
Ternyata orang itu benar-benar kuat, apalagi prajurit sepertinya pasti dilatih dengan teknik-teknik berkelahi yang efektif sehingga tidak sampai beberapa jurus bergelut dengannya Jordan berhasil dirobohkan ke lantai. Jordan mati-matian melepaskan diri dari kuncian musuh. Tapi semakin keras dia bergerak, kuncian orang itu malah semakin menyakiti lengannya. Tinggal menunggu waktu sampai lawan berhasil menarik lepas topengnya dan dia terpaksa menghirup gas yang sebenarnya dimaksudkan untuk melumpuhkan musuh.
Jelas sekali orang itu mencoba merenggut topengnya, mungkin samar-samar dia melihat bagaimana Jordan tidak terpengaruh oleh gas yang menggantung di udara berkat benda itu, atau mungkin penasaran ingin mengetahui siapa orang yang berani masuk dan membuat keonaran. Apa pun itu, Jordan mendapatkan ide saat suara hatinya mengatakan supaya dia melepas topengnya.
Jordan menghirup nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin, dan menahan nafas sebelum melepaskan tali topeng gas yang melingkari kepalanya. Karena si ******* terlalu kuat menarik topengnya tak ayal dia terjengkang saat topeng itu terlepas dari Jordan. Cengkeraman di bahu Jordan ikut melemah karena lawannya terhuyung ke belakang dan itu membuat Jordan dapat menghantamkan palu ke wajah orang itu.
BLEETAAK!!!
Entah bagian mana dari musuh yang terkena oleh pukulannya tadi, yang jelas Jordan berusaha mengarahkannya ke wajah lawan. Tapi bunyi itu begitu keras dan mengerikan, yang kemudian diikuti jerit kesakitan sang *******,
“BAJINGAN ITU MEMATAHKAN HIDUNGKU…”
Kaki Jordan menekuk dan memberi tendangan ke perut untuk menyingkirkan ******* yang masih menindihnya. Gas air mata tampaknya mulai mempengaruhi Jordan karena pandangannya mulai samar-samar. Namun dari pemandangan samar di depannya, remaja itu masih dapat mengetahui bagaimana ******* yang menyerangnya tadi terguling-guling menabrak sofa. DIa sudah lepas dari tindihan ******** itu…
“HIDUNGKU…KENAPA SIH LAGI-LAGI HIDUNGKU…” si ******* kembali berteriak-teriak.
Para ******* yang lain berteriak-teriak, memanggil-manggil nama ******* yang baru saja patah hidungnya dipukul Jordan, mereka semakin berusaha keras mencari arah yang tepat karena ingin membantu si ******* malang itu. Untungnya tak satu pun mereka yang berani menembak karena tak ingin tembakan mereka malah akan mengenai kawan.
Tidak mau membuang waktu, Jordan berdiri lalu berjalan tertatih-tatih menuju ke pintu keluar. Anak lelaki itu mengerjap-ngerjapkan mata terus-menerus untuk mengusir gas yang makin membuat matanya perih, berusaha keras agar untuk yakin kalau dirinya berjalan ke arah yang benar. Dia semakin terbantu ketika Profesor McQueen berseru-seru memanggil namanya, “JORDAN…KEMARI JORDAN…”
Sekeras apa pun Jordan menahan gas agar tidak sampai terhirup, perlahan baunya yang menyengat terasa juga olehnya. Seiring langkah yang semakin berat, mata yang semakin perih dan mulai berlinangan air mata deras, dirasakannya berjalan menuju ke pintu keluar semakin berat walaupun jaraknya tinggal beberapa meter.
Jordan sangsi dirinya bisa sampai tepat waktu, apalagi pintu besi ruang persembunyian itu terus turun. Sewaktu dia mendorong Profesor McQueen saja posisi pintu tersebut sudah turun setengahnya. Namun dia terus berusaha untuk maju, apalagi mendengar ayah Lana yang juga tidak menyerah untuk memanggil-manggilnya. Sepasang tangannya terulur, berusaha mencari-cari atau memegangi sesuatu yang sekiranya dapat membantunya mencapai pintu.
“Jordan…aku di sini…” terdengar ayah Lana berkata lantang.
“Mr. McQueen?”
“Maju terus Jordan…sedikit lagi…”
__ADS_1
“Di mana anda?”
“Jongkok, Jordan…jongkok…pintunya hanya bisa dilewati kalau kamu merunduk.”
