TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 3 : MAINLAND PREFECT


__ADS_3

Wanita berkulit coklat dengan tubuh tegap itu berjalan anggun menyusuri bangunan mewah yang merupakan tempat kerja sekaligus rumah keduanya sejak puluhan tahun silam, bahkan mungkin dia lebih mengenal tempat ini daripada rumahnya sendiri di Kairo, Mesir. Dia berbelok dengan spontan menuju ke ruang kerjanya sementara dirinya tengah sibuk membaca laporan yang masuk ke Auris, atau alat komunikasinya.


Begitu sampai di meja kerja, wanita itu memasukkan file-file yang ada di Auris untuk diunduh oleh komputer kerjanya yang segera menampilkan beberapa video laporan dari suatu tempat bernama Abadan ke sebuah layar hologram. Wanita itu bertanya,“Status?”


Pria sipit berpakaian jaket kulit di layar hologram menjawab, “Kerusakan total.”


“Korban jiwa?”


“Tiga ratus orang. Dua pertiganya militer. 256 pria, 44 wanita.”


“Ada warga kita di sana?”


“Untungnya tidak!”


Wanita itu bernafas lega, “Jenderal Sulaimandi benar termasuk yang tewas?”


“Confirm,” jawab pria berseragam tersebut.


Wanita itu menggeleng, “Apa kita tahu kalau itu tempat kegiatan militer?”


“Ya! Tempat ini memang terdaftar sebagai milik Angkatan Udara Iran,” jawab pria itu.


“Apakah ada sesuatu yang ganjil seperti yang selama ini dituduhkan?”


“Tempat ini tidak menyimpan senjata berat semacam peluru kendali atau bom nuklir. Hanya persenjataan tangan dan granat.”


“Baik, terima kasih laporannya, Constable Ming!”


“Siap, Prefect! Heil Terra!”


“Heil Terra!” wanita itu balas menabik. Meletakkan jari telunjuk dan jari tengah diantara alis yang diikuti dengan lima jari teracung di udara.


Baru saja dia selesai berkomunikasi dengan anak buahnya di lapangan, sambungan komunikasinya aktif kembali. Segera diangkatnya panggilan itu begitu mengetahui siapa yang menghubungi, “Salam, Mr. Janus. Heil Terra…” sapanya seraya memberi hormat.


Lelaki yang disapa Mr. Janus adalah pria dengan tatapan setajam elang, janggut kelabu, rambut ikal, dan memakai setelan jas putih rapih. Dia membalas salam wanita itu dengan tabikan serupa, “Heil Terra! Selamat malam, Mainland Prefect! Kurasa masih jam tujuh di tempatmu, bukan?”


“Waktu yang melenakan buat sebagian orang, bukan begitu, Mr. Janus?”


“Kurasa begitu buat yang tinggal di Timur Tengah. Terutama yang menerima kabar buruk,” Mr. Janus mengangguk. “Seberapa parah kondisinya?”

__ADS_1


“Tidak ada yang selamat dari serangan itu,”


“Subjeknya?”


“Drone. Pesawat tanpa awak model terbaru yang baru saja dikembangkan US dengan masukan dari kita.”


Mr. Janus berdecak kesal, “Bukan untuk yang seperti ini seharusnya mereka gunakan teknologi barunya.”


“Kenyataannya Howard Tramp menjadikan Sulaimandi kelinci percobaan.”


“Aku setuju denganmu. Terlepas dari reputasi buruk Jenderal Sulaimandi, kurasa ini seharusnya tidak terjadi.”


“Apakah anda sudah bicara dengan Howard Tramp?”


“Untuk itulah aku menghubungimu,” pria berjanggut kelabu itu menanggapi. “Aku mau membawamu untuk bicara bertiga dengannya.”


“Kenapa bukan anda sendirian saja yang menemuinya? Kurasa dia tidak akan mendengarkanku,” wanita itu mengerang kesal. “Egonya sebagai Presiden US terlalu besar. Aku tidak menyukainya dari awal.”


“Masalahnya Hector Pustin pendukung kuatnya, dan itu juga yang bikin Tramp berani bertingkah,” ujar Mr. Janus


“Keputusan politik harus dibuat dan orang itu adalah rekomendasi Pustin kepada saya.”


“Aku tidak berniat lepas tanggung jawab tapi seandainya Prefect Atlantic Territory bisa segera terisi maka aku tidak akan mengambil keputusan macam itu.”


Ucapan sang Prefect membuat raut wajah Mr. Janus menegang sejenak, namun lelaki itu mencairkan suasana karena sadar kalau saling menyalahkan tak akan menyelesaikan insiden yang sudah terjadi, “Kita bisa berdebat soal ini seharian tapi yang terpenting sekarang adalah memastikan bahwa tak ada keputusan fatal yang diambil oleh kedua belah pihak setelah ini.”


“Saya akan menemui Shah Iran setelah kita bicara dengan Howard Tramp.”


“Kalau begitu sampai jumpa tiga jam lagi di White House, Clementine.”


“Sampai jumpa lagi, Mr. Janus!” wanita itu memberi hormat. “Heil, Terra.”


“Heil, Terra.”


