
Profesor McQueen mengerutkan kening mendengar pertanyaan si ******* yang tanpa basa-basi, “Bagaimana dengan para sandera? Kupikir aku akan menerangkannya setelah kami bertukar tempat.”
“Para sandera baik-baik saja di dalam sana…” si penjahat mengedikkan kepala ke pintu di belakangnya. Saat
Profesor McQueen mendongak, terlihat barisan sandera telah menunggu di balik pintu sementara beberapa ******* lain berdiri mengawasi dengan senjata teracung. “…kalian bisa bertukar tempat bila aku suka dengan apa yang kamu usulkan, Profesor.”
“Baiklah! Fire Ball adalah prototype drone militer yang digunakan untuk pengeboman udara. Memang tidak secanggih drone yang dipakai di Abadan baru-baru ini, tapi cukup efektif untuk menghentikan Apache yang sedang melaju di udara. Mengaktifkannya dari sini akan membantumu mencapai tujuanmu, bukan?”
Letnan Mills menengok ke arah Profesor McQueen dengan terkejut, “Itu rencana anda? Tahu begitu aku tidak mengijinkan ini…itu sama saja membunuh…”
Namun Profesor McQueen tak mengindahkannya, “Satu orang berkorban, daripada tiga puluhan orang tak berdosa harus tewas sia-sia. Kamu mendapatkan apa yang kamu mau, aku menyelamatkan tamu-tamu dan staffku.”
“Anda gila, Profesor! Sama gilanyadengan Tim!” Letnan Mills mengangkat pistol dan menodongkannya ke kepala Profesor McQueen. “Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu.”
Si pemimpin ******* ganti menodongkan pistolnya ke arah Letnan Mills, “Lakukan itu, Letnan Mills. Dan aku jamin anda tidak akan menjadi pahlawan yang membawa para sandera ini keluar…” orang itu lalu berpaling kepada Profesor McQueen. “Aku suka rencanamu. Lakukan itu untuk kami, dan aku akan bebaskan mereka sekarang.”
“Bila anda menepati janji, aku juga akan melakukan yang sama,” si ilmuwan menyahut.
“Bebaskan para sandera…” seru orang itu menengok ke belakang.
Profesor McQueen melirik Letnan Mills, memberinya senyum sekilas, sementara sang polisi menatap tak percaya karena rencana pria itu berhasil membuat sandera keluar satu per satu. Letnan Mills menghitung, ternyata ada sekitar tiga puluh lima orang semuanya, wajah-wajah mereka tampak lega begitu menyadari bisa keluar dari pintu gerbang bangunan. Kelegaan dan kegembiraan juga dirasakan Profesor McQueen mengetahui Carl Trish masih hidup.
“Carl?” pria itu memeluk asistennya dengan suara melengking, nyaris tercekik.
__ADS_1
Mata Carl Trish berkaca-kaca, kecuali darah yang telah mengering di telinganya, pria itu terlihat baik-baik saja. Dia balas merangkul atasannya, “Profesor McQueen… benarkah itu? Benarkah anda mau mengaktifkan Fire Ball?”
“Demi kalian semua… agar kalian selamat, Carl!”
“Jangan lakukan itu, Profesor! Tolong pertimbangkan…”
“Hanya ini satu-satunya cara…”
“Jangan ada yang mengobrol!” bentak si pemimpin *******. “Jalan terus…”
“Sudah semua?” tanya Letnan Mills.
“Seperti yang kamu lihat. Kami tidak menyisakan seorang pun. Nah, sekarang silakan masuk Profesor,” si pemimpin ******* menyahut.
“Lakukan tugas anda dengan baik, Letnan!” Profesor McQueen menandaskan.
Polisi itu berdiri di depan untuk memandu para sandera meninggalkan pintu gerbang, sementara Profesor McQueen masuk dengan pintu ditutup setelahnya. Awak media bertepuk tangan begitu Letnan Mills dan rombongannya sampai di tempat yang aman bersama para polisi lainnya. Sebagian sandera, terutama yang wanita, bertangis tangisan penuh haru. Tidak menyangka nasib baik masih berpihak dengan meloloskan mereka dari maut.
“Tuhanku…aku pikir aku tidak akan bisa keluar…”
“Aku pikir malah aku akan mati…”
“Aahh…seandainya ponselku tidak diambil…aku bisa mengabari keluargaku…”
__ADS_1
Bukan hanya para sandera yang menitikkan air mata, beberapa awak media juga menghapus lelehan air mata di pipi untuk yang kesekian kali. Dan bagi beberapa dari mereka, momen itu segera digunakan untuk melakukan siaran live. Kru VOA adalah salah satu yang sudah bersiap untuk itu. Setelah mengambil sudut gambar dari para sandera yang tengah berkumpul dan berpelukan, reporter wanita dari VOA yang telah selesai berdandan segera berdiri di depan kamera. Bibirnya yang dihiasi lipstik yang berwarna senada dengan rambut pasirnya menjadi pemanis yang menarik hati begitu dia melemparkan senyum dan berbicara di depan mic.
