
Jordan Cross berdiri dengan gugup di depan pintu yang menampakkan simbol keluarga McQueen. Dia tidak punya pakaian baru tapi setidaknya ini adalah pakaian terbaik yang dia punya. Pakaian ini ditemukannya dalam peti yang tertinggal di bawah kasur di kamarnya dan kemungkinan adalah milik penghuni apartemen sebelumnya.
Jordan sengaja membiarkan peti itu tergeletak di tempat dia menemukannya supaya apabila pemilik peti yang sebenarnya kembali ke apartemen untuk mengambilnya, maka itu bisa langsung dikembalikan. Tapi sampai hari ini belum ada tanda-tanda seorang pun menghubungi dan menanyakan peti itu hingga anak lelaki itu nekat memakai salah satu pakaian yang tersimpan di sana demi memenuhi undangan hari ini dengan tampilan yang layak.
Dirapikannya karangan bunga yang ada di tangannya dengan gugup. Sungguh keterlaluan rasanya bila Lana sampai mendapatkan benda yang kucel, padahal Jordan sudah sengaja mengambil beberapa dollar dari tabungannya agar dapat membeli bunga ini di Rita’s Florist sebelum berangkat ke McQueen’s Mansion.
Pintu dibuka dan seorang wanita gemuk paruh baya dalam pakaian pelayan muncul. Dia menatap Jordan beberapa saat sebelum senyumnya mengembang, “Ah, kamu kelihatan berbeda, Jordan. Aku sempat tidak mengenalimu.”
“Ya, Nana!” sahut Jordan dengan tersipu-sipu. “Lana dan Profesor McQueen ada?”
"Masuklah!” sahut si pelayan wanita. “Mereka berpesan kamu langsung saja ke ruang makan.”
“Baiklah…” Jordan mengangguk lalu menyerahkan bunga itu.
Perempuan itu makin heran, “Untuk saya?”
“Bukan!” Jordan buru-buru menarik kembali buket bunganya menyadari kesalahpahaman itu. “Ini untuk Lana.”
“Kalau begitu sebaiknya kamu berikan langsung padanya…” wanita itu senyum-senyum.
“Oh, maafkan… aku pikir aku harus menyerahkannya untuk disusun atau sesuatu yang seperti itu…” lagi-lagi Jordan tersipu malu. Wajahnya semakin memerah.
Nana tersenyum geli, “Kamu boleh menyerahkan jaket atau mantel kepadaku sebelum masuk. Tapi bunga untuk kekasih,sebaiknya kamu serahkan sendiri.”
“Kekasih? Lana maksudmu? Oh, bukan…dia hanya…”
“Teman! Ya, kamu mengatakannya berulang kali kalau kemari,” Nana mengangguk-angguk sambil mengedipkan mata. “Tapi kamu tidak bisa membohongi mata tua ini.”
“Tapi kami… aah, ya sudahlah…” Jordan tertawa kecil melihat ekspresi Nana yang menggodanya. “Antarkan saja aku ke ruang makan kalau begitu.”
Ternyata Lana sudah berada di ruang tengah, gadis itu tampak cantik dengan dandanan dan gaunnya. Riasan yang menyapu di balik kacamatanya membuat wajah Lana lebih bersinar. Rambutnya… gadis itu melakukan sesuatu dengan rambut itu karena bentuknya berbeda dari apa yang dilihat Jordan sehari-hari… dan anak lelaki itu menyukainya meskipun ia berusaha sedapat mungkin bersikap biasa.
Karena Lana sudah ada di situ, Nana pun minta ijin, “Sepertinya kamu sudah ada di tangan yang aman karena Nona Lana ada di sini. Kalau begitu aku mau ke dapur dulu untuk mengamankan kalkunnya.”
“Hai Lana…” tegur Jordan.
__ADS_1
“Halo Jordan, kamu tampak… keren…” Lana memperhatikan temannya.
“Kamu juga…” Jordan menanggapi. “Kamu…cantik…”
“Thanks! Bunga buat siapa itu?” Lana bertanya begitu menyadari apa yang dipegang Jordan.
“Tadinya mau kuberikan kepada Nana. Tapi karena dia menolak, jadi aku berikan saja padamu,” jawab Jordan asal sambil menyodorkan buket bunganya kepada Lana.
Gadis itu tertawa terkekeh, ”Sialan! Kenapa aku jadi pilihan kedua setelah Nana?” walaupun berkata dengan nada kesal, tetapi Lana menerima juga bunga yang diberikan Jordan.
“Karena malam ini Nana adalah bintangnya… sebelum kalkunnya muncul, kurasa…”
Lana tertawa lagi, “Aku yakin kamu bakalan melongo melihat kalkunnya nanti.”
“Apakah itu sebesar yang Nana katakan?”
“Kamu harus melihatnya sendiri. Kuharap kamu benar-benar mengosongkan perutmu seharian ini supaya bisa menghabiskan semuanya.”
“Jangan kuatir. Aku tidak makan sedari siang, jadi aku merasa lapar luar biasa. Rasanya aku mampu melahap seekor unta,” komentar Jordan.
“Seperti yang sudah kuduga, dia pergi makan malam dengan Pierre.”