Clementine Cointa menekan tombol intercom dan memberi instruksi, “Siapkan Teleporter-nya. Saya akan berangkat ke Washington sekarang.”


“Yes, Ma’am!” suara dari interkom memberi jawaban.


Clementine Cointa menghempaskan tubuh ke kursi, diliriknya botol Cognac di atas meja yang kemudian dituangkannya ke gelas kecil untuk diminum. Dia butuh kesegaran, yang mana didapatkannya dari minuman ini. Menenggak segelas cognac sebelum kembali bekerja dan bertemu dengan orang-orang menjengkelkan adalah sesuatu yang menyenangkan.

__ADS_1


Minuman yang tidak mungkin dinikmatinya di Kairo karena akan membuat dirinya mabuk dengan suhu yang ada di sana, tapi lain halnya dengan di tempat ini di mana suhunya nyaris berada di bawah nol derajat Celsius. Ditaruhnya kembali gelas kosong ke samping botol Cognac dan membuka laci meja kerjanya.


Tidak perlu membawa banyak barang. Yang dibutuhkannya cuma gadget, yang sudah terpasang di lehernya, tas tangan mungil perempuan yang di dalamnya berisi bedak, lipstik, parfum, dan tidak lupa Tazzer untuk pengamanan diri. Dipandanginya jam tangannya…tiga jam lagi di Washington…itu artinya dia harus buru buru berangkat kalau tidak ingin terlambat dan membuat Theodor Janus makin jengkel…


Sepuluh menit kemudian wanita itu sudah berada di ruang landasan yang ada di bawah tanah bangunan yang menjadi tempat kerjanya dan masuk ke dalam kapsul kelabu berdiameter tiga meter yang dilengkapi hulu-hulu pelontar di setiap lengkungannya. Dipakainya kaca mata yang diberikan petugas pengendali Teleporter saat dia masuk ruangan. Kaca mata itu berfungsi untuk melindungi matanya dari cahaya yang akan datang dan memproyeksikan jalur yang akan ditempuhnya ke tujuan.


“Siap dengan aba-aba dari anda, Ma’am,” si petugas memberi tahu dari loud speaker yang terpasang di sisi kaca mata.


“Luncurkan!” sang Prefect menanggapi.


“Tujuan markas di Washington, asal dari St. Petersburg…meluncur.”


Tingkap di sebelah atas tabung perlahan terbuka, menghadapkan dirinya ke langit gelap yang tengah bertabur bintang, sebelum tabung tersebut dipenuhi cahaya putih menyilaukan yang muncul pertama-tama dari hulu pelontar yang sibuk mendengung dan seiring cahaya itu meluncur ke atas, tubuh Clementine Cointa menghilang secepat kilatan petir.


***


Lelaki kurus berkumis tipis itu duduk di sofa kamar yang berhadapan dengan jendela dimana dibaliknya terhampar pemandangan kota Teheran yang dipenuhi cahaya lampu dari ujung barat ke ujung timur. Pria itu tampak memandangi panorama walau sebenarnya pandangannya kosong karena hatinya diliputi kesedihan mendalam.


Berita yang baru dia terima sungguh mengejutkan, bukan hanya karena Jenderal Sulaimandi merupakan orang dekatnya tapi sang Jenderal juga sekutu kuat yang selalu memberi dukungan untuk menghadapi masalah perselisihan nuklir dengan negara barat. Tanpa bantuan Sulaimandi mungkin negara ini sudah lama dikuasai tangan-tangan negara rakus macam Cina atau Amerika yang sibuk dengan perang dagang mereka sendiri tapi justru menghancurkan negara sekitarnya.


Ponselnya bergetar dan mendapati nomor yang ada di layar merupakan nomor yang sedang tak ingin dia ladeni saat ini jadi ditekannya tombol off untuk memutuskan koneksi. Rupanya orang yang menghubunginya tidak menyerah, meski koneksinya diputus orang yang menjengkelkan itu melakukan usaha terakhir dengan mengirim pesan teks…


‘R√  Kita harus ketemu. Banyak yang ingin aku bicarakan’


Pria itu mendengus kemudian mengetik pesan balasan…


‘S√  Tidak ada yang perlu dibicarakan.’


‘S√ Kami akan membereskan ini dengan tangan kami sendiri.’


Tidak butuh mengetahui balasan dari lawan bicaranya, pria dengan kumis tipis itu menaruh ponselnya di meja dan berjalan mendekat ke jendela. Baru beberapa menit memandangi pemandangan yang ada di sana pintu kamarnya diketuk dari luar.


“Masuk!” pria itu merespon dengan setengah berteriak.


Pria setengah baya yang merupakan pembantu rumah tangga di istananya masuk dengan kepala tertunduk, “Tamu-tamu anda sudah datang, Shah!”


“Baik, aku akan turun sebentar lagi.”


Sementara sang Shah berjalan turun ke ruang tengah kediamannya, tiga orang sudah menunggunya, dua diantaranya adalah orang dengan posisi yang pasti akan dipanggilnya untuk berkonsultasi manakala negara dalam keadaan gawat darurat, yakni Kepala SAVAK - badan intelijen negara - dan Menteri Keamanan Negara.

__ADS_1


***


__ADS_2