
“SFPD sudah datang…juga tim SWAT…mereka bergabung bersama security tempat ini…”
Laporan anak buahnya yang sedari tadi mengintai membuat si pemimpin menghampiri jendela terdekat dan melongok ke luar. Jumlah orang yang bergerombol di luar makin banyak saja, dan seragam mereka lebih bervariasi dari sekedar nuansa putih-biru, warna yang merupakan warna seragam keamanan Machina Factory.
Empat mobil polisi dan sebuah kendaraan mini bus lapis baja nongkrong di halaman, menambah keangkeran suasana orang-orang yang sedang gusar di luar sana. Lampu sirine di atas mobil tetap dinyalakan, seolah derasnya cahaya yang menghambur darinya dapat menimbulkan efek psikologis menakutkan bagi lawan. Tapi tidak ada yang lebih menakutkan daripada benda yang ada di atas mini bus mereka…
Samar-samar siluet senapan otomatis kaliber raksasa terlihat menempel di atap mini bus lapis baja, moncong senjata yang tengah menunduk lunglai itu terkesan tak berbahaya saat ini tapi dia paham dahsyatnya daya hancur peluru yang keluar dari senjata tersebut. Akan semakin berbahaya bila digunakan oleh orang-orang gusar yang tidak senang bila mereka tidak berhasil mengeluarkan pemimpin tertinggi mereka yang terjebak di dalam gedung ini.
“Mereka pasti berusaha masuk lagi seperti yang dicoba beberapa petugas keamanan ****** itu sebelumnya…” komentar salah satu anak buahnya.
“Biarkan saja mereka mencoba! Kita punya barikade penghalang yang tak kalah buas,” sang pemimpin menanggapi sambil melambaikan remote control peledak. Seringai di wajahnya menunjukkan bahwa dirinya tidak akan segan mengaktifkan peledak sebelum waktunya bilamana aparat memaksa masuk buat menangkap mereka, hal itu tetap berlaku sebelum misi berhasil.
“Aku tidak peduli berapa nyawa yang harus hilang. Bagiku misi harus tuntas. Presiden itu harus mati. Bila selembar nyawanya sepadan dibayar dengan ratusan nyawa kita dan orang-orang ini…itu sesuatu yang wajar, mengingat posisinya yang tinggi…”
Mendadak terdengar bunyi mendesis keras…
Karena tak ada seorang pun yang berani bersuara maka desisan itu laksana bunyi jarum yang jatuh di keheningan…para ******* menoleh ke arah orang-orang yang ditawan di hall untuk mencari tahu dari mana asalnya desisan yang terus-menerus terdengar itu…beberapa menit kemudian terdengar seruan dari salah satu ******* dan orang itu menunjuk-nunjuk Carl Thris.
“Ini Letnan Mills dari SFPD…” terdengar kalimat itu di antara desisan pelan.
“Nah…nah, rupanya kamu punya sesuatu yang kami tidak tahu,” tegur si pemimpin itu begitu berada di dekat Carl. Tangannya meraih ke balik kantung jas asisten Profesor McQueen sebelum mengeluarkan walkie-talkie dari baliknya.
Desisan itu terdengar kembali sebelum diakhiri dengan ucapan yang sama, “Bila ada dari ******* yang ada di dalam gedung mendengar panggilan ini, ini Letnan Mills dari SFPD…”
“Lucu bagaimana kalian mengatai kami ******* sementara negara kalian… juga pemimpin kalian…adalah ******* yang sebenarnya, Letnan Mills!”
“Saya rasa anda salah satu dari mereka yang melakukan penawanan di Machina Factory. Dengan siapa saya bicara?” balas suara dari walkie-talkie.
“Namaku tidak penting! Yang penting adalah kalian semua enyah dari tempat ini atau aku akan meruntuhkan tempat ini jadi abu.”
“Tidak masalah apa yang hendak kalian lakukan di dalam sana,” balas Letnan Mills. “Yang kuminta kalian menghentikannya sekarang juga.”
__ADS_1
“Berani-beraninya kalian meminta yang seperti itu !!!” si pemimpin membentak dengan beringas. “Kalian tidak dalam posisi tawar-menawar, mengerti?”
“Kenapa nada bicaramu jadi kasar? Tenang saja, kawan! Aku meminta baik-baik untuk membatalkan apa yang jadi rencana kalian supaya kita bisa pulang dengan tenang…melupakan ini semua…” kata Letnan Mills.
“Aku tenang! Memangnya kamu tidak bisa mendengar aku tenang?”
“Yeah, aku yakin kamu tenang. Sama seperti aku juga tenang di sini. Cuma kamu tahu apa yang bisa membuat kita lebih tenang lagi, kawan?”
“Aku bukan kawanmu…jangan panggil aku kawan…”
“Yang bikin aku tenang adalah kalau kamu memperlakukan Presiden dengan baik di dalam sana. Tinggal katakan padaku dia aman dan aku akan benar-benar tenang di sini karena kita sepaham.”
