TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 35 : NYAWANYA TANGGUNG JAWABMU


__ADS_3

“Seseorang tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?” Jack memandang berkeliling pada polisi yang ada di situ sementara Kepala Keamanan Machina Factory masih tetap mengacungkan pistol ke arah helikopter berisi Howard dan Duncan Tramp.


“Hentikan kegilaan ini, Tim!” tegur Letnan Mills yang baru sampai di tempat itu dengan nafas tersengal-sengal.


“Teroris-******* gila itu akan membunuh semua orang, Letnan! Kecuali kalau kita menyerahkan apa yang mereka ingini,” balas si Kepala Keamanan.


“Kamu pikir apa yang kamu lakukan bikin urusan kita jadi mudah?” Letnan Mills kembali menegurnya dengan ketus.


Pria itu tampak tidak peduli, “Kamu dengar apa yang yang kukatakan, Mr. Presiden? ******* itu akan membunuh sanderanya satu per satu kecuali kamu menyerahkan diri kepada mereka.”


Howard dan Duncan Tramp tentu mendengar apa yang diucapkan si Kepala Keamanan dengan jelas, tapi keduanya tampak tidak beranjak dari dalam helikopter. Oleh karena itu, pria itu kembali berteriak, “Apa kamu benar benar mau mengorbankan orang-orang tak bersalah untuk mati buatmu?”


“Pertimbangkan perbuatanmu baik-baik, Tim!” Jack Higgins ikut memperingatkan. “Apa bedanya kamu dengan ******* di dalam sana yang mengancam negara kita?”


“Higgins benar, Tim! Lihat yang kamu lakukan…” imbuh Letnan Mills.


“Menodongkan pistol kepada Presiden itu artinya kamu mau membunuh negara ini…”


Kalimat itu membuat wajah Kepala Keamanan yang tadinya kencang berubah menjadi sedikit mengendur. Dengan gelisah diliriknya sekeliling, baru menyadari keadaan dirinya yang tengah dikepung aparat bersama beberapa anak buahnya juga, di mana mereka semua menodongkan pistol ke arahnya…siap menembak bila dirinya melakukan hal bodoh yang akan mengancam Presiden Tramp.


“Kalian benar…kenapa aku jadi bodoh begini?” gumamnya.


Tubuhnya melunglai, pegangan pada revolver mengendur hingga akhirnya dia tidak lagi menodongkan senjatanya ke arah helikopter. Dua petugas polisi segera mengambil senjatanya dan meringkus si Kepala Keamanan, memasang borgol, dan membawanya pergi. Duncan Tramp menyempatkan diri turun dari helikopter lalu berteriak kepadanya, “Kamu tidak perlu balik ke Machina Factory, Tim! Kamu dipecat!”


“Cukup, Mr. Tramp!” Jack memperingatkan, menepuk punggung lelaki muda itu untuk memintanya kembali ke helikopter. “Sebaiknya kalian cepat pergi sebelum situasinya menjadi semakin aneh lagi di sini.”

__ADS_1


“Kuserahkan segala sesuatunya kepada anda, Jack!” kata Duncan Tramp.


“Sebenarnya Letnan Mills yang berwenang di sini, Mr. Tramp Junior. Tapi aku akan membantunya semampuku,” Jack Higgins menanggapi.


Letnan Mills, Jack Higgins, dan Bill Sandford memandangi helikopter yang naik ke udara lalu melayang pergi. Hati Letnan Mills laksana teriris ketika Apache itu mulai menghilang ditelan gelap malam. Orang yang seharusnya bisa bertanggung jawab malah melarikan diri sementara di seberang sana anak buahnya menggelandang si Kepala Keamanan bak pesakitan.


Apa yang dilakukan Tim tadi sebenarnya sempat melintas di benaknya. Letnan Mills tidak terlalu bersimpati dengan Howard Tramp sejak orang itu menduduki posisi Presiden di negara ini karena apa yang dilakukannya merupakan sesuatu yang tidak wajar sebagai pemimpin negara besar. Untungnya ide gila macam itu tidak digubrisnya. Posisinya di sini adalah sebagai pengabdi masyarakat. Dalam keadaan tertekan sekalipun, mustahil dirinya melakukan hal yang menyimpang walau harus menanggung konsekuensinya…


“Letnan Mills…aku sungguh kecewa padamu…” terdengar suara dari walkie-talkie yang membuat Jack Higgins dan Bill Sandford spontan menoleh ke arahnya.


“Dia masih mengamati kita?” Bill bertanya gugup.


“Dia terus mengawasi dari saat kalian membawa Presiden pergi ke helikopter. Tim mengancam Presiden karena orang ini minta kita menyerahkan Presiden atau sandera akan dibunuhnya satu per satu…” Letnan Tim menjawab.


“Aku jadi semakin ingin tahu dengan siapa kita berurusan,” komentar Jack.


BAAAAANGGGG!!!!


Ketiganya terlonjak mendengar letusan dari walkie-talkie, “Aku senang kamu menepati janjimu. Kalau begitu biarkan aku menepati janjiku.”


“Aa...aapa itu?” Bill membelalak kaget. “Dia barusan menembak sandera?”


