
Ditinggalkannya catatan mengenai Profesor McQueen dan lewat pindaian Auris yang mengatasi remangnya halaman Machina Factory, pria itu kembali mencari orang yang harus didekatinya. Dikenalinya Letnan Mills, juga kedua anggota Secret Service, Jack Higgins dan Bill Sandford, tapi Abel Felaini tidak kelihatan batang hidungnya di situ…
Biasanya wartawan akan turun ke lapangan setelah mendapat berita dari narasumber yang menelepon. Tapi tidak dengan Abel Felaini. Kalau bukan karena tipenya sebagai wartawan yang hanya suka melakukan penggalian berita dari belakang meja atau besar kemungkinan orang itu menugaskan koleganya untuk turun ke lapangan demi menjadi matanya…sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh wartawan senior seperti Felaini…
Dan bukan hal sulit menemukan wartawan dari San Francisco Heraldotcom karena orang itu bukan hanya memakai seragam dengan lambang perusahaan media online itu, tapi juga berusaha tampak menonjol dengan menanya nanyai beberapa polisi yang berjaga dekat garis kuning…padahal jelas-jelas mereka menolak bicara…
Kalau begitu dia akan menemui Abel Felaini setelah ini, namun sebelum itu dia masih ingin tinggal di tempat ini sejenak. Dia ingin mengetahui bagaimana aksi teror ini berakhir nantinya…sepertinya itu akan tergantung kepada Letnan Mills, yang saat itu memberi komando kepada anak buahnya untuk bersiaga, dan seharusnya tak terlalu sukar untuk meringkus para ******* setelah sandera-sandera tidak ada lagi di sana.
Lelaki muda itu membesarkan volume Auris, yang tengah diaktifkan untuk menguping pembicaraan kerumunan polisi dan bekas orang-orang yang ditawan di depan sana. Didengarnya Letnan Mills berkata lewat walkie-talkie seraya memandang arlojinya, “Kita akan masuk setengah jam lagi.”
“Bagaimana dengan Profesor McQueen?” salah seorang bekas sandera yang merasa berhutang budi bertanya kepada Letnan Mills.
“Anda tidak akan membiarkannya terlalu lama di dalam sana kan, Letnan?” Carl Trish yang memprotes paling keras.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk segera mengeluarkannya,” sahut sang polisi menenangkan.
“Kenapa anda dan tim polisi belum bergerak?”
“Belum waktunya. Kami masih menunggu…”
“Pokoknya jangan biarkan Profesor McQueen mengaktifkan Fire Ball,” Carl Trish terus mengejar dengan pernyataan. Kecemasan menghiasi wajahnya. “Kudengar dia masuk ke sana untuk mengaktifkan Fire Ball.”
"Itu yang dikatakannya, sebelum aku tahu Fire Ball itu akan digunakan untuk membantu ******* membunuh Presiden sehingga mereka setuju mengeluarkan kalian semua.”
Carl Trish terperangah, “Apa maksudmu Fire Ball membunuh Presiden?”
“Begitu ucapan Profesor McQueen kepada ******* itu ketika aku bersamanya.”
Carl tampak emosi, “Letnan Mills, Fire Ball itu fasilitas yang dipasang Profesor supaya Machina Factory tidak jatuh ke tangan yang salah. Fire Ball justru akan meledakkan seluruh bangunan utama tanpa sisa. Dan kalau Profesor McQueen ada di dalam bersama para *******, itu artinya dia berniat mati bersama mereka…”
__ADS_1
Perkataan Carl tidak hanya mengejutkan Letnan Mills tapi juga lelaki muda yang sedang menguping di antara para awak media. Dia bergumam dalam hati, “Ini semakin menarik…”
Sementara polisi tengah bersiap-siap dalam posisi menunggu sesuai dengan waktu yang diminta Profesor McQueen kepada Letnan Mills, sang ilmuwan yang berada di bangunan utama Machina Factory tengah digiring oleh para ******* setelah melewati pintu depan bangunan. Berbeda dari saat serangan awal, para ******* itu kini telah menanggalkan topeng mereka setelah hanya Profesor McQueen yang tertinggal.
Pria-pria ini berwajah asing, dan dari kulit kecoklatan yang mereka miliki jelas mereka bukan warga negara Amerika. Seperti komentar Jack Higgins, mereka berbahasa Inggris dengan lancar tetapi terdengar aksen aneh di dalamnya. Aksen yang sepertinya berasal dari wilayah Timur Tengah. Profesor McQueen menduga mungkin Arab, Jordania, atau Syria.
Si pemimpin ******* adalah seorang pria dengan wajah yang tampak familiar bagi Profesor McQueen. Pria itu berpikir sebentar dan wajahnya memucat, “Demi Tuhan, apa yang terjadi pada Lou Smith?”
