TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 9 : PERJALANAN DI SUBWAY PAGI ITU


__ADS_3

“Selamat pagii…”


“Selamat pagi, nona cantik…” balas perempuan gemuk berkulit hitam yang sedang sibuk dengan penggorengannya di dapur. “…lekas sarapan, telur omelet dan sosisnya keburu dingin.”


“Waah, kamu yang paling hebat,Nana…” puji Lana.


Lana melepas senyum bahagia melihat piring yang ditunjuk sang juru masak di meja. Aroma daging panggang tidak pernah gagal membuat perutnya bergejolak, dan memang makanan macam ini yang dia butuhkan pagi ini. Sebelum menikmatinya gadis itu bertanya pada si pengurus rumah, “Ayah di mana?”


“Tuan McQueen belum bangun. Dia hanya menulis pesan padaku untuk membuatkan semur daging dan kacang polong siang nanti. Mungkin dia bekerja sampai larut malam.”


“Rasanya aku tidak mendengarnya pulang semalam,” Lana mengerutkan dahi.


“Mungkin dia tidak masuk ke kamar nona karena tidak ingin membangunkanmu.”


“Tapi ayah masih sempat menaruh barangnya di sini?” Lana tertawa geli mendapati kotak kardus dengan tempelan kertas bertuliskan ‘Kepunyaan McQueen’ di meja yang bersebelahan dengan kompor.


Nana memonyongkan bibirnya, “Yang bikin aku cemas sepanjang pagi ini. Aku kuatir isinya sesuatu yang sensitif terhadap api dan akan meledak bila terkena panasnya saat aku memasak.”


“Pindahkan saja kalau kamu kuatir.”


“Nona ingat apa reaksi ayahmu ketika aku memindahkan barangnya terakhir kali?


Tentu saja Lana masih ingat, itu terjadi tiga hari lalu, Nana mengambil kemeja ayah Lana dari sofa di kamar untuk disetrika. Ayahnya memang sudah berpesan sebelumnya supaya Nana merapikan pakaian yang akan dipakai kerja hingga licin, dan tidak disangka seluruh sirkuit listrik di rumah meledak. Saat alas setrika menyentuh kemeja, panas yang dihasilkan dari aliran listrik ternyata berbalik dengan kekuatan dua kali lipat dari sebelumnya, membakar lubang steker dan juga sekering pengendali arus utama rumah.


Akibatnya mereka harus mengalami lampu rumah mati seharian penuh, sebelum dapat diperbaiki dengan biaya yang tentunya tidak kecil. Kecelakaan kecil itu membuat ayah Lana mengomel tidak henti-henti hari itu. Diperingatkannya Nana berkali-kali agar tidak menyentuh barang-barang yang dibawanya dari laboratorium.


Lana cekikikan, “Itu bukan salahmu juga, Nana! Kamu kan nggak tahu kalau itu barang proyeknya di laboratorium.”


“Pokoknya saya sudah kapok,” Nana menggeleng-geleng seraya memasang tampang pura-pura sedih. “Biarkan saja tuan yang membereskan barang-barang anehnya sendiri.”


“Sama seperti aku harus berangkat sendiri ke sekolah,” goda Lana.


“Kurasa tuan tidak keberatan kalau nona memakai Vector sebentar. Lagi pula mobil itu bisa pulang secara otomatis ke rumah, kan?”


Lana menggeleng, “Nggak usah deh, Nana! Aku naik subway saja.”

__ADS_1


“Apa saja yang membuatmu nyaman, nona…” komentar si wanita berkulit hitam itu dengan senyum lebar.


“Naah, aku sudah selesai makan,” ujar Lana. “Aku berangkat dulu, Nana!”


“Selamat belajar, nona!” Nana mengangguk. “Biarkan saja piringnya di meja. Aku akan membereskannya sebentar lagi.”


Stasiun Subway terdekat berjarak tiga blok dari rumahnya tapi buat Lana McQueen itu tidak masalah. Dia senang bisa berjalan kaki di pagi hari. Banyak yang bisa dilihatnya sepanjang perjalanan dan juga memberinya kesempatan berpikir, walaupun pagi itu belum ada hal spesifik yang ingin dia pikirkan kecuali apa yang terjadi di kantin sekolah.


Selama ini belum pernah ada yang membelanya seperti itu. Mungkin juga karena dia tidak punya teman dekat, tapi anak-anak lain memang cenderung menyingkir atau cari aman bila berurusan dengan geng rugby Allen. Entah Jordan terlalu berani atau terlalu bodoh, yang jelas itu membuatnya babak belur.


Lana merasa bersalah. Bukan hanya karena cowok itu membelanya tapi juga karena dia belum sempat mengucapkan terima kasih. Dia sebenarnya ingin menengok kondisi Jordan setelah dibawa ke klinik sekolah. Sayangnya dia sedikit terlambat keluar kelas dan ternyata Jordan sudah tidak ada lagi di klinik. Dokter klinik sekolah memberi tahu kalau Jordan sudah pulang lebih dulu. Bila Jordan masuk sekolah hari ini Lana ingin menemuinya dan mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukannya kemarin.


