TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 12 : UNDANGAN MAKAN MALAM DUBES AUSTRALIA


__ADS_3

Mr. Janus memandangi layar hologram untuk menerima panggilan dari Clementine Cointa. Wanita itu baru saja melaporkan pertemuannya dengan pemimpin Irak seperti yang dimintanya setelah Iran mengirim rudal balasan yang menghancurkan benteng Amerika di wilayahnya di Mainland,


“Saya sudah memintanya untuk tidak mendukung apa pun rencana Tramp soal serangan itu,” Prefect Cointa mengakhiri laporannya. “Dan saya bisa lebih menekannya daripada ketika saya berhadapan dengan Tramp.”


“Semoga omongannya bisa dipegang. Aku yakin Tramp akan mengirim serangan lagi sebagai jawaban serangan balasan Shah Iran. Dan kali ini dia pasti tidak ingin melakukannya sendiri.”


“Dia harus mencari sekutu lain,” Prefect Cointa menanggapi. “Saya yakin Presiden Hafidz tidak akan terprovokasi hasutan Tramp.”


“Kalau begitu suruh anak buahnya mengendalikan omongan. Pejabat tinggi Irak sudah bikin conference di segala media yang menuntut Iran meminta maaf bila tidak ingin masalahnya berbuntut panjang,” kata Mr. Janus.


“Akan segera dikerjakan, Sir!” sahut Prefect Cointa mengangguk.


“Terima kasih, Prefect! Permisi dulu karena saya ada janji makan malam,” kata Mr. Janus. “Heil Terra!”


“Heil Terra,” Prefect Cointa memberi salam, menempelkan jari telunjuk dan jari tengah ke dahi lalu menaikkan kelima jari di udara.


Layar hologram Auris menyurut bertepatan dengan sampainya mobil Mr. Janus di depan teras Amuz Gourmet. Petugas lobby membukakan pintu sebelum pria itu keluar dan berjalan masuk ke restoran dengan langkah berwibawa, sementara mobilnya terus melaju ke tempat parkir.


“Selamat malam, Tuan…” sapa petugas restoran yang menyambut. “… sudah terdaftar?”


“Saya pikir demikian, atas nama Theodor Janus atau James Howell, mungkin…”


Petugas restoran yang memakai tuxedo itu mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Mr. Janus, “Ah, Mr. Howell sudah menunggu anda di dalam. Silakan…”


Restoran itu merupakan salah satu restoran terbaik di Jakarta. Pengelola tempat itu bukan hanya mendekor ruangannya dengan ornamen yang menampilkan nuansa Eropa pada jaman Barokh semasa bangsawan Eropa menikmati masa kemewahan mereka, tapi juga mendatangkan langsung Kepala Chef mereka dari Perancis. Tidak heran tempat ini dikenal dengan menu istimewanya, daging domba bakar keju yang dimasak dengan saus bir dan anggur terbaik.


Mr. Janus tidak tahu dari mana orang yang mengundangnya tahu bahwa tempat ini punya menu yang merupakan salah satu favoritnya, namun dia tidak heran sebab penjilat seperti mereka biasanya punya banyak waktu dan cara buat mencari tahu hal-hal kecil macam ini, tapi masa bodoh dengan itu karena dia sedang kelaparan saat ini. Menu itulah yang ingin dinikmatinya malam ini…


“Kami sedang kedatangan anggur baru dari Mainz, bila anda ingin mencicipi sesuatu yang lebih ringan sebagai pengiring makan malam,” si pelayan bertuxedo memberi informasi.


“Apakah itu jadi favorit beberapa bulan belakangan?”


“Kami baru mendapat kirimannya dua minggu ini, jadi sayang sekali anggur itu belum mencapai standar favorit kami sampai sekarang. Tapi anda tidak perlu kuatir karena ada beberapa tamu yang mulai menanyakannya…”


Mr. Janus mengerutkan dahi, “Saya ini pria konservatif. Saya pilih yang biasa saja, Chardonay…”


“Baik, pak!” pelayan itu mengangguk. “Meja anda…”


Meja yang dipesan untuknya terletak di mezzanine restoran, tempat khusus yang menghadap ke pantai Ancol sehingga para tamu yang menikmati hidangan dapat menikmati debur ombak dan indahnya lampu-lampu pelabuhan dan kapal yang berlayar hilir mudik di pantai tersebut. Di meja nomor 26 itu sudah menunggu pria setengah baya bertampang cerdas dengan kumis tipis menghiasi bibirnya. Dia berdiri dan menyalami Janus begitu pria tersebut mendatanginya.


