TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 7 : MATA GANTI MATA, GIGI GANTI GIGI


__ADS_3

“Katakan sejujurnya, apakah anda puas dengan hasil pembicaraan tadi?” tanya Prefect Cointa begitu wanita itu dan Mr. Janus sudah berada di luar Gedung Putih dan dalam perjalanan menuju ke helipad.


Ekspresi Mr. Janus sebenarnya sudah memberikan jawaban kepada wanita itu tetapi dia menjawab dengan diplomatis, “Setidaknya kita sudah mendapatkan janji Tramp untuk tidak meluncurkan peluru nuklirnya.”


“Anda tahu kan dia orang yang suka ingkar janji.”


“Mungkin dalam hal berbisnis atau kebijakannya ke publik. Tapi kepada kita, sejauh ini dia masih mengikuti aturan sistem, bukan?”


“Rasanya begitu,” wanita itu mengakui dengan berat hati, “Aku tidak percaya dia melakukan negosiasi kepada kita.”


Mr. Janus mengangkat bahu, “Dia dibesarkan di negara demokrasi. Juga pengusaha. Itu kebiasaan mereka.”


“Pria brengsek itu benar-benar laksana kacang lupa kulitnya,” omel Prefect Cointa. “Apa dia lupa kalau kita yang menempatkannya di kursi tahtanya?”


“Oleh karenanya aku percaya kamu mampu mengatasi yang satu itu, Clementine!” Mr. Janus menanggapi. “Dalam hal ini kita masih membutuhkannya, dan dia membutuhkan kita.”


“Akan kupenggal kepalanya dengan tanganku sendiri bila dia ingkar janji.”


Mr. Janus hanya tertawa mendengar ucapan Clementine Cointa.


Itulah percakapan yang terjadi sebelum dirinya berpisah dengan Mr. Janus, jelas masih banyak ketidakpuasan bertengger di hati mereka berdua usai pertemuan dengan Howard Tramp. Pada akhirnya dia juga yang harus membereskan ‘sampah’ yang dibuang Presiden Amerika itu di tempat ini.


Atmosfer duka memenuhi seluruh kota, doa-doa yang berkumandang dari pengeras suara di seluruh Masjid di Teheran menggema ke segala arah sejak wanita itu hadir di jalanan kota. Di dalam doa berbahasa Arab itu beberapa kali didengarnya nama Sulaimandi diselipkan, dan harapan agar sang pahlawan mendapat pahala berupa kedamaian di surga sesuai dengan amal perbuatan yang telah diberikannya bagi negara.


Seperti layaknya pahlawan, Sulaimandi mendapat penghormatan penguburan yang luar biasa, arak-arakan mengiringi peti jenazah yang digotong oleh tentara-tentara muda terpilih, beberapa koleganya di militer ikut berjalan menyusuri jalan dari Masjid dimana Sulaimandi disholatkan hingga tiba ke pemakaman, mereka tampak gagah dengan seragam lengkap. Di belakang arak-arakan, puluhan wanita berkerudung mengikuti dengan isak tangis yang tidak kunjung henti.


Shah Iran dan menteri-menterinya sudah menunggu di pemakaman. Mereka bergabung dengan arak-arakan yang membawa peti jenazah Jenderal Sulaimandi begitu rombongan melewati gerbang makam dan berjalan menuju lubang yang sudah disiapkan sebagai peristirahatan terakhir sang Jenderal.


Clementine Cointa memakai kerudungnya, membiarkan rambut wanita terurai merupakan sesuatu yang dilarang di tempat ini, hal itu juga tergolong sebagai kejahatan. Dia sedang tidak berminat untuk cari perkara di tempat dimana orang-orang sedang berduka dan dipenuhi kemarahan akibat kematian yang tragis.


Entah kenapa, dia masih tetap merasa aneh dengan kerudung di atas kepalanya. Meski pun dia memakai benda itu, tetap saja pakaian seragamnya adalah seragam lapangan dengan model celana panjang ketat. Dan walaupun seragam bercelana ketat ditutupinya juga dengan mantel tunik, dia tetap merasa akan menjadi pusat perhatian.