Sepuluh menit kemudian Lana sudah berada di dalam stasiun Subway. Petugas Subway memberi informasi lewat pengeras suara bahwa kereta akan datang sebentar lagi. Seperti yang lain, gadis itu ikut berdiri dalam antrian dan masuk bersama-sama penumpang lain saat dilihatnya Jordan Cross dalam gerbong yang akan dinaikinya.


Jordan yang juga melihatnya tersenyum. Hanya saja senyumnya tidak selebar biasanya sebab cowok itu seperti tengah menahan kesakitan akibat bengkak di rahangnya, “Hai, Lana.”


“Pagi, Jordan!” balas Lana sambil memandangi dengan seksama.“Bagaimana keadaanmu?”


“Masih hidup seperti yang kamu lihat.”


“Kepala Sekolah memanggil orang tua Allen dan kawan-kawannya pagi ini. Mereka akan disidang olehnya, bersama dengan anak-anak mereka. Bagaimana denganmu?”


“Dia menanyakanmu apa saja soal kejadian di kantin?”


“Banyak! Tapi yang paling ingin dia tahu tentunya siapa yang memulainya.”


“Sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi, bukan?” komentar Lana.


“Tentu saja! Dia sudah mengumpulkan banyak keterangan dariku.”


“Berarti sepertinya dia tidak memerlukannya dariku,” Lana manggut-manggut. “Padahal aku sudah siap buat dipanggil.”


“Dari pembicaraan kami sih rasanya nggak!”


“Aku senang kamu baik-baik saja,” ujar Lana.

__ADS_1


“Thanks!” Jordan menyahut dengan kikuk.


“Dan…” Lana merasa lidahnya kelu tetapi tidak ada yang lebih tepat dari momen ini buat mengutarakannya. “…aku berterima kasih karena kamu sudah membelaku dari anak-anak brengsek itu kemarin.”


“Tidak masalah!” Jordan tersenyum dengan cara yang membuat hati Lana berdebar-debar. “Kamu pasti juga akan melakukan yang sama bila itu terjadi padaku.”


Lana menggeleng disertai tawa terkekeh, “Belum tentu juga, sih!”


Jordan mengerang, “Padahal aku tadi mengira kamu siap dipanggil untuk membelaku kalau-kalau aku akan kena detensi seperti Allen.”


“Itu kan yang kamu pikir,” Lana nyengir.


“Menyesal sekali aku menanyakan itu…”


Ucapan Jordan makin membuat Lana cekikikan geli…


Di Stasiun Miller and Rainbow keduanya turun dari kereta bersama dengan murid-murid lain yang juga menuju ke Lynbrook High. Kebanyakan penumpang kereta dengan tujuan tersebut memang anak-anak sekolah dari Lynbrook High. Tidak heran karena wilayah itu bukan merupakan pusat bisnis atau pemukiman. Tanpa adanya Lynbrook High stasiun itu termasuk tempat yang sepi di antara 18 Stasiun Subway jurusan San Francisco ke San Jose.


Gadis itu baru ingin menanyakan sesuatu pada saat melangkah ke luar stasiun namun dia mengurungkan niat ketika mendapati Jordan tiba-tiba terpaku di depan televisi yang terpasang di dekat loket penjualan tiket. TV di stasiun itu sedang menayangkan siaran berita dari CNN tentang serangan yang menghancurkan markas militer Amerika yang berpusat di Baghdad, Irak. Serangan itu berupa peluru kendali yang diluncurkan Iran, dan diduga sebagai balasan atas serangan drone Amerika yang menewaskan Jenderal Sulaimandi.


Sosok penyiar di TV menghilang sejenak digantikan tayangan gambar pejabat tinggi Irak yang menyesalkan bagaimana kejadian ini berlangsung di negaranya. Sang pejabat mengatakan bahwa perselisihan negara tetangganya dengan Amerika itu seharusnya dilakukan tanpa melibatkan negaranya. Oleh karena itu dia menghimbau agar Iran segera meminta maaf atas serangan yang mereka lakukan kepada pemerintah Irak. Karena bila tidak maka masalah ini dapat berbuntut panjang.


“Ini sudah ramai jadi berita di internet. Apa ini bisa jadi awal Perang Dunia ketiga seperti opini banyak orang?” Lana bertanya setelah Jordan tersela perhatiannya.


“Mudah-mudahan tidak! Aku tidak suka perang.”


“Siapa yang suka, eh?” Lana menanggapi. “Itu sebabnya aku tidak


pernah mengikuti berita-berita tentangnya.”


“Masalahnya yang satu ini mengusikku sejak beberapa hari lalu.”


“Bagaimana bisa?”


“Mimpi buruk!” Jordan menjawab. “Beberapa kali aku bermimpi buruk kalau diriku sedang ada di markas militer yang terkena rudal itu dan aku terbakar di dalamnya.”

__ADS_1


“Sungguh?” Lana terperangah. “Itu mengerikan…”


***


__ADS_2