“Selamat malam, Mr.Janus! Senang anda bisa menerima undangan makan malam saya.”


“Selamat malam, Pak Dubes!” sahut Mr. Janus menyalami pria itu. “Saya yang tidak enak karena mengundur-undur terus pertemuan kita.”


“Panggil saja saya Howell…James Howell…” pria itu tersenyum. “Silakan duduk.”

__ADS_1


“Terima kasih Mr. Howell,” ucap Janus sebelum kemudian duduk di hadapan lelaki itu.


“Saya rasa karena masalah keamanan dunia harus didahulukan daripada makan malam dengan teman, bukan begitu?” Howell berbasa-basi.


“Semua penting! Termasuk undangan ini, apalagi saya rasa ini bukan sekedar makan malam saja, bukan begitu?” Janus menanggapi dengan kalem. “Pasti ada agenda khusus yang ingin anda bicarakan dengan saya?”


“Banyak yang ingin saya bicarakan, terutama soal kemungkinan menambah bentuk kerja sama Australia dengan seisi negara di wilayah Archipelago bagian utara. Cuma sebelum itu, bagaimana kalau kita makan malam dulu? Anda pasti akan menyukai menu andalan tempat ini, daging domba bakar keju.”


“Apakah enak?” Janus mengangkat alis, pura-pura ingin tahu.


“Tidak ada duanya. Dan sausnya…dimasak dengan bir…” sahut sang Duta Besar.


“Baiklah! Saya pesan yang itu saja,” Janus tersenyum senang. Lalu menambahkan setelah si pelayan  pergi membawa pesanan. “Bagaimana kabar istrimu, Nancy?”


“Dia sedang kurang enak badan.”


“Oh, aku turut prihatin…”


Keduanya mengobrol berbagai hal mulai dari soal cuaca ekstrim yang membuat banyak orang di hampir tiap negara jatuh sakit, sampai soal makanan di resto-resto terbaru di Australia yang harus dikunjungi bila Mr. Janus pergi ke Melbourne. Sang dubes menghindari pembicaraan soal politik karena sadar itu sesuatu yang sensitif di tengah panasnya hubungan Amerika dengan negara Timur Tengah. Sementara semua orang tahu posisi Australia sebagai salah satu sekutu kuat Amerika.


Mr. Janus sendiri punya dugaan akan maksud pertemuan ini, tapi karena tak ingin memulainya maka dibiarkannya James Howell mengobrol melantur kesana-kemari. Tidak ada yang lebih nikmat daripada domba bakar keju walaupun harus ditemani dengan ocehan pria yang terus bicara tentan hal-hal yang tidak penting. Pria itu memberikan pandangan kepada James Howell seolah dia menyimak apa yang diucapkannya, sementara di saat bersamaan dia tengah terbuai oleh empuknya daging di lidah.


“Saya yakin itu semua bisa diperoleh berkat perencanaan Prime Minister Hampbull yang meningkatkan perekonomian di Australia sejak menjabat selama empat tahun terakhir. Dan untuk itu kami tidak segan-segan untuk meningkatkan kemajuan tersebut, terlepas dari pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan dan Prime Minister tentunya berusaha agar dapat dipilih kembali.”


“Betul, hanya saja beliau belum berhasil melakukan salah satu janji kampanyenya, dan itu akan jadi sasaran tembak bagi oposan.”


“Apa itu?”


“Australia yang mandiri energi…”


“Negara anda tidak akan bisa mandiri energi bila mengikuti gaya hidup orang Amerika, apalagi pemerintah mereka perlu negara seperti Australia sebagai konsumen dari salah satu pengguna terbesar untuk komoditi minyak mereka.”


“Kami sudah siap untuk itu, Mr. Janus! Bila kami diberi kesempatan seperti halnya Iran dan Jepang,” kata James Howell dengan nada meyakinkan.


“Apa yang kita bicarakan di sini, Mr. Howell?” Mr. Janus bertanya balik. “Kepercayaan seperti apa yang anda maksud?”


“Nuklir, Mr. Janus! Kami ingin memiliki teknologinya.”


“Buat apa nuklir? Bukankah kalian sudah punya solar system dan lain sebagainya?”


“Apa pun yang ada sekarang belum dapat menggantikan kebutuhan kami akan minyak. Teknologi nuklir adalah jawaban yang kami cari, karena aman dari pencemaran.”


“Dan apa yang membuat anda berpikir negara anda patut memilikinya?”


“Kami sudah menyiapkan proposal perencanaan untuk memberi informasi bagaimana keseriusan kami untuk memiliki teknologi ini. Juga sejumlah uang yang lumayan besar untuk mendanai proyek ini…”

__ADS_1


“Seberapa besar?”