Jordan menuruti perintah pria itu dengan tetap mengulurkan tangannya. Pada saat itulah dirasakannya seseorang memegangi tangannya. Profesor McQueen berteriak kegirangan, “Aku mendapatkanmu…”
Betapa leganya Jordan mendengar suara Profesor McQueen, apalagi ketika lelaki itu lantas menariknya keluar tepat sebelum pintu ruangan berdebam menutup di belakangnya. Sempat ada rasa ngeri saat melewati pintu yang hanya meninggalkan celah sempit sebelum ayah Lana menariknya, meleset sedikit saja maka kakinya akan putus tertindih pintu besi.
“Mr. McQueen?” tangan Jordan bergerak meraba-raba karena matanya masih belum sepenuhnya pulih dari efek gas.
“Kita berhasil, Jordan!” Profesor tertawa girang dengan keras sekali. Pria itu memeluk Jordan dan menciumi pipinya.
“Para penjahat itu?” Jordan masih tidak percaya kalau dirinya dan Profesor McQueen bisa keluar hidup-hidup.
“Mereka semua terkurung di dalam,” sahut sang ilmuwan.
“Yeaah, kita berhasil…” Jordan ikut berteriak senang.
“Bukan usahaku sendiri, Mr. McQueen! Lana membantuku juga.”
“Lana? Dia di sini? Di mana dia?”
“Boleh bantu aku berdiri?”
Jordan tidak bisa menahan haru mendengar Lana menjerit bahagia saat bertemu ayahnya di tangga darurat. Gadis itu menunggu sedari tadi di sana, dan Jordan yakin dia pasti dipenuhi kecemasan hebat selama beberapa menit belakangan. Lana dan ayahnya berpelukan, didengarnya bagaimana Lana menangis bahagia karena bisa mendapatkan ayahnya kembali dalam keadaan selamat, kemudian dirasakannya mereka memeluknya juga.
“Kalau bukan karena Jordan, daddy masih terkurung di dalam sana,” ujar Profesor McQueen. “Dan kudengar kamu juga membantunya?”
“Aku cuma membantu membekali dengan benda-benda yang dia butuhkan karena dia memang nekad. Kamu tidak tertembak kan, Jordan?”
__ADS_1
“Tidak! Tapi aku sempat menghirup gas air mata buatanmu. Rasanya tak enak!” Jordan tertawa seraya mengusap-ngusap matanya yang masih saja berair.
“Nih, basuh wajahmu dengan ini,” Lana menyodorkan sepotong sapu tangan yang telah dibasahi dengan air dingin. “Satu menit lagi efeknya akan hilang.”
“Thanks!”
Ketiganya masih berdiri di tangga darurat ketika serombongan polisi dengan senapan laras panjang dan pistol menaiki tangga dengan langkah cepat dan wajah yang tegang. Mereka sempat menodongkan senjata saat mendapati ketiganya berdiri dalam keremangan ruangan, tetapi begitu mengetahui bahwa dari tiga orang itu ada dua anak remaja para penegak hukum itu menurunkan senjata mereka.
Letnan Mills yang berada di depan yang pertama kali mengenal Profesor McQueen, dia menegur dengan kagetnya, “Profesor? Anda baik-baik saja?”
“Seperti yang anda lihat Letnan!” balas ayah Lana.
“Dan di mana para ******* itu?”
“Terkurung di ruang kerja CEO di lantai ini. Anda bisa membukanya dengan kartu ini,” kata Profesor McQueen memberikan kartu identitas miliknya.
“Kami akan meringkus mereka semua. Terima kasih, Profesor!”
“Yang penting segera bawa mereka jauh-jauh dari sini, Letnan!”
“Siap! Syukurlah anda tidak jadi mengaktifkan Fire Ball!” kata Letnan Mills. “Kami segera masuk begitu Carl Trish memberitahu kami apa itu Fire Ball.”
“Aku hanya tinggal beberapa detik mengaktifkannya kalau bukan karena anak-anak ini, Letnan!”
Letnan Mills mengenali juga Jordan dan Lana yang keluar bersama rombongan Presiden, “Kalian nekad juga. Entah karena sembrono atau memang cerdas, tapi kali ini kalian beruntung bisa lolos dari maut.”
“Keberuntungan sudah cukup, Letnan Mills,” sahut Jordan.
“Baiklah, opsir Jones…opsir Vaughn…kalian kawal Profesor McQueen dan kedua anak ini turun ke bawah,” perintah Letnan Mills kepada dua polisi di dekatnya sebelum mereka berpisah, dan sang polisi mengikuti anak buahnya pergi meringkus para *******.
__ADS_1
***