“Yeah, dia aman!”
“Bagus! Boleh aku bicara dengannya?”
“Jangan lupa. Kalian masih dalam kondisi tidak bisa tawar-menawar.”
“Aku kemari bukan hendak mencari partner kerja sama!” setelah itu si pemimpin ******* meninggalkan walkie-talkie, membiarkan Letnan Mills memanggil-manggil tanpa hasil.
“Boss,” panggil anak buahnya yang masih tetap mengawasi jendela.
Orang itu menunjuk ke bawah, pergerakan di sana makin intens dan ada atmosfer ketegangan pada kerumunan aparat keamanan itu. Letnan Mills mungkin tidak puas dengan pembicaraan barusan sehingga memerintahkan anak buahnya untuk menyebar ke berbagai arah seolah mengepung Machina Factory. Si pemimpin ******* menggeleng-geleng, “Sudah pasti mereka ngotot menerobos kemari. Siapkan diri kalian!”
Anak buahnya mengangguk, merespon dalam bahasa asing yang membuat sang atasan menepuk bahunya, “Itu yang kuharapkan! Semoga Tuhan menaungi kita.”
“Semoga Tuhan menaungi kita,” sahut anak buahnya dengan mengepalkan tangan.
***
Sementara para ******* menunggu serangan di dalam bangunan, Letnan Mills masih menempelkan mulut di depan walkie-talkie dan berbicara dengan nada gusar, “Kurasa kalian tidak ingin kami tidak tenang, bukan? Sebab kalau kesabaran kami habis, waktu bukan lagi milik kalian, dan kami akan menyerbu…”
__ADS_1
Hanya desisan yang terdengar…
“Halo…kalian mendengarkanku?” panggil Letnan Mills sebelum dilemparkannya kepala mic dengan marah. Dia sadar ini tidak akan berjalan mudah. Penyusup yang bisa menyelinap di antara Secret Service pasti tidak akan gampang dipengaruhi untuk membatalkan misi mereka begitu saja…apa pun misi itu…
“Sepertinya orang itu memutus komunikasinya,” ucap Komandan regu tim SWAT yang berdiri di samping Letnan Mills. Sama seperti anggota tim SWAT yang lain, pria itu memakai seragam biru gelap, lengkap dengan rompi Kevlar, helm, sabuk besar mengelilingi pinggang, pelindung lutut, dan sepatu boots. Yang membedakan orang itu dengan anggota tim SWAT lain adalah SIG Sauer yang tersarung di pinggang kanan, yang menjadi senjata kedua selain senapan otomatis Heckler & Koch MP5.
Polisi itu berpaling kepada koleganya, “Orang ini tidak bisa diajak bicara, Ron! Dia banyak membual. Jadi aku yakin Presiden tidak bersama mereka.”
“Maksud anda Presiden bisa meloloskan diri, Letnan Mills?”
“Kalau dia ditawan mereka pasti mengijinkanku bicara dengannya untuk meminta tebusan, kalau tebusan yang mereka cari. Atau meninggalkan tempat itu dengan segera, bila misi mereka memang membunuh Presiden.”
“Bukan berarti Presiden dalam keadaan aman.”
“Itu juga yang kukuatirkan. Oleh karena itu siapkan timmu…aku juga akan mengerahkan anak buahku. Kita masuk lima menit lagi,” Letnan Mills berkata seraya memandang arloji.
“Ten-Four!” si Komandan regu tim SWAT menyahut, juga dengan melirik arlojinya. “Tiga sniperku sudah stand by di sudut-sudut tertinggi itu untuk menjaga kita dari sana…sana…dan sana…” ditunjuknya tiga arah dekat bangunan utama Machina Factory, yakni di bangunan kedua yang berada di belakang, menara air, dan bangunan lain di sebelah timur.
“Masih ada kemungkinan ******* berkeliaran di luar sini?”
“Tidak! Kami sudah menyapu semua tempat di luar. Sejauh ini aman.”
“Oke! Kami jadi barikade di depan pintu utama untuk mengawal selagi kalian masuk.”
“Apakah akan ada tambahan armada, Letnan?”
Letnan Mills mengangguk, “Dalam perjalanan! Aku sudah menghubungi markas setelah dapat informasi Presiden di sana. Mereka akan membantu bila usaha kita gagal.”
“Semoga saja tidak perlu begitu!” balas Komandan Regu tim SWAT itu dengan parau. “Jangan lupa aba-abanya, Let!”
Letnan Mills mengangguk, ”Kiranya Tuhan menyertai kita…” yang dibalas oleh sang kolega dengan acungan jempol sebelum keduanya berpisah untuk melakukan misi pendobrakan ke dalam bangunan melalui peran masing masing…
__ADS_1
***