Oleh karena itu Clementine Cointa berdiri agak jauh dari rombongan yang sedang menguburkan Jenderal Sulaimandi, atau setidaknya sesuatu yang dijadikan simbol sang Jenderal, sebab dia yakin tidak mungkin ada yang bersisa dari serangan drone semalam. Tubuh sang Jenderal mungkin sudah lebur jadi tanah dan debu di lokasi kejadian. Itu mungkin sebabnya digunakan peti jenazah, karena peti itulah yang diturunkan ke dalam lubang sebelum ditutup dengan tanah dan ditaburi bunga dengan iringan tangis serta doa.


Hampir dua jam lamanya dia menunggu untuk memastikan Shah Iran, yang menghadiri sendiri pemakaman, selesai dengan prosesi dan urusan salam-menyalam pelayat VIP yang terdiri dari keluarga sang Jenderal dan perwira tinggi kemiliteran. Di tempat lain tak jauh dari situ, tentara yang ikut berjaga di pemakaman sibuk mengusir para pelayat yang berduyun-duyun mencoba memberikan jabatan tangan kepada penguasa tertinggi negeri yang jarang mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Perlakuan kasar para tentara itu juga yang akhirnya membuat rakyat memutuskan pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Mendekati Shah Iran di tempat umum seperti ini merupakan sesuatu yang mustahil, jadi konyol saja bila dirinya berharap pria itu mau mendekatinya. Memanggil atau menunggui pria itu di tempat umum seperti ini bukanlah cara yang bagus. Dia perlu cara lain dan dia tahu salah satunya. Clementine Cointa berbalik menghampiri deretan kendaraan di lapangan parkir pemakaman dan tersenyum mendapati mobil terbaru, sebuah Rolls-Royce, yang tidak lain adalah kendaraan milik Shah Iran.


***


Imran Palevi tersenyum kepada orang terakhir yang dijabatnya sebelum ajudannya menarik dia untuk pergi dari situ. Senyuman itu bukan senyuman sesungguhnya karena jauh di lubuk hati, dia tengah menjerit untuk ketidakadilan ini. Senyuman itu adalah senyuman seorang Shah kepada rakyatnya untuk menunjukkan bahwa pemimpin yang mereka miliki adalah pemimpin yang tegar dan tidak cengeng. Apalagi dia punya rencana besar setelah kematian Jenderal Sulaimandi untuk menyamakan kedudukan dengan dalang pelaku tragedi ini.


Pria itu tengah berjalan menuju mobilnya ditemani iringan dari para menteri dan perwira ketika Menteri Keamanan Negara mendekatinya dan memberikan ponsel dengan kode yang membuat Shah tahu kalau itu telepon yang sedang ditunggunya.


“Orang saya di lapangan sudah menunggu perintah anda, paduka.”


“Luncurkan!” sahut Shah Iran.


“Siap diluncurkan dengan perintah anda,” sambung sang Menteri sebelum menanggapi telepon anak buahnya. “Luncurkan sekarang.”


“Berapa kans keberhasilannya, Pak Menteri?”


“Untuk Jathrib 35…sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen, Paduka,” jawab Menteri Keamanan Negara. “Dia tidak pernah gagal menciptakan kehancuran total.”


“Bagus,” Imran Pahlevi mengangguk puas, lalu menambahkan setelah tiba di mobil. “Kita akan matangkan rencana berikutnya besok.”


“Allah menyertai anda juga, Pak Menteri!” Shah Iran membalas sambil menepuk bahu bawahannya.


Penguasa tertinggi tanah Iran itu masuk ke mobil setelah bersalaman sekali lagi dengan anak buahnya. Dia begitu sibuk meladeni orang banyak sehingga baru menyadari dirinya tidak sendirian di dalam mobil ketika kendaraan beroda empat itu telah meninggalkan area pemakaman.


Wanita berhidung bengkok dengan kulit gelap itu duduk dengan tenang di sampingnya, wajahnya memancarkan ketidakpedulian dengan terus memandang ke luar sementara dia berkata menegur, “Seharusnya kamu menerima teleponku, atau setidaknya membalas pesan teksku, Shah Iran yang terhormat.”


Pria itu tidak bisa segera menjawab teguran wanita itu karena dia terperangah melihat mobilnya yang berjalan sendiri tanpa pengemudi. Namun kendaraan itu bukannya berjalan tanpa dikendalikan karena konsol kecil yang ada di genggaman wanita itu menampakkan citra dashboard dan kemudi, dimana di konsol itulah Cointa mengendalikan mobil itu sepenuhnya. Ketika wanita itu menggerakkan kemudi virtual dalam konsol untuk berbelok ke kiri, mobilnya pun membelok ke kiri mengikuti alur jalan.