“Pierre?”
“Aku tidak tahu nama panjangnya. Pria itu dikenalnya lima bulan lalu.”
“Kupikir Sally pacaran dengan Will Garcia,” Lana mengerutkan kening.
“Will Garcia…oh, pria yang pernah menjemputku dari sekolah di hari pertamaku kerja di The Vinyl?”
“Ya… yang berhidung besar dan bertampang sok itu,” kata Lana.
Jordan tertawa, “Mereka masih jalan. Hanya saja Sally memang punya banyak teman pria. Aku sendiri nggak tahu yang mana yang asli pacarnya. Kukira Pierre juga hanya kenalan yang ditemuinya di Casino Royal karena lelaki itu baru sekali menginap di apartemen.”
Lana terheran-heran, “Kalau begitu, berapa kali pria yang dianggapnya sebagai pacarnya pernah menginap di apartemen kalian?”
__ADS_1
Mulut Jordan manyun, “Aku malas menjawab hal itu. Oh, ya…Sally titip salam untukmu.”
“Sampaikan salamku juga padanya, dan sekalian katakan kalau Lana ingin belajar darinya soal percintaan.”
“Apa maksudnya itu?” Jordan menatap kebingungan.
“Kakakmu itu sepertinya mudah sekali dapat cowok, sementara aku boro-boro…”
“Salammu kusampaikan. Tapi soal belajar percintaan, sampaikan sendiri kepadanya.”
Lana terkekeh, “Sayang sekali dia tidak bisa datang. Padahal daddy mau mengobrol dengannya soal kerjaan.”
“Kerjaan apa?”
“Daddy bilang Duncan Tramp sedang mencari sekretaris baru. Mungkin Sally berminat?”
Jordan mengangguk bersemangat, “Benarkah? Akan kuberitahu dia nanti.”
“Ayo, kurasa daddy sudah menunggu kita di ruang makan…” Lana menggandeng Jordan dan berkata lirih. “…makasih ya bunganya.”
Di meja makan, kedua remaja itu disambut Profesor McQueen yang nampaknya baru turun dari kamarnya di lantai dua. Pria itu menyalami Jordan, “Halo, Jordan! Senang melihatmu. Kamu sehat?”
“Seperti yang anda lihat, Profesor,” jawab Jordan disertai senyum lebar saat membalas salam ayah Lana.
“Ayo kita mulai saja sembari menunggu kalkunnya matang. Kita bisa mulai dengan hidangan pembuka dahulu,” ujar Lana dengan kikuk karena pria setengah baya itu memandangi buket bunga pemberian Jordan. Gadis itu tidak ingin ayahnya bertanya atau menduga hal yang tidak-tidak.
Jordan duduk di meja yang berhadap-hadapan dengan Lana, sementara Profesor McQuenn berada di sisi kepala. Di meja di hadapannya telah terhidang mangkuk besar berisi salad sayur dengan mayonnaise dan taburan parutan keju, sementara di sampingnya terdapat pasangan salad sayur berupa roti bawang panggang diiris tipis yang tampaknya baru selesai dimasak di oven. Hidangan pembuka yang sungguh menggugah selera dan Jordan tak sabar untuk mencicipi setelah Profesor McQueen mengambil salad itu dan memakannya.
Salad itu enak, sayurannya yang segar diolah dengan cara yang menimbulkan rasa manis alami, sangat cocok berpadu dengan parutan keju yang sedikit asing dan mayonnaise yang mengurangi tekstur kering dari roti bawang. Ini merupakan thanksgiving pertama bagi Jordan, sebelumnya dia belum pernah merayakan thanksgiving sebab Sally tidak peduli dengan hal itu, sementara dirinya juga tidak mengetahui apa persisnya yang harus dilakukan dengan perayaan tersebut.
Oleh karena itu, Jordan bersyukur Lana mau mengundangnya ke McQueen’s Mansion untuk merayakannya bersama-sama. Thanksgiving pertama, dengan makanan pembuka seenak ini, dan kalkun yang sebentar lagi akan muncul, juga kebersamaan yang hangat bersama dengan… Jordan memandangi Lana serta Profesor McQueen saat kata keluarga melintas di benaknya… tidak pernah dirasakannya yang seperti ini. Ini merupakan sesuatu yang sudah lama dia rindukan. Suatu tempat bernama keluarga di mana dia bisa berkumpul menghabiskan waktu untuk mengobrol, bersantai, dan menikmati makan malam yang nikmat seperti saat ini. Tidak disangkanya kalau dia bisa mengalami hal ini juga akhirnya…dan ini semua berkat…
Pandangan Jordan tidak lepas dari Lana yang tengah memainkan salad di piringnya dengan garpu, sementara mulutnya sibuk mengunyah. Gadis itu menyadari pandangan Jordan dan mendongak… yang membuat Jordan buru-buru mengalihkan pandangan ke mangkok sayur untuk mengambil porsi berikutnya. Lana pun segera menggodanya, “Sabar, Jordan! Masih ada kalkun kok, untuk ronde kedua.”
Yang menyahut malah Profesor McQueen, “Biarkan saja, Lana! Daddy juga kepingin nambah, kok.”
__ADS_1
***