“Saya Sandy Bridges dari Voice of America melaporkan langsung dari halaman Machina Factory di Brisbane, San Francisco… seperti yang baru saja kita lihat tadi, ini adalah momen mengharukan dari para sandera yang baru saja dibebaskan dari bangunan utama setelah Letnan Mills dari SFPD berhasil melakukan negosiasi dengan para ******* dan membawa mereka keluar.”
“Saya hitung tadi ada kurang lebih tiga puluh orang yang selamat dari penyanderaan, sayangnya kami belum mendapat ijin untuk wawancarai secara langsung salah satu dari sandera atau polisi karena masalah ini belum selesai. Para ******* yang melakukan sandera masih bertahan di dalam bangunan utama entah sampai kapan, dan aparat keamanan sepertinya juga masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penggerebekan.”
“Belum diketahui juga siapa para ******* yang ada di sana, apa alasan mereka melakukan penyanderaan, dan kenapa akhirnya ******* setuju membebaskan semua sandera. Padahal di media sosial ramai dinyatakan bahwa ******* mengancam akan membunuh sandera seorang tiap satu jam, demi membuat Presiden Howard Tramp yang sebelumnya berhasil meloloskan diri untuk kembali ke Machina Factory. Ada masalah apa antara ******* dengan Presiden kita, itu juga hal yang menarik untuk ditunggu…”
“Namun satu hal yang bisa dipastikan saat ini, SFPD sedang mendatangkan beberapa mobil tambahan untuk mengangkut para sandera ini kembali ke kota, karena keamanan mereka merupakan hal yang penting untuk saat ini. Demikian laporan terbaru dari kasus penyanderaan di Machina Factory. Tetap ikuti perkembangannya bersama saya, Sandy Bridges dari Voice of America… melaporkan langsung dari Brisbane, San Francisco…”
Gadis itu lalu bertanya kepada sang kameramen setelah menyudahi laporannya, “Bagaimana? Masih ada yang kurang?”
“Sempurna!” si kameramen mengangkat jempol. “Penonton di rumah pasti menitikkan air mata haru mendengarmu.”
Pemandangan itu mungkin jadi sesuatu yang mengharukan bagi hampir semua orang, terkecuali seorang pria yang baru saja hadir. Orang itu berdiri di belakang awak kru media, dengan mantel bernuansa gelap yang menjuntai hingga ke lutut dan kaca mata hitam, sementara rambut dan dagunya dicukur klimis, dengan wangi after shave yang merebak ke segala arah.
Karena baru tiba di tempat itu beberapa menit yang lalu, pria itu menyadari dirinya melewatkan beberapa hal. Di antaranya bagaimana Profesor McQueen melakukan pertukaran dirinya dengan gagah berani, supaya para sandera bisa keluar dari bangunan utama Machina Factory.
Meski senang karena drama penyanderaan berakhir baik – setidaknya begitu dengan selamatnya seluruh sandera – tapi dia sepakat dengan para karyawan Machina Factory yang telah bebas, hal ini belum benar-benar berakhir sampai para ******* diringkus… juga tokoh bernama Profesor McQueen yang rupanya masih tertinggal di dalam sana.
Lelaki muda itu jadi ingin mengetahui siapa orang yang dipanggil Profesor McQueen oleh para sandera, selain bahwa ilmuwan itu merupakan pendiri Machina Factory bersama Duncan Tramp. Dimasukinya dokumentasi digital di dalam Aurisnya untuk membuka kembali file yang diberikan Mr. Janus. Hanya beberapa detik kemudian, serangkaian foto Archibald McQueen terpampang di layar yang terpasang di lensa matanya.
Hebat juga… Archibald McQueen lulus dari MIT dengan predikat maxima cum laude… itu adalah predikat yang jarang diberikan kepada lulusan universitas yang berada di Massachusetts itu. Sudah lima belas paten yang dia ciptakan sejak mendirikan Machina Factory, dan salah satunya adalah prototype drone militer yang digunakan untuk mengebom Abadan beberapa waktu lalu. Pengembangan drone dengan tujuan tempur itu memberi pendapatan ratusan juta dollar bagi Machina Factory dari pihak Angkatan Udara pada tahun lalu saja. Pria yang sungguh luar biasa…entah kenapa, Mr. Janus atau Terra Empire belum merekrutnya…
__ADS_1
***