“Kalau kami mendapatkan teknologi seperti itu, kami pasti bisa mengurangi jumlah korban prajurit yang mati sia-sia di medan perang,” Sang Shah berkomentar demi menutupi kekagumannya.


“Dan membiarkan jumlah kematian lebih banyak di pihak lain?” balas Prefect Cointa.


“Bukan aku yang memulai perseteruan ini, Prefect Cointa,” kata Shah Iran membela diri.


“Tapi pihakmu yang memberikan informasi palsu kepada intelijen Amerika tentang benteng itu sementara nuklirnya kamu sembunyikan di tempat lain.Dan itu menewaskan Jenderal Sulaimandi, aku ikut berbela sungkawa baginya nasibnya tragis, terjepit di antara dua gajah besar.”

__ADS_1


Mata Shah Iran menyipit, “Kamu menuduhku sengaja menempatkan Sulaimandi di benteng malam itu supaya drone Amerika bisa menghabisinya?”


Prefect Cointa mengangkat bahu, “Aku malah tidak berpikiran ke situ, Mr. Palevi! Tapi kalau anda ngomong seperti itu, aku makin yakin anda butuh martir untuk memicu perang yang seharusnya sudah lama meledak.”


“Howard Tramp itu manusia munafik. Dia melarang kami mengembangkan nuklir untuk sumber energi kami, sementara dia mengembangkan nuklir buat kepentingan rakyatnya sendiri.”


“Buat kepentingan seluruh umat manusia. Kami memberikan teknologi itu supaya ada sumber energi lain bagi bumi, bukannya sebagai alat pembunuh.”


“Bilang itu pada Howard Tramp. Dengan senang hati aku beritahu kalau usaha kalian itu gagal. Tramp dan militer Amerika sendiri sudah membuat itu….”


“Kami tahu apa yang dibuatnya karena kami sudah memberikan persetujuan buat Amerika,” sela Prefect Cointa. “Itu demi melindungi bumi dari serangan yang datang dari luar angkasa, Mr Palevi.”


“Mungkin! Tapi coba bayangkan…tidak…tidak perlu dibayangkan…karena ini nyata terjadi…coba anda pikir bagaimana bila sesuatu dengan kekuatan seperti itu mengarahkan tangannya kepada anda dengan maksud mengendalikan anda dengan rasa takut?”


“Anda berpikir berlebihan. Ada PBB dan Dewan Keamanannya yang akan mencegah itu.”


“Kenyataannya mereka belum melakukan apa-apa atas serangan drone semalam,” Shah Iran balik menantang.


“Anda perlu bersabar, Mr. Palevi. Beri mereka waktu untuk mengatasinya,” kata Prefect  Cointa. “Saya dan Mr. Janus sudah bertemu dengan Tramp di White House dan dia berjanji untuk menghentikan aksinya.”


“Kami sudah cukup bersabar!” komentar pria itu dengan wajah kesal. “Mungkin dia bisa seenaknya memberi janji itu kepada kalian, masalahnya bagaimana tanggung jawabnya kepada kehancuran yang sudah dia lakukan kepada kami. Tidak! Sekali ini kami tidak akan diam, dan saya sudah melakukan serangan balasan.”


Wanita itu terhenyak mendengarnya, “Apa yang sudah anda lakukan?”


“Kurasa anda bisa mengetahuinya lewat data informasi anda.”


Prefect Cointa menekan tombol Auris di telinganya dan layar hologram dari lensa kontak di matanya menampilkan berbagai adegan acak, yang menunjukkan wanita itu sepertinya tengah dalam moda pencarian informasi. Setelah gambar-gambar mulai melambat, muncul satu gambar yang menampakkan suatu tempat di wilayah selatan Baghdad, sebuah benteng yang hancur total dalam kobaran api.


Gambar dalam imaji Aurisnya juga memberi informasi bagaimana serangan terjadi dan penyebabnya adalah peluru kendali tipe Jathrib 35. Kain bendera yang tercabik di antara puing-puing membuatnya tahu benteng itu milik US. Militer Amerika sengaja membangun benteng tersebut di Baghdad untuk membantu Irak mempertahankan diri selama perang Teluk.


“Astaga, bagaimana kamu bisa melakukan kebodohan sejauh ini?” lagi-lagi wanita itu berkata dengan suara bergetar.


Shah Iran menanggapi dengan kalem, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi!”


***

__ADS_1


__ADS_2