TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 15 : DUO AYAH-ANAK TRAMP


__ADS_3

Dia sudah mengirim pesan ke ponsel Sally, memberitahukan bahwa dia akan makan malam dengan Lana di kantor Profesor McQueen, ayah Lana, yang mengadakan event yang akan dihadiri oleh Presiden. Seperti yang diduganya, Sally hanya membaca pesannya tanpa ada niat membalasnya. Pasti saat ini gadis itu sedang berada di Royal Casino, tempat kakaknya itu bekerja setelah shiftnya di McDonald usai.


Itulah cara Sally untuk menambah penghasilan, yang sebenarnya menguatirkan Jordan, karena pekerjaan macam itulah yang membuat mereka terjerumus dalam kesulitan sewaktu di Brooklyn. Sayangnya, Sally keras kepala pautan usia yang jauh membuat gadis itu merasa tidak perlu mengacuhkan nasehatnya tentang bekerja di rumah judi.


“Selamat malam, Profesor McQueen,” sapa seorang pria dengan aksen aneh begitu mereka menjejakkan kaki keluar dari lift.


“Selamat malam, Carl!” balas Ayah Lana.


“Oh, anda membawa Miss Lana juga?” pria yang disapa Carl tersenyum kepada Lana yang berdiri di belakang sang ayah.


“Halo, Carl! Tidak keberatan kan kalau aku mengajak teman sekolahku, Jordan?”


“Tentu tidak! Makin banyak makin baik,” pria itu tersenyum ramah lalu menyalami Jordan. “Namaku, Carl Trish!”


“Jordan Cross.”


“Jadi bagaimana persiapannya?” tanya Ayah Lana dan kedua pria itu sibuk berbicara satu sama lain sementara di saat bersamaan menyusuri koridor lantai dua, yang tampak bagi Jordan akan membawa mereka ke bangunan utama yang menjadi ruang-ruang kerja. Mungkin di salah satu ruangan inilah ruang kerja Mr. McQueen berada.


“Carl itu salah satu asisten kepercayaan Daddy,” bisik Lana sementara mereka berdua membuntuti Profesor McQueen dan anak buahnya yang terus berdiskusi. “Ada beberapa orang lain yang sangat dekat dengan Daddy tapi sepengetahuanku hanya dua orang yang jadi kepercayaannya, Carl ini dan Doktor Smith.”


“Apa sih yang ayahmu kerjakan di sini?” tanya Jordan.


“Proyek-proyek pemerintah.”


“Proyek pemerintah macam apa?” Jordan jadi semakin ingin tahu. Namun belum sempat Lana menjawabnya, pria itu menoleh kepada mereka


"Anak-anak, aku hendak memeriksa persiapan untuk puncak gala nanti. Agak sedikit repot sehingga aku tidak bisa menemani kalian. Ada baiknya kalian makan malam dulu saja di ballroom, setelah itu... " pria itu lalu berpaling kepada Lana. "... kamu tidak keberatan membawa Jordan melihat-lihat, kan?"


"Tidak masalah, daddy! Asalkan kode akses untukku diaktifkan," gadis itu nyengir seraya mengangkat tangannya.


"Tentu! Carl akan melakukannya...bukan begitu, Carl?" Profesor McQueen ganti menoleh kepada asistennya.


"Tentu, Profesor..." Carl mendekati papan konsol yang tergantung di dinding dekat mereka kemudian menekan sejumlah tombol pada papan tersebut guna memasukkan perintah tertentu. Setelah itu dia berpaling dengan senyuman lebar.  "Sudah selesai."


"Ayo, Jordan! Kita sikat duluan makanannya. Aku lapar," Lana membalas cengiran Carl.


"Begitu juga aku..." sahut remaja lelaki itu.


Jordan mengikuti temannya menuju ruangan yang disebut ballroom, yang sebenarnya adalah sebuah hall yang kerap difungsikan untuk membuat acara besar untuk menampung dua sampai tiga ratus orang, yang berada di lantai satu.


