
Waktu terbaik untuk menyusup ke Machina Factory, di area Brisbane, tentu saja beberapa jam sebelum Secret Service memeriksa kondisi tempat itu secara menyeluruh, agar tidak mengundang kecurigaan adanya perubahan yang terjadi beberapa saat jelang acara besar nanti malam. Untuk itu dia dan orang-orangnya hanya punya waktu sekitar lima belas menit untuk menempatkan diri di tempat-tempat penting di Machina Factory dan menghindari diri mereka dicurigai oleh karyawan pabrik tersebut.
Penyusupan itu dilakukannya bersama salah satu anak buah kepercayaannya, dengan akses identitas milik pria yang mereka culik dan bunuh beberapa jam sebelumnya di hutan. Persis seperti yang dikatakan kawan-kawannya, dia dan pria yang mereka bunuh di hutan itu mempunyai perawakan serta wajah yang hampir mirip. Dengan melakukan sedikit perubahan pada foto di kartu identitas membuat mereka bisa melewati penjaga keamanan tanpa banyak pertanyaan.
Temannya mengatakan sesuatu dalam bahasa Persia yang berarti, “Untung mereka belum menggunakan hand scan di gerbang masuk.”
Dia hanya menanggapi dengan tawa terkekeh, “Itu karena mereka dungu! Dan kuharap kamu juga tidak dungu. Pakai bahasa Inggris buat berkomunikasi di dalam sana supaya identitas kita tidak diketahui.”
“Kamu tahu apa yang kubenci dari negara ini selain otak dungu orang-orangnya?”
“Makanannya yang tidak enak?”
“Kita selalu lepas dari sholat karena waktunya yang menyesatkan.”
“Kita ini musafir dengan misi. Tidak apa kalau sesekali kita melewatkan sholat demi misi penting ini.”
“Sehabis ini aku akan menebusnya dengan puasa dan banyak dzikir.”
“Bila misi kita berhasil, kita akan mendapat pahala yang setara dengan emas.”
Lima menit kemudian dia dan temannya berada di dalam bangunan setelah memarkir mobil di tempat parkir. Sebuah pintu baja terhampar di hadapan mereka dan keduanya celingukan sebentar untuk memastikan keadaan aman, sebelum mengeluarkan potongan tangan dari dalam tas yang dibawanya. DItempelkannya potongan tangan itu ke mesin pembaca akses di samping pintu dan sepersekian detik kemudian pintu itu pun membuka dengan mengucapkan salam, “Selamat datang, Doktor Smith.”
Potongan tangan ini terbukti sebagai aset berharga…pria itu memasukan kembali potongan tangan itu ke dalam tas ranselnya lalu mengangguk kepada kawannya sebelum berpisah….
Pria itu masuk ke dalam bangunan yang bersuhu rendah dan nampak kosong. Bangsal yang dimasukinya ini tampaknya bukan pusat aktivitas karena dia baru mendapatinya setelah naik ke lantai dua. Di lantai dua tersebut terdapat banyak ruangan, juga karyawan, yang memiliki kesibukannya masing-masing pada jam kerja. Hal itu menguntungkan baginya karena itu membuat keberadaan dirinya tidak dipedulikan oleh orang-orang di tempat ini.
Hal itu juga membuatnya bebas memasuki ruang kerja Doktor Smith, membuka komputer dan mengaksesnya – yang lagi-lagi harus diaktifkan dengan potongan tangan korbannya – untuk melakukan manipulasi data pengiriman serta data lain yang dibutuhkannya di dalam sistem tersebut. Setelah semuanya siap dia mengirim berita lewat teks ponsel, “Masukkan mereka ke dalam.”
Teks itu bukan hanya diterima temannya yang menunggu di luar tapi juga kedua orang lain yang berada di sebuah truk container yang tengah mendekat ke Machina Factory. Sang supir menekan pedal gas lebih dalam sampai kendaraan roda empat tersebut berhenti di pos penjagaan yang dilalui Doktor Smith palsu dan rekannya beberapa menit lalu. Sang supir membuka jendela ketika satpam mendekat,
“Pengiriman biasa dari Decker and Dwaine,” si supir menyerahkan selembar dokumen yang merupakan surat perintah pengiriman.
__ADS_1
Setelah membaca surat itu sang petugas keamanan menoleh kepada temannya yang berada di pos jaga, “Apakah ada jadwal pengiriman dari Decker & Dwaine hari ini?”
“Staff Doktor Smith sudah menunggu di gudang 12,” jawab petugas di pos jaga dengan acungan jempol.
“Oke, boleh buka dulu muatanmu, kawan,” kata si satpam menunjuk ke belakang. “Kami harus memeriksanya lebih dulu sebelum mengijinkanmu masuk.”
Supir itu menoleh kepada kawannya yang kemudian turun dari pintu di sisi lainnya untuk membuka pintu penutup container. Begitu pintu bergeser ke atas, membuka, tampak tumpukan kardus berukuran besar dan tumpukan kabel optik berukuran sedang teronggok di sudut terdalam container tersebut. Si petugas keamanan mengangguk-angguk puas setelah melihat tidak ada yang aneh di dalam kendaraan tersebut. Beberapa menit kemudian truk itu melenggang menuju ke gudang 12.