James Howell mengutak-atik ponselnya lalu menunjukkannya kepada Mr. Janus, “Dana ini sudah didepositkan ke Sydney Commonwealth Bank sebagai jaminan agar dapat ditarik sewaktu-waktu manakala proyek berjalan. Tentu nilai ini cukup besar dibandingkan yang dipersiapkan Indonesia untuk proyek ini.”


“Yeah, itu memang jumlah yang cukup besar…” Mr. Janus berdecak.


“Sekitar sepuluh persennya sudah kami persiapkan sebagai fee untuk disetor ke Terra Empire,” Howell memberikan senyum bergairah.


Mr. Janus heran sewaktu mendengar James Howell menyebut tentang Terra Empire namun pria itu bersikap biasa dengan membolak-balik proposal yang diberikan Howell seraya mengangguk-angguk kecil, “Yaa, kurasa ini sesuatu yang menarik… hanya saja anda mungkin tidak mengerti alasan kami memberikan teknologi itu kepada negara negara yang anda sebutkan tadi…itu bukan semata-mata karena mereka memiliki proposal yang menarik atau uang dalam jumlah besar.”


Senyum di wajah Howell sontak raib, dia berkata lirih setelah rasa terkejutnya hilang “Apakah ini artinya anda menolak permohonan kami, Mr. Janus?”


“Dengan berat hati…sepertinya begitu, Mr. Howell.”


“Anda akan tetap memberikan teknologi itu kepada Indonesia? Kenapa? Mereka orang-orang payah… dan kecerobohan mereka bisa membuat dunia ini kiamat bila tidak berhati-hati menangani nuklir…”


“Bukan mereka yang akan membangunnya di sana, melainkan orang-orang kami,” sahut Mr. Janus. “Dengan sumber daya manusia dan uang kami. Untuk itu kami tidak membutuhkan bantuan dari pemerintah mana pun, termasuk pemerintah Indonesia sendiri.”


“Kenapa anda memilih mereka? Kenapa bukan kami?”


“Seperti yang saya bilang sebelumnya, semua tindakan kami sudah diperhitungkan. Sama seperti membangun satu reaktor nuklir di Iran untuk mencukupi kebutuhan energi di seluruh wilayah Timur Tengah…atau Amerika untuk mencukup kebutuhan di seluruh Amerika, Kanada dan Mexico…itu juga yang kami harapkan dengan membangun reaktor nuklir di Indonesia untuk mencukupi kebutuhan negara yang terkenal boros dengan energinya.”


“Berarti bukan pemerintah Iran yang membangun reaktor nuklirnya di sana seperti yang dituduhkan Amerika?”


“Mungkin Howard Tramp orang baru di pemerintahan, sehingga dia tidak tahu akan hal itu, atau mungkin ada pembisik yang memberinya informasi yang salah… yang anda perlu tahu teknologi seperti ini tidak mungkin kami lepas secara sembarangan karena kita semua mengerti apa yang dilakukan pemerintah yang ceroboh di Hiroshima dan Nagasaki.”


“Ya, kita tidak menginginkan hal itu.”


“Tentu tidak. Oleh karena itu setiap pembangunan yang didasari teknologi tersebut kami lakukan sendiri dengan orang-orang kami.”


James Howell berdecak tak percaya, “Seberapa besar sebenarnya Terra Empire? Kenapa tidak banyak orang tahu tentang kalian?”


“Jumlah kami cukup besar, karena kami ada di antara kalian. Dan keberadaan kami tidak perlu diketahui karena kami punya wakil-wakil di pemerintahan di banyak negara sebagai representasi atas apa yang harus dilakukan untuk menjaga perdamaian dunia,” Mr. Janus menjawab setelah menyesap gelas anggurnya. “Kami ada sebelum kalian ada, Pak Duta Besar!”


Pria itu tercenung, “Kami ada? Siapa kami yang anda maksud?”


“Negara-negara, Mr. Howell,” jawab Mr. Janus. “Kurasa sudah cukup pertemuan kita malam ini. Saya butuh istirahat


karena besok pagi saya ada janji pertemuan lagi. Dan jamnya… betul-betul pagi…”


Sang Duta Besar Australia sadar pertemuan ini tidak membuahkan hasil bagus seperti yang diharapkannya hingga dia hanya bisa mengangguk lesu, “Sepertinya begitu. Terima kasih atas kesediaan anda memenuhi undangan makan malam saya.”


“Sampaikan salam hangat saya kepada Prime Minister Hampbull…”


***

__ADS_1


__ADS_2