Hall itu begitu luas, sisi lebarnya saja dapat menampung panggung berukuran lima kali tiga meter berisi podium serta peralatan multi-media dengan lighting yang dapat digunakan untuk mendukung demo dan presentasi yang nantinya akan dilakukan. Deretan kursi di tengah-tengah ruangan menegaskan bahwa acara gala ini mungkin bukan sekedar acara makan malam namun diawali dengan sessi seminar, yang kemungkinan besar diisi oleh Archibald McQueen, yang saat ini tengah sibuk di ruangan lain di lantai dua.


Tentunya perhatian utama Jordan tertuju pada meja prasmanan untuk makanan. Seperti kata ayah Lana, makanan sudah siap sebelum eventnya dimulai, dan pria setengah baya itu tidak bercanda saat menyebutkan makanannya sebagai makanan ala gala dinner yang enak karena apa yang dihidangkan di meja itu di luar bayangan Jordan.


"Wow, ini namanya pesta..." gumamnya dalam hati.


Piringnya segera dipenuhi spaghetti, dua potong sosis jerman ukuran jumbo, dan toping salmon mayones. Dia merasa malu mendapati piring Lana yang tampak begitu sopan, dengan hanya berisi sepotong pancake yang diolesi sirup maple dan es krim coklat. Lana tersenyum-senyum melihat Jordan salah tingkah karenanya.

__ADS_1


"Anak cowok memang banyak ya makannya," gadis itu menggoda.


"Nggak bisa menolak godaan makanan enak," Jordan mengangkat bahu sambil terkekeh.


Setelah menghabiskan makanan, Lana berdiri lalu mengajak Jordan berkeliling. Gadis itu berharap mereka bisa menyelesaikan tour di tempat ini sebelum Presiden Tramp memberikan sambutannya di gala dinner.


Karena tidak tahan menyimpan rasa penasarannya akhirnya Jordan bertanya, "Sebenarnya tempat kerja ayahmu ini apa sih? Dan kenapa malam ini Presiden mau memberi sambutan di sini?"


"Tempat ini hasil kerja sama Ayah dengan anak Presiden Tramp, Duncan Tramp, sejak lima tahun lalu."


Jordan tercengang, "Ayahmu kerja sama dengan Duncan Tramp? Wah, hebat."


"Mr. Tramp... Duncan...memberikan dana tak terbatas untuk membiayai segala proyek yang idenya datang dari ayahku."


"Proyek seperti apa? Proyek pemerintah itu maksudmu?”


"Nanti kamu bisa lihat sendiri..." gadis itu mengakhiri pembicaraan dan pergi meninggalkan ballroom sehingga mau tak mau Jordan ikut berdiri dan kembali mengikutinya.


***


"Selamat datang, ayah!" Duncan Tramp menyapa begitu melihat orang nomor satu di negaranya, yang sekaligus juga ayahnya, muncul di pintu ruang kerjanya.


"Halo, Duncan! Senang melihatmu. Maaf aku terlambat..." ujar sang presiden memeluk anaknya dan memberi ciuman di kedua pipi Tramp Junior.


Archibald McQueen yang juga berada di dalam ruangan berdiri menyambut Howard Tramp dengan jabatan tangan.


"Cuaca memang kurang bagus beberapa minggu belakangan," Duncan mengomentari.


"Apa kalian tidak bisa membuat teknologi untuk mengurangi turbulensi di udara?"


"Kurasa itu ide bagus untuk dicatat," Duncan lalu berpaling kepada Profesor McQueen. "Bukan begitu, Profesor?"


"Aku punya beberapa ide awal yang mungkin bisa kita diskusikan esok lusa bila anda berminat."


Duncan tersenyum lebar, “Selalu punya ide. Kamu dengar sendiri, kan ayah? Itu sebabnya aku senang bekerja sama dengannya.”


Duncan Tramp dan Howard Tramp laksana buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, bila orang ingin melihat bagaimana Presiden Howard semasa muda maka Duncan adalah gambaran yang tepat untuk itu. Klimis, penampilan necis, spontan, cara bicara yang mengingatkan orang pada tokoh film koboi, dengan kemampuan melobi dan memanipulasi yang hampir setara. Hanya jam terbang saja yang membuat Howard tampak lebih berwibawa dibandingka Duncan, selain itu keduanya dapat menjadi rival berat bila berada di kubu berbeda.