Pria yang menemani Doktor Smith palsu sudah menunggu sendirian di gudang tersebut. Dia mengomel dalam bahasa Persia, “Sudah waktunya…”
Supir truk turun dan menjawab dengan kesal, “Sedikit terhambat di pintu depan…”
Keduanya masuk ke bagian belakang container sementara orang yang duduk di bangku penumpang memastikan keadaan di sekitarnya aman. Pria yang berdiri di depan sang supir menghadapi dinding di bagian dalam container, menekan tutup panel yang ternyata berisi sejumlah tombol yang ditekannya dalam urutan tertentu sebagai kode untuk membuka dinding tersebut.
Dinding container di belakang tumpukan kabel yang tadi dilihat petugas keamanan di gerbang ternyata sebuah tipuan visual. Ada ruangan lain di balik dinding penutup kontainer itu dan di dalamnya ada enam pria tegap dengan seragam serba hitam. Masing-masing membawa senapan otomatis model M-16. Wajah kejam di balik janggut mereka juga menunjukkan bahwa orang-orang ini terlatih membunuh dan mereka sudah tidak sabar untuk memulai misi mereka di tempat ini.
“Waktu kita tinggal sedikit. Pasang semuanya sesuai rencana dan kita akan masuk tepat setelah Secret Service menyelesaikan tugas mereka.”
***
“Ada apa?” tanya Lana.
“Sally baru memberi tahu bahwa dia akan pulang terlambat. Gara-gara dipanggil ke sekolahku dan dia harus mengganti jam kerjanya. Itu artinya aku harus makan malam sendiri.”
Gadis itu menatap teman barunya dengan prihatin, “Kalau begitu kenapa kamu tidak mampir ke rumahku dulu saja?” dia lalu menawari. “Akan menyenangkan aku ada teman buat makan malam. Lagi pula ayahku malam ini ada acara di kantornya sehingga makanan yang sudah disiapkan akan tersisa banyak.”
Jordan mengangkat bahu, sedikit ragu, “Kurasa itu bukan ide bagus. Kita kan baru kenal. Apa ayahmu tidak keberatan ada cowok asing mendatangi rumahnya?”
Lana tertawa, “Dari mana sih asalmu sebenarnya?”
“Dari Brooklyn. Kenapa?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu New York menciptakan cowok-cowok kolot.”
“Apakah menjaga etika termasuk indikasi kolot?”
“Ini hanya makan malam. Kamu harus makan malam sendiri sementara kakakmu bekerja sampai larut. Aku harus makan malam sendiri karena ayahku juga ada urusan di kantornya sampai tengah malam. Jadi kenapa hal itu tidak bisa menjadikan kita makan malam sama-sama?”
“Apakah ayahmu tidak keberatan aku menemani kamu di rumahnya?”
“Dia akan keberatan kalau kamu kuperkenalkan sebagai pacar yang akan mengajakku clubbing,” Lana ketawa. “Lagi pula aku akan memperkenalkan kamu sebagai teman sekolahku, kok! Kalau itu tidak masalah buatmu.”
“Yeah, kurasa kamu benar,” Jordan mengangguk.
“Sepertinya begitu…karena kalau kamu berubah pikiran pun kamu sudah melewatkan stasiun di mana kamu harus turun.”
“Sial!” Jordan menepuk dahinya menyadari ucapan Lana benar. Dia tidak menyimak saat informasi stasiun diberitahukan, menatap nanar di balik jendela ketika papan nama Stasiun Burlingame berlalu dengan perlahan. Tentu saja terlambat baginya untuk turun karena pintu sudah menutup beberapa detik lalu sementara kereta telah berjalan menuju ke stasiun berikut, yang jaraknya lumayan jauh sehingga perlu waktu yang tidak sedikit bila dia turun di sana dan kembali lagi ke Burlingame. Bisa-bisa dia melewatkan jam makan malam, padahal perutnya mulai keroncongan. Dipandangnya Lana. “Sepertinya kamu melakukannya dengan sengaja.”
Lana cekikikan, “Jangan menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang kamu buat.”
“Aku belum pernah melewatkan informasi kereta kalau bukan karena seseorang yang mengalihkan perhatianku.”
“Dari mana kamu yakin kamu belum pernah melewatkannya? Kamu kan belum sampai seminggu menaiki subway ini, kan? Tunggulah sampai kamu mengalaminya di minggu-minggu depan, karena ayahku seringkali melewatkan banyak stasiun ketika menjemputku di sekolah.”
“Berapa sih usia ayahmu?” Jordan berusaha mengalihkan perhatian.
“Silakan menebak setelah bertemu sendiri dengannya…”
“Apakah dia sepayah itu?”
“Soal kereta? Mungkin, ya! Tapi dia jelas ayah yang terbaik…” sahut Lana. “…meskipun kadang dia memang banyak membuatku terkejut.”
“Aku tidak sabar bertemu dengannya.”
__ADS_1
***