“Itu karena aku membiarkan Presiden pergi,” Letnan Mills berkata dengan parau, ada nada keputusasaan di dalamnya.


“Apa kamu masih mau tetap dengan pendirianmu, Letnan Mills? Membuang-buang waktu dengan alasan dan kata-kata?”

__ADS_1


“Bagian mana dari kata-kataku yang tidak kamu mengerti, eh? Kalian gagal membunuh Presiden karena dia sudah pergi dari sini…selamanya…dan dia tidak akan kembali sampai kalian menyingkir…”


“Kamu masih dapat memanggil helikopter itu untuk berbalik arah, dengan Presiden Tramp di dalamnya tentunya, atau akan ada korban lagi satu jam… tidak…kupikir setengah jam lebih pas untuk membuat otakmu berpikir lebih cepat…ya, ya…setengah jam berikutnya aku akan bunuh satu nyawa…dan nyawa siapa pun yang kupilih itu jadi tanggung jawabmu…”


“DAMN! DAMN!” Letnan Mills memaki sejadi-jadinya.


Pada saat yang bersamaan, Carl Trish juga memaki sejadi-jadinya dengan suara lantang di lantai lima. Pria itu berjongkok dengan wajah kesakitan, memegangi telinga yang berdenging hebat ketika sang ******* tiba-tiba saja menembakkan pistol begitu dekat di telinganya. Carl kesakitan karena dengingan itu mempengaruhi bukan hanya pendengarannya, tapi juga seluruh isi kepala. Dirasakannya ada sesuatu yang merembes dari lubang telinga dan begitu melihat ke telapak tangannya, terdapat suatu cairan berwarna merah, yang dikuatirkannya gendang telinga kirinya pecah.


“Bajingan! Kenapa tidak sekalian saja kamu tembak aku!!!” erang Carl.


“Dan membiarkanmu mati seketika dengan mudahnya?” balas si pemimpin *******. “Tidak! Aku membiarkanmu hidup karena aku berjanji baru akan membunuhmu satu jam lagi. Karena aku melanggar janji itu dengan tidak membunuhmu, maka kamu baru akan kutembak mati setengah jam lagi…” setelah itu si pemimpin ******* menoleh kepada anak buahnya, “Seret dia kembali ke hall!”


Salah seorang ******* yang berdiri di belakang mencengkeram kerah kemeja Carl Trish dan menariknya untuk segera meninggalkan lantai lima, sementara ******* lainnya mengikuti di belakang. Namun sesampainya di tangga darurat, Carl menyingkirkan cengkeraman di bajunya dan berdiri meronta, “Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri…”


Si pemimpin ******* masih berdiri di kusen jendela yang berlubang karena pecahan kacanya berhamburan oleh ledakan bom saat mereka mencoba membuka pintu ruang kerja Duncan Tramp. Diawasinya titik cahaya dari yang tadinya adalah helikopter Apache yang membawa pergi sasaran yang harus dibunuhnya. Makin lama titik cahaya itu semakin menjauh di kegelapan langit hingga akhirnya menjadi titik samar yang tidak bisa dibedakan dengan gugusan bintang.


Orang-orang Secret Service ternyata lebih cerdik dan lebih cepat dari orang-orangnya, keberhasilan mereka melindungi sang Presiden membuatnya berada di sini dengan misi yang nyaris bisa dibilang sebagai kegagalan total. Memaksa Presiden untuk kembali ke tempat ini dengan ancaman membunuh sandera satu per satu hanyalah suatu garansi konyol karena dia yakin Presiden Amerika tak mungkin kembali menyerahkan dirinya demi warga sipil biasa…mustahil pula polisi ataupun Secret Service memenuhi tuntutan gilanya...tapi dia tidak mau mengakhiri misinya dengan tangan kosong.


Masih ada rencana lain yang terpikirkan olehnya. Bila dia memang harus gagal membunuh Presiden Amerika dengan tangannya sendiri, maka setidaknya dia harus melakukan sesuatu untuk membunuh karakter orang itu sehingga negara sialan ini kehilangan simbol yang bisa mereka banggakan…


Si pemimpin ******* memastikan dirinya sudah sendirian sebelum ia menarik ponsel dari saku celananya. Sebenarnya benda itu merupakan sesuatu yang tabu untuk dibawa-bawa dalam misi seperti yang sedang dijalaninya sekarang. Kemiliteran hanya mengijinkan pemakaian alat komunikasi berupa walkie-talkie dalam pelaksanaan operasional di lapangan, tapi dia terbiasa melakukan ‘sedikit’ kecurangan dengan membawa ponselnya, hanya sebagai alat berjaga-jaga, dan ternyata itu sangat berguna untuk rencana barunya…


Didekatkannya ponsel ke telinga sebelum nada sambung dijawab oleh suara pria yang meski sudah lama tak dijumpainya tetapi masih dikenalinya, “Halo? Abel Felaini di sini, siapa ini?”


“Jadi itu namamu sekarang?” si pemimpin ******* menyahut dengan nada mencemooh. “Halo, Abel Felaini…atau perlu kusebut namamu Abel Hisram?”

__ADS_1


Suara di ponsel itu berhenti sejenak, sepertinya sedang mengingat-ingat suara orang yang meneleponnya sebelum menjawab, “Amir?”


__ADS_2