"Jadi proyek apa yang mau kamu bicarakan denganku sehingga aku harus terbang jauh-jauh dari DC kemari?" sang Presiden mengganti topiknya dengan segera, mungkin karena tidak ingin terlalu lama berbasa-basi.


Duncan menengok arlojinya dan berdecak, "Waktunya tidak cukup buat menjelaskan semuanya padamu, yah! Gala dinnernya sebentar lagi akan mulai. Bagaimana kalau kita bicara soal itu setelah acara?


"Tapi aku belum memesan hotel atau tempat menginap."


"Aku sudah memesankannya untukmu," Tramp Junior tersenyum seraya melambaikan sebuah kartu yang merupakan kunci kamar. "Sudah kupesankan president suite untukmu. Anak buahmu sudah kusuruh pergi dulu ke sana buat memeriksa keamanannya. Setelah acara di tempat ini kamu bisa langsung pergi ke hotel itu."


Howard Tramp tersenyum lebar, "Kamu memikirkan semuanya dengan baik..." dia menerima kunci kamar itu dari tangan Duncan, dan memperhatikan dengan seksama. "...sepertinya hotel ini tidak asing."

__ADS_1


"Hotel Reicht-Hoffman, baru kubeli tiga bulan lalu dari pemiliknya yang lama karena dia lagi butuh uang."


Wajah Tramp berubah masam,"Kuharap kamu membelinya dengan harga pantas."


"Sangat pantas, yah! Setidaknya cukup buat melunasi hutang judi pemiliknya."


"Aku baru tahu kalau pemilik lama hotel itu suka berjudi."


"Dia menyembunyikan itu sejak lama dari banyak orang. Namun itu kenyataan yang dikatakannya ketika memaksaku membeli tempat itu."


"Mudah-mudahan itu tidak membuat tidurku tidak nyenyak di sana."


"Kenapa harus tidak nyenyak kalau itu berada dalam pengawasanku?"


"Aku tahu kamu bisa diandalkan, nak!" Tramp Senior mengangguk. "Jadi soal proyek barumu ini...apa kamu tidak mau memberiku informasi sedikit saja soal apa itu, supaya aku tidak mati penasaran selama gala dinner?"


"Ini soal menemukan senjata terkuat di dunia," kata Duncan.


Presiden Tramp mengerutkan kening, "Senjata terkuat di dunia macam apa yang kamu maksud?"


"Senjata dari jaman kuno milik Inca, suku Indian di Amerika Selatan yang tidak pernah dapat dikalahkan tentara Spanyol."


"Aku tidak pernah tahu senjata semacam itu eksis."


"Profesor McQueen sudah membuat kajian tentang kemampuan senjata itu dan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembangkannya begitu kita menemukan benda tersebut. Hanya saja kami butuh pendanaan yang tidak sedikit mengingat Senator Lyman baru saja mengesahkan penghentian dana sponsor dari anggaran belanja negara bagian California."


"Berkali-kali sudah kubilang padamu, jangan mengandalkan dana belanja negara bagian. Sifatnya bisa tidak kontinu, apalagi setelah mereka tahu tempat ini bukan hanya melayani penelitian yang mereka minta untuk keperluan California."


"Jadi kemana kami harus meminta dananya?" tanya Duncan Tramp.


"Kamu bisa meminjamnya dari bank. Sudah saatnya kamu mempertimbangkan hal itu. Aku punya beberapa kenalan yang bisa kurekomendasikan kepadamu."


"Kenapa bukan dirimu saja yang memodali proyek ini?" tantang Duncan.


Howard Tramp menggigit bibirnya, "Konstitusi tidak memungkinkanku melakukannya, Duncan."


"Bukan lewat jalur birokrasi.Yang aku maksud lewat tangan perusahaan funding Tramp Goldlitter."


"Kuharap ini sesuatu yang sangat menarik."


"Lebih menarik dari kemampuan drone tanpa awak supaya negara ini dapat semakin mengembangkan sistem pertahanan kita...."


Pembicaraan di ruangan berhenti ketika terdengar ketukan dari luar dan beberapa detik kemudian wajah Carl melongok dari balik pintu yang membuka," Maaf mengganggu, acaranya akan dimulai sebentar lagi."


Duncan Tramp menanggapi, "Baiklah, terima kasih, Carl!"


***

__ADS_1


__ADS_2