“Apakah itu nama panjang Doktor Smith? Lou Smith?” sahut pria itu dengan acuh tak acuh. “Sangat disayangkan nasibnya…”
“Kalian membunuhnya?” Profesor McQueen langsung lemas karena paham bahwa hanya itu kemungkinan yang dapat terjadi bila berkaitan dengan para ******* ini.
“Kami butuh ID nya…juga tangannya…untuk masuk kemari, Prof! Mustahil dia mau memberikan tangannya dengan cuma-cuma. Salahkan sistem keamananmu yang kelewat canggih!”
“Kalian benar-benar bedebah,” Profesor McQueen bergumam dalam hati. Namun dia tidak berani mengucapkannya terang-terangan sebab mengambil sikap bermusuhan justru akan membuyarkan rencananya.
Si pemimpin ******* kembali menegur Profesor McQueen, “Jadi dimana fasilitas Fire Ball itu berada, Prof?”
“Maksud anda, itu ada di ruang kerja CEO?” wajah si pemimpin ******* berubah pucat.
“Pengendali utamanya. Tetapi drone dengan peluru kendalinya ada di bawah tanah Machina Factory.”
“Sayangnya, hampir seluruh ruangan sudah saya tembaki,” pria itu dengan wajah kesal, menyadari ulahnya justru merugikan diri sendiri.
“Maksud anda tidak ada yang bersisa?” Profesor McQueen berhenti, menatap dengan terkejut kepada si pemimpin *******.
"Karena anda membuat saya kesal dengan mengeluarkan si brengsek itu sebelum kami menangkapnya!”
“Jangan katakan anda menghancurkan semua yang ada di ruangan itu.”
__ADS_1
“Hanya layar monitornya saja,” salah satu anak buah ******* menjawab.
Profesor McQueen terlihat lega, “Kalau begitu ada baiknya sebelum naik ke lantai lima saya mengambil TV monitor cadangan dari gudang di lantai empat. Hanya makan waktu beberapa menit saja menggantinya…” dan ini sesuai yang diinginkan sang ilmuwan, beberapa menit untuk mengulur waktu demi memberi kesempatan Letnan Mills dan timnya bersiap menyerbu.
“Biarkan anak buah saya yang mengambilnya. Beritahu mereka bendanya seperti apa, dan kita tinggal menunggu di lantai lima…”
Profesor McQueen memandang si pemimpin *******, sungguh suatu cara yang efisien untuk menghemat waktu, dia berpikir cepat bahwa dia mungkin tak bisa mendapatkan waktu sebanyak yang diperlukan tapi masih bisa mengulur waktu dari pemasangan monitor baru. Lelaki itu tersenyum seraya membetulkan letak kaca matanya, “Tidak masalah…” setelah itu memberitahu ciri-ciri barang yang diinginkannya kepada anak buah yang ditugaskan oleh si pemimpin *******.
“Anda tidak keberatan kalau saya ikut ke lantai lima, kan?” si pemimpin ******* berkata dengan nada yang manis setelah anak buahnya yang ditugaskan mengambil TV monitor pergi menuju gudang di lantai empat
“Sama sekali tidak! Saya yakin anda pasti ingin melihat bagaimana helikopter Presiden Tramp dijatuhkan oleh drone kami.”
Si pemimpin ******* tersenyum lebar, “Senang sekali anda bisa memahami, Prof!”
“Dan kelihatannya bukan hanya anda yang menginginkannya! Sepertinya anak-anak buah anda juga ingin ikut melihat,” Profesor McQueen berkomentar setelah melihat wajah-wajah di sekelilingnya.
“Asalkan ada layar lebar dimana semua orang bisa menontonnya.”
“Kalau anak buah anda mengambil TV monitor sesuai arahan saya, akan ada layar yang cukup buat dipandang dua puluh orang.”
“Dua puluh orang?” setelah itu si pemimpin ******* tergelak-gelak lalu berpaling kepada anak buahnya. “Kalian dengar itu? Dua puluh orang…orang ini memang lucu…”
******* yang lain ikut tertawa walaupun Profesor McQueen tahu mereka sepertinya tidak paham bagian mana dari ucapannya yang dianggap lucu oleh si pemimpin *******, sebab dia sendiri juga tidak mengetahuinya. Sang ilmuwan memandang dengan wajah serius, “Kurasa kita sudah sepaham soal itu. Jadi apakah semuanya mau mengikuti anda ke lantai lima? Karena saya pikir lift tidak akan muat...”
"Sayangnya kita tidak bisa menggunakan lift. Benda itu macet. Tidak dapat digunakan.”
“Kalau begitu terpaksa kita naik tangga darurat…”
“Silakan duluan, Profesor!”
__ADS_1
***