu. Ini tak akan lama…” larang wanita itu lalu kembali mendengarkan.
“Radar piramid bawah laut menangkap signal USS Jameson baru saja melepas drone. Titik target Teheran.”
“Sial, si brengsek itu mengincar Shah Iran!” Clementine Cointa berkata dengan nada tinggi. "Berapa lama lagi sampai drone itu sampai ke Teheran?”
“Sepuluh menit.”
“Apa yang kita punya di radius itu?”
“Pyramid Persia XC-12 dan Pyramid Persia KM-28, tapi tak ada yang mampu menjangkau drone itu sebelum sepuluh menit. Waktunya terlalu sempit,” Kapten Salinas menjawab dari sambungan Auris.
“Berikan aku akses ke Atlan-4.”
“Tapi, ma’am…”
“Segera beri aku aksesnya, Sersan. Jangan banyak omong.”
“Siap, ma’am…”
Serangkaian angka muncul dan berbaris cepat di layar Auris Clementine Cointa. Begitu terdengar bunyi, klik, sang Prefect tahu dirinya sudah tersambung ke satelit Atlan-4. Dia sudah menjadi pengendali sepenuhnya. Wanita itu bergumam, “Waktunya bekerja…”
Melihat kliennya sudah teralihkan dari kesibukan awal melukis, si model pun bertanya kembali, “Apakah tidak sebaiknya aku…”
“Diam di tempatmu, anak muda! Tunggu sebentar sampai aku membereskan masalah sialan ini dan aku akan segera kembali padamu…”
“Baiklah…” pemuda itu tidak berani mengganggu, memperhatikan dengan terpesona saat Auris milik Cointa memunculkan citra hologram. “Apa-apaan itu?”
__ADS_1
***